"Jawaban seperti apa yang kau inginkan Bella?" Bang Yasir bertanya kepada Bella sambil menaikkan alisnya sebelah dan menatap Bella dengan kesalnya.
" A..ku... aku bertanya kepada Rili, kenapa Abang Yasir jadi ikut campur urusan kami berdua." Bella menjawab dengan gugup dan matanya nampak berkaca-kaca. Nampak sekali Bella sedang kecewa saat ini.
"Jelas Abang akan ikut campur, karena ini ada sangkut paut nya dengan Abang kan? benar begitu Rili?" Abang Yasir melirikku yang berada disebelah kanan nya. Aku yang dilirik Abang Yasir mengalihkan pandanganku ke arah Bella. Aku melihat Bella yang nampak kesal padaku.
"Dengar ya Bella, Abang harap masalah ini jangan diperpanjang lagi, Rili tidak mengejar ngejar Abang , malahan Abang lah yang suka dan sudah lama menaruh hati pada Rili. Kejadian di pantai tempo hari yang kamu lihat, memang benar itu Abang yang mengajak Rili ke pantai. Jadi untuk kedepannya kamu jangan usik hidup Rili baik di kantor atau diluar kantor." Mendengar pernyataan Abang Yasir jelas membuat bulu kuduk ku berdiri, benerkah yang di ungkap nya itu, bisikku dalam hati.
"Abang rasa jawaban atas penasaranmu kepada Abang dan Rili sudah terjawab ya Bella." Bang Yasir berkata dengan santainya sambil memegang jemariku yang dari tadi menempel di lantai lesehan lalu mengangkat jemariku yang sudah ditautkan dengan jemari Abang Yasir ke atas meja, Abang Yasir kemudian tersenyum padaku.
Bella beranjak dari duduknya, tanpa sepatah kata pun. Sangat jelas terlihat dari wajah nya kesedihan dan kecewa. Aku tak bisa berbuat banyak, saat ini yang bisa ku lakukan adalah melihat kepergian Bella, perasaan ku juga sangat kacau saat ini.
Bella.. jangan membenciku. Jangan karena seorang pria hubungan persahabatan kita jadi rusak. Bisikku dalam hati, sambil menghirup udara disekitar kita sedalam-dalamnya, lalu membuangnya dengan kasar sembari melepaskan jemariku yang digenggam oleh Abang Yasir.
"Apa kamu marah Rili?" Abang Yasir bertanya padaku sambil memperhatikan jemarinya yang kulepas paksa dari genggamannya. sepertinya Abang Yasir tersinggung dengan sikapku.
"Tidak bang." Jawabku dengan sendunya sambil menyedot Juice milikku. Aku tidak berani menatap Abang Yasir, pandanganku fokus ke depan.
Ehmmm .... huffffttt......Abang Yasir menghembuskan napasnya dengan kasar, sembari turun dari lesehan. "Nanti malam Abang jemput Pukul 19.30 WIB ya Rili."
Belum sempat ku jawab perkataan Abang Yasir, Dia nya sudah keburu pergi. sepertinya dia mengerti bahwa aku sedang kacau saat ini.
Ku lihat jam ditanganku menunjukkan waktu istirahat sudah selesai. Aku melangkah ke meja kasir untuk membayar pesanan ku dengan Bella, dan betapa terkejut nya aku bahwa pesanan kami sudah di bayar oleh Abang Yasir.
Aku mendudukkan bokongku di kursi tempat meja kerjaku. Ya, kalau sudah habis waktu istirahat biasanya kerjaan sudah tidak banyak lagi. Aku melirik ke arah meja Bella, dia tidak ada disitu. Bella kemana ya? apa dipanggil pimpinan? Aku sama Bella satu ruangan. Kalau Abang Yasir dia punya Ruangan tersendiri, karena dia Kepala Bidang dikantor ini.
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku, kepalaku rasanya sakit sekali. Aku ingin istirahat sebentar. Ya, aku udah pulang kerja. Dari tadi siang aku tidak melihat Bella. kemana dia ya? Abang Yasir pun tidak terlihat dikantor selesai habis istirahat.
ceklekkk.... ku mendengar suara pintu kamar ku dibuka. Aku yang tadi hampir terbang ke alam mimpiku terpaksa bangun karena mama masuk ke dalam kamarku.
" Ayo .. buruan mandi nak? kamu tidak lupakan mau anterin mama ke rumah Tante Mirna?" mama bertanya padaku sambil duduk di tepi ranjang ku.
"Iya ma." Jawabku dengan malasnya sambil turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.
"Mama tunggu di ruang tamu ya nak!"
"Iya ma". Jawabku berteriak dari dalam kamar mandi.
Aku dan mama sedang diperjalanan menuju rumah Tante Mirna. "Ma, ada keperluan apa sih ke rumah Tante Mirna?" tanyaku sambil melihat pantulan mama di kaca spion motorku.
"Rahasia." ucap mama dengan mengedipkan sebelah matanya yang tampak di kaca spion.
"Ma, nanti di rumah Tante Mirna jangan lama-lama ya?"
"Emang Napa nak? kata mama dengan wajah bingungnya.
"Aku gak bisa lama-lama temenin mama, soalnya nanti habis magrib aku mau keluar sama teman ma, boleh kan ma?" Aku memegang tangan mama sembari minta izin.
Ya sekarang kami sudah sampai di depan rumah Tante Mirna. "Emang siapa yang mau ajak anak mama ini keluar malam-malam?"
Aku ingin menjawab pertanyaan mama, tapi keburu Tante Mirna keluar dari rumahnya.
"Eehhhh... kak Nita sama Rili udah sampai? kenapa gak mencet bel atau ucap salam dulu, ini malah kalian ngobrol diluar. Tante kan jadi tidak tahu ada tamu diluar, ayokk.. masuk kak Nita nak Rili!" tante Mirna membuka pintunya lebar-lebar. Mama masuk ke dalam, sedangkan aku lebih memilih duduk di pendopo kecil yang berada di halaman rumah Tante Mirna.
Disini nyaman dan sejuk juga, malas banget kalau harus ikut gabung sama emak- emak pikirku.
Sembari menungggu mama, aku memainkan ponselku, aku buka aplikasi permainan tembak-tembakan bosan tembak-tembakan beralih ke permainan ular-ularan. Hehehe....
Sesekali mataku beralih ke jalan raya, didepan mataku aku melihat mobil Abang Yasir melintas.
Melihat mobilnya saja, darahku berdesir jantungku berdegup kencang. hoohhh.... Aku nervouse padahal hanya melihat mobilnya saja.
Nanti malam aku beri jawaban apa ya sama Abang Yasir? aku masih bingung karena Bella.
Puuup... ku merasakan bahu ku di tepuk. Aku tersadar dari lamunanku. Ku menoleh mama sudah disampingku. "Dari tadi mama manggil kamu, tapi gak ada sahutan, kamu mikirin apa nak ?" tanya mama sambil memberikan kresek hitam padaku. "Ini apa ma?" tanyaku sambil turun dari pendopo kecil menuju motor kami diparkirkan.
"Kamu lihat aja sendiri." kata Mama sembari menyuruhku berpamitan sama tante Mirna.
"Kami pulang ya Tante." Kami berpamitan sembari memacu motorku menuju rumah .
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar kemudian ke kamar mandi dan membersihkan diri, sekarang sudah pukul 6 sore. Sembari menunggu waktu sholat magrib tiba aku memainkan ponselku. Ya, di kotaku biasanya Waktu magrib pukul 18.35 Wib gitu. Baru dinyalakan sebuah pesan masuk dari teman chatting ku yaitu @Ryan Perdana. isinya hanya menanyakan aku lagi ngapain. Aku abaikan pesannya, aku telpon aja ya pikirku..
tuuuutt..... Tut...tuutttttt ..... sampai panggilan 3x hape nya tak kunjung diangkat. Ehmmm .... kenapa ya dia tidak mau ngomong di telpon, beraninya hanya SMS saja pikirku.
Aku lagi mencoba-coba baju mana yang aku kenakan malam ini, setelah selesai sholat magrib aku memilih- milih pakaian di lemariku. Bingung harus pakai yang mana, kenapa semuanya nampak jelek ya, aku ngomong sendiri di depan cermin. Ini nih salah satu penyakit wanita, setiap mau bepergian selalu bingung mau pakai baju yang mana padahal bajunya fuul satu lemari.
"Rili..... ayoo... kita makan malam dulu!" Suara mama ku dengar dari ruang makan.
" Aku gak lapar ma." Jawabku dengan nada keras dari kamar.
ku lihat jam di dinding kamarku sudah menunjukkan angka 07.10 Pm. Waduhhh tinggal 20 menit. Aku jadi panik, rasanya tubuhku jadi lemas dan dingin. Sungguh ini pengalaman pertamaku jalan dengan pria. Mana pria yang mau ajak aku jalan adalah bibit unggul. Maksudku dia sempurna dalam segala hal. laahhh.. aku hanya wanita biasa-biasa saja. Kadang aku tidak percaya kalau Abang Yasir menyukaiku.
Cantik juga, aku melihat pantulan diriku di cermin dengan dress warna lime yang panjangnya di bawa lutut serta lengannya sampai siku, dan sepatu flat warna mocca yang menghiasi kaki putihku.
"Rili.... ada tamu mencarimu?" ibu membuka pintu kamarku sembari menyuruhku keluar. "Iya ma." jawabku sambil mengambil tas Selempang kulit ku yang berwarna coklat. Aku mendadak nervouse, tubuhku rasanya kedinginan.
Ternyata Abang Yasir sudah berada di ruang tamu bersama ayah. Aku berjalan menghampiri mereka, Abang Yasir menatapku terus sampai akhirnya aku membuka suara.
"Ayah?" belum keluar kalimat ku selanjutnya Abang Yasir langsung bersuara.
"Pak, izin putrinya ya saya ajak keluar sebentar?" Abang Yasir kemudian menyalami tangan ayah dan mama. Padahal ayah belum menjawab ucapan Abang Yasir.
Akhirnya Ayah memberi izin, anak gadisnya yang hampir kepala tiga ini keluar malam-malam dengan pria untuk pertama kalinya .
Aku dan Abang Yasir sudah berada di dalam mobil miliknya. Mobilnya mewah merk BMW. Aku gak tahu ini seri berapa, pokoknya kulihat Merk nya BMW. hehheeh... Enak ya jadi orang kaya pikirku.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah di kota kami. Hotel ini berada dipinggir pantai. "Bang... kenapa kita ke hotel?" Aku bertanya dengan gugupnya dan penuh kebingungan. Karena sebagian orang menganggap hotel adalah tempat yang bebas. aku takut ada orang yang melihat ku masuk hotel malam-malam bersama pria, karena bisa image ku jadi jelek.
"Emang kenapa kalau ke hotel?" tanya Abang Yasir sembari membuka pintu mobilnya.
"Bang, tunggu dulu. Jangan keluar dulu, kita ngapain ke sini, kita ke tempat lain aja ya bang? Kita ke Rumah makan atau ke cafe aja, jangan kesini." Aku masih belum melepas tangan Abang Yasir, karena tadi pas dia mau buka pintu mobil aku menahan tangan kirinya .
"Kalau tangan Abang Gak dilepas-lepas, maka Abang akan mencium tangan yang menahan tangan abang." kata Abang Yasir dengan wajah isengnya. Aku refleks menghempaskan tangan Abang Yasir.
Aku masih terduduk di jok mobil sambil berpikir kejadian apa yang akan terjadi di dalam hotel ini. Pikiran kotorku menguasai otakku.
"Ayoo,turun sayang!" aku merinding mendengar dia memanggilku dengan sebutan sayang. Dia sudah membuka pintu mobil dan meminta tanganku digenggamnya.
"Parkirkan mobilnya ditempat biasa. "kata Abang Yasir kepada salah satu petugas hotel.
"Baik Tuan." Jawab petugas hotel dengan hormatnya. Seolah-olah Abang Yasir lah pemilik Hotel ini.
Kita sedang berada di dalam lift menuju lantai tujuh. Aku bersandar didinding lift dan tidak berani terlalu dekat dengan Abang Yasir. Sekarang aku lagi gugup dan takut. Dilantai tujuh tempat apa ya pikirku.
"Rili, kamu kenapa? tanganmu kenapa dingin sekali?" ya, Abang Yasir memegang tanganku setelah keluar dari Lift.
"Kita mau ke mana Bang?" tanyaku saat kami melewati lorong di bangunan hotel tersebut. " Ke suatu tempat yang akan sangat kamu sukai." Kata Abang Yasir dengan senyum menggoda. Aku jadi ketakutan, apa aku akan diperkosa di hotel ini pikirku, keringat muncul dari keningku seperti titik titik embun. Mama.... Ya Tuhan lindungi hambamu ini. Aku berdoa dalam hati. Kenapa aku jadi takut begini.
Disepanjang lorong hotel Abang Yasir selalu menggenggam tanganku. Dari kejauhan aku melihat pintu kaca transparan. Tiba-tiba pintu kaca transparan itu terbuka sendiri. Ya, pintunya terbuka otomatis kalau ada orang yang hendak masuk.
Aku sangat takjub, tempat ini sangat indah. Kami berada di sebuah tempat yang didekorasi dengan mewahnya. Bunga disetiap sudut ruangannya sangat indah, lampu turblair menghiasi ruangan. Ditengah ruangan ada meja yang diatasnya ada lilin yang menyala yang membuat suasana menjadi sangat romantis.
Jika kita menatap ke arah luar maka kita bisa melihat hamparan laut luas, di tengah-tengah lautan nampak cahaya lampu kelap-kelip yang semakin menambah keindahan tempat ini.
"Ayoo duduk!" Abang Yasir menuntunku untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Apa kamu menyukai tempatnya?" tanya Abang Yasir dengan senyuman yang sangat manis, sepertinya dia sangat bahagia karena jelas terlihat dari ekspresi wajahnya .
"Iya bang, tempatnya sangat bagus. seumur hidupku belum pernah berada ditempat seindah ini." Jawabku dengan malu sambil menundukkan pandanganku.
Bang Yasir meraih daguku hingga wajahku tidak menunduk lagi. kemudian tangan Abang Yasir meraih tanganku sembari mengelus elus tanganku. Perlakuan Abang Yasir seperti itu membuat diriku bingung harus berbuat apa. Rasanya tubuhku beku. kemudian dia mencium tanganku. Darahku berdesir hebat, jantungku dag Dig dug mendapat perlakuan seperti itu. Lalu Abang Yasir duduk di hadapanku.
Aku langsung menurunkan tanganku ke bawah meja, aku nervouse tingkat dewa. Di bawah meja aku menggesek gesekkan kedua tanganku guna mendapatkan kehangatan. Ya, sekarang aku rasanya jadi kedinginan.
Puk.... puk.... puk.... Abang Yasir menepuk tangannya. Muncullah para pelayan restoran membawa makanan dan minuman.
Pelayan menghidangkan steak daging sapi dua porsi, spaghetti satu porsi dan sate bumbu kacang satu porsi. serta ada Juice kesukaanku, serta minuman beralkohol jenis red wine satu botol.
Ini Makanan yang dihidangkan kenapa makanan kesukaan ku semua ya? gumam ku dalam hati.
"Silahkan Tuan!" kata seorang pelayan hotel sembari membungkuk badannya lalu berlalu dari tempat kami sekarang.
"Kita makan sekarang ya, Abang Lapar banget nich." Kata Abang Yasir sembari memotong steaknya.
Abang Yasir melihatku "Ayo makan.! atau mau Abang Suapi?" kata Abang Yasir.
"Tidak usah bang, aku bisa makan sendiri." Jawabku dengan gugupnya. Tanganku gemetar saat hendak memotong steak dengan pisau tersebut, suara gemetar dari tanganku sangat ketara, karena pisau dan piring kaca itu menimbulkan suara .
Bang Yasir memperhatikanku, matanya bertemu pandang dengan mataku, aku yang diperhatikan seperti malah semakin membuat aku grogi. Tanganku semakin bergetar saja saat memegang pisau dan garpu tersebut.
"Buka mulutmu! sepertinya malam ini kamu harus Abang Suapi." Abang Yasir menyodorkan steaknya ke arah mulutku.
"Kalau kamu seperti ini, makan sama Abang saja grogi. Bagaimana jadinya kalau kita sudah menikah dan malam pertama. Jangan bilang kamu akan pingsan ya?" Abang Yasir meledekku, dia tertawa terbahak-bahak. sepertinya aku ini adalah hiburan buat nya.
Bersambung...
Mohon beri dukunganya dengan like, coment dan vote serta jadikan novel ini sebagai favorit ya say.
Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Lhady Uriyama
ini maksudnya apa, judul mlm pertama, mlm pertama untuk apa😧
2023-01-23
0
Nani Mulyani
bang Yasir ganteng n tajir.. pantesan banyak yg naksir, termasuk pembaca novel ini.. aih 💕
2021-08-22
0
N Kartini
👍👍👍👍👍
2021-07-01
0