Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik

Elkan berlari mencari keberadaan Kelaya, kekhawatiran gadis kota itu tersesat atau terkilir lagi di tengah hutan membuat langkah Elkan semakin dipercepat, kepalanya bergerak kanan dan kiri mencari keberadaan Kelaya yang mungkin sedang meratapi nasibnya di tengah hutan seorang diri, kekhawatirannya semakin tinggi ketika mendengar suara air sungai. Bagaimana jika Kelaya tergelincir dan hanyut? Elkan sendiri tidak tahu apakah gadis itu bisa berenang atau tidak.

Kakinya seketika berhenti bergerak saat melihat sosok yang dicarinya sedang duduk santai di atas bebatuan di tepi sungai kecil itu. Wajahnya menengadah hingga sinar matahari menyinari dengan sempurna sosoknya yang mungil itu. Elkan tertegun sejenak, Kelaya seperti peri hutan yang tengah beristirahat.

Bahkan saat gadis itu melotot dan meninggikan nada suara kepadanya, Elkan malah sibuk menenangkan debaran jantungnya sendiri. Dia pasti sudah gila, kan?

Bibirnya berdarah? Apakah dia terjatuh? Apakah lututnya terluka? Apa kakinya terkilir lagi? Ah, tapi dia bisa melangkah dengan baik. Dia tidak terjatuh. Tapi kenapa bibirnya berdarah? Sial! Wajahnya juga pucat.

"Aku rasa, kau pasti tahu jalan pulang sendiri." ujarnya setelah melemparkan kantong yang berisi air minum dan beberapa makanan yang dia sempatkan beli pada penduduk lokal yang biasa berjualan berkeliling dan mendatangi peternakan dan ladang milik Elkan.

Tapi dia terlihat baik-baik saja. Bagus lah. Dia mencoba menenangkan hatinya sendiri, sementara kakinya sudah melangkah menjauh dari posisi Kelaya berdiri disana. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sesuatu pada seseorang, setelah mendapatkan balasan, Elkan semakin menggerakkan kakinya meninggalkan tempat dimana Kelaya tercekat melihat isi dari kantong yang dibawa Elkan.

Sesampainya di pondok, Elkan langsung mengumpulkan kayu-kayu bakar, membelah mereka untuk mengalihkan pikiran dari hal yang seharusnya tidak boleh mengusiknya. Elkan menancapkan sebentar kapak itu di atas permukaan sisa batang kayu yang dijadikan tempat untuknya membelah kayu-kayu bakar. Dia membuka kausnya, karena merasa hari ini rasanya udara begitu panas padahal ia berada di tengah hutan diantara pebukitan.

Kenapa mereka belum datang? Sesekali matanya melihat ke jalur setapak yang menjadi akses berjalan.

Apakah mungkin tersesat? Ah, tidak mungkin! Oke, aku harus berhenti memikirkannya!

Tapi sialnya, setiap kali dia menceramahi dirinya untuk berhenti memikirkan gadis kota yang sudah menjebaknya dalam sebuah pernikahan ini, pikirannya justru selalu melayang kembali disaat ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan mendapati sosok Kelaya dengan rambutnya yang diikat asal ke atas dengan pakaian yang serba minim itu. Lekukan yang menggantung pada dadanya tercetak jelas dibalik tank top merah muda itu, kulit mulusnya yang terekspos nyata, leher dan hingga tulang selangka yang membuat jantungnya tidak baik-baik saja.

BRAK! Satu kayu lagi dibelah dengan tenaga yang agak berlebihan sampai kapak itu menancap pada permukaan meja batang kayunya.

Ah sial! Gerutunya dalam hati. 

Aku benar-benar harus melupakannya!

Tapi sialnya lagi, ingatan akan mata indah dengan warna manik mata yang unik, bulu mata yang lebat dan lentik dan ketika mata itu terpejam dan terbuka di bawah sinar matahari kembali meronta-ronta di dalam benak Elkan.

Elkan menggelengkan kepalanya, sebagai upaya menyingkirkan pikiran-pikiran terlarangnya. Dia melihat hari semakin senja, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan siapa pun di jalan setapak itu. Perasaannya mulai was-was.

Dia menghela napas panjang, kemudian menancapkan kapak itu di atas permukaan batang kayu, lalu segera melangkah untuk menyusul mengingat rute dari sungai untuk kembali ke pondok sangat jauh dan gelap. Tapi baru beberapa langkah dia hendak meninggalkan tempat, langkahnya terhenti begitu sebuah mobil jeep khusus berhenti di depan sisi pagar yang berada pada sisi jalanan yang lebih lebar.

Kelaya keluar dari dalam jeep itu bersama Sena dan Haru.

"Halo, Bos!" Haru menyapa sambil melambaikan tanganya santai, senyumnya jenaka seperti biasa.

Sementara Sena bermuka masam melihat tampilan Elkan tanpa kaus dan membuat otot-otot besar itu terampang nyata di depan mata semua orang.

Lain halnya dengan Sena, kesadaran seseorang terampas begitu saja ketika melihat bagaimana tubuh yang tegap dan dilengkapi otot-otot liat itu bergerak mendekat.

"Kau ini gorila atau apa? Pakai bajumu!" Omelan Sena seperti sebuah petir yang mengejutkan di siang hari terik. Baik Kelaya atau pun Elkan sama-sama terkesiap. "Hah, dasar!"

Haru terkekeh melihat bagaimana Elkan sedikit berlari untuk menyambar bajunya yang tergeletak di atas tumpukan kayu.

"Masuklah, tubuhmu kedinginan." kata Sena kepada Kelaya yang membuat daun kuping Elkan bergerak.

Dia kedinginan?

* * *

Mereka duduk di atas karpet di depan perapian, makan malam sederhana yang dibuat Kelaya sudah habis mengisi perut-perut mereka.

"Istri Elkan pandai memasak rupanya." Puji Haru sambil mengusap perutnya.

"Terima kasih." Sahut Kelaya dengan senyuman.

"Ck, bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu di tengah hutan?" Sena menatap sinis pada Elkan yang sejak tadi diam seribu bahasa. Tidak aneh, tapi cukup menyebalkan.

Elkan tidak menjawab, dia hanya menatap lurus kobaran api yang menjilat batang kayu bakar itu.

"Omong-omong, aku tidak sempat bertanya pada kalian tadi, bagaimana kalian bisa tahu ada aku disana?" tanya Kelaya. Pertanyaan itu membuat Elkan melirik sebentar, kemudian kembali menatap lurus perapian.

Sena membuang napas kasar, "Anggap saja aku mempunyai intuisi untuk berburu disana. Jadi aku ajak Haru, jika aku berhasil mendapatkan rusa yang besar, Haru akan bertugas membopongnya." jawab Sena sambil melirik sekilas pada Elkan, lirikan sinis.

"Ah, maaf, karena menolongku, kalian jadi gagal berburu." sahut Kelaya dengan nada menyesal.

Tapi Haru terkekeh. "Tidak bisa dikatakan gagal juga."

"Oh, jadi kalian berhasil mendapatkan rusa? Tapi aku tidak melihatnya di dalam jeep? Lalu kalian berburu dengan apa? Karena aku tidak mendengar apa-apa sebelum kalian menemukanku."

Tapi Haru hanya terkekeh alih-alih menjawab pertanyaan Kelaya yang penuh dengan nada penasaran.

"Ya, untungnya kami segera menemukanmu sebelum kau mati kedinginan di tengah hutan." Sahut Sena masih dengan nada ketus.

"Hmm, aku tidak sekedinginan itu, kok." jawab Kelaya.

Sena hanya mendengkus.

"Hei, apa kau pernah berburu?" tanya Haru tiba-tiba kepada Kelaya.

"Berburu? Maksudmu menembak hewan dengan senapan?"

"Ya, semacam itu."

"Tidak pernah, lah." Kekeh Kelaya.

"Mau kuajari cara berburu?" Haru menawarkan jasa dengan sangat tiba-tiba, membuat Sena memutar bola matanya.

"Kau mau mengajariku?"

"Tentu saja kalau kau mau."

"Mau! Mau!"

"Hei, Bos, istrimu boleh, kan belajar berburu?" Haru bertanya dengan nada jenaka pada Elkan, yang hanya disahuti dengan decakan malas.

"Tapi apa kau bisa berburu dengan panah?" Pertanyaan Kelaya sontak membuat semua mata tertuju padanya, termasuk sepasang mata tajam milik Elkan.

"Kenapa harus panah?"

"Aku pernah melihatnya di film-film, sepertinya sangat keren." Kelaya kemudian memeragakan seolah dia sedang memegang busur dan melepaskan panah ke target sasarannya.

"Apa kau tahu film The Lord Of The Rings?" tanya Haru yang seketika membuat kedua mata Kelaya berbinar.

"Tahu dong! Legolas adalah karakter kesukaanku, dia pemanah yang hebat!"

"Nah, kalau kau ingin berburu dengan panah, kau harus belajar dari seseorang yang lebih jago dari Legolas, tapi bukan aku."

"Oh, ya, siapa?"

Haru menggerakkan dagunya, menunjuk seseorang yang duduk di sisi kiri Kelaya, seseorang yang kini menatap Haru dengan tatapan setajam panah milik Legolas.

"Kau... bisa memanah?" tanya Kelaya kepada Elkan.

Suara kekehan Haru membuat Elkan ingin sekali menggetok kepala Haru dengan kayu bakar yang ada di dalam perapian, tapi Sena mewakilinya lebih dulu, meski bukan dengan kayu bakar tapi dengan sendok bekas makannya.

"Sebaiknya berhenti bicara ngawur!" Sena melotot galak.

"Baiklah, ayo kita pulang saja, kurasa tugas kita memang sudah selesai."

"Tugas?"

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!