Chapter 2. Wanita Gila.

"Bagaimana kalau kau dan aku menikah saja?"

"Apa kau sudah gila?" tanya Elkan sambil mematikan aliran air. Dan menghadap wanita itu.

"Tidak juga. Coba kau pikir, kau lajang dan aku butuh seorang suami, pas, kan?"

"Bagaimana bisa kau ajak orang asing yang baru kau temui untuk menikahimu?"

"Pasangan suami istri pada hakikatnya berawal dari orang asing, kan?"

Elkan sampai menggelengkan kepalanya, tak percaya sama sekali dengan cara wanita itu berpikir.

"Tidak apa-apa kalau kau menganggapku gila, asalkan kita menikah, bagaimana?"

"Tidak!"

"Tapi aku harus segera menikah."

"Silahkan, tapi bukan denganku."

"Tapi kau satu-satunya kandidat."

"Aku tidak mendaftar sebagai kandidat apa pun!"

"Dengar, aku juga tidak mau seperti ini. Tapi situasi dan kondisi memaksaku. Apa kau ingin tahu apa yang menjadi alasanku berada disituasi seperti ini?"

"Aku tidak peduli."

"Jadi," Kelaya tetap mulai bercerita meski dengan jelas Elkan tidak memperdulikan apa pun alasan wanita itu. "aku kabur dari rumah karena pamanku menjodohkanku pada seorang pebisnis yang sudah tua."

Elkan meninggalkan dapur untuk masuk ke dalam bengkel, Kelaya tidak putus asa, dia membawa mangkuknya dan mengikuti kemana pun Elkan pergi.

"Kakek itu memiliki tiga orang istri, anak-anaknya sangat banyak, bahkan sudah ada cucunya yang seumuran denganku." Kelaya terus bercerita meski Elkan terlihat acuh sama sekali. Sesekali dia berhenti untuk menyuap mie instannya yang sudah tidak lagi terlalu panas.

"Cucunya itu bahkan pernah mengancam kalau aku menjadi neneknya, dia akan datang setiap malam untuk memuaskanku. Gila, kan?! Dan pamanku sama sekali tidak peduli dengan ancaman yang aku terima, yang penting bisnis tetap berjalan lancar."

Setelah Elkan selesai merapihkan kekacauan barang-barang yang berserak di atas lantai, dia kembali ke dapur, Kelaya terus mengikuti tanpa berputus asa. Elkan menutup dan mengunci pintu, setelah itu dilihatnya mangkuk yang dibawa Kelaya sudah kosong.

"Karena itu aku kabur. Aku hanya membawa bebarapa lembar uang cash dan KTP, supaya pamanku tidak bisa melacakku. Aku naik bis ke bis, tidak tahu kemana bis itu membawaku. Aku menyelinap masuk di atas truk pengangkut sayuran sampai truk pengangkut kambing saat uangku habis. Tapi sialnya, aku ketahuan dan dikejar. Jadi aku berlari masuk ke dalam hutan dan menemukan rumah ini." Kelaya menatap Elkan dengan tatapan memelas, ia menyatukan kedua telapak tangannya, bersikap memohon pengertian dari Elkan.

"Aku tidak bisa pergi lagi, aku juga tidak bisa kembali. Jadi, kumohon, menikahlah denganku."

Elkan mengambil mangkuk kosong itu lalu meletakkannya begitu saja di dalam wastafel cuci piring, lalu menatap Kelaya dengan tatapan matanya yang sejak awal selalu memancarkan sorot yang dingin.

"Sebaiknya kau pergi sekarang." Ujar Elkan dengan nada datar.yang tidak perduli sama sekali dengan kisah yang diceritakan wanita itu.

Kelaya memejamkan matanya, menahan rasa kesal karena ceritanya panjang lebar itu tidak menggugah hati Elkan sedikit pun.

"Tapi ini masih malam dan di tengah hutan." kata Kelaya akhirnya dengan nada nelangsa.

"Kau sudah berhasil lari masuk ke dalam hutan ini juga tadi."

"Tapi-"

Kelaya tidak dapat meneruskan kalimatnya, karena Elkan sudah menarik lengan wanita itu, sedikit menyeretnya agar Kelaya cepat bisa dia keluarkan dari dalam rumahnya.

Gawat! Berpikirlah Kelaya!

Ide pun muncul, Kelaya tiba-tiba terjatuh hingga membuat Elkan juga tepaksa berhenti.

"Akh! Kakiku sepertinya terkilir." katanya sambil menunjukkan ekspresi kesakitan yang meyakinkan umat manusia, meski Kelaya tidak berharap banyak pria dengan mata yang menyorot dingin itu akan percaya pada kebohongan recehnya.

Elkan menghela napas panjang. Ia melepaskan cekalan tangannya pada tangan Kelaya dan memperhatian wanita itu dengan tatapan tajam seraya melipat tangan di depan dada.

"Oke, oke, aku tidak akan memintamu untuk menikah denganku lagi. Tapi, kumohon biarkan aku beristirahat disini, setidaknya sampai pagi. Setelah itu aku akan mencari cara untuk kabur lagi sampai ke ujung dunia."

Elkan masih terdiam dengan tatapannya yang menghunus, tapi Kelaya harus menebalkan hati juga pertahanannya.

"Baiklah. Hanya sampai nanti pagi."

"Siap! Ah, terima kasih!" Senyum di wajah Kelaya merekah. Dia tahu, pria asing yang dingin itu mempunyai hati yang baik. Mungkin kesendirian yang membuatnya menjadi terkesan tidak bersahabat.

Elkan hendak beranjak tanpa berniat untuk membantu wanita yang kakinya sedang terkilir itu untuk berdiri.

"Mau kemana?"

"Tidur."

"Boleh aku mandi dan pinjam baju?"

Elkan mengernyit. "Apa kebaikanku membuatmu melunjak?"

"Bukan begitu, tapi untuk memulai hari esok yang berat, setidaknya aku harus terlihat bersih agar ada orang yang mau mengasihaniku. Aku akan mencuci pakaianku dan menjemurnya disana." Kelaya menunjuk ke arah perapian dimana api masih menari di atas tumpukan kayu bakar. Namun, tidak ada jawaban apa pun dari Elkan, dia hanya terus melangkah hingga masuk ke dalam kamarnya.

Kelaya tersenyum miris. Ia beranjak dari tempatnya menuju kursi tempat pertama kali da terbangun dari pingsannya. Ia mengambil handuk yang tadi dia gunakan untuk membersihkan wajahnya, lalu dia gunakan lagi handuk itu untuk membersihkan leher, lengan dan betisnya.

Tak memungkiri, rasanya Kelaya sangat ingin menangis. Dia tidak pernah berada diposisi yang sangat mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Bahkan sampai rela menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Tapi hanya dengan cara itu, pamannya akan berhenti memaksanya menikah dengan para pebisnis-pebisnis tua pilihan pamannya.

Jika saja papa dan mamanya masih hidup, dia tidak akan pernah berada disituasi sulit dan menyedihkan seperti ini. Kemana lagi dia harus pergi besok? Uang sudah tidak punya.Tapi tekadnya sudah bulat, dia tidak akan kembali pulang. Meski kini dia tidak tahu bagaimana nasibnya, setidaknya dia tidak akan dijadikan tumbal bisnis oleh pamannya yang tamak.

Pintu kamar kembali terbuka, Elkan keluar dengan membawa pakaian, selimut dan handuk bersih yang dia letakkan di atas meja begitu saja.

Kelaya bahkan sampai tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya dan saking terharu, hanya air mata yang akhirnya lolos dari kedua sudut matanya. Melihat Kelaya yang meneteskan air mata, Elkan pun memalingkan wajahnya.

Kelaya mengusap pakaian bersih itu dengan perasaan hangat. "Terima kasih." katanya kemudian.

Tapi Elkan tidak menjawab. Dia kembali meninggalkan Kelaya dan masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu, tidak lagi keluar hingga pagi menjelang.

* * *

"Hei, bangun!" Elkan menendang kaki kursi yang ditempati Kelaya untuk bergelung di bawah selimut. Langit sudah cerah, api di dalam dinding perapian juga sudah padam, menyisakan kayu-kayu bakar yang menghitam. Pakaian luar hingga pakaian dalam wanita itu dijemur tepat di depan perapian.

Elkan berdecak seraya menggelengkan kepalanya. Wanita gila mana yang menjemur pakaian dalamnya di tengah ruangan dari rumah milik seorang pria dewasa sepertinya?

"Bangun!" Kali ini Elkan menendang kaki kursi cukup kuat hingga akhirnya membuat Kelaya terbangun dari tidurnya yang terasa singkat.

"Ada apa?" Kelaya merenggangkan kedua tangannya ke atas. Refleks gerakan itu menggerakkan sesuatu yang tidak terjaga oleh penutupnya dari balik kaus Elkan yang dikenakan Kelaya, gerakan itu tentu saja tertangkap oleh mata dewasa Elkan.

Sial!

Elkan langsung beranjak dari tempatnya. "Cepat bagun, ganti pakaianmu dan pergi dari rumahku!"

"Ah, sudah pagi, ya? Cepat sekali, rasanya aku baru tidur sebentar."

Elkan beranjak ke dapur, dia butuh pengalihan pikiran dari benda yang bergoyang dari balik kaus yang dikenakan Kelaya. Ia memilih membuat kopi. Kegiatan rutinnya setiap pagi setiap bangun tidur sebelum menjalani aktifitasnya.

"Kau membuat kopi?" Sialnya, wanita itu malah masuk ke dalam dapur, masih dengan pakaian yang sama. Lagi-lagi Elkan mengumpat, mencoba untuk mengalihkan pikirannya kepada kopi yang sedang digilingnya.

"Kenapa masih memakai pakaianku? Apa kau tidak takut di depan pria sepertiku?"

"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Kelaya dengan nada menantang.

"Aku pria dewasa yang normal, aku bisa saja khilaf dan memperko- melecehkanmu."

"Nah!" Satu kata yang tiba-tiba diucapkan dengan nada penuh semangat itu malah membuat Elkan mengernyit. "Dari pada kau khilaf dan malah terjadi tindakan pelecehan, lebih baik menikah denganku. Kau bebas melakukan apa pun padaku jika aku istrimu. Tidak perlu acara khilaf segala."

Entah sudah berapa kali pagi ini Elkan menggelengkan kepalanya. "Cepat pakai pakaianmu, atau aku akan menyeretmu keluar dengan pakaian seperti itu!" Kali ini, nada rendah dan sorot gelap mata Elkan membuat nyali Kelaya sedikit menciut. Entah bagaimana, Kelaya dapat merasakan kesungguhan dalam ancaman pria itu.

Akhirnya Elkan berhasil membuat Kelaya beranjak dari dapur. Kepalanya benar-benar dibuat pusing oleh satu wanita asing. Ini lebih merepotkan dari pada menghadapi segerombolan perampok. Wanita itu muncul tiba-tiba, mengacaukan waktu tidur malamnya, mengganggu ketenangan paginya dan membuat fokus pikirannya terpecah oleh sesuatu yang bergoyang...ah sial! Elkan harus membuat Kelaya pergi secepatnya.

Tok! Tok! Tok!

"Astaga, apa lagi sekarang!" Elkan menggerutu. Dia beranjak dari dapur. Tidak ada lagi pakaian Kelaya di depan perapian, wanita itu pun sepertinya menurut kali ini. Elkan berdeham sebelum membuka pintu rumahnya.

"Jang, ini pesanannya. Maaf kemarin sore belum bisa antar ke sini, istri mendadak ngidam." Seorang pria dengan rambut yang terbelah klimis berdiri di depan pintu rumah Elkan. Dia Pak Hendra, salah satu warga desa yang biasa dimintai tolong oleh Elkan untuk menitip barang-barang keperluan dapur atau rumah lainnya.

"Iya, Pak, tidak apa-apa. Terima kasih." Jawab Elkan dengan bahasa daerah yang sudah fasih dia ucapkan seraya menerima dua kantong belanjaan yang diberikan Pak Hendra.

Elkan meletakkan dua kantong itu ke dalam, lalu kembali ke depan pintu dengan membawa amplop berisi uang untuk membayar upah Pak Hendra seperti biasa. Setelah menerima upahnya, Pak Hendra hendak pergi, tapi sepertinya Kelaya tidak bisa membuat pagi Elkan benar-benar tenang.

"Pakaian dalamku masih basah, apa boleh aku tetap disini dulu sampai-" Kalimat Kelaya menggantung ketika matanya melihat ada orang lain di depan pintu yang juga melihatnya balik dengan tatapan bingung. Kelaya terkesiap, ditangannya dia masih memegang bra-nya yang dia katakan masih basah tadi, sementara dirinya masih mengenakan kaus milik Elkan.

Menyadari kemana tatapan mata Pak Hendra pada bagian depan kaus yang dikenakan Kelaya, Elkan pun bergerak dan berdiri tepat di depan Pak Hendra, untuk menghalangi pandangan pria itu.

"Itu siapa, Jang?"

"Teman."

"Tapi kenapa tidak pakai..." Ucapan Pak Hendra pun juga menggantung di udara, kemudian menatap Elkan dengan tatapan menuduh. "Apa kalian sudah berbuat yang tidak-tidak?"

"Tidak Pak, ini sama sekali tidak seperti yang Pak Hendra pikirkan." Elkan mencoba bersikap tenang untuk menjelaskan situasinya, tapi sepertinya, apa yang sedang dipegang Kelaya lebih menyakinkan bahwa Elkan dan wanita itu telah melakukan 'sesuatu'.

"Lalu kenapa dia tidak memakai dalaman? Wah, Jang! Kamu sudah sangat melanggar aturan desa kita! Saya sama sekali tidak menyangka kamu seperti ini!"

"Dengarkan dulu, Pak, ini tidak-"

"Hei, kamu, kenapa bisa ada di rumah si Ajang? Apa yang sudah kalian perbuat?!" Pak Hendra berusaha melihat Kelaya dari balik bahu Elkan yang tinggi berdiri di depannya.

Tangan Kelaya menyentuh bahu Elkan agar membuat pria itu menyingkir sedikit agar dia bisa bicara atau setidaknya membantu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.

"Aduh, maaf, Pak, saya tidak mengerti bahasa daerah sama sekali. Tapi saya lihat, sepertinya Bapak salah paham dengan kehadiran saya disini." kata Kelaya dengan sopan. Di dadanya kini dia tutupi dengan bantal yang dia ambil dari atas kursi.

"Oalah, orang kota rupanya." kata Pak Hendra, terdengar nada mencemooh dari suaranya. "Pantas saja tidak tahu aturan. Heh!"

"Maaf, Pak, tapi Pak Hendra memang salah paham, kami tidak melakukan apa-apa." Elkan kembali mencoba untuk menenangkan Pak Hendra.

"Benar, Pak, kami tidak melakukan apa-apa. Semalam kami hanya tidur-"

"Semalam? Tidur?" Nada suara Pak Hendra pun mendadak naik tiga oktaf. Elkan sampai harus memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia sudah pasrah!

"Kalian sudah melanggar aturan di desa ini!"

"Melanggar aturan bagaimana, Pak? Kami hanya tidur, istirahat, bukan tidur ber-"

"Mungkin bagi orang kota sepertimu, kumpul kebo bukan hal yang salah, tapi bagi warga desa disini, hal yang kalian lakukan itu sangat melanggar aturan yang harus dikenakan sanksi!"

"Jadi hanya tidur di bawah atap yang sama sudah dikategorikan kumpul kebo?" Tanya Kelaya dengan nada polos yang ingin sekali Elkan bekap mulutnya dengan bantal yang dibawanya itu. Karena semakin Kelaya berusaha menjelaskan, semakin dalam Pak Hendra salah paham pada mereka berdua.

"Tentu saja, bagi pasangan yang belum menikah, itu termasuk kumpul kebo!"

"Oke, tapi kami akan segera menikah, kok, Pak, jadi tidak perlu lah diberikan sanksi segala." Jawaban Kelaya sontak membuat kedua mata Elkan melotot lebar. Dari sorot matanya Elkan seolah mengatakan agar Kelaya menutup mulutnya, tapi wanita itu hanya mengedikkan bahu.

"Wah, jadi kalian benar-benar berbuat mesum, ya?!"

"Tidak, Pak, bukan begitu maksudnya." Elkan benar-benar frustasi, apa lagi melihat sorot kekecewaan dan marah dalam tatapan Pak Hendra yang selama ini sudah banyak membantunya.

"Saya akan telepon kepala desa saat ini juga!" kata Pak Hendra yang sudah menjauh dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang baru saja dia sebut.

Elkan memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Apa kita akan dinikahkan secara paksa?"

Elkan terjebak dalam situasi yang tidak pernah terlintas dalam bayangannya sedikit pun. Dia menatap dingin dan tajam wanita itu. Sepertinya, mulai pagi ini, hari-harinya akan berbeda.

.

.

.

Bersambung~~>>

Terpopuler

Comments

Lisa Halik

Lisa Halik

adui kelaya

2025-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!