Chapter 4. Gemuruh Hati

Daradigdug! Daradigdug! Daradigdug!

Suara jantungnya yang bergemuruh membuat Kelaya sesaat melupakan rasa perih pada lututnya, nyeri pada pergelangan kakinya yang terkilir, lapar pada perutnya dan rasa sedih yang sempat melandanya tadi saat Elkan membentaknya. Dada bidang dan keras, bahu lebar yang tegap, sepasang tangan kokoh yang membawanya membuat Kelaya - sebagai wanita normal - menjadi salah tingkah. Apa lagi posisi wajah mereka yang berdekatan. Kelaya dapat melihat jelas garis rahang Elkan yang tegas hingga dagu pria itu yang berbelah, tulang hidungnya yang bangir, sepasang mata tajamnya yang dinaungi alis tebal dan bibir tipis pria itu yang terkatup rapat, wajah Elkan sungguh mengingatkan Kelaya pada Henry Cavill, apakah mungkin Elkan masih bersaudara dengan Henry Cavill?

Pemandangan indah tepat di depan matanya sungguh memenuhi benak Kelaya, biasanya dia hanya bisa melihat sosok seperti Elkan melalui film-film action yang ditontonnya, tapi kini dia malah berada dalam gendongan pria dingin itu. Kelaya tidak pernah berada pada situasi seperti ini, dia tidak pernah dekat dengan satu teman pria pun, karena sang paman sangat membatasi pergaulannya karena harus mempersiapkan Kelaya sabagai tumbal bisnisnya.

"Apa melihat ku dapat membuat perutmu kenyang?" Pertanyaan bernada datar itu membuat Kelaya mengerjapkan kedua matanya, buru-buru dia memalingkan wajah dan menyadari dimana kini mereka berada.

"Kita sudah sampai?"

Elkan tidak repot untuk menjawab pertanyaan itu, dia hanya menurunkan Kelaya pelan-pelan dan membuka pintu rumah, kemudian masuk begitu saja meninggalkan Kelaya di depan teras, padahal Kelaya masih berharap Elkan akan menggendongnya lagi.

Kelaya masuk ke dalam rumah dengan langkah pincang, dia memilih untuk duduk di atas kursi dan meluruskan kakinya. Dia tidak bohong, pergelangan kakinya sangat nyeri. Apakah ini karma karena semalam dia sudah berbohong dengan mengaku kakinya terkilir dan sekarang malah kejadian kakinya terkilir sungguhan? Huh!

"Apakah ini akan baik-baik saja kalau kudiamkan?" Kelaya bertanya pada dirinya sendiri sambil berusaha memutar pergelangan kakinya, tapi saat itu juga ia memekik. Ini terlalu sakit.

"Tidak." Jawaban Elkan membuat Kelaya mengangkat wajahnya, pria itu sudah datang dengan sebuah baskom dan handuk kecil di pundaknya. "Kau harus mengompresnya dengan air es." katanya, masih dengan nada datar yang sama dan tidak berekspresi.

Elkan melebarkan handuk di atas meja, lalu meletakkan kotak-kotak es batu dari baskom ke dalam handuk itu, kemudian membungkusnya dengan handuk, lalu meletakkan es batu dalam handuk itu di atas pergelangan kaki Kelaya yang terkilir.

"Tahan ditempat yang nyeri." katanya sambil mengisyaratkan tangan Kelaya untuk mengambil alih handuk itu. Kelaya menurut tanpa berkomentar.

Sementara itu, Elkan menyobek jins Kelaya pada bagian lutut begitu saja.

"Hei, celanaku! Aku tidak punya celana lagi, tahu!"

"Aku harus membersihkannya, atau luka ini bisa infeksi."

"Infeksi? Benarkah?"

"Hm, bahkan bisa membusuk dan kakimu diamputasi."

"Kau pasti bohong, kan?" Kelaya menatap Elkan dengan tatapan tak percaya, tapi pria itu tidak menjawab apa-apa, dia hanya membersihkan luka itu dengan sisa es batu, melapnya lalu mengoleskan salep ke atas luka itu.

"Tetap kompres, sampai sepuluh menit, lalu oleskan ini." Elkan memberikan Kelaya salep yang lain.

"Ini apa?"

"Salep dingin untuk meredakan nyeri." jawab Elkan, kemudian setelah salep itu berpindah tangan, Elkan meninggalkan Kelaya sendiri di ruang tengah itu untuk masuk ke dalam dapur.

Apakah salah jika sekarang dada Kelaya kembali bergemuruh?

Elkan memang dingin, tapi juga perhatian. Sungguh sulit untuk ditebak. Sesaat dia terlihat sangat dingin dan menatap Kelaya dengan malas. Tapi disisi lain, dia tidak pernah membiarkan Kelaya tanpa menolongnya.

Dua puluh menit kemudian, Elkan kembali dari dapur dengan tangannya yang membawa sepiring makanan dan segelas air mineral. Ia meletakkan piring dan gelas itu di atas meja.

"Sudah kau oleskan salepnya?" tanyanya.

"Sudah."

Elkan mengangguk.

"Makan lah."

"Kau sendiri sudah makan?"

"Sudah."

"Aromanya sangat lezat."

"Makan lah, aku harus pergi."

"Eh, kemana?"

Elkan menatap Kelaya untuk sesaat dengan tatapan yang lekat, kemudian berubah kembali menjadi tatapan datar.

"Bertemu dengan anak-anakku."

"A-anak? Kau sudah punya anak?"

"Kenapa? Terkejut? Bahwa ternyata pria yang kau minta untuk menjadi suamimu ternyata sudah mempunyai anak?"

* * *

Setelah memberikan pertanyaan yang menggantung pada Kelaya, Elkan tidak lagi terlalu repot untuk menjelaskan situasi hidupnya pada Kelaya, dia membiarkan Kelaya pusing dengan pikirannya sendiri, mungkin itu bisa menjadi memberikan sedikit pelajaran bagia wanita itu.

Elkan mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi seseorang bernama Haru yang ada dalam daftar panggilan teleponnya. Tak lama setelah nada sambung terdengar, suara lelaki diseberang sana menjawabnya.

"Bos! Ada apa? Apa akhirnya kau akan kembali?"

"Tidak." jawab Elkan.

"Oh, kupikir kau menghubungiku kali ini karena akhirnya setelah bertahun-tahun kau berubah pikiran." kata lelaki itu. "Jadi ada apa, Bos?"

"Berhenti memanggilku seperti itu."

"Oh, sorry, Bos, sudah kebiasaan."

"Bisa kau bantu aku?"

"Tentu saja! Bantuan apa yang kau perlukan Bos?"

"Aku butuh kau untuk mencarikan beberapa barang. Kurasa kau butuh Sena untuk membantumu."

"Memang apa yang harus aku cari, Bos?"

"Pakaian wanita dan pakaian dalamnya."

"What?!" Terdengar suara Haru terkejut dan terkekeh diseberang panggilan itu. "Apa kau sedang dalam misi menyamar sekarang, Bos?"

"Aku serius. Akan kutuliskan ukurannya, cari dan belikan beberapa lalu kirim ke rumahku."

"Rumahmu?" Suara Haru jelas sangat terkejut. "Sejak kapan kau-"

"Sejak kapan kau banyak bertanya seperti ini?" Pertanyaan dengan nada rendah itu menyadarkan Haru bahwa dirinya masih berhadapan dengan Elkan yang sama, tapi mungkin dalam versi yang sedikit berbeda.

"Sorry, Bos."

"Jadi, bisa membantuku?"

"Tentu saja."

* * *

Kelaya masih berkutat dengan pikirannya yang tak karuan tentang Elkan yang rupanya sudah mempunyai anak. Anak-anak, lebih tepatnya. Oh, ya ampun! Apakah pria itu masih dalam status menikah dengan seseorang? Atau sudah duda? Apakah anak-anaknya akan tinggal di rumah ini juga? Atau tinggal di rumah ibunya? Apakah kehadiran Kelaya dapat di terima oleh anak-anaknya Elkan? Berapa banyak anaknya? Dua orang? Tiga orang? Perempuan? Laki-laki? Atau dua-duanya? Apakah dirinya telah menjadi pelakor yang merusak rumah tangga pria itu? Astaga! Kelaya benar-benar tidak tenang, segala asumsi memenuhi kepalanya.

Kelaya menyugar rambut panjangnya dengan perasaannya yang kacau sampai dia terlojak ketika mendengar suara ketukan pada pintu rumahnya. Kelaya sempat berdiam diri dan ragu untuk membuka pintu. Dia tidak kenal siapa pun di sini, bahkan sejujurnya, dia sendiri tidak mengenal pria yang telah menjadi suaminya itu. Ironis sekali.

Tapi ketukan pintu pada pintu kembali berbunyi, dengan suara prempuan yang menyertai. Akhirnya, dengan sedikit pincang, Kelaya bangkit dan berjalan tertatih menuju pintu.

"Wow, ternyata benar ada seorang wanita disini," Seorang wanita dengan rambut bob pendek dan seorang pria bermata sipit berdiri di depan pintu rumah. Dua orang asing itu saling terkekeh kemudian tersenyum ramah pada Kelaya yang melihat mereka dengan kebingungan.

"Maaf, siapa ya?" tanya Kelaya.

"Oh, hm," Pria bermata sipit itu berdeham. "Aku Haru, dan ini Sena." Pria bernama Haru itu memperkenalkan diri.

"Halo!" Sena tersenyum lebar kepada Kelaya.

"Oh, halo, aku Kelaya."

"Kalau kami boleh tahu, kenapa kau ada disini?" tanya Haru.

"Kalian sendiri kenapa datang kesini?" Kelaya balas bertanya.

Hal itu justru membuat Haru dan Sena saling melempar senyum yang mencurigakan di mata Kelaya.

"Kami datang atas permintaan Elkan." Jawab Sena.

"Permintaan Elkan?" Kelaya mengerutkan kening. "Memangnya kalian siapanya?"

"Kami teman-temannya." jawab Haru.

Jawaban itu membuat Kelaya mempunyai ide untuk memvalidasi pernyataan itu sekaligus untuk mendapatkan jawaban atas kegundahannya beberapa saat lalu.

"Kalau kalian teman-temannya Elkan, pastinya kalian tahu tentang Elkan, kan?"

"Tentu saja."

"Jadi, apa Elkan benar mempunyai anak yang lebih dari satu?" Pertanyaan itu terdengar konyol bagi Haru dan Sena yang jelas sangat mengenal siapa Elkan yang sedang mereka bicarakan itu.

"Benar, Elkan punya anak yang sangat banyak." jawab Haru dengan ekspresi yang sangat serius.

"Apa?!"

"Oke, kami sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliran kau menjawab kami, kau siapa? Kenapa bisa ada di rumah teman kami?"

"Oh, aku, ehm, istrinya."

"APA?!" Haru sampai melototkan mata sipitnya.

"Istri? Istri sungguhan? Elkan sungguh menikah?" Sena tak kalah terkejutnya seperti Haru.

"I-iya, kenapa memangnya? Apa dia masih berstatus sebagai suami orang lain?" Kini pertanyaan Kelaya terdengar ragu-ragu dan takut-takut.

Sena dan Haru saling melempar pandang. "Untuk jawaban itu kau bisa tanyakan langsung ke bo- ke Elkan langsung." jawab Haru.

"Benar, kami datang untuk mengantarkan pesanannya untuk diberikan kepadamu. Ini." Sena dan Haru menyodorkan beberapa kantong belanjaan kepada Kelaya.

"Pesanannya untukku?" Kedua alis mata Kelaya bergerak naik.

Sena menyadari gerakan Kelaya yang susah dan langsung mengambil alih kantong-kantong itu untuk dibawanya masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di atas meja.

"Kakimu terkilir, kan?" tanya Sena.

"Iya, dari mana kau tahu."

"Elkan meminta kami untuk membelikanmu obat pereda nyeri juga. Ini." Sena memberikan satu kantong plastik kecil berisikan obat pereda nyeri.

Kelaya menerima obat itu semakin dengan perasaannya yang gado-gado, sangat campur aduk. Apalagi begitu tahu isi kantong-kantong belanjaan yang ada di atas meja.

"Baiklah, apa kau butuh sesuatu untuk kami lakukan sebelum kami pergi?" Sena menawarkan.

Kelaya sedikit mengernyitkan dahi. Sikap Sena dan Haru mendadak berubah drastis begitu tahu Kelaya ada istri Elkan, tidak ada senyuman atau kekehan menggoda dari dua orang yang tiba-tiba datang di depan pintu itu. Mereka malah terkesan segan dan hormat, meski tetap dengan cara yang santai.

"Ehm tidak ada, terima kasih sudah membawakan belanjaan ini kesini."

Sena mengangguk, kemudian dia melangkah keluar, kembali pada Haru yang masih berdiri di depan pintu. Setelah berpamitan, dua orang itu pun pergi meninggalkan Kelaya kembali sendiri di dalam rumah itu.

"Apakah aku boleh jatuh cinta kepadanya?"

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!