"Halo, cantik!" Ucap lelaki asing itu.
Untuk sesaat Kelaya terhipnotis dengan warna matanya yang seperti madu. Namun, cepat-cepat Kelaya melepaskan diri dari pegangan pria asing itu. "Lepas!"
"Wah, tenang saja." kata pria itu sambil tersenyum manis. "Kau tidak apa-apa? Aku hanya berniat menolongmu." katanya lagi.
"A-aku tidak apa-apa, aku hanya terkejut, kupikir kau beruang."
"Beruang?" Pria itu melebarkan matanya. Ekspresinya yang ramah pun tak kalah terkejutnya. "Apakah ada beruang di hutan ini?"
Kelaya mengangguk.
"Lalu kenapa kau sendirian di sini?" Pria itu melihat kanan dan kiri. "Bagaimana kalau aku sungguhan beruang, kau bisa celaka."
"Beruangnya ada di seberang sungai yang besar, tidak di dekat sini. Tadi aku hanya panik, jadi pikiranku tidak masuk akal."
"Tapi, jika beruangnya memang ada di dalam hutan ini, tidak menutup kemungkinan, dia bisa saja ada di belakangmu."
Kelaya tidak mengelak, karena ucapan pria asing itu juga ada benarnya. Hanya saja...ia malas meneruskan perdebatan dengan pria asing yang tampan itu.
"Baiklah, terima kasih sudah menolongku." Kelaya memungut kembali keranjangnya yang tergeletak di atas tanah kemudian hendak pergi.
"Tunggu," Pria itu kembali menahan tangan Kelaya. "Sudah hampir sore, bagaimana jika kau apes dan si beruang itu sedang ingin jalan-jalan menyeberangi sungai?"
Kelaya terdiam. Benar juga, bagaimana jika keluarga beruang itu menyeberangi sungai? Dulu, Suki pernah menembak bius beruang itu karena mendatangi peternakan, bukan? Bagaimana jika beruang itu kembali ke sisi hutan ini?
"Aku bisa mengawalmu pulang, jika kau tidak keberatan." ujar pria itu menawarkan.
Tapi tentu saja Kelaya menolak, dia tidak mengenal pria itu, meski pun ucapan pria itu ada benarnya, tapi bagaimana jika pria itu malah jauh lebih berbahaya dari pada beruang?
"Tidak perlu, rumahku dekat, aku bisa pulang sendiri." ucap Kelaya dengan nada ketus.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." Pria itu mundur seraya mengangkat kedua tangannya seperti orang yang ditodong senjata api. "Tapi, apa kau tahu ke arah mana aku bisa ke kota? Karena sepertinya aku tersesat."
Kelaya menyipitkan matanya. "Bagaimana bisa kau tersesat?"
"Aku bukan warga sini, aku hanya sedang mengerjakan pekerjaanku sebagai fotografer, tapi sepertinya aku terlalu dalam masuk ke hutan mencari objek, dan kudengar suara aliran air, jadi aku mengikuti suara itu dan menemukanmu."
"Kau seorang fotografer?" tanya Kelaya dengan tatapan skeptis.
"Ya. Lihat saja isi tas ku kalau kau tidak percaya." Pria itu menurunkan ransel dari punggungnya dan membukanya di depan Kelaya. Seperangkat alat-alat memotret lengkap ada di dalam ransel hitam itu. Melihat semua itu membuat Kelaya jadi merasa tidak enak karena sempat berpikir kalau pria itu adalah penculik yang berkedok pura-pura menyelamatkan dan berbuat baik kepada mangsanya.
Pria itu juga mengeluarkan kameranya dan menunjukkan kepada Kelaya hasil-hasil potretnya yang kebanyakan memotret pemandangan juga hewan-hewan yang berada di dalam hutan. Untuk sesaat, Kelaya sempat terpukau dengan hasil jepretan pria itu.
"Sudah percaya padaku?"
"Entahlah." Kelaya mundur berjarak dari pria itu. "Kau tetap orang asing."
"Yeah, pasti orang tuamu sudah mengingatkan untuk tidak bicara pada orang asing."
"Orang tuaku sudah tidak ada."
"Oh, maaf aku tidak tahu." kata pria itu menunjukkan ekspresi simpatinya. "Lalu kau tinggal sendirian di hutan ini?"
