"Ril… Rili…!
Ada yang mau ku sampaikan padamu..!"
"Aa…pa..?
mengenai apa Bang?" Aku bertanya dengan penuh kegugupan. Hatiku menduga-duga. Dia mau menayakan apa? apa mengenai pekerjaan.
"Oohh… itu, nanti saja setelah sampai di pantai Aku utarakan ya.!" kalimat itu terlontar dari mulutnya seraya dia menghidupkan mesin mobil lalu melajukan kenderaan roda empat tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju pantai, kami saling diam. Aku bingung bercampur gugup. berada satu ruang dan waktu bersama bang Yasir membuat pikiranku menjadi kacau. Sekali-kali aku mencuri pandang ke arah dia yang lagi menyetir. Saat mata kami bersitatap, aku langsung memalingkan wajahku menatap keluar kaca mobil. Rasanya jarak dari warnet ke pantai jadi begitu lama, padahal biasanya hanya 15 menit.
"Ayo turun….!"
Tiba-tiba Bang Yasir membuka pintu mobilnya, dia tersenyum padaku. Aduhh… manis sekali senyumnya. Senyummu bisa merobek-robek jantungku bang.! Begitulah isi hatiku saat melihat senyumnya, sembari Aku turun dari mobil. Dengan debaran jantung tak jelas lagi iramanya.
Aku yang dari tadi tidak fokus karena grogi satu mobil dengannya tidak menyadari kalau kami sudah sampai di tempat tujuan yaitu pantai KAHONA. Bukan KAHONA PYAR HAI Ya? seperti judul film india favoritku.
Pohon kelapa menghiasi perjalanan menuju pantai, pantai tampak bersih dengan buih-buih putih bergradasi abu–abu yang menghampiri pasir.
"Kita duduk di sana saja ya?" kata Bang Yasir, Dia menunjuk sebuah pohon cemara yang di bawahnya terdapat tempat duduk yang terbuat dari beton yang didekorasi indah.
Kami mendaratkan bokong kami di tempat duduk tersebut dengan bersebelahan, Abang Yasir berada disebelah kiriku.
"Mau minum apa bang, kak?
Kata seorang pria sembari membawa daftar menu makanan/minuman. Kemudian Pelayan tersebut menyodorkan daftar menu kepada Abang Yasir.
"Aku pesan es kelapa muda." kata Bang Yasir seraya menyerah kan daftar menu kepadaku.
"kamu mau pesan apa Rili?"
"Sama aja seperti pesanan abang." Jawabku dengan gugupnya. Tanpa melihat daftar menu itu. Sungguh aku tak percaya bisa berduaan dengan Yasir. Pria ter tampan di kantor kami.
"Bawakan sekalian cemilan kerupuk atau kacang ya bang!" pinta bang yasir kepada pelayan pria tersebut.
Kami kembali terdiam, sembari menikmati pemandangan pantai yang indah ditemani cuaca yang begitu cerah.
"Rili….!"
"Ya Bang, Aku memutar leherku agar bisa bersitatap dengannya. Masih dengan perasaan yang dibalut gugup.
"Tipe cowok idaman mu seperti apa sih?" Bang Yasir bertanya sembari menatap mataku. Darahku berdesir, jantungku berdetak sangat cepat, rasanya jantungku mau lepas dari tempatnya. Aku tidak sanggup melihat matanya yang tengah menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan maksud dari tatapannya itu.
Aduuhhh.. ..
Pertanyaan macam apa ini, rutukku dalam hati.
"Kenapa abang bertanya seperti itu?" tanyaku sambil ******* ***** jemariku.
"Ya.,pingin tahu saja, siapa tahu abang ini masuk kategori cowok idamanmu." Jawabnya dengan muka yang tak bisa diartikan.
Bang Yasir sepertinya serius dengan ucapanya. Ngapain dia tanyain kriteria cowok ku? gumanku dalam hati.
"Eeuummm…. Seperti apa ya?" jawabku dengan malu-malu.
"Permisi….
Pesanannya sudah datang." Si pelayan kedai tempat kami duduk sekarang datang membawa 2 porsi es kelapa muda, kacang rebus dan kacang bogor.
Rasanya sangat haus, kerongkonganku rasanya kering banget. Rasa hausku seperti hausnya sedang puasa. Berada dekat dengan Bang Yasir, sepertinya cairan tubuhku cepat abis, menguap ke udara di bawa angin ke atmosfer menggumpal menjadi awan dan menjadi uap air.
Dengan refleks tangan ku meraih es kelapa muda dan menyedotnya. Saking hausnya Aku langsung menyedot semua air kelapa tersebut sampai terdengar suara sscrrootttt……… srottt krukkkk…!
"Upps…" Aku menutup mulutku dengan tanganku sembari wajahku menoleh ke arah abang Yasir, kulihat Abang Yasir ketawa dengan begitu lepas nya karena tingkahku.
"Kamu koq gemesin banget sich?" kalimat itu terlontar dari mulut Bang Yasir sambil mentoel hidung ku.
"Kamu haus ya?
haus aja atau haus banget?" kata Bang Yasir sembari mengambil wadah es kelapa muda milik Dia.
"Kalau masih haus, ini minum aja es kelapa muda punyaku," Bang Yasir menyodorkan minumanya, "Tapi, awas sekali saja kamu sedot es kelapa muda punyaku, maka nanti malam kamu bakalan tidak bisa tidur." kata Bang Yasir. Sembari mengedipkan matanya sebelah kiri.
Koq bisa kami jadi akrab begini ya, bisikku dalam hati.
"Pria idaman ku itu tentunya harus sholeh ( ya walau aku tidak sholeha) setidaknya aku ingin dapat suami yang bisa membimbingku ke jalan-NYA, terus penyayang, pintar, romantis, ganteng seperti abang."
"Hahh… ganteng seperti aku?"
Tanya Abang Yasir, sambil mengelus elus dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin menambah ketampananya.
"Uuppss.. Aku tadi bilang gitu ya?"
"Iya, Terus kamu tidak ingin suami yang kaya rili.? Biasanya kan wanita suka yang kaya." Protesnya, dengan wajah terkejutnya.
"Siapa sich bang yang tidak suka sama pria yang kaya." Jawabku sambil memasukkan kacang ke mulut ku lagi.
"Semua wanita pasti suka uang, perhiasan dan barang-barang branded. Ya, tapi buat ku kaya adalah sebuah bonus. Kalo dapat sholeh, kaya, baik, tampan, penyayang, romantis, sabar. Ya aku mau banget……..!" teriakku.
Entah kenapa jiwa pemalu ku tiba-tiba hilang.
Aku melepas sepatu kets ku. berwarna pink bercampur corak warna toska tersebut sembari berlari ke tepi pantai sambil berteriak…..
"Aaaahhhhhh.. leganya..!"
Bang Yasir ikut menyusulku ke tepi pantai, dia juga menanggalkan sendal jepitnya yang terbuat dari kulit berwarna coklat. kami berjalan di bibir pantai, terkadang air laut membasahi celana ku karena gelombang air laut.
"Tidak ku sangka aku melihat sisi lain dari dirimu. Ya, tadinya ku pikir kamu pendiam banget, seperti selama ini abang perhatikan di tempat kerja" kata Abang Yasir.
langkah ku terhenti saat dia mengatakan itu, dia juga ikut menghentikan langkahnya.
"Ya bang, orang yang belum kenal betul dengan ku pasti bilangnya aku pendiam, apalagi sama cowok. Aku malu gitu. Bahkan sebelum kejadian hari ini aku malu banget loh sama abang."
"Ya aku tahu itu, hanya kamu cewek yang membuat ku sangat penasaran dikantor kita."
"Maksud abang apa?" tanyaku, sambil memainkan pasir dengan kakiku.
ya kami masih berdiri di pinggir pantai sembari melihat hamparan laut yang luas nan biru.
"Hanya kamu yang tidak mengejar-ngejar Abang, Aku jadi tertantang untuk lebih mengenalmu, tapi kamu selalu menutup diri."
"Rili….. Abang suka sama mu!"
Bang yasir menggemgam tangan ku.
Aku yang mendengar pernyataan itu jadi panik, muka ku memerah seperti udang rebus yang tidak dikuliti.. ehehhe, ..Tanganku berkeringat saat di genggamnya. Karena terkejut dengan ungkapan perasaannya, refleks ku lepaskan tangannya yang menggemgam tanganku tersebut. Aku mundur beberapa langkah ke arah laut, aku hampir terjatuh karena kakiku saling bersentuhan dan hilang keseimbangan..
Kumerasakan tangan kekar menarikkku dengan kuat, menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Tubuh kami bersentuhan bahkan jarak wajah ku dengan wajah Bang Yasir hanya beberapa centi saja.
"Kamu kenapa?"
Kata Bang Yasir dengan wajah penuh ke khawatiran. "Kenapa kamu tiba-tiba mau terjatuh?" Tanyanya dengan kepanikan.
"Aku.. aku tak percaya ini bisikku dalam hati."
Aku melepaskan tubuhku dari pelukan bang yasir… bergegas berjalan ke tempat kami duduk sebelumnya, abang yasir menyusulku dengan wajah sedih dan penuh harap.
"Ril… kamu kenapa ?
wajahmu kenapa pucat?" tanya dengan penuh khawatir.
"Ini gara-gara pernyataanmu itu yang membuat darahku berhenti mengalir." Bisikku dalam hati.
Sejak kapan dia menyukaiku? Kenapa dia bisa menyukai cewek sepertiku? Di tempat kami bekerja masih banyak cewek-cewek cantik ,muda lagi yang bisa di kencaninya. Aku bertanya-tanya dalam hati.
Ya TUHAN…
Benerkah perasaan yang diutarakan abang yasir ini? Pikirku. Kalo bener. Apakah dia jodoh ku Tuhan? aku kembali tidak fokus, aku seperti kehilangan jiwaku saat ini. Aku syok!
"Apa kamu marah dengan pernyataanku?" tanya Bang Yasir, sambil menyesap air kelapa mudanya. Dia tidak menatapku, tapi menatap ke arah hamparan laut yang luas, mungkin bang Yasir kehilangan percaya dirinya karena respon ku atas pernyataan rasa suka dia terhadapku ku tanggapi dengan dingin, "ya sudah kalo ungkapan perasaanku membuat hatimu terusik, lupakan saja!" ucap Abang Yasir dengan lesu nya.
"Bukan begitu bang."
Aku menatap Abang Yasir, aku jadi berani dan tidak canggung lagi sama dia, seolah-olah kita sudah akrab. "Bolehkah aku berpikir untuk menjawabnya?" ucapku dengan malu-malu.
Bang Yasir, menatapku dengan penuh harap.
"Baiklah bang, aku ."
Aku minta like, coment, vote serta jadikan novel ini sebagai favorit ya.
Happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Hotmaniah Simatupang
Serius thor, kenapa penggambaran mu terhadap cewek lugu itu ngena banget... Pengalaman ya..?
2022-01-24
0
YouTrie
Like semangat Istri sang majikan
2021-06-14
0
Tjitjik Juni Supriyati
ha ha ha rili .... usia hampir kepala 3 msh kyk anak abg aja blm pynya pikiran dewasa. 😅
2021-04-18
1