Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar hotel. Tebalnya gorden berwarna coklat nyatanya tidak menghalangi cahaya itu masuk kedalam ruangan.
Nampaknya bukan hanya cahaya matahari saja yang membangunkan tidur Rili, tapi juga sebuah sentuhan lembut yang mulai dirasakannya dipipi putihnya tersebut. Rili menggeliat dan mulai membuka matanya.
Kedua mata itupun bertemu dan saling mengunci. RIli mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, karena dia tidak sanggup terlalu lama bersitatap dengan Yasir. Dia malu.
"Bangunlah dan cepat mandi. Abang tunggu di restoran ya sayang." Yasir mengecup kening Rili. "Ini baju gantimu." Yasir meletakkan sebuah paperbag di atas meja yang terletak di samping tempat tidur.
"Terima kasih bang, oh ya bajuku yang kemarin di mana ya bang?"
"Sudah Abang suruh dibuang sama pelayan hotel."
"Koq dibuang sih bang? aku sangat suka gaun itu." Ucap Rili dengan sedihnya.
"Itu baju buat sial, makanya dibuang aja. Ayo buruan mandi, atau mau Abang mandiin?" Ucap Yasir dengan wajah menggoda.
"Gak.... Terima kasih!" Ucap Rili dan langsung lari ke kamar mandi.
kini Rili dan Yasir sudah berada di atas speed boat. Setelah sarapan Rili ingin secepatnya pulang. Karena wanita itu tidak mau membuat mamanya tambah khawatir jikalau mereka kemalaman pulangnya.
"Sayang, koq ke arah sini Speedboatnya jalan? bukannya kita harus pulang ya?" Tanya Rili dengan mimik heran.
"Iya, kita langsung pulang koq sayang, tapi kita singgah di Pulau Mursala dulu ya?" Ucap Yasir sembari menggenggam tangan Rili dan menciumnya. Rili diam saja dengan semua perlakuan romantis Yasir. Dia ingin menjaga jarak dari Yasir. Kalau bisa jangan ada kontak fisik, tapi itu mungkin hanya di angannya saja. Nyatanya Yasir selalu saja nempel sama Rili, Yang membuat Rili panas dingin dan jantungan.
"Indahnya ciptaan Allah. Seindah wanita yang berada di sampingku." Ucap Yasir gombal lalu melirik Rili yang sedang tersipu malu dan tersenyum didekapannya.
Ya, begitulah cewek. Sedikit saja dipuji hatinya akan mudah luluh, terlebih lagi jika yang memuji adalah pria yang sangat dicintainya.
Speedboat yang ditumpangi Rili dan Yasir berhenti di depan air terjun. Dimana air terjun itu langsung jatuh ke air laut.
Walau Rili kelahiran kota ini, dia sama sekali belum pernah mengunjungi air terjun ini bahkan ke Pulau Poncan juga baru kali ini. Rili malah semakin manja dipelukan Yasir. Wanita ini seolah lupa tekadnya semalam. Dia bertekad agar menjaga jarak dengan Yasir. Memang cinta membutakan logika.
"Sayang, kapan akan menikahiku?" Yasir yang mendengar kalimat itu dari mulut Rili, langsung membalik badan dan berhadapan dengan Rili.
"Besok!" Ucap Yasir dengan menatap tajam bola mata Rili yang hitam. Rili yang ditatap dengan tatapan penuh arti itu, mencari kebenaran Dimata Yasir. Ya, Rili menemukan kesungguhan dari ucapan pria yang sangat dicintainya tersebut.
"Besok?" Tanya Rili kembali. Dia ingin kejelasan dari Yasir. Mana mungkin semua persiapan untuk menikah bisa dikerjakan dalam satu hari pikir Rili.
"Iya sayang, Abang tidak mau kehilanganmu." Ucap Yasir dengan memegang kedua bahu Rili. Yasir ingin meyakinkan wanitanya itu.
"Abang sangat mencintaimu. Abang ingin selalu bersamamu dan Abang tidak bisa lagi menjinakkan si junior."
"Si junior? maksudnya apa bang? Si junior siapa?" Tanya Rili dengan bingungnya. Ini, Yasir langsung menarik tangan Rili dan menempatkan tangan Rili diantara kedua paha Yasir.
Spontan, Rili menarik tangannya dari benda yang keras dan menonjol itu, tapi Yasir menahan tangan Rili. Hingga tangan Rili tetap berada dikedua belah paha Yasir itu.
Rili yang merasakan benda keras dan tegak yang bersembunyi di balik celana kain yang dipakai Yasir, mendadak keringat dingin, jantungnya dag Dig dug darahnya berdesir hebat, mukanya pucat. Rili ketakutan, insiden tadi malam melintas dipikirkannya.
Rili kesal, dia refleks menampar benda pusaka milik Yasir yang tegang itu. "Oouuwww...... kamu apa-apaan sih yang? Kamu mau membuat urat saraf nya putus?" Protes Yasir sambil meringis kesakitan.
Rili berbalik badan ke arah air terjun. "Itu namanya bukan cinta dan sayang seperti yang barusan Abang katakan, Tapi itu namanya nafsu!" Ucap Rili dengan ketusnya. Rili berasumsi benarkah Yasir mencintainya. Kenapa akhir-akhir ini sikap Yasir selalu porno. Bisik Rili dalam hati.
"Abang beneran cinta dan sayang samamu dek, Abang tidak mesum. Asal adek tahu junior Abang selalu on bila bersamamu.
"Itu namanya mesum!" ucap Rili lagi dengan ketus.
"Kalau Abang mesum, junior Abang akan bangun kalau melihat cewek sexy. Tapi nyatanya kalaupun ada wanita sedang tel*njang dihadapan Abang sekarang, junior Abang tidak akan langsung on sayang. Beda dengan dirimu, hanya mengingatmu saja, junior Abang langsung hidup.
Rili geleng-geleng kepala mendengarkan penjelasan Yasir yang tidak masuk akal menurutnya. "Pantesan semalam Abang mau menodaiku." Ucap Rili dengan kesal dan matanya sudah mengeluarkan air mata. Dia langsung menyeka air matanya tersebut. Dia tidak mau nampak lemah dihadapan Yasir.
Yasir meraih pundak Rili, sehingga Rili sekarang berhadapan kembali dengan Yasir.
"Maafin Abang ya sayang! sungguh Abang tidak ada niat seperti itu. Abang cemburu, Abang takut kamu meninggalkan Abang." Ucap Yasir sembari menghapus air mata Rili dengan ibu jarinya yang jatuh dipipi wanita tersebut.
"Mana mungkin bisa besok kita menikah bang? banyak yang harus dipersiapkan." Ucap Rili dengan menatap lekat -lekat mata Yasir.
"Saat ini Abang hanya bisa menikah siri denganmu sayang, kalau kamu ingin Abang nikahi secepatnya." Ucap Yasir.
"Apa bang? menikah siri?" Ucap Rili sambil geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka Yasir hanya menawarkan pernikahan dibawa tangan itu.
"Iya sayang, kalau kamu ingin kita segera menikah. Kita menikah siri dulu besok, tapi kalau kamu masih bisa bersabar, beri Abang waktu tiga bulan lagi." Ucap Yasir sambil memegang jemari Rili. Yasir ingin meyakinkan wanitanya itu.
"Kenapa harus menunggu tiga bulan bang?" Tanya Rili dengan herannya.
"Karena disitulah waktu paling cepat Abang bisa selesaikan semua masalah yang Abang timbulkan. Itu waktu perkiraan Abang, bisa jadi lebih dari tiga bulan baru bisa selesai semuanya kembali normal. Makanya abang ingin kita menikah siri dulu. Abang akan mengajakmu ikut sama Abang. Jika semua sudah beres kita urus ke KUA lagi" Ucap Yasir dengan penuh keyakinan.
"Masalah apa? tanya Rili.
"Sekarang tidak bisa abang jelaskan, tapi kalau kita nikah siri besok dan Abang akan ajak kamu ikut sama Abang. Maka kamu akan mengetahui alasan Abang."
"Terus kerjaan Rili gimana bang?"
"kamu pensiun dini. kalau Abang memang mau berhenti jadi PNS."
"koq gitu? kalau mau berhenti seperti itu, kenapa Abang ikut seleksi CPNS?" Tanya Rili bingung.
"Kamu nikah dulu sama Abang, dan kamu akan tahu dengan sendirinya, Abang gak bisa jelasin sekarang." Ucap Yasir.
"Kamu cinta sama Abang kan? Sayang sama Abang kan? Maka beri jawaban ajakan nikah dari Abang." Ucap Yasir.
" Rili cinta dan sayang sama abang, tapi keputusan ini tidak bisa Rili ambil sendiri. Rili harus bertanya kepada ayah dan mama." Ucap Rili sambil bersandar dipundak Yasir.
"Iya sayang, moga ayah dan mama memberi restu. Ucap Yasir dan mencium puncak kepala Rili.
"Oohh ya, Pria yang menelpon semalam siapa sayang? nampaknya akrab kali denganmu dari nada bicaranya." Tanya Yasir sembari membelai kepala Rili.
" Itu pria yang dikenalkan Tante Mirna bang. Dia baru menelponku sekali hari Minggu pagi sebelum kita berangkat kesini " Ucap Rili berusaha meyakinkan Yasir bahwa dia tidak pernah mau membuka hati pada pria lain.
"Kamu mau menerima perjodohan itu? Tanya Yasir.
"Tidak. Aku kan sudah punya abang."
"Syukurlah sayang, Abang lega mendengar. Yasir mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Rili.
"Indah ya bang air terjunnya."
"Iya sayang, seindah dirimu." Ucap Yasir dengan tersenyum manis kepada Rili.
Bersambung
mohon beri like, coment, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Nia Nara
Kok malah ngeri ya sama si yasir ini. Aku dulu pacaran hampir 4 tahun, pacar yg skrg jadi suami selalu menjaga dan menghormati. Kita tau batasan, gak pernah sampe kayak yasir gini, padahal jelas2 dulu mantan masih menunggu dan pasangan ku jg tau tapi dia tetep stay cool & menghormati gak macam yasir gini
2023-10-03
0
Hotmaniah Simatupang
Memang ya kalau sudah hati yang bicara susah pikiran membantah nya. Tapi Kalau di posisi pemerhati pasti kesal juga lihat sikap Rili. Contoh nya diriku ini.....
2022-01-24
0
Whya Fajria
kok peran Rili disini kok macm gk bisa tegas sm dirinya sendiri ya
2021-07-26
0