Elkan membawa Kelaya kali ini di bagian belakang kandang kambing, yang Kelaya baru tahu bahwa di belakang kandang itu ada sebuah bangunan lagi yang mirip seperti pabrik kecil, lengkap dengan adanya ruangan pendingin, dan segala macam peralatan yang Kelaya baru lihat.
"Ini tempat apa?" tanya Kelaya.
Tapi Elkan adalah Elkan yang terkadang memilih untuk menjawab pertanyaan seseorang di dalam hati alih-alih menggunakan mulut untuk menjawab.
"Hei, apakah ada orang disini?" tanya Kelaya dengan nada setengah menyindir.
Elkan menghela napas, kemudian berbalik badan melihat Kelaya yang sedang menguatkan lilitan syal untuk dia gunakan sebagai masker penutup hidung. Gadis itu masih belum terbiasa dengan aroma khas kambing.
"Ini tempat untuk mengelola susu kambing." Elkan menjawab tanpa memandang Kelaya.
"Jadi, kambing-kambing itu juga diperah susunya?"
"Hm."
"Lalu diminum susunya?"
Pertanyaan itu lah yang akhirnya membawa kedua mata Elkan memandang Kelaya, yang anehnya terlihat imut dan lucu dengan syal yang menutupi setengah wajahnya. Elkan harus menguatkan otot-otot wajahnya agar tidak bergerak dan membuat bibirnya bergerak membentuk lengkungan ke atas.
"Hm."
"Wah, aku baru tahu kalau susu kambing juga bisa dikonsumsi, yang aku tahu selama ini susu kambing bisa dikelola sebagai sabun mandi saja." kata Kelaya semangat, dia terlihat cukup antusias saat tahu ternyata susu kambing juga dibisa dikonsumsi. Kedua matanya berbinar melihat segala peralatan yang ada di pabrik kecil itu.
Elkan mengerutkan kening.
"Kau baru tahu?"
Kelaya mengangguk.
"Apa kau hidup di dalam goa selama ini?"
Kelaya mengernyitkan kening kemudian terkekeh samar. "Aku hidup di dalam sangkar emas selama ini."
Jawaban itu membuat Elkan menutup bibirnya. Meski terkekeh, namun Elkan dapat mendengar nada sedih di dalamnya.
"Oke, mulai sekarang kau harus belajar hidup di luar sangkar emasmu." Sahut Elkan sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya kemudian memberikannya kepada Kelaya.
"Eh, apa ini?"
"Pakai ini, syal seperti itu akan mengganggu aktifitas bekerja disini."
Kelaya menerima dua lembar masker berwarna hitam dengan hati yang jedag-jedug, meski dia sudah mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu terbawa perasaan pada sikap Elkan ketika orang itu sedang bersikap seperti manusia normal.
"Cepat pakai maskermu dan mulai bekerja!"
Nah, kan, manusia itu kembali menjadi gunung es.
Pagi itu Elkan mengajari Kelaya beberapa hal baru yang sepertinya lebih membuat Kelaya bersemangat dibandingkan hari kemarin. Memerah susu kambing secara manual membuat gadis kota itu malahan sering tertawa girang. Hal baru yang menarik bagi Kelaya, pengalaman yang tidak pernah terlintas dalam benak Kelaya sebelumnya. Jika memerah susu kambing adalah hal baru bagi gadis itu, lain halnya dengan Elkan yang diam-diam memperhatikan. Melihat Kelaya tertawa penuh dengan sorot mata berbinar dan sesekali gadis itu mengajak bicara kambing-kambing yang sedang diperahnya agar lebih tenang bahkan meminta ijin kepada hewan mengembik itu ketika Kelaya hendak memerah susu mereka, memberikan sensasi baru di dalam dada Elkan. Sensasi aneh yang menggelitik setiap otot dalam tubuhnya yang terkadang membuatnya tersenyum tanpa dia sadari seperti saat ini.
Aku harus fokus! Elkan mengalihkan pandangannya dari Kelaya, namun suara tawa Kelaya membuat otak memerintahkan kepalanya untuk kembali menengok pada gadis itu.
Tiba waktunya untuk beristirahat, mereka duduk di sebuah gajebo sederhana di samping lahan ladang yang juga baru saja selesai ditanami kembali dengan bibit-bibit sayuran oleh para pekerja. Kehadiran Kelaya yang turut ikut duduk bersama para penduduk lokal yang bekerja di ladang milik Elkan memberikan suasana baru bagi mereka.
Kelaya yang cerewet dan banyak tertawa meski dia tidak mengerti pembicaraan para pakerja yang terkadang menggunakan bahasa daerah membuat waktu istirahat mereka lebih santai dan menyenangkan. Beruntungnya ada seseorang perempuan yang bersedia menerjemahkannya kepada Kelaya.
Mereka menikmati makan siang sederhana yang selalu dibeli Elkan dari pedagang yang sudah menjadi langganan Elkan untuk mengisi perut para pekerjanya. Kelaya terlihat menikmati kebersamaan itu, sama sekali tidak terlihat risih makan dan duduk bersama dengan para pekerja lapangan seperti ini.
"Istrimu harus dijaga, Jang." ucap salah seorang pekerja yang usianya terpaut tiga tahun di atas Elkan.
Elkan hanya mengangguk tanpa bersuara, mulutnya bergerak mengunyah makan siangnya.
"Dia baik dan terlihat sangat tulus, meskipun kesan pertamanya saat itu cukup membuat keributan." Pria itu terkekeh*. "Istrimu juga cantik."*
"Aku akan menjaganya, jangan khawatir." kata Elkan akhirnya bersuara, ada nada tak suka yang tak disadari oleh Elkan. Namun dia menyadari ada rasa gusar ketika Kelaya dipuji oleh pria lain.
Waktu berganti, para pekerja mulai satu per satu meninggalkan ladang dan peternakan setelah pekerjaan mereka selesai, tersisa Kelaya, Elkan dan dua orang pria kembar bernama Suji dan Jiko yang bertugas menjaga peternakan dan ladang di malam hari. Dua pria kembar itu tidak terlihat seperti penduduk lokal yang berwajah ramah, mereka lebih terlihat seperti Elkan yang memiliki ekspresi kaku.
"Aku tidak melihat mereka kemarin." kata Kelaya dalam perjalanan pulang menuju rumah.
"Siapa?"
"Suji dan Kiko?"
"Jiko." Elkan mengoreksi.
"Ah, ya, Jiko. Aku tidak melihat mereka kemarin."
"Karena kau kabur di tepi sungai sampai jam kerja selesai."
Seketika Kelaya menyesali pertanyaannya, jawaban Elkan pelan dan singkat dan cukup menamparnya.
"Yah, siapa suruh memberikan pekerjaan yang langsung berat pada karyawan baru sepertiku, tanpa pelatihan sama sekali." Kelaya berkilah mencari pembelaan atas aksi kaburnya kemarin siang.
Elkan hanya mendengkus tanpa melihat Kelaya dan tetap berjalan.
"Tapi air sungai tempat kemarin itu sangat jernih dan dingin, kau tahu. Itu sangat menyegarkan. Mungkin kalau aku tidak menemukan aliran sungai itu, aku pasti sudah pingsan."
Tiba-tiba langkah kaki Elkan berhenti sampai membuat Kelaya yang berjalan di belakangnya menubruk pungungnya. Kepala Elkan menengadah, seperti sedang memastikan sesuatu.
"Kau sedang apa sih? Kenapa berhenti mendadak? Punggungmu keras sekali seperti tembok, jidatku bisa benjol nih." Kelaya menggerutu seraya mengusap keningnya.
"Kurasa masih cukup waktu. Ayo!" Tiba-tiba saja Elkan membelokkan arah perjalanan pulang mereka.
"Eh, mau kemana?" tanya Kelaya, namun kaki rampingnya tetap mengikuti langkah Elkan. "Kita mau kemana?"
Tapi, Elkan selalu menjadi dirinya yang terbaik, yaitu diam. Jika dulu diam selalu menjadi pilihannya karena dia terlalu malas berbicara hal-hal yang tidak penting, lain halnya dengan sekarang. Diam menjadi pilihannya karena dengan begitu gadis yang berjalan di belakangnya akan menggerutu dengan kalimat-kalimat yang membuat Elkan menyunggingkan senyuman meski senyuman itu sangat samar.
Gerutuan Kelaya mendadak berhenti ketika ia mendengar suara air. Air terjun!
"Apakah ada air terjun disekitar sini?" tanya Kelaya mau tak mau dia menahan lengan Elkan agar pria es itu berhenti dan melihatnya.
"Disana." jawab Elkan akhirnya bersuara sambil menunjuk arah.
"Wah!" Kelaya langusng saja berlari mengikuti arah yang ditunjuk Elkan sebelumnya. "Ke arah sini, kan?"
"Ya."
Lihat, gadis itu berlari dengan langkahnya yang sangat girang, seperti gadis kecil yang dibawa ke toko mainan oleh orang tuanya. Bahkan dalam jarak beberapa meter di depan Elkan, dia bisa mendengar bagaimana suara Kelaya yang memuji pemandangan di depannya.
Tangan kokoh Elkan seketika menangkap pergelangan tangan Kelaya yang hendak melangkah lebih dekat ke curug. Kelaya terkesiap kerena dia pikir Elkan berada beberapa meter di belakangnya.
"Eh, kenapa?"
"Jangan terlalu dekat, biasanya ada beruang yang datang untuk bermain air disana."
"Be-beruang?"
"Hm."
"Aku tidak tahu ada beruang liar disini."
"Karena itu jangan kabur sendirian di dalam hutan."
Kelaya lagi-lagi merasa tersindir oleh perkataan yang dilontarkan dengan nada datar itu.
"Lihat." Elkan menunjuk ke seberang sungai, seekor beruang besar benar-benar datang, bukan hanya satu ekor, tapi tiga ekor. Dua beruang kecil dan satu beruang besar.
"Waah!" Kelaya seperti tesihir dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sorot matanya memandang dengan penuh takjub, ini adalah kali pertama dia melihat keluarga beruang secara langsung.
"Apakah mereka galak?"
"Ya, mereka liar. Karena itu Suji dan Jiko berjaga di peternakan."
"Apa beruang itu akan datang ke peternakan?"
"Mungkin."
"Apa pernah ada yang datang ke peternakan?"
"Pernah."
"Benarkah?" Perhatian Kelaya kini kembali pada Elkan yang berdiri di sebelahnya. "Lalu apa yang terjadi? Maksudku, apakah Suji dan Jiko baik-baik saja?"
Elkan mengernyit tipis, lagi-lagi rasa gusar itu mengusik, dia merasa tidak suka Kelaya mengkhawatirkan laki-laki lain. Meski begitu, Elkan tetap menjawab, "Ya."
"Apa yang mereka lakukan pada beruang itu?"
Elkan menghela napas, menatap Kelaya dengan tatapan terbaiknya, "Apa kau sedang melakukan interogasi? Kenapa banyak sekali bertanya."
"Aku hanya penasaran tahu! Aku tidak pernah tahu bahwa kejadian seperti ini benar-benar terjadi di dunia nyata."
"Memangnya selama ini kau hidup di dunia apa?" Tentu saja Elkan tidak benar-benar bertanya.
"Memangnya kau pikir apa yang bisa dilihat seekor burung dari dalam sangkar?" Kelaya memberengut, dia memalingkan pandangannya kembali pada tiga ekor beruang disana.
"Mereka menembaknya." Elkan akhirnya menjawab pertanyaan Kelaya.
"Apa?! Di-ditembak? Di-dibunuh maksudmu?" Kedua mata Kelaya melebar.
"Jika itu memang diharuskan." jawab Elkan. "Tapi dulu, Suji hanya menembaknya dengan bius."
"Uh, kasihan sekali. Semoga mereka tidak datang ke peternakan lagi. Lihat, mereka lucu sekali!"
"Ya, lucu, kalau kau melihatnya dari sini."
Kelaya tersenyum kecut.
"Apa beruangnya yang ditembak Suji ada disana?"
"Induknya."
"Wah, Suji menembak beruang yang sebesar itu?"
Cih, lagi-lagi Elkan merasa gusar melihat Kelaya memuji laki-laki lain di depannya.
"Dulu masih kecil."
"Wah, sekarang malah sudah punya anak-anak, ya? Eh, apa kau tahu siapa bapak dari anak-anaknya itu?"
"Mana aku tahu siapa yang menghamilinya."
Jawaban Elkan malah membuat Kelaya terkekeh. "Menghamilinya. Hahahaha, lucu sekali!"
"Ck, apa yang lucu. Apa kau tidak menangkap maksudku?"
"Ya, ya, aku tahu maksudmu, hanya saja pemilihan katanya lucu." Sahut Kelaya masih dengan sisa-sisa tawanya. Mungkinkah saat ini sinar yang bercahaya dari Kelaya hanya efek cahaya dari matahari yang mulai terbenam? Atau pembiasan dari air sungai, atau memang Kelaya mengeluarkan cahayanya sendiri?
"Berhenti tertawa atau..."
"Atau apa?" tanya Kelaya dengan nada menantang.
Setelah ini, mungkin Elkan akan menyalahkan angin karena telah membuat tangannya bergerak menarik pinggang Kelaya dan menghentikan tawa dari bibir Kelaya dengan bibirnya sendiri.
Sore itu, jika Kelaya tersihir oleh pemandangan alam yang tersaji di depan matanya, Elkan justru tersihir oleh burung kecil yang baru saja lepas dari sangkar emasnya.
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Lisa Halik
mmmm...apakah elkan
2025-02-09
0