Chapter 8. Gunung Es

Beberapa kali Kelaya menahan dirinya untuk tidak muntah ketika membersihkan kandang kambing yang diternak Elkan. Aroma bau kambing yang khas ditambah terik matahari dan butiran-butiran kotoran kambing yang harus dia kumpulkan dalam watu wadah untuk nantinya diolah membuat Kelaya harus menahan diri agar tidak pingsan. Dia sudah kadung mempertaruhkan harga dirinya yang tersisa dengan menyanggupi ejekan Elkan yang menganggap gadis kota sepertinya tidak akan sanggup melakukan pekerjaan yang diberikan pria dingin sialan itu. Oh, ya ampun!

Setelah satu wadah besar terisi penuh kotoran kambing yang pada akhirnya membuat isi perut Kelaya bergejolak tak tahan lagi, gadis itu berlari ke luar sisi kandang dan memuntahkan semua isi perutnya disana.

Salah seorang pekerja yang sedang memanen sayuran bersama Elkan dan dua orang pekerja lainnya melihat bagaimana Kelaya muntah-muntah disisi samping kandang dan terlihat menyedihkan.

"Jang, istrimu sepertinya belum terbiasa mengurus anak-anakmu." kata salah seorang pekerja sembari menggerakkan dagunya ke arah dimana Kelaya kini berjongkok lemas setelah mengeluarkan isi sarapannya.

Elkan melihat ke arah para pekerjanya melihat, disana, Kelaya kini tak lagi berjongkok, tapi sudah duduk di atas tanah. Tak ada yang reaksi yang berlebihan dari Elkan selain menghela napas.

"Aku kesana sebentar." kata Elkan seraya melepaskan pekerjaannya. Para pekerja mengangguk, mereka bahkan sempat menyarankan agar Elkan membawa Kelaya pulang saja, namun Elkan tidak menanggapi. Dia menghampiri Kelaya yang masih terduduk lesu di atas tanah, kepalanya menunduk. Tubuh tinggi Elkan yang menjulang berdiri tepat disamping Kelaya, tubuhnya menghalangi sinar matahari yang menyoroti Kelaya sejak tadi. Sebelah tangannya membawa seember air yang kemudian di letakkan begitu saja hingga airnya memercik mengenai betis Kelaya.

"Masih sanggup?" tanya Elkan dengan nada datar, sama sekali tidak tergugah dengan air mata yang sudah mengalir pada pipi Kelaya. Dengan ada datar dan sorot dingin di bawah terik matahari itu apa yang Kelaya harapkan? Sebuah pertanyaan apakah Kelaya baik-baik saja? Atau sebuah sikap lembut yang akan menggendong Kelaya kembali ke pondok?

Kelaya mengusap air matanya dengan kasar, percuma. Pria di hadapannya itu adalah gunung es yang tidak akan mencair meski diterpa panasnya sinar matahari. Kelaya bangkit dengan sedikit terhuyung, tanpa dia sadari ada tangan yang terulur namun tidak sampai menyentuhnya, setelah Kelaya berdiri sempurna, tangan itu kembali ditarik oleh si pemilik.

"Apakah kau selalu seperti ini?"

"Seperti apa?" Elkan balik bertanya.

Kelaya memejamkan matanya sejenak, mengatur napasnya agar tidak meledak di depan gunung es itu. Setelah dia merasa cukup tenang, barulah kembali dia membuka matanya dan menatap balik ke mata yang sedang mengawasinya dengan sorotnya yang dingin.

"Aku baik-baik saja." jawab Kelaya ketus.

"Itu artinya kau masih sanggup atau tidak?"

Hah! Benar-benar gunung es tanpa hati!

"Kalau aku masih sanggup?"

"Bagus. Itu artinya kau sungguh membuktikan dirimu berguna."

Kelaya mendengus. Sulit dipercaya! Bagaimana mungkin Kelaya sempat-sempat menyukai pria tak berperasaan dan tak berempati seperti dia!

Elkan menggerakkan dagunya ke arah ember yang ada di antara kaki mereka. "Bersihkan hasil karyamu, kalau ayam-ayamku memakannya, mereka bisa keracunan."

What?!

Setelah itu, Kelaya ditinggalkan begitu saja olehnya. Saking kesalnya Kelaya sampai mengepalkan tangannya dan menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.

Elkan kembali ke tempat sebelumnya, membantu para pekerja menaikkan beberapa hasil panen yang sudah ada di dalam karung ke atas mobil pengangkut hasil panen.

"Istrimu tidak apa-apa, Jang?"

"Kenapa tidak kau antar pulang saja?"

"Iya, kasihan sepertinya sampai pucat begitu wajahnya."

Pucat?

Elkan membalikkan tubuhnya, melihat bagaimana wajah Kelaya dengan bibirnya mungil yang penuh itu memberengut.

"Dia akan baik-baik saja." jawab Elkan akhirnya dan mulai menghitung hasil panennya.

Setelah selesai menghitung-hitung hasil panennya dan kemudian mobil pengangkut pun beranjak dari sana membawa serta hasil panen sayuran bersama tiga pekerja yang ditugaskan Elkan untuk menggantikan dirinya hari ini ke pasar untuk menjualnya ke pasar pada pembeli langganan.

Elkan kembali ke bagian per-kandangan yang didirikan beberapa kandang yang diisi oleh beberapa hewan ternak, salah satunya adalah kambing. Tapi dimana Kelaya? Gadis itu tidak ada di dalam kandang, tidak ada juga di luar kandang.

Dimana dia?

