Hampir menjelang malam, Elkan baru kembali, dengan pakaiannya yang agak kotor dan agak berbau kambing. Biasanya dia tidak pernah kembali seterlambat ini, tapi karena kejadian tak terduga pagi tadi yang telah mengubah statusnya dari seorang lajang penyendiri menjadi seorang suami dalam waktu yang super singkat, Elkan terpaksa pulang terlambat. Dia terdiam sejenak di depan rumahnya, rumah yang biasanya kosong dan hanya ditempatinya seorang kini - mungkin - tidak akan menjadi sama lagi. Seperti senja kali ini, lampu teras sudah menyala, bagian dalam rumah juga menyala terlihat dari jendela yang tirainya belum ditutup. Satu hal yang membuat Elkan membelokkan langkahnya ketika dia melihat tidak ada asap yang keluar dari cerobong perapian.
Ah, dia lupa, kayu stok kayu bakar yang sudah dibelah telah habis. Elkan mengambil kapak, dan beberapa potongan kayu untuk dibelahnya.
Brak! Suara kapak membelah kayu.
Apa dia kedinginan di dalam? Brak!
Apa dia sudah makan? Brak!
Apa kakinya masih sakit? Brak!
Ap- Brak!
"Apa yang kupikirkan?" katanya bermonolog. "Aku tidak perlu memikirkan pengacau itu."
"Siapa?" Suara perempuan bertanya membuat tubuh Elkan seketika berbalik dan mendapatkan Kelaya berdiri di atas tanah yang berkerikil. Elkan terpaku. Kelaya terlihat bercahaya, apakah mungkin karena pantulan sinar matahari senja atau kah karena latar langit kemerahan dibalik pepohonan atau karena daster sederhana dan rambut panjang setengah basahnya yang digerai?
Tlik! Tlik! Kelaya menjentikkan jemarinya di depan wajah Elkan, membuat pria itu terkesiap dan mundur satu langkah. "Siapa yang pengacau?" Kelaya bertanya lagi.
"Minggir." Alih-alih menjawab pertanyaan Kelaya, Elkan malah bersiap mengambil ancang-acang untuk mengayunkan lagi kapaknya. Tetapi Kelaya bukan tipe wanita yang patuh sepenuhnya, jadi dia tetap berdiri disana, tak peduli jika Elkan malah mengayunkan kapak itu kepadanya.
"Apa aku si pengacau itu?"
Elkan mendengus, kemudian menjawab. "Bagus kalau kau sadar. Sekarang minggir, atau kau akan terkena serpihan kayu."
"Bagus dong kalau si pengacau ini terluka." ucap Kelaya dengan nada ketusnya.
"Ya, sangat bagus, jika dia tidak lebih merepotkanku setelahnya."
"Cih, kalau memang aku merepotkan, kenapa juga kau harus meminta teman-temanmu membelikan pakaian untukku?"
Elkan menegakkan kembali tubuhnya, dia memandang Kelaya dengan tatapan datarnya yang sama.
"Karena aku tidak mau pakaianku dipakai lagi oleh orang asing." Jawaban itu entah bagaimana sangat menusuk perasaan Kelaya.
"Oh oke, maaf kalau aku sudah menularkan virus mematikan di bajumu yang kupinjam kemarin." ucap Kelaya dengan nada yang ketus. "Setelah kakiku oke, aku akan mencari kerja dan menganti pengeluaranmu untuk pakaianku, untuk bahan makanan, untuk biaya listrik dan air yang aku gunakan."
"Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis kota sepertimu di desa seperti ini?"
Gantian Kelaya yang mendengus. "You have no idea what I could do." katanya, lalu membalikkan tubuhnya, membawa tubuhnya sambil berjalan agak pincang masuk kembali ke dalam rumah.
Elkan masih terpaku disana, memandang Kelaya hingga hilang di balik pintu rumah yang tertutup. Ia menatap potongan-potongan kayu yang sudah terbelah dan tergeletak di atas tanah, tangannya perlahan bergerak menyentuh dadanya, tepat dimana sesuatu berdebar di dalamnya.
* * *
Kelaya menenggak segelas air mineral hingga tandas tak tersisa di dapur sekaligus tempat meja makan berada di sana. Napasnya masih naik turun.
"Dasar pria aneh!" Gerutunya. "Kenapa harus memperhatikanku, membelikanku pakaian, obat, memasakkanku makan siang, menyiapkan kompresan es, kalau dia hanya menganggapku pengacau?!"
Kelaya menyugar rambutnya yang masih setengah basah itu. "Seharusnya dia biarkan saja aku mati kemarin malam! Aku juga tidak mau menikah dengan cara seperti ini, menikah dengan pria dingin seperti dia juga bukan rencana dalam hidupku!"
Kelaya menatap nanar masakan sederhana dari bahan-bahan yang ada di dalam kulkas, dia sudah mengusahakan dirinya untuk memasak sebagai ucapan terima kasih kepada Elkan untuk semua bantuan dan kebaikan pria itu, menahan rasa nyeri pada pergelangan kakinya hanya untuk melakukan kesia-siaan rasanya sungguh menyebalkan!
Kelaya hendak beranjak dari dapur saat Elkan masuk ke dalam ruangan itu, mata tajam dan dinginnya berpaling dari wajah Kelaya ke arah meja makan yang diatasnya sudah tersaji masakan.
"Kau memasak?"
"Masukkan saja ke dalam daftar hutangku padamu, bahan makanan yang aku masak dan aku makan akan aku ganti saat aku sudah dapat pekerjaan." Ketus Kelaya menjawab pertanyaan datar dan sederhana dari pria itu, kemudian melanjutkan langkahnya yang pincang keluar dari dapur, meninggalkan Elkan yang diam sepuluh ribu bahasa.
Kelaya menuju ruang tengah, dia memilih untuk menyelimuti dirinya dengan selimut yang masih ada di kursi, menahan diringinnya udara malam itu dengan hatinya yang cenat-cenut. Matanya melirik ketika Elkan ikut keluar dari dalam dapur, dan langsung menuju perapian untuk menyalakan api.
"Apa kau sudah makan?" Suara Elkan terdengar jelas, namun ia bertanya tanpa melihat kepada orang yang ditanya, Kelaya memilih untuk tetap diam. Heh! Memangnya hanya dia yang bisa irit bicara.
Setelah dua menit pertanyaannya tidak mendapatkan respon apa lagi jawaban, Elkan menengok kepada Kelaya.
"Apa udara dingin membuat telingamu tuli?"
"Oh, kau bertanya padaku?" Kelaya balas bertanya dengan nada sok tidak menyadari.
"Apa ada manusia lain disini selain kau dan aku?"
"Ya tidak ada sih, aku hanya tidak mengerti saja, untuk apa kau bertanya dan memperdulikan si pengacau ini sudah makan atau belum."
Elkan menghela napasnya panjang, rasanya terlalu rumit berbicara dengan manusia bergender perempuan bagi Elkan yang telah lama menyendiri di tengah hutan.
"Aku tidak peduli kau sudah makan atau belum."
"Lalu untuk apa bertanya? Iseng?"
"Jika kau pingsan lagi, pada akhirnya aku yang kau repotkan. Paham?" Elkan berdiri, ia terlihat menjulang dihadapan Kelaya yang duduk berselimutkan selimut.
Kelaya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan tajam yang dingin itu.
"Sudah makan atau belum?"
"Belum!"
"Kenapa belum? Kau sudah memasak."
Karena aku menunggumu, dasar tidak peka!
"Belum lapar."
"Kalau begitu, isi perutmu sekarang." Titah Elkan sebelum ia beranjak dari hadapan Kelaya menuju kamar mandi.
Ugh! Rasanya Kelaya sangat ingin meninju orang itu. Bagaimana tidak, dia seperti kantong hitam yang isinya tidak bisa ditebak. Disaat Kelaya pikir Elkan adalah pria bujangan karena dia bersedia saja menikah dengannya tanpa menjelaskan statusnya, rupanya dia malah sudah memiliki anak yang membuat Kelaya merasa sangat berdosa jika ternyata Elkan malah menduakan istri pertama. Lalu disaat Kelaya pikir Elkan akan meninggalkannya yang terpincang-pincang, pria itu malah menggendongnya dalam sisa perjalanan mereka di atas jalanan yang agak menanjak dan berkerikil. Dia meminta teman-temannya untuk membawakannya pakaian juga obat.
Kelaya seolah diberikan perhatian, tapi detik berikutnya Elkan akan sangat menjatuhkan mentalnya. Menyebalkan, kan?
* * *
Elkan keluar dari kamar mandi, kursi yang tadi ditempati Kelaya sudah kosong, dia berasumsi, wanita itu sudah beranjak ke dapur untuk mengisi perutnya.
Bagus. Batinnya berucap.
Ia masuk ke dalam kamarnya, untuk berpakaian santai yang bersih, tubuhnya sudah sangat segar, tidak ada lagi sisa bau kambing.
Elkan menuju dapur, dia tidak memungkiri perutnya juga lapar dan butuh diisi. Kelaya sudah duduk pada salah satu kursi kayu itu, dia tidak sedang makan, melainkan sedang menuliskan sesuatu pada selembar kertas.
Elkan tidak bertanya apa yang sedang ditulis wanita itu, karena merasa apa pun yang dilakukan wanita itu saat ini bukan lah urusannya. Dia hanya ingin makan dengan tenang. Tapi sepertinya, mulai sekarang 'makan dengan tenang' akan mempunyai definisi yang berbeda.
"Ini." Tiba-tiba saja Kelaya memberikan lembaran kertas yang tadi sedang dibubuhkan tulisan olehnya kepada Elkan yang baru saja berhasil memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.
Dirinya saat ini antara memuji rasa hasil masakan Kelaya yang enak meski bukan dalam kategori lezat, dan bingung dengan lembaran kertas yang diberikan wanita itu.
"Apa ini?"
"Kontrak pernikahan."
Uhuk!
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Nurwana
lanjut...
2024-06-11
0