Kelaya menggeliat di dalam balutan selimut tebal yang hangat dan lembut, aroma maskulin menyapa indra penciumannya seketika begitu kesadaran memenuhi dirinya, ia mengerjapkan mata dan melihat sekeliling.
"Kamar?" Kening Kelaya berkerut. Dia terduduk seketika di atas ranjang yang nyaman itu. Apakah dia masih tidur dan sedang bermimpi, atau semalam dia berjalan sambil tertidur? Kelaya mencubit lengan dan pipinya, dan meringin kemudian karena merasakan efek dari cubitan itu. Artinya? Dia sudah sepenuhnya bangun dari dunia mimpi, dan kenyataan yang ada sekarang adalah dia benar-benar terbangun di dalam kamar Elkan, di atas ranjang pria itu.
"Astaga!" Kelaya menutup bibirnya. "Apa aku tidur sambil berjalan?"
Buru-buru dia turun dari ranjang, kakinya yang ramping itu segera membawa Kelaya keluar dari dalam kamar, namun kesunyian langsung menyambutnya. Bukan hal yang aneh sebenarnya, hanya saja, pagi ini jauh lebih sunyi dari pada pagi-pagi sebelumnya.
Kelaya menuju dapur, tapi ruangan itu kosong, begitu pun dengan bengkel dan kamar mandi. Elkan tidak ada dimana pun. Kemana dia? Langkah Kelaya berhenti ketika melewati kulkas, ada sebuah kertas biru muda yang tertempel di sana, kertas yang sebelumnya tidak ada pada permukaan pintu kulkas, jadi Kelaya yakin, kertas itu bukan tidak sengaja tertempel disana.
[Aku keluar. Tidak perlu ke ladang dan peternakan. Jangan keluar rumah. Aku akan segera kembali.]
Begitu lah sederet kalimat yang tertulis rapih pada permukaan kertas biru itu.
Ada kelegaan, tapi juga ada sesak yang menelusup dalam dada Kelaya. Entahlah, Kelaya tidak mengerti dengan rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Ini adalah kali pertama dia merasakan rasa yang begitu membuat suasana hatinya bagaikan naik wahana ekstrem.
Kelaya duduk pada salah satu kursi makan, tangannya terulur membuka tudung saji yang ada di atas meja, lagi-lagi perasaan asing menelusup ke dalam dadanya begitu melihat sajian masakan matang di atas meja dan sebuah catatan dalam secarik kertas biru ada di sana.
[Makan sarapanmu, tidak perlu berpikir berat.]
Kening Kelaya mengkerut. Berpikir berat? Apa maksudnya? Apakah dia sedang menyinggung perbincangan mereka kemarin sore?
Ah, kalau dipikir-pikir, pertanyaan Kelaya yang terakhir cukup memalukan, dia bagaikan wanita tidak tahu diri yang mengharapkan cinta dari seseorang yang sudah dia repotkan. Tapi, Kelaya juga tidak bisa memungkiri, rasa yang mengusik dadanya itu semakin membuat sesak dadanya penuh. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Ia tidak tahu, dia tidak pernah merasakan perasaan yang membuatnya gelabut tak karuan. Tapi, dia pernah dengar, jatuh cinta itu indah. Lalu, kenapa yang dia rasakan malah sebaliknya?
* * *
"Kapan kau tahu?" tanya Elkan. Mereka - Elkan, Haru, Sena, Suji, Jiko - duduk bersama di dalam sebuah ruangan yang serba hitam. Sebuah tablet tergeletak di atas meja bundar yang mereka lingkari.
"Dua hari yang lalu, sebelum penyerangan di rumahmu kemarin malam." jawab Haru.
Kepalan tangan Elkan mengeras di atas meja. "Lalu apa yang sudah kau dapatkan dari tikus-tikus itu?"
"Mereka orang-orang bayaran yang selama ini mengawasimu, Bos." jawab Haru lagi seraya menunjukkan darah yang masih segar pada tangannya. "Siksaanku masih membuahkan jawaban yang sama, mereka tidak tahu siapa yang membayar mereka."
"Sial."
"Kau lengah, Bos?" tanya Suji.
"Entahlah."
"Jangan bilang, gadis itu sudah mengalihkanmu." Timpal Jiko.
Elkan tidak menyahut. Dia hanya mengeraskan garis rahangnya sehingga membuat garis rahang pria itu semakin tegas.
"Kurasa tidak ada hubungannya dengan kehadiran Kelaya." Sena menyahut. "Dia bersih."
"Kau membelanya." kata Suji.
"Aku sudah memeriksanya." Sena mengangkat dagunya.
"Kakak ipar tidak bersalah." Haru menimpali.
"Spertinya dia tahu tentang Kelaya." Dagu Elkan menunjuk wajah seseorang yang berpendar dalam layar tablet itu.
"Dia mengincar Kelaya juga?" tanya Sena.
Elkan mengangguk. "Salah satu dari tikus itu menggunakan suaraku untuk mendapatkan Kelaya."
:"Mereka memantaumu sudah sejak lama rupanya." Jiko berkomentar.
"Tapi kenapa mereka juga mengincar Kelaya?" tanya Suji.
"Tentu saja, karena masa lalu yang belum usai." Haru menimpali. Ia menepuk bahu Elkan sembari mendesah berat, "Sudah kukatakan, sebaiknya kau kembali saja, pensiun dini pun tetap membuatmu tidak sepenuhnya terlepas."
Elkan mendengus malas.
"Kalau dia mengincar Kelaya juga, bukan kah itu berarti Kelaya dalam bahaya? Apa tidak sebaiknya kau kembalikan dia kepada keluarganya saja?" tanya Sena.
"Benar juga, lagi pula pernikahan kalian tidak sungguhan, bukan? Atau mungkin, sebuah ciuman sudah mengubah sesuatu?" Haru menyeringai jahil.
Seketika Elkan mendelik tajam kepadanya. Haru malah terkekeh senang sekali.
Sementara Suji dan Jiko memasang wajah keterkejutan mereka yang sangat langka.
Dan yang membuat Haru semakin renyah tertawa adalah Elkan yang tidak mengelak sama sekali, meski pun pria itu juga tidak mengakui apa pun. Ia hanya bangkit berdiri dari kursinya, kemudian berkata, "Temukan keberadaan dirinya." Kemudia dia beranjak keluar dari ruangan gelap itu.
Bug! Tampolan Sena mendarat pada lengan Haru. "Apa kau akan selalu menggodanya seperti itu?"
"Lucu saja!" kata Haru masih dengan sisa tawanya sembari mengusap lengannya yang berdenyut. "Tapi aku senang, setidaknya sekarang dia kembali mempunyai tujuan hidup."
"Yeah, bukan hanya sekadar mengurus kambing." Sahut Jiko.
"Sangat disayangkan dengan kemampuan yang Bos miliki, dia pergunakan hanya untuk memerah susu kambing." Suki menimpali.
Dan Haru malah tertawa hingga terpingkal-pingkal.
* * *
Rasa bosan menyerang Kelaya. Aktifitas sebagai peternak kambing dan petani sayuran sudah membuatnya nyaman. Keramahan orang-orang desa juga membuat Kelaya selalu merasa lebih baik. Dia merasa hidup dan bebas setelah bertahun-tahun hidup di dalam sangkar emasnya.
Kali ini, berdiam diri sendiran di dalam pondok yang sunyi membuat kenangan pahit tentang hidupnya di masa lalu kembali mengisi relungnya. Dia ingin menyingkirkan semua kenangan yang telah terjadi itu, jadi dia memutuskan untuk pergi ke ladang saja. Lagi pula, Kelaya sudah tahu rute jalan kaki menuju ladang dan perternakan.
Kelaya mengganti pakaiannya dan keluar dari pondok dengan senyum yang lebar setelah meninggalkan secarik pesan untuk Elkan jika pria itu kembali ke pondok lebih dulu.
Sambil bersenandung, dia menenteng keranjang berisi minuman dingin dan beberapa makanan ringan untuk dia bagikan kepada para pekerja di ladang dan peternakan. Sinar matahari menyinarinya melalui celah-celah dedaunan dari pepohonan yang menjulang tinggi. Udara yang hangat tapi jua sejuk memenuhi paru-parunya. Untuk sejenak, dia merasakan damai dan tenang. Disingkirkan sementara kerisauan hatinya, yang dia ganti dengan rencana-rencana sederhana yang akan dia lakukan seorang diri, seperti: dia akan ke sungai kecil setelah dari ladang untuk bermain air sebentar. Ah, membayangkan kesegaran air sungai itu saja sudah membuat Kelaya menambah kecepatan pada langkah kakinya.
Kedatangannya ke ladang disambut hangat oleh para pekerja di sana, mereka juga ikut senang ketika Kelaya membagikan minum dan makanan untuk dinikmati bersama-sama. Tak sedikit juga dari para pekerja yang memuji kebaikan Kelaya. Kehadiran Kelaya di ladang membawa dampak yang baik untuk semua orang.
Setelah selesai dari ladang, Kelaya melanjutkan rencananya untuk ke sungai kecil. Tempat dimana dia kabur di hari pertamanya bekerja di ladang kala itu. Suara aliran air sungai yang mulai terdengar membuat rasa semangat membuncah dalam dadanya.
"Ah.." Kelaya mendesah lega, kedua matanya berbinar melihat sungai di depan matanya. Kakinya melangkah ringan menuju bebatuan di tepi sungai. Dia meletakkan keranjang yang sudah kosong di atas tanah, kemudian dirinya mulai menginjak salah satu bebatuan dan duduk disana. Dia menurunkan kedua kakinya yang lepas dari alas kaki. Membiarkan riak air yang dingin itu menguasai sebagian kakinya, sangat sejuk dan menyenangkan.
Ketenangan ini bisa sedikit meringankan kegundahan hatinya atas rasa yang terkadang membuat suasana hatinya naik turun.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama, pendengarannya menangkap sebuah suara lain selain suara air. Suara ranting yang patah dan dedauan kering yang terinjak jelas bukan suara-suara yang bisa dibunyikan oleh tiupan angin. Alih-alih menoleh saja, Kelaya memilih langsung berdiri dengan panik, pikirannya langsung tertuju pada beruang coklat besar yang mungkin kini sedang berdiri tepat di belakangnya. Tapi, karena rasa paniknya itu, kakinya yang basah tergelincir dari pijakan batu.
"Akkk!" Kelaya terpeleset.
Grep! Cengkraman tangan yang besar mengunci pergelangan tangannya sehingga menahan tubuhnya dari insiden yang memungkinkan dirinya hanyut di sebuah sungai.
Kelaya membuka matanya karena merasakan tubuhnya yang ditarik dari bebatuan dengan sangat mudah. Salah satu tangannya mendarat pada dada bidang seseorang yang telah menolongnya. Ia mendongak dan melihat sebuah wajah asing yang tampan tersenyum padanya.
"Halo, cantik!"
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Lisa Halik
musuh elkan
2025-02-10
0