* * *

Kelaya membasuh wajahnya pada aliran air sungai kecil yang dia temukan saat dirinya memilih untuk melarikan diri sejenak untuk menenangkan dirinya setelah mengurus kotoran-kotoran dan hasil muntahannya. Dia butuh udara bersih untuk menjernihkan pikirannya juga paru-parunya.

Air jernih yang dingin itu sangat membantu suasana hati Kelaya perlahan membaik, rasa dingin yang menyegarkan ketika menyentuh kulitnya membuat kepenatan seketika menghilang. Setelah puas membasuh wajah dan tangannya, dia duduk di atas bebatuan yang ada di tepi sungai kecil itu, kakinya turun dan ditenggelamkan di dalam aliran air, sesekali dia gerakkan.

Suara gemericik air memberikan ketenangan sendiri bagi Kelaya, dia berpikir jika ada aliran air seperti ini, pasti ada air terjun entah dimana, mungkin lain kali Kelaya akan kabur sesekali untuk menjernihkan pikirannya dari sikap dingin Elkan yang menyebalkan jiwa dan raganya.

Mengingat Elkan, dia kembali mengingat bagaimana pria itu menatapnya dan bersikap kepadanya. Dia kembali membuang napas kasar. Sejenak dia berpikir bahwa keputusannya untuk membuat dirinya menikah dengan gunung es itu adalah hal yang keliru, mungkin seharusnya dia cukup meminta belas kasihan Elkan agar memberikan uang saja lalu pergi dan tidak perlu membuat kesalahpahaman yang kini membuatnya terjebak dalam pernikahan yang membuatnya makan hati.

Helaan napas yang berat terdengar keluar dari bibir Kelaya.

"Apakah pekerjaanmu sudah selesai sampai bisa bersantai begitu?"

Suara pria yang menjadi alasan dirinya melarikan diri dari kewajibannya membayar hutang terdengar di balik punggung Kelaya.

Sekali lagi Kelaya membuang napas sebelum berdiri dan berbalik badan untuk menghadap kepada orang yang ada disana.

Elkan berdiri dengan dadanya yang terlihat naik turun dan keningnya yang berkeringat, namun ekspresinya tetap sama, datar seperti jalanan tol yang baru diresmikan pemerintah.

"Aku hanya mencari udara segar." jawab Kelaya dengan acuh dan menghindari tatapan mata Elkan yang tajam.

"Sudah kuduga, gadis kota sepertimu tidak akan berguna." kalimat menohok yang menghujam jantung hingga lever Kelaya diucapkan tajam dari bibir Elkan. Pria itu bahkan menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan oleh Kelaya. Entah itu tatapan penuh kebencian atau tatapan dingin yang ingin membuang Kelaya. Entahlah.

Tapi itu tidak membuat Kelaya takut, justru dia sangat terluka. Kaki rampingnya melangkah mendekat ke arah Elkan, dagunya diangkat untuk bisa melihat jelas wajah pria bertubuh tinggi di depannya itu.

"Oh maaf, Tuan-Yang-Serba-Bisa, memangnya apa yang kau harapkan dari gadis kota yang selama ini tidak diperbolehkan keluar dari rumah? Aku tidak mengharapkan kau memaklumi ketidakmampuanku, tapi asal kau tahu, aku baru tahu bentuk kotoran kambing saja saat aku kabur dan menyelinap di atas truk pengangkut kambing waktu itu, entah berapa banyak isi perutku yang aku keluarkan selama perjalanan. Dan sekarang kau langsung mengharapkan aku untuk bisa bersenda gurau dengan kambing-kambing berserta kotorannya itu?!" Suara Kelaya diakhiri dengan nada sedikit tinggi.

Elkan hanya diam menatap lurus kepada Kelaya yang menumpahkan emosinya.

"Aku memang gadis kota yang tidak berguna, tapi bukan berarti aku tidak bisa apa-apa. Aku bisa melakukan pekerjaan rumah, karena hanya itu yang bisa aku lakukan selama menjadi tawanan pamanku. Sekarang aku tanya, saat kau pertama kali melihat kambing dalam hidupmu, apa kau langsung tahu bagaimana cara merawat mereka? Tidak, kan? Kau juga pasti membutuhkan waktu untuk belajar, untuk mencari tahu apa yang harus kau lakukan dan tidak kau lakukan agar kambing-kambingmu itu tumbuh sehat, kau juga pasti membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan semuanya."

Elkan kembali terdiam. Matanya fokus melihat bibir Kelaya yang terdapat luka dengan sisa darahnya.

"Tidak ada anak bayi manusia yang baru dilahirkan langsung bisa berlari, semua butuh proses!" Teriak Kelaya diujung kalimatnya. Napasnya memburu saking kesalnya, apa lagi pria di depannya itu tidak menunjukkan ekspresi bersalah sama sekali.

Setelah keheningan tercipta beberapa detik setelah Kelaya meluapkan emosinya, tiba-tiba saja Elkan melemparkan kantong plastik di dekat kaki Kelaya, kantong plastik yang tidak disadari keberadaannya oleh mata Kelaya.

"Aku rasa, kau pasti tahu jalan pulang sendiri." kata Elkan, datar. Setelah mengatakannya, ia berbalik badan dan pergi meninggalkan Kelaya begitu saja.

Kelaya berjongkok untuk melihat apa yang baru saja dilemparkan manusia gunung es itu.

"..." Seperti ada bongkahan batu yang menghantam dadanya saat melihat isi dari kantong yang dibawa Elkan. Sebotol air mineral dingin dan beberapa bungkus roti juga biskuit.

Kenapa sekarang malah Kelaya yang merasa bersalah?

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!