Elkan hanya bisa pasrah tanpa banyak pembelaan, karena dia merasa percuma. Setiap kata yang keluar dari bibirnya malah semakin memancing kesalahpahaman semakin runcing. Jadi, Elkan memilih untuk diam dan menerima ide gila Kelaya yang sepertinya akan menjadi nyata bagi wanita itu. Tidak seperti Elkan yang tentu saja merasa tidak nyaman dengan situasi itu, Kelaya malah terlihat lega. Ck, wanita aneh itu malah tersenyum membalas tatapan sinis dan gunjingan masyarakat desa yang telah mendengar berita tentang 'kumpul kebo' yang terjadi. Entah dia tersenyum-senyum saja karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan orang-orang, atau karena memang dia sesenang itu dinikahkan paksa oleh masyarakat. Entahlah, kepala Elkan berdenyut. Situasi ini sama sekali tidak tertulis dalam daftar rencana hidupnya.
Mereka sudah berada di balai desa, setelah kedatangan kepala desa ke rumah Elkan sebelumnya, dan Pak Hendra menjelaskan dengan sangat berapi-api ditambah pembelaan yang dilakukan Kelaya malah menciptakan kata-kata ambigu yang membuat kepala desa memutuskan untuk membawa Elkan dan Kelaya ke balai desa untuk segera dinikahkan oleh pemuka agama di desa itu.
Nikah siri menjadi jalan keluar yang dititahkan oleh kepala desa. Setelah itu, baru lah Elkan dan Kelaya wajib menyiapkan dokumen legal untuk mensahkan pernikahan mereka nantinya dimata hukum negara. Elkan masih tidak banyak bicara kecuali mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan kepala desa untuk meredakan situasi. Disisinya, Kelaya terlihat senang-senang saja memakai tudung kepala yang diberikan salah satu penduduk desa untuk menutupi sebagian rambutnya yang tergerai.
"Apakah sudah dapat ijin menikah dari wali nikah?" tanya pemuka agama itu kepada Elkan dan Kelaya.
"Saya yatim piatu, Pak." jawab Kelaya yang membuat kepala Elkan menengok kepadanya.
"Apakah tidak ada wali yang lain?"
"Tidak ada, Pak."
Kerutan tercipta samar pada kening Elkan. Meski pun terlihat acuh, Elkan masih ingat semalam wanita itu bercerita tentang pamannya yang ingin menjodohkannya dengan pria tua.
"Apa sudah ada maharnya?" Pertanyaan itu kini ditujukan kepada Elkan.
Elkan yang sedari tadi diam pun baru menyadari tentang mahar.
"Bagaimana, Nak Elkan, sudah ada maharnya?" Mendengar pemuka agama menyebut nama Elkan dengan jelas, wanita itu semakin melebarkan senyumannya. Akhirnya dia bisa tahu nama calon suami mendadaknya itu, karena sebelumnya Pak Hendra, kepala desa dan penduduk desa lainnya selalu berbicara dengan bahasa daerah dan tidak ada yang benar-benar memanggil nama Elkan.
"Apa sudah ada mahar untukku, Mas Elkan?" Suara Kelaya yang dibuat lembut dan penuh penekanan intonasi saat memanggil namanya dengan tambahan embel-embel 'Mas' seketika membuat bulu kuduk Elkan merinding.
Elkan mendengus. Dia mengeluarkan dompet dari saku celana trainingnya, membukanya lalu mengeluarkan sebuah cincin emas yang kemudian diletakkan di atas meja.
"Cincin emas murni 45 gram." ujar Elkan tenang dan datar. Namun ucapannya mampu membuat semua warga desa yang hadir di balai itu bergumam, menggumamkan keterkejutannya dengan emas murni 45 gram yang dijadikan mahar dadakan olehnya, terlebih lagi, cincin itu hanya disimpan di dalam dompet.
Kelaya bahkan sampai menaikkan kedua alisnya tak percaya. Laki-laki mana yang menyimpan cincin emas murni di dalam dompet uang?
"Baiklah kalau begitu, kita mulai saja proses ijab qobulnya."
Elkan mendengus. Sementara Kelaya terlihat sudah sangat siap. Wanita itu menegakkan duduknya hingga terlihat anggun dengan kaus dan celana jinsnya. Sementara Elkan duduk tanpa semangat hanya dengan mengenakan kaus tidur dan celana training panjang, dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan kepala desa yang akan menjadi wali bagi Kelaya. Hingga pertanyaan pemuka agama itu dijawab oleh semua penduduk desa yang ada disana menyaksikan proses itu.
"Saaaaaaah!"
Senyum pada wajah Kelaya mengembang seperti adonan roti yang siap untuk dipanggang. Binar pada sorot mata wanita itu terpancar sangat jelas ketika Kelaya mencium punggung tangan Elkan sebagai suaminya.
* * *
Kelaya mengangkat jarinya tinggi sembari menyusuri jalan setapak setelah mereka diturunkan oleh Pak Hendra karena istrinya yang menelepon. Perjalanan mereka menuju rumah masih sekitar dua puluh menit lagi dengan berjalan kaki. Tapi sepertinya hal itu tidak mampu memudarkan senyuman pada bibir Kelaya.
"Kembalikan cincin itu." kata Elkan tiba-tiba.
"Eh, mana bisa begitu." Kelaya refleks melipat tangannya. "Ini adalah mahar yang kau berikan kepadaku. Mana bisa diambil lagi."
"Nanti kuganti dengan emas yang lain."
Kelaya menggeleng. "Aku tidak mau emas yang lain."
Elkan mendengkus sebal. Malas berdebat, Elkan tidak lagi bersuara. Dia hanya meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan Kelaya yang kesulitan melangkah karena mengenakan sandal jepit kebesaran milik Elkan.
"Hei, tunggu aku, dong! Masa istrinya ditinggal begitu saja? Kalau ada penculik yang menculikku, bagaimana?"
"Bagus lah, aku akan berikan dia ongkos untuk membawamu pergi." Sahut Elkan dari depan Kelaya.
"Kejamnya suamiku."
Lagi-lagi Elkan hanya mendengkus mendengar sebutan itu. Ia sempat mendengar suara gedebuk di belakangnya, tapi dia berusaha untuk tidak perduli dan tetap berjalan lurus tanpa menoleh, sampai dia menyadari tidak ada suara langkah kaki lagi mengikuti dirinya.
Jangan menoleh! Jangan menoleh! Elkan berusaha menguatkan dirinya agar tidak menoleh kebelakang, tapi rasa penasaran mengalahkan dirinya. Dia berhenti, memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum menoleh ke belakang.
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri ketika dia menoleh dan tidak ada siapapun di belakangnya. "Ah, sial! Apa dia benar-benar diculik? Ck, merepotkan sekali." Elkan menggerutu, namun tubuhnya bergerak kembali untuk mencari Kelaya yang saharusnya ada di belakang.
Hari semakin siang, tapi karena pohon-pohon tinggi disekitarnya membuat sengatan sinar matahari tidak terlalu menusuk kulitnya. Meski begitu, keringat sudah terasa mengalir di punggungnya. Ah, dia lapar. dia juga belum memberi makan hewan-hewan ternaknya karena kejadian di luar prediksi ini.
Langkahnya berhenti ketika akhirnya dia melihat Kelaya duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang. Kedua kakinya lurus, dengan jins bagian lulutnya sobek, tak hanya itu, tali karet dari sandal yang dikenakan Kelaya juga putus. Ia terlihat menyedihkan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Elkan. Suara pria itu menyentak lamunan Kelaya, tangannya mengusap wajahnya asal dan ia menyunggingkan senyuman saat Elkan semakin mendekat.
"Menunggumu." jawabnya.
"Dengar, aku tidak bisa selamanya membuang waktuku gara-gara kau. Jadi cepat berdiri dan jalan."
"Tapi-"
"Apa?!" Tak sadar, Elkan menyela Kelaya dengan bentakan yang sangat membuat mahkluk apa pun yang mendengarnya bisa kehilangan jantung mereka. Kelaya sampai terdiam. Ini bukan bentakan pertama yang Kelaya terima selama hidupnya. Pamannya sering membentaknya karena Kelaya selalu menolak aturan konyol pamannya. Tantenya sering meneriakinya karena menganggap Kelaya pembawa sial. Tapi semua itu tidak sampai menusuk hatinya.
Namun, satu bentakan dari pria asing yang telah menolongnya tanpa pamrih itu - entah bagaimana - sangat melukainya. Ini lebih menyakitkan dari bentakan dan teriakan paman dan tantenya.
"Aku...aku... tidak apa-apa."
"Bagus!" kata Elkan dingin. Pria itu kembali memutar tubuh dan berjalan lagi.
Kelaya susah payah menelan rasa sesaknya, menahan sebisa dan sekuat yang dia mampu agar air matanya tak lagi menetes. Dia berdiri, menahan perih pada lututnya yang luka, dan pergelangan kakinya yang benar-benar terkilir kali ini. Tangannya membawa sandal jepit yang sudah putus sebelah itu. Ia berjalan terpincang-pincang di belakang Elkan, dengan perut yang lapar.
Apa dia tidak melihat lututku luka? Sandalnya putus, kakiku terkilir? Mama, Papa... Kelaya ingin bersama Mama dan Papa saja...hiks!
Kepala Kelaya yang menunduk - meski kakinya susah payah melangkah di atas jalan setapak yang tidak rata - menubruk sesuatu yang keras yang membuat tubuhnya limbung karena kakinya yang nyeri tidak mampu menahan bobot tubuhnya.
Tangan kekar itu terulur meraih pinggang Kelaya hingga wanita itu selamat tanpa harus membenturkan bokongnya di atas jalan setapak yang berkerikil. Dada bidang dan keras Elkan berada tepat di depan wajah Kelaya, dia mendongakkan wajahnya dan mendapati sorot mata dingin itu sedang menatapnya.
"Kusuruh kau jalan, bukannya menangis."
"Ini juga aku sedang berusaha berjalan, tahu!" Kelaya mendorong dada Elkan untuk melepaskan dirinya dari lingkaran tangan pria itu.
Elkan melihat ke bawah, lebih tepatnya ke lutut dan sandal yang ditenteng Kelaya tanpa berkomentar apa pun.
"Aku tahu jalan pulang, kalau kau mau duluan, duluan saja, tak perlu menung-"
Grep!
Seperti membawa sebuah guling, Elkan sudah menggendong Kelaya dengan mudah tanpa kesulitan apapun, seolah bobot tubuh Kelaya seringan kapas.
"Hei, aku-"
"Diam! Jangan bicara apa pun!"
.
.
.
Bersambung ~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments