Yasir keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian lengkap. "Apa sudah selesai tugasmu?" Tanya Yasir kepada pelayan room service tersebut sembari membaringkan tubuhnya di sofa yang terletak di sudut ruangan tersebut. Rasanya dia sangat lelah sekali. "Kenapa Dokternya lama sekali datang." Yasir berbicara sendiri.
"Belum tuan." Jawab pelayan wanita tersebut. "Cepatlah nanti dia masuk angin terlalu lama memakai pakaian basah!" Ucap Yasir.
Tok...tok..tok...."Ya.... Silahkan masuk!" Ucap Yasir sembari berdiri dari sofa tempat dia tadi berbaring. Ternyata yang masuk adalah seorang Dokter pria yang masih muda, kira-kira berusia 30 tahun.
" Kamu pergilah!" Ucap Yasir kepada pelayan room service wanita tersebut. " Tapi tuan." Jawab Pelayan tersebut, karena memang dia belum selesai mengganti pakaian Rili. Pelayan tersebut hanya baru selesai membuka pakaian Rili. Yasir tidak menanggapi ucapan pelayan tersebut dan pelayan itupun pergi dari kamar tersebut.
" Silahkan Dokter!" Ucap Yasir sambil duduk ditepi ranjang tepatnya di sebelah kaki Rili. Mata Yasir membulat penuh melihat Rili yang belum dipakaikan pakaian. "Apa saja kerja wanita itu tadi, kenapa belum di pakaian pakaiannya." Yasir mengomel dan Dokter itupun hanya geleng-geleng kepala.
Ya, Pelayan room service tersebut hanya menutupi tubuh Rili dengan selimut sampai bagian dada dan kedua tangannya tidak ditutupi selimut.
"Apa aku sudah boleh memeriksanya tuan?" Tanya Dokter tersebut dengan sedikit menampilkan wajah mengejek, karena dia sempat kesal kepada sikap over protective dari tuan Yasir tersebut.
"Ya silahkan Dokter." Ucap Yasir sembari menggeser bangku dan duduk disebelah kepala Rili. "Maaf!" Ucap Yasir kepada Dokter tersebut. Karena Yasirpun sadar sikapnya terlalu berlebihan.
Dokter pun memeriksa denyut nadi, tekanan darah dan mata Rili. "Gimana dokter keadaannya?" Ucap Yasir dengan penuh khawatir. "Sepertinya pasien sudah dalam kondisi normal." Jawab dokter dan hendak memeriksa dada Rili dengan stetoskop.
"Dokter mau apa? jangan sentuh bagian itu!" Yasir dengan cepat bergerak menepis tangan Dokter muda tersebut. "Saya mau memeriksa paru-parunya apa masih ada air terperangkap didalamnya tuan." Jawab dokter itu dengan sedikit kesal.
"Ooohh Silahkan Dok, tapi selimut nya tidak perlu diturunkan kan?" Yasir bertanya dan Dokter pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Yasir ini ternyata tipe pria sangat pencemburu, masak Dokterpun dicemburuin.
"Dok, Kenapa wanitaku belum sadar juga? tadi memang dia sadar sebentar terus dia menutup matanya lagi. Apa dia pingsan dok?" Yasir mencecar dokter tersebut dengan begitu banyak pertanyaaan.
"Orang yang tenggelam akan merasa sangat lelah. Jadi biarkan saja dia istirahat ya tuan. Nanti nona ini akan terbangun juga dengan sendirinya, apabila tubuhnya sudah baikan seperti sedia kala. Ini obatnya diminum setelah dia sadar jangan lupa makan dulu." Dokter pun pamit pulang. "Ok dok, Terimakasih banyak!" Ucap Yasir sembari mengantar dokter keluar kamar dan mengatakan bahwa biaya berobat pihak hotel akan membayarkannya.
Yasir menghampiri tempat Rili berbaring, dia menutup seluruh tubuh Rili dengan selimut sehingga yang tampak hanyalah wajah Rili saja. Yasir mencium kening Rili dengan sangat lama. Dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia, apabila dia sampai kehilangan wanita ini.
Yasir membelai kepala Rili sambil berpikir siapa yang telah mencelakai Rili, atau Rili yang ceroboh hingga terpeleset ke kolam renang? Aku harus memeriksa CCTV. Gumam Yasir.
Yasir memakai jaket kulitnya berwarna coklat tersebut dan keluar dari kamar hendak menemui manager hotel. Dia juga sudah sangat lapar. Ternyata sudah pukul lima sore, dari tadi siang Yasir belum makan juga.
Ternyata cuaca sedang tidak bersahabat. Badai Pun datang suara gemuruh saling bersahutan. Yasir menatap ke atmosfer yang nampak sudah gelap. Sepertinya akan turun hujan yang sangat deras.
Kalau badai seperti ini tentunya Yasir dan Rili tidak bisa pulang hari ini. Yasir sangat mengkhawatirkan keadaan Rili. Dia harus menghubungi keluarga Rili dan memberi kabar kalau Rili belum bisa pulang karena terjebak badai.
Yasir sekarang sedang duduk menikmati teh nya di restoran. Manager hotel menghampiri Yasir. "Tuan memanggil saya?" Ucap manager hotel. "Iya, tolong periksa CCTV di kolam renang, satu jam lagi antar hasilnya ke kamarku." Ucap Yasir sambil menyeruput teh nya kembali. "Baik tuan!" Ucap manager hotel.
"Tolong perintahkan waiters mengantar makanan ke kamarku. ikan Bakar, nasi dan lalapan saja menunya." Ucap Yasir dan beranjak pergi menuju kamar tempat Rili berada sekarang.
Yasir membuka pintu kamar dan melihat keadaan Rili yang belum bangun juga. Apa aku panggilkan pelayan lagi untuk memakaikan pakaiannya? Gumam Yasir, tapi jika itu kulakukan Rili akan terganggu tidurnya. Dia butuh istirahat, agar cepat pulih. Yasir berbicara sendiri sambil duduk disebelah ranjang Rili.
Tok...tok...tok... "Ya... Silahkan masuk!" Yasir berucap dengan nada sedikit keras. Ternyata yang datang adalah waiters yang membawa pesanan Yasir dan manager hotel.
"Ini tuan hasilnya." Ucap manager hotel dan memberikan laptop ke arah Yasir yang telah duduk di sofa. Di layar laptop tampaklah Bella dan Rili datang ke arah kolam renang tersebut.
" Brengs*k,..! dasar perempuan Gil*...!" Teriak Yasir. Yasir sangat geram setelah mengetahui siapa dalang yang mencelakai wanita yang sangat dicintainya tersebut.
"Kalian boleh keluar!" Perintah Yasir. Kini Yasir tampak mondar-mandir dikamar hotel. Tindakan apa yang harus kuambil? Yasir berbicara sendiri. Akhirnya dia menelpon seseorang, dan memerintahkan agar melaporkan Bella kepihak berwajib.
Yasir memakan makanan pesanannya dengan tidak selera, tapi dia harus mengisi perutnya agar tidak sakit. Kemudian Yasir menghubungi orang tua Rili.
"Assalamualaikum Bu, Ini aku Yasir Bu."
"Ya nak, Mana Rili? kenapa dia tidak mengangkat telpon ibu dari tadi siang?" Tanya ibu Rili dari sebrang sana.
" Rili sedang tidur Bu, maaf Bu. Ibu jangan marah dan panik ya? tadi Rili sempat tenggelam, tapi dia sudah selamat koq Bu." ucap Yasir dengan sedikit gugup. Dia takut dimarahi calon mertuanya tersebut karena tidak bisa menjaga putrinya.
"Apa? koq bisa Rili tenggelam?" Suara mamanya Rili terdengar lemah karena menahan tangisnya. Wanita yang telah melahirkan Rili tersebut syok mendengar kabar dari Yasir dan dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Panjang ceritanya Bu, intinya Rili baik-baik saja dan kami tidak bisa pulang hari ini karena badai yang sangat kencang Bu." Ucap Yasir dan berusaha menenangkan mamanya Rili.
"Walaikum salam...!" Yasir menutup telpon setelah Yasir mendapat begitu banyak ceramah dari mamanya Rili. Yasir dengan sabar mendengar ceramah mamanya Rili, karena dia memang salah tidak bisa menjaga Rili dengan becus.
Yasir merasa sangat lelah, Diapun merebahkan tubuhnya di sofa dan tidak menunggu lama dia langsung terbang ke alam mimpi.
Yasir sudah tertidur selama tiga jam, dia pun sudah melewatkan sholat ashar dan Magrib. Yasir terbangun karena mendengar suara minta tolong.. Tolong....! Suara itu terdengar lagi. Dengan sangat berat Yasir membuka matanya.
Dia melihat tubuh Rili bergerak-gerak dan berteriak minta tolong. Sepertinya Rili sedang bermimpi buruk. Yasir berjalan ke arah Rili dan membangunkannya.
"Sayang... sayang...!" Yasir berusaha mengumpulkan Raga dan membangunkan Rili dengan menggoyang-goyangkan bahu Rili agar sepenuhnya sadar dari mimpi buruknya. Rili sadar dia membuka matanya. Melihat Rili sudah membuka mata, Yasir langsung memeluk Rili dengan sangat erat.
"Syukurlah kamu sadar juga, Kamu sudah lima jam tertidur!" Ucap Yasir sambil mengecup kening Rili.
Rili yang memang masih merasa sungkan diperlakukan oleh Yasir Seperi itu, dengan refleks mengurai dan melepaskan diri dari pelukan Yasir.
"Oohh.. Maaf! Abang terbawa perasaan. Abang sangat senang melihat kamu sadar sayang." Ucap Yasir sambil terus memandangi wajah wanitanya itu. Kecantikan Rili memang sangat alami.
"Bangun tidur aja kamu sangat cantik sayang!" Ucap Yasir sembari bangkit dari ranjang tempat Rili berbaring.
"Ini, kamu pakai baju dulu ya, Kalau kamu tidak pakai baju, Abang nanti bisa lepas kendali dan akan memakanmu!" Ucap Yasir sambil terkekeh karena melihat ekspresi Rili yang was-was tersebut.
Rili hendak turun dari ranjang, dia membelitkan selimut dengan kencang untuk menutupi tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel nya dari tas ransel miliknya yang terletak di meja samping ranjangnya tersebut.
Rili meraih tasnya dan mengambil HPnya, dia masih dalam keadaan duduk bersandar di kepala ranjang. Dia melihat no yang sedang memanggil tersebut. Dia melihat layar Hpnya kembali, kemudian melirik ke arah Yasir yang sedang duduk di sofa.
HP Rili terus berdering, tapi Rili belum juga mengangkat panggilan di ponse nya tersebut. Yasir beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Rili.
"Kenapa tidak diangkat sayang?" Tanya Yasir dan duduk disisi pinggir ranjang. "Ini no pasti salah sambung, namanya aja tidak ada, untuk apa diangkat." Jawab Rili dengan gugupnya, seraya membenarkan kembali posisi duduknya dengan bersila.
"Sini Abang saja yang mengangkatnya!" Ucap Yasir sambil meraih HP Rili tersebut. "Jangan Bang, tidak usah di jawab." Ucap Rili kemudian menolak panggilan panggilan tersebut.
Ternyata no yang menelpon Rili tidak pantang menyerah, walau sudah ditolak panggilannya tetap saja menelpon kembali." Sini, Abang akan mengangkatnya." Ucap Yasir dan kemudian merampas HP Rili.
"Assalamualaikum Rili, kamu apa kabarnya?" Begitulah bunyi suara seorang pria yang didengar oleh Yasir dari sambungan telpon tersebut. " Dari tadi siang Abang menelpon mu, tapi kenapa tidak pernah kamu angkat?" Tanya orang yang menelpon.
Yasir menatap tajam ke arah Rili, dan mematikan Hp tersebut. Rili yang ditatap tajam seperti mata elang yang hendak menerkam mangsanya, mengalihkan pandangan dari Yasir dengan menunduk.
Yasir yang Mengetahui ada pria lain yang berani menelpon Rili, membuat pria itu dibakar api cemburu. Asumsi-asumsi negatif berkeliaran dipikirannya. Dia takut Rili akan meninggalkannya.
"Dia siapa? Yasir bertanya kepada Rili dan meraih dagu wanita tersebut agar Yasir bisa melihat mata dan ekspresi wajah Rili. Rili memegang tangan Yasir dan menurunkan tangan tersebut dari dagunya.
"Aku akan menjawabnya, tapi izinkan aku memakai pakaian ini dulu ya bang!" Ucap Rili dan berniat hendak turun dari ranjang. Rili sudah mendaratkan kakinya di lantai. Yasir masih duduk ditepi ranjang dengan perasaan yang dibakar api cemburu.
Bersambung....
Mohon beri like,coment,vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Sunarti
siapa sih yg nelp rilli terus g dikasih tau namanya Thor😊😊
2021-04-17
1
Whiteyellow
semangat ya 🙏💪
2021-01-22
1
🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳Simple Hayati
halo thor aku datang lg lanjut baca karya kerenmu, semangat terus ya.
Ditunggu feedbacknya di:
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU
CAHAYA YANG HILANG
2021-01-07
1