"Kontrak pernikahan?" Elkan mengulangi.
"Ya. Batas waktu perjanjian kerja sama pamanku dan pebisnis tua itu hanya sampai 6 bulan, jika pamanku tidak bisa memenuhi syarat dari bisnis mereka dalam waktu enam bulan, maka kerja sama mereka hangus. Jadi, aku hanya perlu bersembunyi selama enam bulan dari mereka."
Elkan diam mendengarkan, meski wajahnya datar-datar saja, namun otaknya bekerja mencerna penjelasan yang diucapkan Kelaya.
"Poin kedua, total kan saja seluruh pengeluaran mu atas diriku, setelah kakiku pulih, aku akan mencari pekerjaan, dan mencicil untuk membayar semua pengeluaran itu."
Elkan mengangkat wajahnya, tatapannya datar sedatar ekspresinya, "Jika kau tidak mendapatkan pekerjaan sampai enam bulan?"
"Aku tetap akan membayar hutang-hutangku, tenang saja. Sekembalinya aku ke kota nanti, aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan aku akan membayar hutangku."
Elkan hanya mengangguk sekilas.
"Poin ketiga..."
"Untuk apa kau menulis semua ini kalau kau mendiktekan aku lagi apa yang kau tulis?" Sela Elkan. "Apa kau pikir aku tidak bisa membaca?"
"Bukan begitu, biar lebih cepat saja." jawab Kelaya sembari menggerakkan bahu.
Elkan mendengus.
"Di poin ketiga ini, kenapa kau ingin aku memperkenalkanmu kepada anak-anakku sebagai pembantu? Apakah itu masuk akal, dengan pondok yang kecil aku mempekerjakan pembantu?"
"Sebenarnya aku juga ragu, tapi tidak ada salahnya katakan saja seperti itu. Aku tidak mau anak-anakmu salah paham, atau jika kau memang masih berstatus suami seseorang, aku tidak mau dicap sebagai pelakor."
"Tidak masalah. Sebenarnya anak-anakku tidak akan mempermasalahkan siapa kau, mereka tidak akan perduli."
"Benarkah? Apa memang ada anak yang tidak peduli ayahnya menikah lagi atau tidak? Atau setidaknya mereka protes, atau minimal ingin tahu alasan kenapa ayah mereka menikah lagi." tanya Kelaya dengan ekspresi wajahnya yang mengernyit lucu.
"Anak-anakku hanya perduli soal makan, selebihnya mereka tidak perduli apapun." jawab Elkan dengan tenang sembari melanjutkan baca poin berikutnya. Sementara Kelaya malah dibuat bingung dengan penjelasan Elkan yang singkat dan tidak jelas.
"Di poin keempat ini, kau akan tidur di kursi selama tinggal disini?"
"Ya, karena aku yakin kau tidak akan mau tidur sekamar apa lagi seranjang dengan si pengacau ini, kan?" Jelas Kelaya dengan nada menyindir, dia masih tersinggung saja dengan julukan yang diberikan Elkan kepadanya.
"Oke, itu bagus. Aku tidak ingin tidurku terganggu." jawab Elkan dengan intonasi datar dan acuh, yang mana malah membuat Kelaya semakin tertohok hatinya.
Elkan melirik Kelaya dingin ketika membaca poin kelima. "Tidak ada hubungan badan?"
"Ya, tentu saja."
"Bukan kah waktu itu kau mengatakan, jika aku menikahi mu, aku bisa bebas melakukan apa pun padamu?"
"Eh? Itu...hmm, itu hanya kalimat persuasif untuk membujukmu saja. Hehehehe, aku yakin kau tidak menganggapnya serius, kan? Kau tidak mungkin menyentuh orang yang tidak kau cintai, kan?" tanya Kelaya dengan nada yang super canggung.
Elkan tidak terlalu merespon perkataan Kelaya, dia hanya diam dengan ekspresi terbaiknya, datar. Dengan ekspresi seperi itu, tentu saja sulit bagi siapa pun untuk menebak apa isi pikiran pria itu.
Elkan membalik kertas, tapi sepertinya isi kontrak sudah habis, tidak ada lagi guratan pena di bagian belakang kertas itu.
"Hanya lima poin saja?"
"Ya, kecuali kau ingin menambahkan, silahkan. Mengingat kau sangat membenciku, aku yakin kau juga punya syarat untukku."
Entah bagaimana, kalimat Kelaya barusan terasa tidak menyenangkan di telinga Elkan. Membenci? Apakah Elkan memang membenci wanita itu? Atau hanya tidak terbiasa dengan kehadirannya yang sangat tiba-tiba?
Elkan meletakkan kertas itu, dia menyandarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi, tangannya terlipat di depan dada, mata tajamnya menatap lurus pada Kelaya yang duduk di seberangnya.
"Kau yakin akan mencari pekerjaan di desa ini?"
"Apa kau sangat meragukan kemampuanku? Apa karena aku berasal dari kota, jadi kau pikir aku hanya gadis manja yang tidak bisa apa-apa?" Ada nada tersinggung dalam jawaban yang diberikan Kelaya. Tapi itu tidak mengganggu Elkan sama sekali.
"Di desa ini, mereka tidak mudah memberikan pekerjaan kepada orang yang baru mereka kenal."
"Aku akan berusaha bersikap baik kepada orang-orang di sini."
Elkan terlihat seperti sedang berpikir, karena dia diam saja, tapi kemudian dia kembali menatap Kelaya.
"Jika kau ke desa, kau akan bertemu banyak orang, termasuk orang-orang dari kota yang datang. Jadi, kemungkinan keberadaan mu bisa diketahui pamanmu."
Kelaya mendengus. "Apa kau memperdulikan keselamatan ku sekarang?"
"Tidak juga."
Kelaya menggigit lidahnya sendiri saking kesalnya.
"Hanya saja, kau sudah berusaha menjebak ku untuk status pernikahan ini, apa gunanya usahamu itu jika keberadaan mu langsung ditemukan begitu saja oleh pamanmu?"
Kelaya membenarkan kemungkinan yang dikatakan Elkan, tapi kalimat pria itu yang mengatakan bahwa dirinya 'menjebak' agak sedikit membuat Kelaya canggung.
"H-hei, apa maksudmu aku menjebak mu? Kau dengar sendiri bagaimana aku juga berusaha menjelaskan situasi kita, kan?"
"Ya, dengan kalimat-kalimat ambigu yang membuat kesalahpahaman semakin runcing. Kau pikir aku tidak menyadari itu?"
Kelaya mengatupkan bibirnya, bola matanya berlarian menghindari tatapan tajam dan dingin milik pria di depannya.
"Maaf, aku tidak punya pilihan." kata Kelaya pada akhirnya. "Tapi tenang saja, selama enam bulan ini aku janji tidak akan mengusik kehidupan pribadimu."
Elkan mendengus lagi. "Dengan kau masuk ke dalam bengkelku malam itu, kau sudah mengusik kehidupan pribadiku."
Lagi-lagi Kelaya mengatupkan bibirnya. Dia tidak menyangkal bahwa dirinya memang telah mengganggu kehidupan seseorang,
"Oke, aku tahu aku sudah sangat bersalah padamu, aku minta maaf. Karena itu, sebagai bentuk diriku yang masih tahu diri, aku membuat kontrak pernikahan ini, aku tidak akan selamanya menjadi bebanmu, dan kau tidak berkewajiban menanggung ku sebagai istrimu." kata Kelaya menjelaskan dengan keseriusan yang malah membuat Elkan tertegun sejenak pada wajah Kelaya yang membuat sesuatu di dalam dadanya tersentak kuat.
Elkan cukup mahir mengontrol emosinya begitu pun dengan ekspresinya. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah Kelaya dengan sikap acuh.
"Aku tidak peduli jika kau ingin segera ditemukan oleh pamanmu," kata Elkan kemudian. "dengan bekerja di desa."
"Kurasa aku tidak punya pilihan lain, aku cukup tahu diri untuk tidak menjadi bebanmu"
"Kau sungguh tidak ingin menjadi beban orang yang sudah kau jebak?"
"Ya ampun...aku kan sudah minta maaf. Dan, ya aku serius. Aku akan berhati-hati nanti."
"Kurasa aku punya cara lain agar kau bisa membayar hutangmu tanpa uang." kata Elkan, nadanya datar, tapi tatapannya serius.
"Hah? Apa maksudmu?" Kedua mata Kelaya melebar seiring dengan ia menegakkan punggungnya. Bagaimana mungkin ada orang yang menolak dibayar dengan uang? Selama Kelaya hidup di kota, banyak orang yang berusaha mendekatinya, berusaha menjadi akrab dengannya, bukan karena murni ingin berteman, tapi hanya karena status Kelaya dan uang yang keluarga Kelaya miliki. Jadi, apa maksud Elkan bahwa Kelaya bisa membayar hutangnya tanpa uang? Apakah pria itu tidak menginginkan uang? Mengingat kehidupan Elkan di tengah hutan ini jauh dari kehidupan mewah Kelaya di kota.
"Apa kau tidak membutuhkan uang tambahan selama menampungku?"
"Tidak." jawab singkat itu membuat Kelaya tercengang sekaligus salut.
"Maksudku, apa kau tidak berat mengeluarkan uang lebih untuk keperluanku?"
"Aku tidak membutuhkan uang darimu. Tapi kalau kau menjunjung tinggi nilai tahu diri dan tetap ingin membuat dirimu berguna selama aku tampung, maka kau bisa membuatku dengan cara lain."
Sebenarnya, kalau boleh jujur, Elkan itu selain memiliki wajah yang di atas rata-rata dari pria-pria di pedesaan dan proporsi tubuhnya yang tegap hingga membuat Kelaya nyaman dalam gendongan pria itu, Elkan juga memiliki sifat yang sangatlah menyebalkan. Lihat tadi, kan, dia membuat Kelaya tercengang dan salut, tapi detik berikutnya dia membuat Kelaya ingin sekali melempar pria tampan itu dengan piring sayuran yang ada di atas meja.
"Oke, cara apa itu? Bagaimana membuat agar diriku bisa berguna?" kata Kelaya sambil menekan rasa kesalnya.
"Kau bisa membayar hutang budimu kepadaku dengan tenaga dan tubuhmu."
"APA?"
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments