Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet

Haru menyadari kecanggungan yang ada di belakangnya. Sepasang suami istri yang menurutnya aneh itu terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kelaya terlihat penuh beban mental karena wanita itu beberapa kali membuang napas berat. Sementara Elkan sebentar-sebentar mencuri pandang pada Kelaya yang duduk di sebelahnya.

"Ehem!" Haru berdeham memecah kebisuan yang ada di dalam mobil. "Sepertinya ada bazar di depan, kita mampir dulu ya?"

"Tidak usah." Elkan menjawab, tapi bukan Haru namanya kalau dia terlalu patuh pada apa yang dikatakan Elkan. Lelaki itu tetap menepikan mobilnya di tempat yang dikhususkan untuk tempat parkir mobil dan motor. Tadinya Sena juga hendak melayangkan protes, tapi kode dari mata Haru yang dikedip-kedipkan dengan cara paling aneh pun membuat Sena menyadari bahwa dia kali ini harus ikut dalam ide yang diciptakan Haru.

"Kenapa kita kesini?" Suara Elkan datar, tapi jelas dia sedang protes.

"Ah, aku ingat sudah berjanji pada calon anakku di masa depan, ingin membelikannya tas kerajinan tangan." kata Haru sekonyong-konyong yang membuat Kelaya refleks menengok dan seolah baru sadar dimana keberadaan mereka.

"Kau mau ikut lihat-lihat?" Tanya Sena kepada Kelaya.

"Boleh?"

"Tentu saja! Sekalian cuci mata, dari pada di dalam mobil bersama seseorang yang tidak tahu bagaimana caranya bicara normal." Haru menjawab sambil terkekeh. Sungguh, siapa pun yang mendengar pasti tahu siapa yang dimaksud Haru.

Kelaya menoleh pada Elkan, tapi pria itu tidak melihatnya sama sekali. Jadi, Kelaya hanya menipiskan bibir dan memilih untuk keluar dari dalam mobil.

"Tunggu," Suara Elkan menghentikan gerakan Kelaya, ia kembali menoleh pada lelaki itu. "Ini," katanya sembari memberikan kepada Kelaya sebuah dompet kulit yang lusuh berwarna kecoklatan.

"Apa ini?" tanya Kelaya dengan keningnya yang berkerut, tanda dia tidak mengerti.

"Dompet."

"Iya aku tahu itu dompet. Dan itu dompetmu, tapi untuk apa?" tanya Kelaya.

"Tentu saja untuk kita belanja!" Alih-alih Kelaya yang menerima uluran dompet yang diberikan Elkan, justru Haru lah yang berinisiatif menyambar benda berkulit lusuh itu. Dan dengan sangat kurang ajarnya, Haru melongok isinya. "Wah, kita memang tidak boleh menilai sesuatu dari luarnya saja. Ayo, kita belanja!"

"Kau-" Elkan tidak bisa meneruskan omelannya itu kepada Haru, karena pemuda itu sudah lebih dulu berinisiatif keluar dari dalam mobil, yang kemudian disusul oleh Sena.

"Keluarlah, kau bisa membeli baju atau sesuatu yang lain yang kau butuhkan." kata Elkan, dengan nada datarnya, tanpa melihat kepada Kelaya.

"Kau?"

"Aku di mobil saja, ngantuk." jawab Elkan, dia sudah memejamkan mata dan menyadarkan kepalanya.

"Apa kau ingin menitip sesuatu?"

"Tidak."

"Baiklah. Aku ikut Haru dan Sena, ya. Kau hati-hati di mobil sendirian." Ada sentuhan nada kekhawatiran dari suara Kelaya sebelum wanita itu keluar dan menutup pintu meninggalkan Elkan sendirian dalam kesunyian yang mana bisa membuatnya mendengar suara degupan jantungnya yang tidak tenang. Dan pompaan darah dari jantung itu sepertinya membuat Elkan tak sadar menggerakkan tangannya menyentuh dada, dan membuat kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.

Haru sangat bersemangat menghampiri tenda-tenda bazar yang ada, bertanya-tanya ini itu, seolah lupa dengan keberadaan Sena dan Kelaya di sebelahnya.

"Kau mau pilih juga?" tanya Sena melihat kepada Kelaya.

"Apa boleh?"

"Tentu saja, kau lupa apa yang tadi Elkan katakan?"

"Iya sih, hanya saja...tadi setelah ia melihat aku membawa kantong belanjaan make up, dia terlihat kesal."

"Terlihat kesal?" Sena mengerutkan kening. Kemudian ia menyenggol Haru dengan sedikit keras, "Apa kau melihat wajah Elkan yang terlihat kesal setelah keluar dari apotek tadi?"

Haru malah tertawa, "Jangan khawatir, orang itu memang sejak masih dalam kandungan ibunya, sudah selalu seperti itu ekspresinya."

Sena mengangguk, kali ini setuju dengan penggambaran Haru.

"Ayo, kau pilih juga baju untukmu, lihat, kaos yang itu bagus dan cocok untukmu." Haru menunjuk sebuah gaun rumahan yang manis dengan warna hijau pastel.

Kelaya terlihat suka, tapi dia juga terlihat enggan. "Pakaianku yang pernah kalian belikan masih cukup, kurasa-"

"Aku koreksi, ya. Pakaian yang dulu itu dibelikan oleh Elkan, kami hanya bertugas memilihkan dan memberikannya kepadamu. Jadi, kupikir, sekarang Elkan juga ingin membelikanmu pakaian baru." jawab Sena.

"Ah, ya, benar itu. Jangan kau sia-siakan isi dompet yang ada di tanganku ini. Hahahaha!" Sambar Haru dengan tawanya yang selalu lepas.

Karena desakan Haru dan Sena, akhirnya Kelaya berhasil dibujuk untuk memilih dua gaun rumahan yang sederhana tapi cantik. Kelaya suka dengan modelnya. Haru pun juga memanfaatkan isi dompet Elkan dengan sangat bijak, dia juga membeli beberapa potong pakaian, topi, dan jaket untuk dirinya juga untuk Sena dengan dalih bentuk apresiasi diri atas apa yang mereka lakukan demi mengurus orang-orang yang menyelinap masuk ke pondok Elkan semalam.

Setelah selesai di bawah tenda pakaian, mereka kembali mencuci mata dengan berkeliling, hingga kaki Kelaya berhenti di tempat pernak pernik, dimana yang membuatnya tertarik adalah, hampir semua parnak-pernik yang dipajang berbentuk tiga beruang coklat.

"Lucu sekali." Puji Kelaya melihat keramik kecil berbentuk seekor beruang besar dengan dua ekor beruang kecil dalam gendongan beruang besar itu.

"Boleh, Teh?" kata si penjual.

Kelaya yang tidak mengerti bahasa daerah sama sekali, hanya bisa tersenyum tipis-tipis.

"Teteh orang kota, ya?"

"Eh, eee, iya. Maaf, saya tidak bisa bahasa daerah." kata Kelaya.

"Iya, tidak apa-apa." kata si penjual dengan sangat ramah. "Itu hasil karya anak-anak desa."

"Bagus sekali." Puji Kelaya. "Tapi kenapa kebanyakan bentuknya beruang?"

"Oh itu karena, hutan di desa atas itu, menjadi tempat tinggal tiga ekor beruang, nah ini hasil kerajinan anak-anak dari desa di atas itu, Teh." Jelas si penjual.

Kelaya menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar menyukai hasil kerajinan itu. Dan penjelasan si penjual mengingatkan Kelaya kembali pada sebuah kejadian yang kala itu membuat jantung Kelaya tidak baik-baik saja.

Sebuah ciuman.

Refleks Kelaya menipiskan bibirnya, karena, entah bagaimana, sentuhan bibir Elkan kembali dia ingat rasanya.

"Mau, Teh? Sepuluh ribu saja."

Kelaya menggeleng sambil tersenyum tidak enak. Dia menolak bukan karena tidak suka atau kemahalan. Sungguh, harga sepuluh ribu dengan kerajinan sebagus itu justru terlalu murah. Tapi, sayangnya Kelaya memang tidak memegang uang sepersen pun.

"Hei, sedang apa?" Sena datang. Dia melihat Kelaya meletakkan pajangan beruang itu kembali dengan tatapan nanar.

"Hanya lihat-lihat."

"Wah, ada cangkir kopi juga." Sena menujuk bagian cangkir-cangkir buatan tangan itu. Yang menarik mata adalah, bentuknya yang unik-unik, warnanya dan ada juga yang berupa kepala beruang coklat, ada juga yang berupa beruang kutub.

Refleks Kelaya mengambil cangkir dengan bentuk kepala beruang kutub. "Ini sangat mirip Elkan, bukan?" katanya pada Sena sembari terkekeh.

"Ah, kau benar. Beli saja untuknya." Sena langsung mengeluarkan dompet Elkan yang tahu-tahu sudah ada padanya. "Berapa harga cangkirnya, Bu?"

"Dua puluh lima ribu saja."

"Eh, tapi-" Kelaya sudah ingin melarang, sayangnya barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan.

Cangkir sudah di tangan Kelaya, dia memperhatikan bentuk wajah si beruang kutub itu yang dibuat sinis dan galak, sungguh mengingatkannya pada sosok Elkan setiap pria itu melihatnya atau bicara kepadanya. Ia mendesah berat, perasaannya sungguh campur aduk, dan sosok yang bertanggung jawab atas perasaannya sekarang malah memilih untuk tidur di dalam mobil, setelah membuat Kelaya merasa galau.

"Kau terlihat tidak baik-baik saja sejak dari apotek tadi." kata Sena.

Kelaya kembali mendesah berat, Haru yang sedang menikmati sepotong es krim juga ikut menyimak.

"Entahlah," jawab Kelaya dengan nada bingung. "Sena, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu saja."

"Kalau seorang pria yang sudah menciummu tiba-tiba kemudian dia tetap cuek dan terlihat tidak suka karena kau menggunakan uangnya untuk keperluan pribadi, apakah itu bisa dikatakan pria itu menyukaimu atau hanya sekadar memanfaatkanmu saja?"

Pertanyaan itu membuat Sena dan Haru tak hanya serempak menghentikan langkahnya, tapi juga serempak membunyikan pertanyaan yang sama, "Elkan menciummu?!"

.

.

.

Bersambung~~>>

Episodes
1 Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2 Chapter 2. Wanita Gila.
3 Chapter 3. Mendadak Nikah
4 Chapter 4. Gemuruh Hati
5 Chapter 5. Berdebar
6 Chapter 6. Kontrak
7 Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8 Chapter 8. Gunung Es
9 Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10 Chapter 10. Pikiran Ilegal
11 Chapter 11. Tersihir
12 Chapter 12. Siapa Mereka?
13 Chapter 13. Menjahit Luka
14 Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15 Chapter 15. Si Pemerhati
16 Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17 Chapter 17. Rasa
18 Chapter 18. Halo, cantik!
19 Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20 Chapter 20. Merajuk.
21 Chapter 21. Pasar Malam
22 Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23 Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24 Chapter 24. Patah
25 Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26 Chapter 26. Siapa Dio?
27 Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28 Chapter 28. Jauhi Istriku.
29 Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30 Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31 Chapter 31. Penanaman Bibit
32 Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33 Chapter 33. Cemburu
34 Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35 Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36 Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37 Chapter 37. Firasat Buruk
38 Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39 Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40 Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41 Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42 Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43 Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44 Chapter 44. Cerita Elkan
45 Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46 Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47 Chapter 47. Sinyal Darurat!
48 Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49 Chapter 49. Zeon!
50 Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51 Chapter 51. Siapa Kelaya
52 Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53 Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Chapter 1. Wanita Asing Yang Pingsan
2
Chapter 2. Wanita Gila.
3
Chapter 3. Mendadak Nikah
4
Chapter 4. Gemuruh Hati
5
Chapter 5. Berdebar
6
Chapter 6. Kontrak
7
Chapter 7. Menipu Gadis Kota
8
Chapter 8. Gunung Es
9
Chapter 9. Pikiran Yang Mengusik
10
Chapter 10. Pikiran Ilegal
11
Chapter 11. Tersihir
12
Chapter 12. Siapa Mereka?
13
Chapter 13. Menjahit Luka
14
Chapter 14. Pria Besar Yang Demam
15
Chapter 15. Si Pemerhati
16
Chapter 16. Memanfaatkan Isi Dompet
17
Chapter 17. Rasa
18
Chapter 18. Halo, cantik!
19
Chapter 19. Pertengkaran Pertama
20
Chapter 20. Merajuk.
21
Chapter 21. Pasar Malam
22
Chapter 22. Debaran Tengah Malam
23
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
24
Chapter 24. Patah
25
Chapter 25. Ocehan Psikolog Gadungan
26
Chapter 26. Siapa Dio?
27
Chapter 27. Aku Tidak Semustahil itu.
28
Chapter 28. Jauhi Istriku.
29
Chapter 29. Aku Menginginkanmu.
30
Chapter 30. Apa Ini Mimpi?
31
Chapter 31. Penanaman Bibit
32
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
33
Chapter 33. Cemburu
34
Chapter 34. Pagi Yang Kembali Ribut
35
Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]
36
Chapter 36. Ketakutan Yang Kembali
37
Chapter 37. Firasat Buruk
38
Chapter 38. Kemana Haru dan Sena?
39
Chapter 39. Si Pembawa Pesan
40
Chapter 40. Ruang Rahasia Di Bawah Kandang Kambing!
41
Chapter 41. Hati Yang Carut Marut
42
Chapter 42. Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya
43
Chapter 43. Mencurigai Orang Yang Salah
44
Chapter 44. Cerita Elkan
45
Chapter 45. Ruangan Rahasia Lainnya
46
Chapter 46. Kecupan Yang Mengantar Perpisahan
47
Chapter 47. Sinyal Darurat!
48
Chapter 48. Semua Mulai Terbuka
49
Chapter 49. Zeon!
50
Chapter 50. Kegelisahan Zeon
51
Chapter 51. Siapa Kelaya
52
Chapter 52 Dua Mantan Mafia
53
Chapter 53. Hukuman Dan Senyuman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!