Chapter 20. Merajuk.

Tiga hari sudah berlalu sejak pertengkaran mereka, Kelaya masih betah menutup bibirnya dan menghiraukan keberadaan Elkan. Bekerja di ladang dan peternakan pun, Kelaya tetap acuh tak acuh. Ia hanya berbicara seperlunya saja pada Elkan, mengabaikan pria itu seolah tidak ada.

Ternyata rasanya tak enak didiamkan seperti itu bagi Elkan. Jika biasanya dia yang selalu bersikap dingin dan minim bicara, kali ini dia malah merasa tidak nyaman ketika seseorang melakukan hal yang serupa kepadanya, terutama orang itu adalah Kelaya.

Kenapa? Elkan sendiri juga tidak bisa menjelaskan keanehan dari kegusaran hatinya belakangan ini. Merasakan Kelaya yang menghindari dan mengabaikannya secara terang-terangan ternyata menimbulkan rasa tidak nyaman.

Elkan berdeham begitu melihat Kelaya di dapur sedang menyiapkan makan malam, namun perempuan itu menulikan pendengarannya, ia tetap bergerak tanpa melirik apa lagi melihat Elkan. Biasanya, Kelaya selalu mencuri pandang padanya, Elkan tahu itu. Tapi beberapa hari ini tidak sama sekali.

Setelah selesai memasak, Kelaya yang biasanya akan memberitahukan Elkan makanan sudah siap dan mengajak Elkan makan malam, kini dia hanya menyiapkan satu piring untuk dirinya saja, makan malam sendirian tanpa menghiraukan Elkan yang berdiri disana. Selesai makan, Kelaya langsung mencuci piringnya dan meninggalkan dapur, benar-benar tanpa sepatah kata pun.

Elkan menggaruk tengkuknya, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menuliskan sebuah pertanyaan yang kemudian dikirimkan kepada Haru.

[Apa kau tahu bagaimana cara membujuk perempuan yang merajuk?]

* * *

Lagi-lagi Elkan berdeham untuk menunjukkan eksistensinya di dalam pondok itu dan juga di depan Kelaya yang mengabaikannya.

"Aku akan keluar, mau ikut?" Suara bariton itu bertanya pada Kelaya, tapi perempuan itu tetap acuh. Sibuk mengepang rambutnya yang mulai tambah panjang.

"Aku bertanya padamu. Apa kau tidak akan menjawab?" Nadanya datar, seperti orang tidak niat.

Kelaya membuang napas kemudian menengok kanan dan kiri, "Padaku?" tanyanya dengan nada sinis.

Elkan mengangguk, menahan diri menghadapi perempuan yang merajuk di hadapannya itu. Sungguh, ia lebih piawai menghadapi puluhan orang bersenjata dari pada satu perempuan yang merajuk.

"Kau mengajakku keluar malam-malam begini? Tidak takut kalau aku kabur karena aku mungkin akan lebih liar jika malam hari."

Elkan membuang napas, ia sangat menyadari alasan Kelaya merajuk, semuanya karena kata-kata yang pernah dia lontarkan untuk Kelaya. Dia tahu dia salah, bukannya Elkan tidak mau minta maaf, tapi dia hanya tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf. Meski pun alasan dibalik emosinya kala itu karena kekhawatiran akan keselamatan Kelaya.

"Kau masih marah?"

Pertanyaan itu sungguh membuat dongkol hati Kelaya, tapi perempuan itu mencoba untuk tidak terbawa emosinya, jadi alih-alih mencakar wajah tampan Elkan yang menyebalkan tapi tidak peka itu, Kelaya memilih untuk mengabaikannya saja dengan ke-sinis-an yang tinggi.

"Oh tidak kok! Aku hanya memikirkan kata-katamu benar juga, mungkin aku memang seliar itu sampai-sampai pamanku harus mengurungku bertahun-tahun dan menjodohkan ku dengan pria tua yang lebih pantas menjadi kakekku."

"Dengar, aku tidak..."

"Mungkin kau benar juga, kalau aku memang sulit dikendalikan hanya karena aku ingin menjalani hidupku tanpa kekangan dan menjadi diriku sendiri."

"Aku sama sekali tidak..."

"Tenang saja, setelah kontrak pernikahan kita selesai, kau tidak perlu lagi menampung perempuan liar ini lagi, aku akan kembali ke dalam kurungan emasku dan menunggu kepada siapa lagi aku akan ditawarkan oleh pamanku." Ada nada getir dalam ucapan sinis yang diucapkan Kelaya, ia mengalihkan wajahnya dari tatapan lekat yang sulit diartikan milik Elkan.

"Aku hanya..."

"Kalau kau mau keluar, keluar saja, jangan pedulikan aku. Aku akan bersikap tahu diri disini, aku hanya akan keluar hanya pada saat bekerja saja, aku akan mengendalikan keliar-an jiwaku dengan berdiam di dalam rumah ini, jadi kau tidak perlu khawatir kalau aku-"

"Tidak bisakah aku menyelesaikan kata-kataku?" Sela Elkan memotong kalimat Kelaya. Ia membuang napas berat.

"Tidak!" jawab Kelaya cepat.

Elkan menaikkan kedua alis matanya.

"Untuk apa?" Kelaya berdiri menghadapi Elkan. "Kau tidak perlu lagi menjelaskan ketidaksukaanmu padaku, aku sudah mengerti, tidak perlu repot-repot menjelaskan apa pun padaku. Kalau kau mau pergi, pergi saja! Aku tid-"

Kalimat penuh emosi yang gagal Kelaya kendalikan terpaksa terputus karena diputus sepihak oleh Elkan dengan cara membungkam bibir mungil Kelaya dengan bibir maskulinnya yang hangat dan basah.

Lembut, hangat dan menagih membuat Kelaya nyaris melepaskan kewarasannya dan membiarkan dirinya jatuh pada rasa yang mati-matian dia kubur.

Sadar, Kelaya! Suara di dalam kepala perempuan itu membuat kedua kelopak mata Kelaya seketika terbuka. Dia segera mendorong sekuat tenaga dada Elkan dan melepaskan dirinya dari rengkuhan pria itu.

Plak! Tamparan pedas mendarat pada rahang keras Elkan yang malah membuat telapak tangan Kelaya kesakitan.

"Akh!" Kelaya mencengkram tangannya.

Melihat Kelaya yang kesakitan, secara implusif Elkan langsung menarik Kelaya ke dapur tanpa sempat Kelaya menghindar. Tangan Kelaya di bawa ke bawah aliran air dari keran wastafel, air dingin yang mengalir itu meradakan sedikit demi sedikit nyeri pada telapak tangannya.

"Lain kali jika ingin memukulku, pastikan tidak dengan tangan kosong." kata Elkan dengan nadanya yang selalu datar dan tatapan yang lurus memperhatikan telapak tangan Kelaya di bawah guyuran air keran.

"Lepas!" Kelaya menarik tangannya dengan kasar. Dilapnya begitu saja pada ujung gaun rumahannya. "Kenapa kau menciumku lagi?!"

"Karena kau selalu menyelaku." jawab Elkan dengan tenang sembari memutar kenop keran dan menghentikan aliran airnya.

"Memangnya apa yang mau kau jelaskan? Paling-paling kau hanya berpikir jika aku tidak patuh, maka aku akan merepotkanmu, ya kan? Oke, aku minta maaf karena memang kehadiranku sudah merepotkanmu jadi-"

"Apa kau mau kucium lagi?"

Bibir Kelaya rapat seketika. Ia memalingkan wajahnya yang kesal karena - sungguh - pria di depannya ini terlalu menyebalkan. Tapi yang bikin Kelaya sebal setengah mati, dia tidak bisa benar-benar membenci Elkan.

"Aku tahu aku salah, ku pikir, kata-kataku saat itu sudah kelewatan."

"Kau pikir?" Sahut Kelaya dengan nada sarkas.

"Aku rasa."

"Kau rasa?" Sebelah alis mata Kelaya naik.

"Baiklah, kata-kataku memang sudah sangat kelewatan." Elkan mengalah.

Kelaya membuang napas, tangannya terlipat di depan dada. "Lalu?"

"Lalu?" Balas Elkan dengan nada seolah dia tidak mengerti.

"Lalu apa yang harus kau katakan selanjutnya?" Ucap Kelaya gemas sekali ingin menendang Elkan, tapi nyeri pada telapak tangannya saja masih terasa.

Elkan bergerak memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat wajah Kelaya lebih jelas.

"Aku... akan keluar, kau mau ikut?"

"Astaga!" Kelaya memutar bola matanya, dia menghentakkan kedua tangannya ke bawah dengan sangat kesal. "Kau pergi saja sendiri! Aku malas!" Kelaya hendak pergi meninggalkan Elkan, tapi tangan pria itu dengan cepat menangkap pergelangan tangan Kelaya dan menahan langkahnya.

"Maaf," katanya kemudian. "Maaf sudah membuatmu tersinggung."

Kelaya terdiam juga membeku. Bukan karena Elkan yang meminta maaf, tapi nada suara pria itu terdengar begitu tulus dan menghanyutkan.

"Aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa, karena ada kabar yang kudengar, pimpinan dari perampok yang datang waktu itu tidak menerima anak-anak buahnya kalah." Meski pun tidak sepenuhnya berbohong, Elkan berhasil membuat Kelaya kembali melihatnya.

"Apa?! Apa meraka akan datang ke sini lagi?"

Elkan tersenyum, meskipun setipis tisu yang dibasahi.

"Aku akan menjagamu. Jangan khawatir, kau aman bersamaku."

Oh, sungguh Kelaya tidak ingin merasa ge-er, tapi siapa yang bisa mengontrol saat ratusan bahkan ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya? Siapa juga yang bisa mengontrol rona merah muda yang muncul pada kedua pipinya.

"Kau akan menjagaku?"

"Tentu saja, kau istriku..."

Oh, Tuhan...

"Setidaknya, itu statusmu di desa ini."

Ah...apa yang aku harapkan?

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!