Author POV.
Setelah sarapan pagi Rili bergegas ke kamar untuk bersiap-siap. Dia memperhatikan dirinya di cermin yang menggunakan gaun warna birel pemberian dari Abang Yasir. Gaun yang dipakai Rili sangat cantik dan membuat dia semakin anggun dengan gaun tersebut.
Rili menunggu Yasir di teras rumah. Tiba-tiba hp-nya berbunyi dia melihat sebuah panggilan dari nomor yang belum dikenalnya.
" Waalaikumsalam, ya benar ini aku Rili. Kalau boleh tahu ini dengan siapa ya?" Rili mendengarkan dengan kurang semangat suara orang yang menelpon dia.
" Waalaikumsalam." Rili mengakhiri panggilan telpon. " Siapa yang nelpon nak?" Suara mamanya Rili mengangetkannya.
" Pria yang mau dikenalin tante Mirna ma." Rili menjawab pertanyaan mama nya sembari memasukkan HP nya tersebut ke tas ransel warna maron miliknya.
" Dia bilang apa nak?" tanya mama dari wanita tersebut dengan keponya sambil ikut duduk di kursi sebelah putrinya yang cantik itu.
" Hanya kenalan aja ma, Banyangin ni ma umurnya udah 36 Tahun. Iiihhhh..... udah tua ma. Kenapa sich Tante Mirna mau jodohin Rili sama yang udah tua ma?"
" Kalau baik apa salahnya nak." Jawab mamanya Rili." Sambil memperhatikan penampilan putrinya yang cantik.
" Mama perhatikan sekarang baju kamu mewah-mewah banget, jangan boros-boros ya nak!" Mamanya Rili menasehati putrinya.
"Iya ma, Rili gak boros ko. Ini Abang Yasir yang kasih ma." Rili menjawab dengan senangnya karena sering dapat hadiah dari pria pujaannya tersebut.
" Kamu jangan mau terima pemberian pria yang belum menjadi suami mu nak!" Mamanya Rili kembali menasehati putrinya tersebut.
" Iya ma, iya.!" Jawab Rili Sembari memperhatikan Yasir yang berjalan ke arah ibu dan anak tersebut
Yasir yang sudah sampai di kediaman Rili, berpamitan dan meminta izin kepada calon ibu mertuanya tersebut. Mama Rili berpesan agar putrinya dijaga dengan baik. Yasir tersenyum mendengar kekhawatiran seorang ibu terhadap anak gadisnya itu.
Kini Yasir dan Rili sudah berada di pelabuhan untuk menyeberang ke pulau Poncan. Waktu yang ditempuh untuk sampai di Pulau Poncan tersebut dari pelabuhan sekitar 20 menit.
"Bang, kemana teman kita yang lain?" Rili bertanya karena merasa heran kenapa teman kantornya tidak ada di pelabuhan ini.
" Teman kita udah duluan berangkat." Jawab Yasir sambil menuntun Rili naik ke Speedboat.
"Apa teman kita naik Speedboat juga ya bang?" Rili bertanya dengan penuh selidik.
" Tidak, mereka menaiki kapal Ferry." Yasir menjawab sembari mengintruksikan agar wanita pujaannya tersebut duduk dekat dengannya.
Abang akan memberikan banyak surprise di hari ulang tahun mu ini sayang. Yasir berkata dalam hati sembari meletakkan kepala Rili agar bersandar di bahunya yang lebar, dan Rili tidak menolak perlakuan dari Yasir tersebut.
Karena angin yang kencang terkadang rambut Rili melambai lambai ke wajah Yasir, tapi Yasir tidak mempermasalahkannya. Laki-laki yang lagi di mabuk kepayang kepada Rili tersebut malah merasa bahagia, karena bisa mencium aroma rambut Rili yang wangi.
Tidak hanya Rili yang detakan jantungnya tidak stabil apabila dekat dan bersentuhan dengan Yasir. Bahkan Yasir sendiripun lebih jantungan lagi. Dia ingin segera menikah wanita ini. Dia sudah tidak tahan lagi untuk mengekspresikan gejolak asmara dalam dirinya ke arah yang lebih intim.
Sepanjang perjalanan menuju pulau, Rili tidak bisa menikmati pemandangan indah dari hamparan laut yang luas. Dia memikirkan isi percakapannya dengan pria yang di kenalkan oleh Tante Mirna tersebut.
" Sayang, koq diam saja sich?" yasir bertanya kepada Rili sambil menyelipkan rambut Rili ke belakang daun telinga wanita tersebut.
" Aku mabuk laut bang." Jawab Rili berbohong. Wanita tersebut mengambil ikat rambut berwarna hitam dari tas ranselnya dan kemudian hendak mengikat rambutnya tersebut. Namun tangan Yasir menghentikannya.
" Boleh ya Abang yang kuncirin rambutnya!" Pinta Yasir dengan wajah puppy eyes nya.
Melihat ekspresi Yasir yang sangat lebay tersebut membuat Rili tersenyum. Ingin Rasanya dia menghujani banyak ciuman diwajah pria yang sangat dicintainya tersebut. Namun keinginannya itu harus di tahan karena mereka belum resmi menikah.
Ternyata kedua insan ini sama-sama menyimpan gelora asmara yang perlu disalurkan. Moga mereka bisa menahan diri.
Kini Speedboat yang ditumpangi oleh Rili dan Yasir sudah sampai di dermaga. Yasir menuntun Rili Turun dari Speedboat. " Bang, mana teman kita yang lainnya?" Rili bertanya karena melihat sepanjang perjalanan menuju hotel tidak melihat satupun teman kerja mereka.
" Mereka sudah menunggu kita di dalam." Yasir menjawab pertanyaan wanita yang dicintainya itu sembari berbalik badan menghadap Rili. " Sekarang tutup matamu!" Rili mengiyakan perintah Yasir, walau sebenarnya dihatinya penuh dengan tanda tanya.
Yasir menutup mata Rili dengan sapu tangan warna maroon bercorak garis-garis tersebut , lalu menuntun wanitanya tersebut untuk memasuki tempat acara yang sudah di hias sedemikan indahnya oleh pihak hotel.
Rili sudah berdiri dibelakang sebuah meja warna birel senada dengan gaun yang dia pakai, di atas meja yang dihias cantik tersebut sudah ada kue tart coklat yang dihias dengan cream warna pink dan buah Cherry yang menambah keindahan kue tart tersebut.
"Abang hitung sampai tiga ya, dihitungan ketiga. Abang akan buka penutup matamu." Ujar Yasir sembari memberi kode pada temannya agar secara serentak menyanyikan lagu Happy birthday yang dipandu oleh musik dari panggung.
"Stu....dua....tiga..... Happy birthday to you....!" Yasir bernyanyi sambil bertepuk tangan sembari tersenyum dengan bahagianya. Begitu juga dengan teman kerja mereka yang lainnya ikut memeriahkan acara tersebut.
Wanita cantik yang sedang berulang tahun tersebut kini tengah merasa bahagia sekali. saking bahagianya air matanya tanpa permisi menetes dan membasahi pipinya yang putih. Wanita itu tidak menyangka Yasir melakukan hal konyol seperti ini. Dia senang, bahagia bercampur malu, karena ini bukan sweetseventen, dia sudah berumur 30 tahun.
Yasir dan teman lainnya terus saja menyanyikan lagu selamat Ultah tersebut, hingga proses tiup lilin dan potong kue pun sudah selesai. Tentunya suapan pertama kue ultah mendarat di mulut pria tampan yang sedang berdiri disebelah Rili yang tidak lain adalah Yasir Kurnia.
"Terimakasih banyak ya bang, tak seharusnya Abang melakukan ini. Aku malu loh bang, Tapi bahagia!" ucap Rili sembari mengelap air mata kebahagiaan itu.
Yasir terus saja memandangi wajah wanita pujaannya itu, dan juga ikut menghapus air mata wanita yang dicintainya itu dengan ibu jarinya. Tentu saja tatapan si Yasir makin menambah salah tingkah si Rili karena dia malu sama teman kerjanya.
" Ucapan terimakasih saja mana cukup sayang!" Yasir sengaja menggoda Rili dengan kalimat itu.
" Maksud Abang apa? jangan aneh-aneh dech!" Rili hendak menjauh dari Yasir karena dia takut Yasir pasti akan menciumnya di depan banyak orang .
Teman-teman kerja yang melihat tingkah keduanya, malah serentak menyorakkan kata "Cium.....cium...cium...!"
Rili menjadi panik, dia berdoa dalam hati agar Yasir jangan melakukan itu. Hal semacam ini masih tabu buat Rili. Doa nya ternyata tidak terkabul, Yasir meraih tangan Rili dan memberikan sebuah kotak hadiah.
" Ini buat kamu sayang, buka nanti malam kalau sudah sampai di rumah ya!" Ucap Yasir dan langsung memeluk Rili dengan sangat lama. Yasir tidak ingin melepas pelukannya, tapi akhirnya dia lepas juga karena Rili sudah berontak.
"Abang akan lepas pelukan ini, tapi izinkan Abang mencium keningmu saat ini juga!" Bisik Yasir kepada Rili. " Bang, jangan aneh-aneh dech ini di tempat umum.! Jawab Rili dengan tegas.
" Baiklah, kalau kamu tidak mau Abang cium. Abang tidak akan melepaskan pelukan ini sampai besok." Jawab Yasir sembari makin mempererat pelukannya, hingga membuat Rili susah bernapas.
" Abang mau membunuhku? Aku susah napas ini bang!" Ucap Rili yang mulai kesal dengan sikap Yasir yang tidak tahu tempat itu.
Yasir melepas pelukannya dan langsung mendaratkan bibirnya dikening Rili kemudian memegang kepala Rili. Mau tidak mau akhirnya Rili pasrah saja.
huuuuuui..... terdengar suara teriakan orang-orang yang ikut memeriahkan perayaan Ultah Rili tersebut.
Kini Yasir sedang memegang micropon. Dia mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman kerjanya karena telah bersedia ikut dalam acara ini dan mempersilahkan tamu undangannya untuk menikmati hidangan yang telah tersedia atau melakukan acara bebas.
Yasir mengajak Rili untuk duduk disebuah pendopo yang pemandangan mengarah hamparan laut yang indah. "Apa kamu menyukai kejutan yang Abang buat?" Yasir bertanya pada Rili dengan penuh kebahagiaan, dia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri karena berhasil membuat acara ultah buat wanita yang dicintainya tersebut.
Yasir dengan cepat, menjatuhkan badannya dan kepalanya tepat mendarat dipaha Rili. Mendapat perlakuan seperti itu dari Yasir, Rili dengan cepat menggeser kakinya yang sedang berselonjor tersebut.
"Kakinya jangan dijauhi, Abang ingin tiduran. Abang capek sayang. Boleh ya Abang tiduran di pahamu?" ucap Yasir dengan lembut seolah dia sedang mengemis pada wanita yang sangat dicintainya itu.
" Gak boleh bang, banyak orang. aku malu!" Rili menjawab dengan tegas.
"Kalau gak boleh Abang akan menindihmu. Abang hitung sampai tiga, kalau kakinya tetap ditekuk gitu jangan salahkan Abang akan melakukan hal yang lebih gila lagi." Iya.. iya ..... Akhirnya Rili mengalah saja karena pria ini selalu pingin keinginannnya dituruti.
Kini Yasir sudah tiduran beralaskan paha Rili. "Kenapa diam saja, ayo belai kepala Abang!" Rili yang mendengar ucapan pria yang dicintainya itu merasa kesal, karena Rili malu melakukannya.
"Apa kamu suka kejutan ini?" Yasir kembali bertanya kepada Rili dan sangat menikmati belaian yang diberikan Rili dikepala Yasir tersebut. Rili memijat-mijat pelipis,kening dan kepala Yasir dengan lembut sembari memperhatikan wajah Yasir yang tampan. Yasir memejamkan matanya karena merasa sangat rileks berada di pangkuan wanita yang sangat dicintainya tersebut.
" Iya suka banget bang, sepertinya Abang udah dua kali nanyainnya." Jawab Rili dengan mimik wajah di cemberutkan." Kalau suka kenapa wajahnu begitu?" tanya Yasir dan sudah membuka matanya karena HPnya bergetar di dalam saku celananya.
Yasir mengambil HPnya dan melihat siapa yang menelpon. Sedangkan Rili mengendarkan pandangannya ke setiap sudut tempat pekarangan hotel tersebut, tak sengaja matanya bertemu pandang dengan Bella. Rili melihat ekspresi tidak suka diwajah Bella. Kemudian Bella mengakhiri pandangan mereka dan bergabung dengan teman lainnya menikmati ikan bakar.
" Abang tinggal bentar ya dek, kamu jangan kemana-mana. Sebentar lagi akan datang pelayan mengantar makanan kesini." Ucap Yasir sembari pergi meninggalkan pendopo tersebut dengan melemparkan senyum yang sangat manis kepada Rili. Tentunya Rili membalas senyuman itu tak kalah hangatnya.
Saat pelayan datang mengantar makanan ke tempat Rili duduk sekarang, Bella datang menghampirinya. " Rili, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Bella pada Rili dengan nada sedikit memaksa.
" Bisa, silahkan duduk Bella!" Ujar Rili dengan tersenyum. "Jangan disini, ayok ikut aku sebentar!" Rili mengikuti langkah dari Bella, ternyata Bella memilih tempat yang sedang sepi, yaitu ke kolam renang. Kebetulan sekali kolam renang itu sedang sepi saat mereka berada disitu.
Bersambung...
Mohon like, coment dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Ai Solihah
takut d ceburin
2021-06-26
0
Sunarti
Bella Jan yg aneh" y,
2021-04-17
1
Qomariyah
lanjut
2021-03-15
1