"K-Kau bukan Elkan!" Ucap Kelaya dengan suaranya yang bergetar ketakutan.
"Sialan! Dasar j*lang!" Umpat suara itu dari balik pintu. Umpatan itu semakin menguatkan Kelaya bahwa siapa pun laki-laki yang suaranya menyerupai suara Elkan, bukan lah Elkan si gunung es yang Kelaya kenal. "Cepat buka pintunya!" Suara itu pun meninggi dan membentak Kelaya.
Alih-alih menuruti kemauan laki-laki itu, Kelaya malah beringsut mundur, air mata sudah menetes dari matanya. "Kata kuncinya dulu!" Balas Kelaya, meski sudah menangis, dia tetap memegang teguh perintah Elkan, meski mungkin siapa pun pria itu bisa saja mendobrak pintu dan melakukkan apapun pada Kelaya, setidaknya, Kelaya harus bertahan. Kakinya terus bergerak mundur hingga betisnya menyentuh kotak panjang tempat penyimpanan dimana Elkan sebelumnya menyuruh Kelaya bersembunyi di tempat sempit itu.
"Cepat buka pintunya! Atau aku dobrak! Aku hitung sampai tiga! Satu!"
Kelaya berisap untuk menjejalkan tubuhnya di dalam kotak penyimpanan itu.
"Dua!"
Kelaya dengan tangannya yang gemetar menyingkirkan barang-barang yang ada di atas kotak itu ke atas kasur agar dia bisa masuk ke dalamnya tanpa ketahuan kalau dia bersembunyi di dalam kotak itu.
"Ti-"
Gedebug! Bug! Krak!
"Aarrggh!"
"Siapa yang kau panggil j*lang?" Suara itu menghentak kesadaran Kelaya. Itu suara Elkan! Bukan yang mengaku Elkan! Kelaya mengenali intonasi dan nada dingin itu. Saat itu juga lutut Kelaya lemas dan ambruk di sisi kotak yang belum sempat dia buka.
Satu suara gebukan lagi, kemudian sunyi.
Kelaya menenangkan dirinya, menajamkan indra pendengarannya dengan kedua matanya yang masih basah. Merasai debaran jantungnya yang masih berdegup cepat. Ia mendengar seperti suara sesuatu yang besar diseret menjauh, hingga beberapa saat kemudian, suara pintu kembali diketuk.
"Kelaya?" Itu suara Elkan. Kelaya tahu, tapi ia tetap harus mengajukan pertanyaan.
"Kata kunci?"
"Peri hutan."
Kali ini Kelaya benar-benar bernapas lega, dia bangkit dengan kedua lulutnya yang lemas, digesernya meja yang menghalangi pintu kemudian dibukanya pintu hingga penampakan Elkan yang berdiri di depan pintu dengan wajahnya yang terluka dan lengannya yang berdarah tertangkap oleh penglihatannya.
"Kau ti-" Elkan tidak sampai bisa menyelesaikan kalimatnya saat Kelaya dengan implusif menghambur memeluk Elkan di depannya. Tangis Kelaya pecah hingga membuat Elkan membeku.
"Aku pikir...hiks...kau mati...hiks..."
"Bukan kah kau jadi senang kalau aku mati?"
"Mana ada begitu!"
"Kupikir kau akan lebih senang jika gunung es ini mati."
Tangis Kelaya malah semakin kencang dan erat memeluk tubuhnya.
"Sudahlah, jangan menangis, aku tidak apa-apa." Meski kata-kata itu diucapkan dengan nada datar, tapi entah bagaimana suara itu menghantarkan ketenangan dalam hati Kelaya.
Ia melepaskan pelukannya dengan canggung begitu sadar dimana wajahnya mendarat. "Maaf," katanya.
"Hm," Elkan mundur satu langkah untuk melihat keadaan Kelaya. Tapi, tatapan itu justru malah membuat Kelaya salah tingkah, jadi dia memalingkan wajahnya dari wajah penuh luka pria itu.
"Dimana oang-orang itu? Siapa mereka? Apakah rampok?"
"Sudah aku amankan, aku ikat di bengkel." jawab Elkan selalu dengan nada datarnya.
"Apa aman seperti itu?" Kelaya terilhat cemas membayangkan orang-orang jahat itu masih ada ditempat yang sama dengannya.
"Untuk sementara ini aman, aku sudah hubungi Haru."
"Kenapa Haru? Apa tidak bisa langsung hubungi polisi?"
"Bisa, tapi lama. Lebih cepat Haru yang mengurusnya."
Kelaya mulai menyadari sekelilingnya, banyak sekali barang-barang yang berantakan dan darah berceceran.
"Apa rampoknya banyak sekali?" tanya Kelaya.
"Enam orang."
"Enam?" Kelaya melebarkan matanya ketika terkejut, dia kembali mengamati wajah Elkan yang banyak terdapat luka. "Apa itu darah mereka?"
"Darah mereka, mungkin juga ada darahku."
Wajah Kelaya kembali pada Elkan, "Darahmu?"
Elkan menujukkan lengan bajunya yang sobek dan basah, karena kausnya yang dipakai berwarna hitam, jadi tidak terlihat seperti berdarah, tapi ketika Kelaya melihat bagian lengan bawahnya, barulah dia menyadari ada darah yang menetes.
"Kau berdarah!" Pekiknya histeris.
"Aku tidak apa-apa."
"Apanya yang tidak apa-apa!" Kelaya mencoba membuka lengan baju Elkan, dan dia syok sendiri begitu melihat luka pada bagian itu sangat panjang.
"Ini kena apa?"
"Rampok-rampok itu membawa pisau, dan mengenaiku, tidak apa-apa."
"Ayo kita ke klinik!"
"Klinik disini jauh, harus ke tengah kota."
"Tapi lenganmu terus berdarah, harus segera dijahit atau kau akan kehilangan banyak darah."
"Aku tahu. Aku akan menjahitnya."
"Kau bisa menjahitnya?"
"Entahlah, tapi biar kucoba."
"Aku bisa. Biar aku saja yang menjahit lukamu." Kelaya spontan menawarkan jasanya, meski Elkan langsung menatapnya dengan tatapan skeptis.
"Kau bisa?"
"Bisa!"
* * *
Elkan membuka kaosnya tepat di hadapan Kelaya yang mati-matian menetralkan debaran jantungnya. Meski dia terlihat sedang fokus memasukkan benang ke dalam lubang jarum.
Tampilan perut six pack, lengan berotot dan tangan yang berurat membuat Kelaya harus berusaha empat kali lipat untuk fokus.
"Apa kau yakin tidak apa-apa menggunakan benang jahit seperti ini?" tanya Kelaya, berusaha mengalihkan perhatiannya dari pahatan otot-otot yang melekat pada tubuh tegap Elkan.
"Tidak apa-apa. Nanti siang aku ke klinik."
"Oke." Kelaya menariik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Yakin bisa?" Tangan Elkan menahan tangan Kelaya yang hendak menyentuhnya untuk memulai tindakannya. "Kau terlihat gugup."
Hah! Tentu saja! Siapa yang tidak gugup di depan pria bertubuh atletis tanpa atasan tepat di depan mata? Kelaya memang tidak memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan lawan jenis, tapi dia adalah wanita yang sangat normal lahir dan batinnya, tentu saja dia gugup setengah mati!
"Aku bisa. Aku biasa menjahit. Jadi, palingkan wajahmu, matamu yang dingin itu yang membuatku jadi grogi." ucap Kelaya dengan bibirnya yang dibuat manyun seperti orang menggerutu. Sayangnya, karena terlalu fokus melihat luka sobekan pada kulit lengan Elkan, ia sampai tidak melihat bagaimana bibir Elkan melengkung ke atas.
Meski nasib lengannya berada ditangan Kelaya, tapi hati Elkan berdesir saat tahu dirinya bisa membuat gadis cerewet itu grogi.
Kelaya mulai menyentuh lengan Elkan dan menusukkan jarum yang sudah dipanaskan lebih dulu itu ke dalam kulit kemudian ditariknya keluar bersamaan dengan benang jahitnya, dia melirik Elkan, khawatir pria itu akan kesakitan, tapi Elkan tetap tenang seolah Kelaya tidak melakukan apapun pada lengannya.
"Jadi, kau terbiasa menjahit?" Elkan membuka suara.
"Ya. Aku hampir tidak diperbolehkan keluar rumah dan bersosialisasi oleh paman dan bibiku semenjak kedua orang tuaku meninggal. Jadi aku sering mencari kegiatan dan mencoba hal-hal baru. Kau tahu Rapunzel?"
"Gadis yang tidak pernah potong rambut itu?" ucap Elkan dengan nada sarkas tapi malah membuat Kelaya tersenyum.
"Ya, dia. Aku ibarat Rapunzel dalam versi modern. Jika Rapunzel dimanfaatkan oleh si penyihir karena memiliki rambut ajaib yang bisa membuat awet muda. Nah, aku dimanfaatkan oleh pamanku untuk dinikahkan dengan klien-klien miliader demi menunjang bisnis, tak perduli jika klien pamanku sudah lansia atau belum."
"Apa kau tidak pernah berusaha kabur sebelum ini?"
"Sering. Tapi selalu tertangkap. Kupikir mereka berhasil melacakku karena dulu-dulu aku selalu membawa serta ponsel dan masih memakai jam tangan dan liontin pemberian mendiang orang tuaku, entah bagaimana hanya dua hari aku kabur, orang-orang suruhan paman selalu berhasil menemukanku."
"Pamanmu menyadap barang-barang kesayanganmu."
"Ya, kupikir juga begitu, aku baru menyadari itu saat aku menemukan alat penyadap itu pada salah satu boneka kesayanganku. Mereka memasukkannya ke dalam bonekaku, dan sayangnya jahitan mereka tidak rapi, jadi aku tahu ada yang berubah, saat kubongkar, ternyata benar ada alat hitam kecil. Saat aku foto melalui gugel, ternyata itu ada alat penyadap. Lalu aku mulai membongkar semua bonekaku, dan terakhir aku membongkar liontin, jam tangan dan ponselku." Kelaya mendesah berat sambil terus tangannya bekerja. "Ternyata selama ini paman memantauku."
Hening kembali, tapi dari samping tempatnya menjahit luka milik pria itu, Kelaya dapat melihat bagaimana Elkan mengeraskan rahangnya yang bergaris tegas. Ia pikir, Elkan menahan sakit dijahit tanpa dibius, tanpa Kelaya sadari Elkan menahan sesuatu yang membakar emosinya ketika mendengar bagaimana cerita singkat tentang hidup dari gadis yang kini sedang menutup lukanya dengan benang jahit.
Setelah selesai dengan urusan menjahit luka, Kelaya membantu Elkan merapihkan barang-barang yang berjatuhan, meski Elkan sudah melarangnya, tapi Kelaya tetap keras kepala untuk tetap ikut serta.
"Akh!" Pecahan dari gelas dan piring melukai tangan Kelaya saat sedang memunguti satu per satu dari atas lantai. Elkan secara refleks langsung melepaskan bagian kursi kayu yang patah dan segera menghampiri Kelaya.
"Sudah kukatakan kau tidak perlu membantu." kata Elkan sembari meraih tangan Kelaya dan membawanya ke wastafel untuk dialiri air keran yang mengalir, tanpa banyak bicara, Elkan langsung membalutnya dengan sebuah band aid tanpa dia tahu bahwa interaksi itu menimbulkan reaksi yang dramatis di dalam dada Kelaya. Reaksi yang familiar ketika dia di hutan sore kemarin, saat bibirnya dan bibir Elkan...
Kelaya seketika menggelengkan kepalanya, seperti anak kucing yang mengeringkan bulunya yang basah. Elkan memperhatikannya dengan heran.
"Kau kenapa?"
"Eh?" Gelengan kepala itu seketika terhenti. Dia tidak menyadari perbuatannya. Dasar bodoh! Runtuknya.
"T-tidak apa-apa." Kelaya menarik tangannya dari tangan Elkan yang hangat, kasar dan besar.
"Kau istirahat saja di kamar. Biar aku yang menyelesaikan."
"Tapi tanganmu juga pasti sakit kalau membereskan semua ini."
"Haru dan Sena akan datang sebentar lagi, mereka akan membantuku."
"Tapi..."
"Dengar, malamku sudah sangat berat dan lelah, aku akan sangat menghargai jika kau tidak keras kepala." Potongnya dengan nada datar namun cukup mengkonfirmasi bahwa kekeraskepalaan Kelaya untuk membantu hanya akan membuat Elkan semakin lelah.
"Baiklah," kata Kelaya kemudian. "Tapi kau jangan terlalu memaksakan tanganmu, biar bagaimana pun, jahitan lukamu bukan jahitan yang sempurna."
"Hm," Elkan mengangguk mengerti.
Kelaya akhirnya memutar tubuhnya untuk beranjak, namun detik berikutnya, tubuhnya kembali menghadap Elkan, "Kau bilang aku istirahat di kamarmu?"
"Ya."
"Tapi, bukankah aku tidak boleh tidur di kamarmu?"
Elkan mengerutkan kening, hanya sebentar sebelum ekspresinya kembali kesetelan parik, kemudian menjawab, "Aku tidak pernah melarangmu untuk tidur di kamarku."
"Eh?"
.
.
.
Bersambung~~>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments