Chapter 7. Menipu Gadis Kota

"Tub-tubuhku? Ap-apa maksudmu?" Refleks Kelaya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Sudah kukatakan, t-tidak perlu ada hubungan badan, kan?"

Elkan berdecak seraya menggelengkan kepalanya, dia menatap Kelaya dengan tatapan datar, "Apa yang kau pikirkan dengan otakmu itu?"

"Ta-tadi itu kau bilang, bayar dengan tubuh dan tenagaku? Apa maksudnya?" Ekspresi Kelaya yang cemas dan gugup sungguh menghibur Elkan yang selama ini hanya hidup sendiri. Entah kenapa mengerjai gadis itu dan melihat reaksinya membuat Elkan puas. Itu sebagai balasan karena gadis itu telah menjebaknya.

"Aku akan memberitahumu nanti setelah kakimu pulih. Karena tubuhmu tidak akan berguna jika kakimu masih terkilir."

Glek! Susah payah Kelaya membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba menjadi tandus.

"J-jangan bercanda, ya!" Kelaya melotot galak.

"Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku." kata Elkan acuh, kemudian melanjutkan sisa makannya yang tertunda tanpa harus memperdulikan Kelaya yang masih berusaha meminta penjelasan kepadanya atau kalimat-kalimat panjang yang berusaha menjelaskan kepada Elkan bahwa hubungan badan tidak akan memberikan hasil yang baik untuk mereka dimasa depan.

Astaga! Dia bahkan masih berasumsi Elkan ingin Kelaya membayar dengan cara seperti itu.

* * *

Tiga hari berlalu sejak kontrak pernikahan yang dipelopori oleh Kelaya, selama tiga hari juga setiap malamnya Kelaya harus merasa was-was jika saja Elkan tiba-tiba menyergapnya. Tapi nyatanya, Elkan tetap bersikap dingin dan acuh. Pria itu akan pergi pagi-pagi sekali setelah menikmati secangkir kopi, lalu kembali pulang sebelum senja. Di dalam pondok, dia tidak terlalu banyak bicara, hanya bertanya tentang keadaan kaki Kelaya yang selalu dijawab dengan gugup oleh Kelaya karena dirinya tidak bisa berbohong di depan Elkan. Entahlah, sorot mata Elkan yang tajam seolah bisa mendeteksi kebohongan. Setelah memastikan perapian menyala sempurna, Elkan akan menghabiskan waktunya di dalam kamar atau di bengkel kayunya.

Tapi pagi ini Elkan berdiri di ambang pintu dapur saat Kelaya sedang mencuci bekas piring sarapannya.

"Kulihat caramu berjalan sudah normal." katanya singkat.

Kelaya membeku, seperti tiba-tiba disiram dengan satu baskom air dingin yang ditambahi dengan puluhan es batu. Kelaya pikir, Elkan sudah pergi. Dia memejamkan matanya sebentar, mengutuk dirinya yang lupa untuk berpura-pura sedikit pincang saat berjalan.

Oh, Tuhan, apakah ini waktunya? Apakah dengan cara seperti ini aku harus menyerahkan mahkotaku?

Kelaya mematikan keran air, kemudian berbalik badan untuk menghadap pada Elkan yang bersandar pada kusen pintu. Sialnya, dengan gaya santai dan kedua tangan yang melipat di depan dada, kaus dan celana pendek malah membuatnya terlihat tampan.

Susah payah Kelaya menghindari tatapan tajam Elkan, tenggorokannya seketika tandus sampai susah untuk sekadar menelan salivanya sendiri.

"Oh, eh, i-iya, aku pikir juga begitu." jawab Kelaya, setengah gugup, setengah takut.

"Bagus lah, kalau begitu, ganti pakaianmu, sudah waktunya kau membayar hutangmu."

Glek!

Kelaya melihat ke bawah, ke pakaian yang dia kenakan saat ini, daster rumahan yang panjang hingga ke betis. Apa memangnya yang harus dia kenakan? Apakah...apakah Elkan tipe pria yang menyukai wanita berpakaian seksi sebelum...

"Kusuruh kau ganti pakaian, bukan melamun." Tegur pria itu membuat Kelaya tersentak.

"Tapi aku..."

"Kutunggu lima menit." Setelah mengatakan itu, Elkan keluar dari dalam rumah begitu saja. Astaga! Jantungnya, jantung Kelaya sungguh tidak baik-baik saja.

"Astaga! Apa yang harus aku pakai? Apa yang harus aku lakukan?" Kelaya panik, sembari mencari pakaian yang bisa dipakai untuk...astaga, memikirkannya saja sudah membuat pipinya panas. Lalu dia menarik satu pakaian yang menurutnya paling...Ehem!

Kelaya memandang lagi pantulan dirinya pada cermin kecil yang menggantung didinding kamar mandi. Ia sampai malu sendiri melihat dirinya yang seksi dengan dengan hot pants dan tank top. Ini sungguh pertama kalinya dia berpakaian terbuka seperti ini di depan seorang pria.

Apakah dia akan melakukan hal yang tepat? Dia tidak akan berdosa sebenarnya, mengingat status mereka sudah halal, dan jika pun Elkan mau membuka hatinya untuk Kelaya, dia tidak akan keberatan melakukannya dengan pria yang telah berstatus suaminya. Masalahnya adalah, Elkan membencinya, pria itu sejak awal tidak pernah menyukainya, pernikahan mereka pun juga karena keterpaksaan dan sedikit jebakan yang dilakukan oleh Kelaya.

Tok! Tok! Pintu kamar mandi diketuk, dan satu-satunya orang yang melakukan itu adalah Elkan. Jadi, Kelaya menguatkan dirinya, ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu.

Cklak! Kunci diputar terbuka.

Krieeet. Pintu bergerak terbuka.

Mereka berdua saling menatap, saling membeku, namun dengan pikiran versi mereka masing-masing.

Elkan mengetuk pintu kamar mandi karena sudah lewat dari lima menit waktu yang diberikan Elkan untuk Kelaya berganti pakaian. Sementara Kelaya berpikir, sudah waktunya Kelaya untuk membayar hutangnya.

"Apa yang kau pakai itu?" Suara Elkan dingin, sangat membekukan. Tatapannya yang tajam semakin tajam sampai membuat Kelaya nyaris kehilangan keberaniannya untuk menatap balik.

"K-kau bilang, aku harus ganti pakaian." jawab Kelaya gugup.

"Ya, tapi bukan pakaian seperti itu!"

"B-bukan kah kau bilang, aku harus membayar hutang dengan...tubuhku?"

"Ya memang! Tapi apa kau harus berpakaian seperti itu di luar?"

"Di-di luar? Kau...kau tidak mungkin...astaga, apa kau memiliki kelainan?"

"Apa maksudmu?" Elkan mengernyit.

"Kau ingin kita melakukan itu di luar? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak-'

Pletak!

Sentilan pedas mendarat pada kening Kelaya dari jemari Elkan.

"Otakmu mesum sekali, gadis kota!"

Kelaya mengusap keningnya sambil meringis. "Kenapa jadi aku yang mesum?! Kan kau yang menyuruhku membayar hutang dengan tubuh dan tenagaku!"

"Lalu kau pikir bersetubuh adalah yang aku maksud?" Suara Elkan terdengar mengejek dengan nada menyebalkan.

"Hah? Lalu?"

"Manfaatkan tubuh dan tenagamu untuk mengurus anak-anakku." jawab Elkan sambil menahan senyum karena ekspresi Kelaya sungguh lucu, apa lagi pipi wanita itu memerah seperti udang yang direbus terlalu matang.

* * *

Sepanjang jalan tak hentinya mulut Kelaya menggerutu, karena Elkan benar-benar telah mengerjainya habis-habisan, membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari. Sementara Elkan tetap berjalan santai di depannya. Bibir yang selama ini jarang tersenyum untuk kali pertama menyunggingkan senyuman yang tak bisa Elkan tahan.

Sungguh ajaib!

"Jadi, kenapa kau tidak bilang saja sejak awal kalau kau ingin aku mengasuh anak-anakmu? Apa mereka tahu siapa aku? Apa mereka tidak keberatan diasuh olehku? Berapa banyak anak-anakmu? Apa mereka...eh tunggu!" Kelaya berhenti bicara pun berhenti berjalan setelah menyadari lima belas menit perjalanan mereka menelusuri jalan setapak di tengah hutan, mereka sampai di tempat terbuka, apa yang dihadapan Kelaya saat ini bukan lagi bayang-bayang pohon pinus, melainkan hamparan ladang jagung, singkong, dan beberapa tanaman sayur-sayuran lain juga ada sebuah peternakan kambing.

"Elkan tunggu!" Panggil Kelaya lagi, dan orang yang dipanggilnya itu akhirnya ikut berhenti dan berbalik badan menghadapnya.

"Apa?"

"Bukan kah kau bilang akan membawaku bertemu dengan anak-anakmu?"

"Memang. Mereka disana." Elkan menunjuk kandang kambing yang diisi banyak ekor kambing di dalamnya.

"A-a-apa?"

"Mulai sekarang, kau akan belajar bagaimana mengurus anak-anakku, bagaimana cara memberikan mereka makan, membersihkan kandang mereka, dan bagaimana mengelola kotoran mereka menjadi pupuk."

Kelaya tercengang. Bukan hanya karena merasa ditipu mentah-mentah oleh pria bersorot mata dingin yang sedang tersenyum mengejek padanya itu, tapi dia juga syok berat. Bagaimana mungkin pria itu menyuruhnya membersihkan kotoran kambing?

"Bagaimana? Apa kau sanggup, gadis kota?"

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!