Ini pasti mimpi! Tapi mimpi yang dialami Kelaya saat ini terlalu nyata. Demi Tuhan, siapa juga yang tiba-tiba tidur di tengah hutan tepat hanya beberapa meter dari air terjun indah dimana diseberang aliran air sungai terdapat tiga ekor beruang liar? Ah, tentu saja ini bukan mimpi, karena Kelaya yakin dirinya sedang tidak tertidur, dirinya hanya sedang menertawai pria dingin dihadapannya yang kemudian tanpa aba-aba apa lagi pembukaan seperti pidato pengesahan gapura kecamatan, pria itu menariknya dan menempelkan bibir mereka!
Ya Tuhan!
Kelaya bahkan bersumpah, sentuhan kedua bibir yang terjadi selama empat puluh delapan detik itu bukan hanya sekadar sentuhan iseng atau tidak disengaja, karena dia merasa dengan sangat waras ketika bibirnya dipagut lembut oleh bibir maskulin milik pria gunung es itu. Sebelum, pria itu melepaskannya dan menarik dirinya menjauh dari Kelaya yang masih jiwanya masih melayang-layang di udara.
"Ayo, nanti keburu malam." kata suara bariton berat itu dengan nadanya yang datar, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Kelaya di belakangnya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Dalam perjalanan kembali menuju pondok, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka, Kelaya yang berjalan di belakang Elkan hanya bisa diam meski begitu banyak kosa kata menumpuk di dalam kepalanya, tapi bibirnya masih belum mampu mengeluarkannya. Sementara si suami dadakan yang dinginnya tidak ketulungan itu hanya terus bergerak berjalan di depannya tanpa sekali pun menengok ke belakang hingga mereka sampai di pondok.
Makan malam pun dilewati Kelaya seorang diri karena Elkan langsung menyibukkan diri di bengkel, sampai Kelaya tidur pun, Elkan tidak keluar dari dalam bengkel. Terkesan sangat menghindarinya.
"Dasar aneh!" Gerutu Kelaya sebelum terlelap. "Apa coba maksudnya? Tiba-tiba cium-cium, lalu sekarang diam seribu bahasa! Apa dia pikir aku akan geer karena dicium olehnya? Cih!" Napasnya setengah memburu karena menahan kesal sejak tadi. Tapi begitu mengingat bagaimana lembutnya Elkan memagut bibirnya, rasa bergelenyar dan desiran aneh dalam perutnya kembali bergejolak. "Ah, menyebalkan! Elkan gunung es menyebalkan!" Makinya, tidak peduli apakah orang yang dimakinya itu mendengar atau tidak.
* * *
Malam semakin larut, tidak lagi terdengar kesibukan dari dalam dapur entah sejak kapan, suara jangkrik mengisi keheningan malam ketika Kelaya terbangun karena panggilan alam yang mengharuskannya membuka mata dan ke kamar mandi.
Kelaya merapatkan sweater-nya setelah keluar dari kamar mandi, air di dalam bak sangat dingin menggigit.
Dug! Dug! Dug!
Kelaya menghentikan langkah kakinya seketika. Ia mendengar suara langkah kaki.
Dug! Dug! Dug!
Bulu-bulu halus Kelaya mulai meremang.
Apakah hantu? Apa hantu juga terdengar langkah kakinya di atas lantai kayu?
Semakin didengarkan, semakin cepat langkah kakinya, atau...semakin banyak yang melangkah?
Degup jantung Kelaya mulai dua kali lebih cepat, sementara dirinya masih terpaku berdiri tidak bergerak di tempatnya. Kelaya mencoba memberikan sugesti pada dirinya bahwa suara-suara itu hanya suara dari langkah hewan hutan yang mungkin sedang 'mampir' di teras pondok Elkan. Tapi, saat dirinya mulai bergerak, suara lain terdengar dari arah pintu dapur yang menghubungkannya dengan bengkel.
Suara seperti seseorang yang sedang berusaha membuka kunci pintu dengan cara ilegal.
Rampok?! Batin Kelaya menjerit, kedua matanya membeliak. Sumpah demi apa pun, bagi Kelaya, rampok lebih menyeramkan dari pada hantu penunggu hutan.
Grep!
Sebuah tangan kekar menariknya dari belakang, juga membekap mulutnya dan memastikan Kelaya tidak bersuara sama sekali. Menyeretnya pelan hingga masuk ke dalam ruangan yang selama ini menjadi satu-satunya ruangan yang tidak pernah berani Kelaya masuki tanpa ijin.
"Tenang, ini aku." suara Elkan berbisik menenangkan sedikit rasa jumpscare yang menyergap Kelaya saat itu. Mereka berdiri di tengah kamar tidur Elkan. Sorot mata yang biasa menatapnya dingin kini terlihat sangat waspada, begitu pun dengan gerak tubuhnya.
"Aku dengar sepertinya ada orang di bengkel." Kelaya balas dengan berbisik juga.
Elkan mengangguk, "Aku tahu," katanya. "Kau tetap disini, kunci pintunya, jangan buka jika bukan aku."
"Tapi-"
"Jangan membantah!" Meski dengan suara berbisik, Kelaya masih dapat mendengar dengan sangat jelas nada ketegasan dalam suara Elkan, akhirnya Kelaya hanya bisa patuh. "Bagus." Elkan pun beranjak, namun, sebelum melewati pintu, dia kembali melihat Kelaya, "Peri hutan."
"Hah?"
"Kalau ada yang mengetuk dan mengaku itu adalah aku, tanyakan kata kuncinya. Peri Hutan. Jika dia tidak bisa menjawab, maka jangan di buka. Mengerti?"
Kelaya hanya menngangguk meski masih bingung.
"Aku butuh kau mengerti apa yang kukatakan."
"Kalau ada yang mengetuk dan mengaku itu adalah kau, aku harus bertanya dulu kata kuncinya, jika dia tidak bisa menjawab peri hutan maka itu bukan kau dan aku harus tetap mengunci pintu."
"Ya, dan bersembunyi di sana." Elkan menunjuk sebuah kotak agak panjang yang sedikit menyerupai kursi storage yang biasa dipakai untuk menyimpan pakaian atau barang-barang lain. Kelaya mengerutkan kening, apa Elkan pikir tubuh Kelaya sekecil itu hingga bisa muat di dalam tempat penyimpanan baju itu? Tapi, saat Kelaya hendak bertanya, pintu sudah ditutup, buru-buru Kelaya mengunci pintu bahkan menyeret meja untuk menahan pintu.
Degup jantungnya mulai berpacu, telinganya siaga mendengarkan suara-suara yang berada di luar kamar Elkan. Dia sangat khawatir, sungguh. Meski pun sedang menyimpan rasa kesal pada Elkan, tapi dia tetap takut pria itu kenapa-kenapa. Bagaimana jika rampok itu bersenjata tajam? Bagaimana jika rampok itu banyak sementara Elkan hanya sendirian? Bagaimana jika Elkan terluka atau... ah, tidak! Elkan pasti baik-baik saja! Dia harus baik-baik saja karena pria itu berhutang penjelasan atas ciuman yang terjadi di hutan sore tadi.
Di tengah-tengan kekhawatirannya, Kelaya baru menyadari kamar Elkan cukup minimalis dan rapi untuk ukuran seorang bujangan yang tinggal sendirian di tengah hutan. Kalau diingat-ingat, kamar Kelaya di kota malah tidak serapih kamar pria ini. Semua furniturnya berbentuk unik, Kelaya yakin Elkan membuatnya sendiri, mengingat pria itu juga menerima pesanan pembuatan furnitur.
Kelaya duduk pada tepi tempat tidur yang empuk, tangannya meraih salah satu bantal yang ada disana untuk dia peluk guna meredakan kecemasannya, aroma maskulin khas pria seketika menyapa indra penciuman Kelaya, anehnya, Kelaya yang sebal pada si pemilik bantal justru merasa tenang karena aroma itu. Ia menghidunya dalam-dalam seraya memanjatkan doa agar Elkan baik-baik saja di luar.
Suara ribut mulai terdengar, seperti suara benda berjatuhan, suara erangan laki-laki yang seperti kesakitan, suara pecahan piring atau gelas dan suara pijakan-pijakan kaki di lantai kayu yang menandakan Elkan menghadapi banyak orang, entah berapa.
Kelaya merasa dia tidak bisa diam saja seperti ini, dia harus melakukan sesuatu, tapi apa?
Kelaya mulai beranjak dari kasur, dia membuka-buka laci-laci lemari dan meja untuk mencari ponsel milik Elkan, mungkin dia bisa menghubungi polisi atau mungkin Kelaya bisa meminta bantuan Haru dan Sena atau juga Suji dan Jiko, mereka pasti mempunyai senjata mengingat mereka pernah berburu dan melawan beruang. Tidak sampai lima menit, Kelaya akhirnya menemukan benda pipih itu setelah beberapa saat mencari, tapi sayangnya ponsel itu dikunci menggunakan pola angka.
"Ah, sial! Bagaimana ini!" Kelaya mulai panik, apa lagi suara keributan semakin jelas seperti terjadi di ruang tengah, hingga bunyi seperti seseorang tumbang di atas lantai, dan tak lama terdengar suara ketukan pintu yang sangat mengejutkan, Kelaya hampir saja menjatuhkan ponsel yang dipegangnya.
"Buka pintunya." Suara Elkan terdengar.
Kelaya mulai mengembuskan napas penuh kelegaan, dia meletakkan ponsel itu di atas kasur dan bergerak menuju pintu.
"Hei, ayo buka pintunya." Suara Elkan kembali terdengar, tapi langkah Kelaya justru terhenti. Meski suara itu tidak lagi asing bagi Kelaya, namun seperti ada yang berbeda.
"E-Elkan?" tanya Kelaya ragu-ragu.
"Ya, ya, ini aku, cepat buka pintunya!" Dengan tidak sabaran suara Elkan menjawab Kelaya.
Tidak! Itu bukan Elkan! Batin Kelaya memastikan.
"K-Kata kuncinya apa?"
"Apa?"
Deg!
"Kau bilang, aku harus bertanya tentang kata kunci. Jadi, apa kata kuncinya?"
"Astaga! Ini aku, apa kau tidak dapat mengenali suaraku? Untuk apa kata kunci sialan!"
Jantung Kelaya semakin berpacu. Ia sudah ingin menangis. Kelaya takut.
"K-kau bukan Elkan!"
.
.
.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Nurwana
bagus dan keren... ditunggu kelanjutannya Thor......
2024-07-16
1