"Tidak, aku sudah menikah."
"Apa? Menikah? Kau yakin sudah cukup umur untuk menikah?" Pria itu menatap Kelaya tidak percaya.
"Apa maksudmu?"
"Jangan tersinggung, tapi kau terlihat seperti anak di bawah umur."
"Hei! Usiaku sudah 24 tahun!" Kelaya melotot tak suka dikatai anak di bawah umur.
"Oke, oke, santai. Aku hanya menilai dari apa yang kulihat saja." Sahut pria itu santai sambil tersenyum.
Kelaya mendengus kemudian bergerak meninggalkan pria itu begitu saja.
"Hei tunggu." Pria itu buru-buru memakai kembali ranselnya dengan hati-hati karena kamera-kamera berharga di dalamnya. Dia menyusul Kelaya hingga mereka berjalan bersisian. "Bukan, kah, sebaiknya kau mengenal orang yang sudah menolongmu dan yang akan kau tolong?"
Kelaya berhenti lalu menatap pria itu dengan keningnya yang berkerut. "Maksudmu?"
"Maksudku, apakah tidak sebaiknya kita saling mengenal satu sama lain mengingat kita akan saling tolong menolong. Aku sudah menolongmu tadi, dan kau akan menolongku keluar dari hutan ini, kan?"
"Memangnya kapan aku bilang aku akan membawamu keluar dari hutan ini?" Kelaya melanjutkan lagi langkahnya.
"H-hei jangan kejam begitu, bagaimana kalau aku bertemu dengan beruang itu? Kau akan menyesal karena tidak menyelamatkanku."
Kelaya tidak menjawab, dia hanya menghela napas malas.
"Baiklah, aku akan ikut sampai ke rumahmu saja, dan minta tolong pada suamimu saja." Kalimat itu berhasil membuat Kelaya berhenti lagi dan menatap tajam pria itu.
"Kenapa?" Pria itu memasang ekspresi polos. "Kau tidak mau berkenalan dan tidak mau menolongku karena aku orang asing dan aku memaklumi kalau kau waspada dan mencurigaiku. Jadi, aku akan meminta bantuan dari suamimu saja sebagai sesama laki-laki. Eh, suamimu laki-laki, kan?"
"Hei!" Kelaya melotot galak.
"Ups maaf, bercanda!" Kekeh pria itu.
"Pergi ke sana!" Kelaya menunjuk ke arah Selatan dari tempat mereka berdiri. "Lurus saja sampai kau melihat ada gapura kecil dari bambu, setelah itu kau akan melewati jalan batu berkerikil, ikuti saja petunjuk jalan sederhana disana, nanti kau akan sampai di desa. Dari desa kau bisa naik ojek untuk ke kota." Setelah menjelaskan rute dengan cara yang paling singkat, jelas dan sinis. Kemudian Kelaya langsung berbalik badan menuju arah yang lain meninggalkan pria asing itu.
"Hei, setidaknya beritahu aku siapa namamu?" tanya Pria itu yang tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
* * *
Baru baru saja hendak keluar lagi setelah tahu pondoknya kosong, setelah mampir sebentar ke ladang. Disana, para pekerja mengatakan kalau Kelaya membagikan mereka makanan ringan dan minuman segar, setelah itu kembali pulang, tapi pada kenyataanya sekarang, Elkan berdiri di dalam pondoknya yang kosong.
"Kemana dia?" katanya dengan nada rendah sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Haru dan Sena, tepat saat itu Kelaya datang dengan langkahnya yang agak tergesa.
"Ah, kau sudah datang?" Suara Kelaya yang jernih membuat paru-paru Elkan bernapas lega. Beberapa menit yang lalu, pikirannya sudah semerawut membayangkan terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Habis dari mana saja kau?" tanya Elkan. Suaranya yang tajam, dingin dan bernada rendah itu membuat sekujur tubuh Kelaya membeku. Pria di hadapannya itu memang kerap bersikap digin, tapi tidak semenusuk ini.
"A-aku habis dari ladang, lalu ke main sebentar ke sungai kecil yang-"
"SUDAH KUKATAKAN JANGAN KELUAR RUMAH!" Bentak Elkan dengan sangat tiba-tiba hingga membuat Kelaya terkejut dan memundurkan kakinya, instingnya mengatakan agar tubuhnya menjaga jarak dari beruang kutub yang sedang marah itu. Tapi kenapa?
"A-aku hanya..."
"Apa kau sulit mengerti bahasa? Apa kau tidak bisa membaca pesan yang kutulis? Apa kau memang seliar ini sampai sulit dikendalikan? Pantas saja jika pamanmu mengurungmu!"
Kelaya kehilangan kata-katanya, ia membuka mulut, tapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tenggorokannya tersekat seketika oleh ribuan duri yang menyakitkan. Dia tahu, pria yang berstatus suaminya itu memang mahkluk gunung yang berhati dingin, tapi setidaknya Elkan tidak pernah menghujamkan kata-kata yang menyakitkan, walaupun terkadang menyebalkan. Setidaknya sejauh ini Elkan selalu memperhatikannya meski dengan cara yang tak biasa. Tapi barusan ini, apakah selama ini Kelaya dipandang sebagai wanita liar dimata Elkan? Karena itu kah Elkan seenaknya saja menciumnya lalu meninggalkannya?
Melihat tidak ada reaksi dari Kelaya, pria tinggi itu tersadar, sepertinya kekhawatiran telah membuatnya kelepasan emosi hingga kalimatnya menyinggung Kelaya.
"Aku.."
"Kalau aku liar, memangnya kenapa?" Kelaya memotong Elkan dengan suaranya yang bergetar, tatapannya menyorot dengan sorot penuh kekecewaan. "Apa pedulimu? Bukankah aku bukan siapa-siapa bagimu?"
Elkan merapatkan bibirnya, dia hanya menatap lekat-lekat wanita itu.
"Aku hanya ingin menikmati waktuku sendirian, merenungi hidupku, mencari kedamaian dan ketenangan yang tidak pernah aku dapatkan. Apakah jika aku ingin melakukan sesuatu karena aku ingin itu disebut liar? Apa kah hanya paman yang bisa seenaknya mengatur hidupku? Apakah hanya kau yang bisa seenaknya menciumku hanya karena kau ingin? Apakah aku tidak boleh melakukan sesuatu atas dasar karena keinginanku sendiri?!" Teriak Kelaya dipenghujung kalimatnya dengan suara yang semakin bergetar.
"Aku tahu kau membenciku karena aku telah mengusik kesendirianmu di tengah hutan ini, tapi apakah kau harus menyebutku liar hanya karena aku membawakan makanan ringan dan minuman dingin untuk pekerja di ladang? Apakah kau harus menyebutku liar hanya karena aku menikmati waktu sendiri sebentar saja? Apakah aku tidak boleh hidup dengan cara yang aku inginkan?!" Air mata sudah mengalir seperti air terjun yang ada di tengah hutan itu.
Elkan mengepalkan tangannya, menyadari kebodohannya, tapi tak cukup berani untuk meminta maaf dan merengkuh wanita itu ke dalam dekapannya dan menjelaskan kekhawatirannya.
"Jika kau memang membenciku, bersikaplah sebagaimana mestinya kau membenci seseorang, tidak perlu membuatku bingung dengan perhatian-perhatianmu yang semu itu. Dengan begitu, aku pun tidak akan berharap apa pun dari mu sampai kontrak ini selesai!" Kelaya mengusap pipinya dengan kasar, ia memalingkan wajahnya dari tatapan lekat pria itu, kemudian menaiki tangga kayu menuju teras dan masuk ke dalam pondok dengan melewati Elkan begitu saja.
Disana, Elkan menyugar rambutnya terlihat putus asa dan penuh penyesalan yang tidak berguna.
Itu adalah kali pertama Elkan membentak seseorang di pondoknya, dia tidak berupaya mengecilkan volume suaranya tadi karena keberadaan mereka di tengah hutan dan jauh dari penduduk desa yang lain. Namun, tanpa Elkan dan Kelaya sadari, seseorang justru menyeringai puas melihat apa yang terjadi dari posisinya di balik batang pohon yang besar.
"Jadi, kau sudah membuka lembaran barumu, Elkan." Desisnya dengan nada suaranya yang rendah dan penuh penekanan.
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments