"Kamu tahu gak sayang, pulau ini dulu pernah dibuat jadi lokasi syuting film Hollywood yang berjudul KING KONG pada tahun 2005 yang dibintangi oleh Naomi Watts, Jack black, Adrien Brody dan Andy Serkis." Ucap Yasir masih dengan memeluk Rili yang sedang duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Yasir.
"Aku pernah nonton filmnya, tapi aku tidak tahu bahwa film itu pernah syuting di Pulau Mursala ini." Jawab Rili sembari matanya tertuju ke air terjun.
Yasir seolah mendongeng kepada wanitanya itu. Rili mendengarkan semua celotehannya Yasir. Setelah puas menikmati pemandangan Air Terjun di Pulau Mursala. Pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara ini langsung pulang ke rumah orang tua Rili.
Kini Rili dan Yasir sedang berada di dalam mobil. Sudah 15 menit mereka sampai di depan pagar rumah Rili, tapi Yasir belum mau turun juga dari mobilnya.
"Ayo turun bang!" Ucap Rili dengan sedikit kesal. Gimana Rili tidak kesal. Yasir selalu minta waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu dengan calon mertua nya tersebut.
"Lima menit lagi ya dek, Abang berdoa dulu." Ucap Yasir sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian mulutnya komat-kamit dan tangannya menengadah.
Ternyata pria ini bisa juga tidak percaya diri.
Tangan Rili bergerak untuk membuka pintu mobil, tapi aksinya itu langsung dihentikan Yasir. "Ada apa lagi bang? Ayo cepetan turun, nanti keburu Ayah pergi ke Mesjid. Ini sudah mau sholat ashar." Ucap Rili yang mulai kesal dengan tingkah Yasir yang seperti ABEGE itu.
Yasir menarik tangan Rili dan menempatkannya di dadanya yang bidang. "Jantung abang dag Dig dug sayang. Abang nervouse, ini rasanya lebih menegangkan dari pada mau terima hasil Ujian Nasional." Ucap Yasir sembari tetap memegang tangan Rili yang berada di atas dadanya.
"Peluk Abang dulu, beri Abang kekuatan dan dukungan moril." Ucap Yasir dengan manjanya. Rili geleng-geleng kepala melihat tingkah Yasir. "Minta dukungan, apa lagi mesum." Ucap Rili.
Yasir langsung menarik Rili ke pelukannya. Rili pun membalas pelukan tersebut dan mengusap lembut punggung Yasir. "Semoga niat baik kita diijabah Allah dan direstui Ayah dan mama." Ucap Rili kemudian melepas pelukannya.
Rili dan Yasir turun dari mobil dan berlari kecil untuk menghindari hujan yang turun dari langit yang lumayan deras. Petirpun saling bersahutan menambah kegelisahan seorang pria yang akan melamar gadis pujaannya itu.
"Assalamualaikum..." Ucap Rili.
"Walaikumsalam." Mama Rili mempercepat langkahnya untuk membuka pintu, Karena dia ingin segera melihat putrinya yang cantik itu.
Mama Rili langsung memeluk putri semata wayangnya tersebut.
"Apa kamu sehat nak?" Ucap mamanya dengan penuh kekhawatiran dan mengajak Rili untuk duduk di sofa ruang tamu.
Mama Rili memeriksa setiap anggota tubuh putrinya, untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Saking seriusnya memperhatikan putrinya. Mama Rili tidak mengetahui bahwa Yasir juga ada di ruangan itu.
"Eehhmmmm .." Yasir berdehem untuk memberi kode, bahwa dia juga ada di ruang tamu tersebut.
"Ya ampun.... Ada anak Yasir. Maafin ibu ya tadi ibu bener-bener gak lihat nak. Ibu khawatir sekali sama Rili." Ucap mama Rili.
"Iya Bu, gak apa-apa. Yasir mengerti gimana perasan ibu mendapat kabar putrinya tenggelam." ucap Yasir dengan sopannya.
"Mana Ayah ma?" Tanya Rili.
"Ayahmu dibelakang benerin kandang ayam yang rusak." Ucap mama Rili.
"Bu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan ibu dan ayah sekarang." Ucap Yasir dengan gugupnya. Dia bicara sambil meremas-remas jemarinya.
"Ibu panggil ayah dulu kalau begitu. Ril, buatin minum untuk nak Yasir dan ayah." Ucap mamanya dan berlalu pergi untuk memanggil suaminya.
Kini kedua orang tua Rili sudah berada di ruang tamu tersebut. Rili pun sudah datang dengan membawa 4 gelas teh manis panas.
Yasir sekarang duduk di depan lelaki berkaca mata cekung itu, wajahnya berkerut karena terjamah usia. Uban beradu putih dengan peci hajinya.
dada Yasir bergemuruh, hujan dan Gelagar petir diluar sana, mengoyak diamnya pria yang lagi nervous tersebut. Yasir mengaduk air dalam gelas kristal berisi teh hangat.
Lalu menyeruputnya.
Bismillah.... Ucap Yasir dalam hati.
"Ada yang ingin kamu katakan nak?" ucap Ayah Rili
"Mohon maaf sebelumnya pak, jika ucapan saya nantinya ada yang salah atau kurang berkenan."
"Memang nya kamu mau mengatakan apa?" tanya Ayah Rili penasaran.
"Begini pak, saya berniat untuk melamar Rili," Ucap Yasir dengan gugup.
"Apa? mau melamar putri kami?
"Iya pak, saya bersungguh-sungguh, ingin menikahi Rili"
" Eehhhnmm ... Apa kamu yakin nak Rival? kamu lihat sendiri bagaimana keadaan kami. Kami ini tidak sederajat dengan keluarga kalian.
"Insha Alloh yakin pak. Saya tidak pernah membedakan status sosial. Saya sangat mencintai Rili." Ucap Yasir dan melirik Rili.
"Apa yang membuatmu yakin?" tanya Ayah Rili.
"Saya benyak belajar, terutama ilmu Agama, saya selalu termotivasi oleh surat An-nur ayat 26, disana dikatakan bahwa lelaki yg baik diperuntukan bagi wanita yg baik, dan wanita yg keji diperuntukan bagi lelaki yang keji, begitu seterusnya. Setiap hari Saya berusaha membaikan diri saya, dengan berusaha mendekatkan diri kepada ALLOH, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah saya, dengan harapan suatu saat nanti Allah berkenan menitipkan saya pasangan yang sholeha." Ucap Yasir tegas, Dia lagi berusaha nampak alim agar Ayah Rili yakin, kalau Dia pantas untuk Rili.
"Saya percaya Rili wanita yang sholeha Pak."
"Ehmmmm... kalo begitu, berarti kamu yakin bahwa dirimu itu Sholeh begitu?" ucap ayah Rili dengan sedikit menurunkan kaca matanya.
"Saya masih mempunyai banyak kekurangan dalam hal agama pak, tapi saya yakin Rili adalah wanita yang tepat yang akan mendukung saya menjadi suami yang Soleh kelak
"Kapan kedua orang tuamu datang melamar putriku secara resmi?"
Yasir yang mendengar pertanyaan Ayah Rili mendadak panik dan takut rencananya untuk menikahi Rili akan ditolak.
"Itu dia pak, orang tua saya belum bisa melamar Rili secara resmi, karena ada sesuatu hal yang membuat kedua orang tua saya tidak bisa datang ke sini." Ucap Yasir gugup. Nampak sekali pria itu mengusap-usap pahanya dengan telapak tangannya yang sudah dibasahi keringat.
"Maksud mu apa nak? kamu mau menikahi putriku tanpa sepengetahuan orang tuamu?" Ayah Rili sudah mulai nampak kesal dengan pernyataan Yasir
"Iya pak, untuk saat ini aku hanya bisa menikahi Rili secara siri. Kalau urusan saya sudah selesai saya akan mengurus dokumen nya ke KUA." Ucap Yasir dengan gugup.
"-Jangan mentang-mentang kamu kaya jadi sesuka hatimu terhadap kami. Putri saya itu berharga. Enak saja kamu mau menikahinya secara siri. Tidak..... bapak tidak setuju!" Ayah Rili nampak emosi dan menunjuk-nunjuk Yasir dengan jari telunjuknya.
"Saya tidak mengganggap putri bapak tidak berharga. Rili sangat berharga buat saya pak. Dia sangat berharga sehingga saya tidak ingin kehilangan dia. Saya ingin cepat mengikat dia." Ucap Yasir berusaha meyakinkan Ayah Rili.
"Tolong izinkan saya menikahi Rili malam ini juga pak dan izinkan saya untuk memboyong dia untuk ikut dengan saya ke kota Pek*nbaru." Yasir memelas kepada calon mertuanya tersebut.
"Kalau menikah siri bapak tidak setuju!"
Kini suasana di ruang tamu tersebut nampak memanas. Rili hanya bisa diam dan matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan mama Rili nampak sedang memegang tangan putrinya. Wanita paruh baya itu sedang menenangkan putrinya.
"Saya mohon pak! izinkan kami menikah malam ini. Saya serius dengan anak bapak, saya sangat mencintainya. Setelah urusan saya selesai saya akan menikahi dia kembali dengan resmi dan akan mengadakan pesta megah."
"Kami tidak butuh pestamu itu, kami hanya butuh penghargaan. Kalau bener kami serius, siapkan urusanmu secepatnya. Datangkan kedua orang tuamu untuk melamar putriku dengan hormat." Ayah Rili beranjak pergi dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Mama Rili mengikuti langkah suaminya.
Kini Yasir nampak prustasi, pria itu nampak memijit-mijit keningnya dan menyisirkan rambutnya ke belakang dengan jarinya, Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa dan menghembuskan napas kasar.
"Abang, baik-baik saja kan?" Tanya Rili dan memegang bahu pria itu. Ya, Rili sudah duduk di dekat Yasir.
"Abang sedang tidak baik. Abang punya firasat kalau Abang tidak menikahimu sekarang, maka kamu akan meninggalkan Abang." Jawab Yasir dengan memandang wajah kekasihnya itu dengan sedihnya.
"Mana mungkin Rili berpaling dari Abang, setelah apa yang terjadi pada kita kemarin." Ucap Rili dengan suara pelan, dia takut orang tuanya mendengar perkataannya. Kedua mata Wanita itu nampak mengeluarkan cairan bening yang hendak jatuh dipipinya.
Yasir langsung menarik Rili kepelukannya, dia mencium kening wanita itu sangat lama.
"Tunggu Abang ya sayang, kalau urusan Abang sudah selesai Abang langsung akan menikahimu secara Resmi." Rili hanya menerima perlakuan Yasir, dia seolah enggan melepas pelukan Yasir. Padahal mereka sedang berada di ruang tamu. Kalau Orang tua Rili melihat gimana. Tentunya orang tua Rili akan menganggap Yasir tidak sopan.
Tiba-tiba suara getaran handphone Yasir di dalam saku celananya, menyadarkan kedua nya. Rili berangsur menjauhkan dirinya dari pelukan Yasir. Ternyata yang menelpon adalah Ayah Yasir.
"Assalamualaikum ayah."
Iya, malam ini juga saya berangkat." Begitulah isi singkat percakapan antara ayah anak itu.
"Sayang, mungkin keinginan Abang untuk memiliki mu harus Abang tahan lagi. Kamu harus sabar menunggu Abang! Abang akan secepatnya mengurus semuanya dan akan menikahimu." Ucap Yasir dan kembali menarik Rili kepelukannya.
"Eehhmmmm.... "Suara deheman Ayah Rili membuat Yasir refleks melepas pelukannya. Rili sangat malu dan langsung berdiri menghampiri orang tuanya tersebut. Yasir juga ikut berdiri.
"Ayah hargai keseriusanmu dengan berani melamar putriku seorang diri, tapi bukan begini caranya. Selesaikan semua urusanmu, kalau itu adalah alasanmu tidak bisa menikahi putriku secara resmi sekarang." Ucap Ayah Rili dan hendak pergi ke Mesjid.
Yasir mendekatkan dirinya pada calon mertuanya itu dan sekali gerakan dia merangkul pria paruh baya itu. "Terimakasih ayah masih memberi kepercayaan kepadaku, aku akan menyelesaikan urusanku secepatnya lalu menikahi Rili." Yasir melepaskan pelukannya dan mencium punggung tangan Ayah Rili.
"Ayah ke mesjid dulu." Ucap nya dan menepuk bahu Yasir. " Iya ayah." jawab Yasir dan duduk kembali didekat Rili.
"Kalau begitu Abang pamit ya dek, karena malam ini Abang akan berangkat ke Peka*nbaru. Masih banyak yang harus Abang siapkan." Ucap Yasir. Kemudian pria itu berpamitan kepada ibu Rili.
Kedua wanita itu mengantarkan Yasir keluar rumah. Yasir menyalami tangan ibu Rili. Kemudian pria itu juga meraih tangan Rili dan mengecup punggung tangan Rili di depan Ibunya. Rili yang mendapat perlakuan memalukan itu dihadapan ibunya langsung menepis tangan Yasir. "Maaf!" Ucap Yasir.
"Gak apa-apa, ibu memaklumi perasaanmu nak Yasir. Kamu hati-hati di jalan ya. Salam sama kedua Orang tuamu." Ucap mama Rili dan mengusap-usap punggung Yasir. Ibu Rili meninggalkan kedua insan yang sedang dilanda sedih tersebut.
Yasir langsung memeluk Rili kembali, Rili sedikit berontak takut dilihat mamanya. Yasir tidak menghiraukan Rili yang berontak, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Bang, ada mama." Ucap Rili masih dalam pelukan Yasir. "Mama tidak lihat sayang, mama sudah masuk ke dalam." Ucap Yasir kemudian melepas pelukan nya tetapi tetap memegang kedua bahu Rili. "Tunggu Abang ya, kalau ada waktu Abang akan menghubungimu ya sayang." Ucap Yasir dan mengecup kening Rili dan dengan cepat Yasir mencium bibir Rili dengan sekilas.
Rili terkejut dengan Perbuatan Yasir, tapi dia tidak ada komentar. Sepertinya wanita itu sudah mulai biasa dengan ciuman dari Yasir.
Atau jangan-jangan Rili sudah candu.
"Abang pulang ya, nanti malam buka kado dari Abang ya sayang." Ucap Yasir.
Kini Yasir sudah memasuki mobilnya. Rili menatap mobil Yasir yang melaju sampai tidak dapat dijangkau mata Rili lagi.
Wanita itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Dia sangat lelah sekali dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Deringan hape yang berbunyi di tasnya pun tidak membangunkan wanita itu.
Bersambung..
Mohon beri dukungan nya dengan like, coment, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Nia Nara
Kayaknya yasir ini banyak teka-teki dalam hidupnya ya
2023-10-03
0
Sunarti
orang tua selalu menginginkan yg terbaik buat anak"nya
2021-04-17
2
Laura hussein
gak sabar nunggu Up-nya
karya terbaik mu patut diacungi jempol kak 👍
favorit 👌
2021-03-02
1