Elkan berlari mencari keberadaan Kelaya, kekhawatiran gadis kota itu tersesat atau terkilir lagi di tengah hutan membuat langkah Elkan semakin dipercepat, kepalanya bergerak kanan dan kiri mencari keberadaan Kelaya yang mungkin sedang meratapi nasibnya di tengah hutan seorang diri, kekhawatirannya semakin tinggi ketika mendengar suara air sungai. Bagaimana jika Kelaya tergelincir dan hanyut? Elkan sendiri tidak tahu apakah gadis itu bisa berenang atau tidak.
Kakinya seketika berhenti bergerak saat melihat sosok yang dicarinya sedang duduk santai di atas bebatuan di tepi sungai kecil itu. Wajahnya menengadah hingga sinar matahari menyinari dengan sempurna sosoknya yang mungil itu. Elkan tertegun sejenak, Kelaya seperti peri hutan yang tengah beristirahat.
Bahkan saat gadis itu melotot dan meninggikan nada suara kepadanya, Elkan malah sibuk menenangkan debaran jantungnya sendiri. Dia pasti sudah gila, kan?
Bibirnya berdarah? Apakah dia terjatuh? Apakah lututnya terluka? Apa kakinya terkilir lagi? Ah, tapi dia bisa melangkah dengan baik. Dia tidak terjatuh. Tapi kenapa bibirnya berdarah? Sial! Wajahnya juga pucat.
"Aku rasa, kau pasti tahu jalan pulang sendiri." ujarnya setelah melemparkan kantong yang berisi air minum dan beberapa makanan yang dia sempatkan beli pada penduduk lokal yang biasa berjualan berkeliling dan mendatangi peternakan dan ladang milik Elkan.
Tapi dia terlihat baik-baik saja. Bagus lah. Dia mencoba menenangkan hatinya sendiri, sementara kakinya sudah melangkah menjauh dari posisi Kelaya berdiri disana. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sesuatu pada seseorang, setelah mendapatkan balasan, Elkan semakin menggerakkan kakinya meninggalkan tempat dimana Kelaya tercekat melihat isi dari kantong yang dibawa Elkan.
Sesampainya di pondok, Elkan langsung mengumpulkan kayu-kayu bakar, membelah mereka untuk mengalihkan pikiran dari hal yang seharusnya tidak boleh mengusiknya. Elkan menancapkan sebentar kapak itu di atas permukaan sisa batang kayu yang dijadikan tempat untuknya membelah kayu-kayu bakar. Dia membuka kausnya, karena merasa hari ini rasanya udara begitu panas padahal ia berada di tengah hutan diantara pebukitan.
Kenapa mereka belum datang? Sesekali matanya melihat ke jalur setapak yang menjadi akses berjalan.
Apakah mungkin tersesat? Ah, tidak mungkin! Oke, aku harus berhenti memikirkannya!
Tapi sialnya, setiap kali dia menceramahi dirinya untuk berhenti memikirkan gadis kota yang sudah menjebaknya dalam sebuah pernikahan ini, pikirannya justru selalu melayang kembali disaat ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan mendapati sosok Kelaya dengan rambutnya yang diikat asal ke atas dengan pakaian yang serba minim itu. Lekukan yang menggantung pada dadanya tercetak jelas dibalik tank top merah muda itu, kulit mulusnya yang terekspos nyata, leher dan hingga tulang selangka yang membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
BRAK! Satu kayu lagi dibelah dengan tenaga yang agak berlebihan sampai kapak itu menancap pada permukaan meja batang kayunya.
Ah sial! Gerutunya dalam hati.
Aku benar-benar harus melupakannya!
Tapi sialnya lagi, ingatan akan mata indah dengan warna manik mata yang unik, bulu mata yang lebat dan lentik dan ketika mata itu terpejam dan terbuka di bawah sinar matahari kembali meronta-ronta di dalam benak Elkan.
Elkan menggelengkan kepalanya, sebagai upaya menyingkirkan pikiran-pikiran terlarangnya. Dia melihat hari semakin senja, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan siapa pun di jalan setapak itu. Perasaannya mulai was-was.
Dia menghela napas panjang, kemudian menancapkan kapak itu di atas permukaan batang kayu, lalu segera melangkah untuk menyusul mengingat rute dari sungai untuk kembali ke pondok sangat jauh dan gelap. Tapi baru beberapa langkah dia hendak meninggalkan tempat, langkahnya terhenti begitu sebuah mobil jeep khusus berhenti di depan sisi pagar yang berada pada sisi jalanan yang lebih lebar.
Kelaya keluar dari dalam jeep itu bersama Sena dan Haru.
"Halo, Bos!" Haru menyapa sambil melambaikan tanganya santai, senyumnya jenaka seperti biasa.
Sementara Sena bermuka masam melihat tampilan Elkan tanpa kaus dan membuat otot-otot besar itu terampang nyata di depan mata semua orang.
Lain halnya dengan Sena, kesadaran seseorang terampas begitu saja ketika melihat bagaimana tubuh yang tegap dan dilengkapi otot-otot liat itu bergerak mendekat.
"Kau ini gorila atau apa? Pakai bajumu!" Omelan Sena seperti sebuah petir yang mengejutkan di siang hari terik. Baik Kelaya atau pun Elkan sama-sama terkesiap. "Hah, dasar!"
Haru terkekeh melihat bagaimana Elkan sedikit berlari untuk menyambar bajunya yang tergeletak di atas tumpukan kayu.
"Masuklah, tubuhmu kedinginan." kata Sena kepada Kelaya yang membuat daun kuping Elkan bergerak.
Dia kedinginan?
* * *
Mereka duduk di atas karpet di depan perapian, makan malam sederhana yang dibuat Kelaya sudah habis mengisi perut-perut mereka.
"Istri Elkan pandai memasak rupanya." Puji Haru sambil mengusap perutnya.
"Terima kasih." Sahut Kelaya dengan senyuman.
"Ck, bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu di tengah hutan?" Sena menatap sinis pada Elkan yang sejak tadi diam seribu bahasa. Tidak aneh, tapi cukup menyebalkan.
Elkan tidak menjawab, dia hanya menatap lurus kobaran api yang menjilat batang kayu bakar itu.
"Omong-omong, aku tidak sempat bertanya pada kalian tadi, bagaimana kalian bisa tahu ada aku disana?" tanya Kelaya. Pertanyaan itu membuat Elkan melirik sebentar, kemudian kembali menatap lurus perapian.
Sena membuang napas kasar, "Anggap saja aku mempunyai intuisi untuk berburu disana. Jadi aku ajak Haru, jika aku berhasil mendapatkan rusa yang besar, Haru akan bertugas membopongnya." jawab Sena sambil melirik sekilas pada Elkan, lirikan sinis.
"Ah, maaf, karena menolongku, kalian jadi gagal berburu." sahut Kelaya dengan nada menyesal.
Tapi Haru terkekeh. "Tidak bisa dikatakan gagal juga."
"Oh, jadi kalian berhasil mendapatkan rusa? Tapi aku tidak melihatnya di dalam jeep? Lalu kalian berburu dengan apa? Karena aku tidak mendengar apa-apa sebelum kalian menemukanku."
Tapi Haru hanya terkekeh alih-alih menjawab pertanyaan Kelaya yang penuh dengan nada penasaran.
"Ya, untungnya kami segera menemukanmu sebelum kau mati kedinginan di tengah hutan." Sahut Sena masih dengan nada ketus.
"Hmm, aku tidak sekedinginan itu, kok." jawab Kelaya.
Sena hanya mendengkus.
"Hei, apa kau pernah berburu?" tanya Haru tiba-tiba kepada Kelaya.
"Berburu? Maksudmu menembak hewan dengan senapan?"
"Ya, semacam itu."
"Tidak pernah, lah." Kekeh Kelaya.
"Mau kuajari cara berburu?" Haru menawarkan jasa dengan sangat tiba-tiba, membuat Sena memutar bola matanya.
"Kau mau mengajariku?"
"Tentu saja kalau kau mau."
"Mau! Mau!"
"Hei, Bos, istrimu boleh, kan belajar berburu?" Haru bertanya dengan nada jenaka pada Elkan, yang hanya disahuti dengan decakan malas.
"Tapi apa kau bisa berburu dengan panah?" Pertanyaan Kelaya sontak membuat semua mata tertuju padanya, termasuk sepasang mata tajam milik Elkan.
"Kenapa harus panah?"
"Aku pernah melihatnya di film-film, sepertinya sangat keren." Kelaya kemudian memeragakan seolah dia sedang memegang busur dan melepaskan panah ke target sasarannya.
"Apa kau tahu film The Lord Of The Rings?" tanya Haru yang seketika membuat kedua mata Kelaya berbinar.
"Tahu dong! Legolas adalah karakter kesukaanku, dia pemanah yang hebat!"
"Nah, kalau kau ingin berburu dengan panah, kau harus belajar dari seseorang yang lebih jago dari Legolas, tapi bukan aku."
"Oh, ya, siapa?"
Haru menggerakkan dagunya, menunjuk seseorang yang duduk di sisi kiri Kelaya, seseorang yang kini menatap Haru dengan tatapan setajam panah milik Legolas.
"Kau... bisa memanah?" tanya Kelaya kepada Elkan.
Suara kekehan Haru membuat Elkan ingin sekali menggetok kepala Haru dengan kayu bakar yang ada di dalam perapian, tapi Sena mewakilinya lebih dulu, meski bukan dengan kayu bakar tapi dengan sendok bekas makannya.
"Sebaiknya berhenti bicara ngawur!" Sena melotot galak.
"Baiklah, ayo kita pulang saja, kurasa tugas kita memang sudah selesai."
"Tugas?"
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments