"Tub-tubuhku? Ap-apa maksudmu?" Refleks Kelaya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Sudah kukatakan, t-tidak perlu ada hubungan badan, kan?"
Elkan berdecak seraya menggelengkan kepalanya, dia menatap Kelaya dengan tatapan datar, "Apa yang kau pikirkan dengan otakmu itu?"
"Ta-tadi itu kau bilang, bayar dengan tubuh dan tenagaku? Apa maksudnya?" Ekspresi Kelaya yang cemas dan gugup sungguh menghibur Elkan yang selama ini hanya hidup sendiri. Entah kenapa mengerjai gadis itu dan melihat reaksinya membuat Elkan puas. Itu sebagai balasan karena gadis itu telah menjebaknya.
"Aku akan memberitahumu nanti setelah kakimu pulih. Karena tubuhmu tidak akan berguna jika kakimu masih terkilir."
Glek! Susah payah Kelaya membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba menjadi tandus.
"J-jangan bercanda, ya!" Kelaya melotot galak.
"Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku." kata Elkan acuh, kemudian melanjutkan sisa makannya yang tertunda tanpa harus memperdulikan Kelaya yang masih berusaha meminta penjelasan kepadanya atau kalimat-kalimat panjang yang berusaha menjelaskan kepada Elkan bahwa hubungan badan tidak akan memberikan hasil yang baik untuk mereka dimasa depan.
Astaga! Dia bahkan masih berasumsi Elkan ingin Kelaya membayar dengan cara seperti itu.
* * *
Tiga hari berlalu sejak kontrak pernikahan yang dipelopori oleh Kelaya, selama tiga hari juga setiap malamnya Kelaya harus merasa was-was jika saja Elkan tiba-tiba menyergapnya. Tapi nyatanya, Elkan tetap bersikap dingin dan acuh. Pria itu akan pergi pagi-pagi sekali setelah menikmati secangkir kopi, lalu kembali pulang sebelum senja. Di dalam pondok, dia tidak terlalu banyak bicara, hanya bertanya tentang keadaan kaki Kelaya yang selalu dijawab dengan gugup oleh Kelaya karena dirinya tidak bisa berbohong di depan Elkan. Entahlah, sorot mata Elkan yang tajam seolah bisa mendeteksi kebohongan. Setelah memastikan perapian menyala sempurna, Elkan akan menghabiskan waktunya di dalam kamar atau di bengkel kayunya.
Tapi pagi ini Elkan berdiri di ambang pintu dapur saat Kelaya sedang mencuci bekas piring sarapannya.
"Kulihat caramu berjalan sudah normal." katanya singkat.
Kelaya membeku, seperti tiba-tiba disiram dengan satu baskom air dingin yang ditambahi dengan puluhan es batu. Kelaya pikir, Elkan sudah pergi. Dia memejamkan matanya sebentar, mengutuk dirinya yang lupa untuk berpura-pura sedikit pincang saat berjalan.
Oh, Tuhan, apakah ini waktunya? Apakah dengan cara seperti ini aku harus menyerahkan mahkotaku?
Kelaya mematikan keran air, kemudian berbalik badan untuk menghadap pada Elkan yang bersandar pada kusen pintu. Sialnya, dengan gaya santai dan kedua tangan yang melipat di depan dada, kaus dan celana pendek malah membuatnya terlihat tampan.
Susah payah Kelaya menghindari tatapan tajam Elkan, tenggorokannya seketika tandus sampai susah untuk sekadar menelan salivanya sendiri.
"Oh, eh, i-iya, aku pikir juga begitu." jawab Kelaya, setengah gugup, setengah takut.
"Bagus lah, kalau begitu, ganti pakaianmu, sudah waktunya kau membayar hutangmu."
Glek!
Kelaya melihat ke bawah, ke pakaian yang dia kenakan saat ini, daster rumahan yang panjang hingga ke betis. Apa memangnya yang harus dia kenakan? Apakah...apakah Elkan tipe pria yang menyukai wanita berpakaian seksi sebelum...
"Kusuruh kau ganti pakaian, bukan melamun." Tegur pria itu membuat Kelaya tersentak.
"Tapi aku..."
"Kutunggu lima menit." Setelah mengatakan itu, Elkan keluar dari dalam rumah begitu saja. Astaga! Jantungnya, jantung Kelaya sungguh tidak baik-baik saja.
"Astaga! Apa yang harus aku pakai? Apa yang harus aku lakukan?" Kelaya panik, sembari mencari pakaian yang bisa dipakai untuk...astaga, memikirkannya saja sudah membuat pipinya panas. Lalu dia menarik satu pakaian yang menurutnya paling...Ehem!
Kelaya memandang lagi pantulan dirinya pada cermin kecil yang menggantung didinding kamar mandi. Ia sampai malu sendiri melihat dirinya yang seksi dengan dengan hot pants dan tank top. Ini sungguh pertama kalinya dia berpakaian terbuka seperti ini di depan seorang pria.
Apakah dia akan melakukan hal yang tepat? Dia tidak akan berdosa sebenarnya, mengingat status mereka sudah halal, dan jika pun Elkan mau membuka hatinya untuk Kelaya, dia tidak akan keberatan melakukannya dengan pria yang telah berstatus suaminya. Masalahnya adalah, Elkan membencinya, pria itu sejak awal tidak pernah menyukainya, pernikahan mereka pun juga karena keterpaksaan dan sedikit jebakan yang dilakukan oleh Kelaya.
Tok! Tok! Pintu kamar mandi diketuk, dan satu-satunya orang yang melakukan itu adalah Elkan. Jadi, Kelaya menguatkan dirinya, ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Cklak! Kunci diputar terbuka.
Krieeet. Pintu bergerak terbuka.
Mereka berdua saling menatap, saling membeku, namun dengan pikiran versi mereka masing-masing.
Elkan mengetuk pintu kamar mandi karena sudah lewat dari lima menit waktu yang diberikan Elkan untuk Kelaya berganti pakaian. Sementara Kelaya berpikir, sudah waktunya Kelaya untuk membayar hutangnya.
"Apa yang kau pakai itu?" Suara Elkan dingin, sangat membekukan. Tatapannya yang tajam semakin tajam sampai membuat Kelaya nyaris kehilangan keberaniannya untuk menatap balik.
"K-kau bilang, aku harus ganti pakaian." jawab Kelaya gugup.
"Ya, tapi bukan pakaian seperti itu!"
"B-bukan kah kau bilang, aku harus membayar hutang dengan...tubuhku?"
"Ya memang! Tapi apa kau harus berpakaian seperti itu di luar?"
"Di-di luar? Kau...kau tidak mungkin...astaga, apa kau memiliki kelainan?"
"Apa maksudmu?" Elkan mengernyit.
"Kau ingin kita melakukan itu di luar? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak-'
Pletak!
Sentilan pedas mendarat pada kening Kelaya dari jemari Elkan.
"Otakmu mesum sekali, gadis kota!"
Kelaya mengusap keningnya sambil meringis. "Kenapa jadi aku yang mesum?! Kan kau yang menyuruhku membayar hutang dengan tubuh dan tenagaku!"
"Lalu kau pikir bersetubuh adalah yang aku maksud?" Suara Elkan terdengar mengejek dengan nada menyebalkan.
"Hah? Lalu?"
"Manfaatkan tubuh dan tenagamu untuk mengurus anak-anakku." jawab Elkan sambil menahan senyum karena ekspresi Kelaya sungguh lucu, apa lagi pipi wanita itu memerah seperti udang yang direbus terlalu matang.
* * *
Sepanjang jalan tak hentinya mulut Kelaya menggerutu, karena Elkan benar-benar telah mengerjainya habis-habisan, membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari. Sementara Elkan tetap berjalan santai di depannya. Bibir yang selama ini jarang tersenyum untuk kali pertama menyunggingkan senyuman yang tak bisa Elkan tahan.
Sungguh ajaib!
"Jadi, kenapa kau tidak bilang saja sejak awal kalau kau ingin aku mengasuh anak-anakmu? Apa mereka tahu siapa aku? Apa mereka tidak keberatan diasuh olehku? Berapa banyak anak-anakmu? Apa mereka...eh tunggu!" Kelaya berhenti bicara pun berhenti berjalan setelah menyadari lima belas menit perjalanan mereka menelusuri jalan setapak di tengah hutan, mereka sampai di tempat terbuka, apa yang dihadapan Kelaya saat ini bukan lagi bayang-bayang pohon pinus, melainkan hamparan ladang jagung, singkong, dan beberapa tanaman sayur-sayuran lain juga ada sebuah peternakan kambing.
"Elkan tunggu!" Panggil Kelaya lagi, dan orang yang dipanggilnya itu akhirnya ikut berhenti dan berbalik badan menghadapnya.
"Apa?"
"Bukan kah kau bilang akan membawaku bertemu dengan anak-anakmu?"
"Memang. Mereka disana." Elkan menunjuk kandang kambing yang diisi banyak ekor kambing di dalamnya.
"A-a-apa?"
"Mulai sekarang, kau akan belajar bagaimana mengurus anak-anakku, bagaimana cara memberikan mereka makan, membersihkan kandang mereka, dan bagaimana mengelola kotoran mereka menjadi pupuk."
Kelaya tercengang. Bukan hanya karena merasa ditipu mentah-mentah oleh pria bersorot mata dingin yang sedang tersenyum mengejek padanya itu, tapi dia juga syok berat. Bagaimana mungkin pria itu menyuruhnya membersihkan kotoran kambing?
"Bagaimana? Apa kau sanggup, gadis kota?"
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments