Aku melihat sosok yang sangat ku kenal yang tak lain adalah ' Bella' kenapa harus melihat dia di sini? Dia pasti akan salah paham terhadapku. Bella adalah teman kami satu kantor, dia sangat menyukai Bang Yasir.
Bella berjalan menghampiri kami.
dia berjalan dengan ayunya seolah-olah dia lagi menarik perhatian Bang Yasir, tepat di depan kami dia membuka kaca mata hitamnya lalu tersenyum mengejek.
"Kebetulan sekali ya bertemu dengan kalian disini?" ucap Bella dengan nada tidak suka.
"Apa kalian lagi berkencan?" Bella kembali bertanya dengan penuh selidik .
"Eemmhh,,…euummm…."
Aku hendak menjawab pertanyaan Bella, tapi keburu duluan ditanggapi Bang Yasir.
"Iya bener sekali!" Ucap Bang Yasir dengan semangat sembari melihatku. Mataku melotot mendengar pernyataan Abang Yasir, aku sangat terkejut. Aku terbatuk-batuk karena sisa makanan yang masih ada dimulut membuatku jadi tersedak.
Bang Yasir langsung memberikan air minum untukku dan menepuk nepuk punggungku dengan lembut.
Aku melirik ke arah Bella yang masih berdiri di depan kami. Dia menatapku dengan tatapan tidak suka.
Apalagi jawaban dari Bang Yasir, pasti akan menciutkan perasaan nya.
"Duduklah Bella, kita makan bersama!" ucapku dengan gugup.
"Tidak, Terima kasih!" ucapnya dengan senyum dipaksakan. "Permisi… " Bella berpamitan kepada kami.
"kenapa dengan si Bella, sombong banget cara bicaranya." Kata-kata itu terlontar dari mulut Bang Yasir.
"Aku tahu dia menyukai ku, makanya aku langsung menjawab seperti tadi. Agar dia tahu diri dan tidak mengejar ngejar ku lagi." Aku melirik Bang Yasir yang berkata seperti itu.
huuffft.... kemudian Bang Yasir membuang napasnya secara kasar.
"Kamu kenapa Rili……? Kamu baik-baik saja kan? Kenapa keningmu berkeringat". Bang Yasir nampak mengkhawatirkanku. Dia mengelap keringat yang dikeningku dengan ibu jarinya, sambil tersenyum.
"Kamu sakit? Habiskan makanan mu kita pulang saja kalau begitu," ucap Bang Yasir.
Kami sudah berada di dalam mobil Bang Yasir, setelah tadi dia membayar tagihan makanan kami.
"Sudah siap?" Bang Yasir bertanya padaku sambil melirik ku. Aku menjawabnya dengan anggukan.
Suasana di dalam mobil yang hening tiba-tiba jadi hidup kembali tatkala Bang Yasir membuka suara. "Apa kamu kepikiran dengan Bella?" Tanya Bang Yasir.
"Iya!" jawabku dengan muka menunduk sembari *******-***** jemariku.
"Jangan ambil pusing tentang dia". Icap Bang Yasir.
Aku tak ingin dimusuhi Bella, dia pasti akan benci padaku seumpama aku jadian dengan Bang Yasir. Dia sangat menyukai Bang Yasir . di kantor sikap dia pun terhadap Bang Yasir sangat ketara kalau dia menyukai Bang Yasir. Aku berbicara sendiri dengan diriku.
Sepanjang perjalanan pulang otakku banyak berpikir kemungkinan hal-hal yang akan terjadi besok di kantor.
"Aku antar kamu langsung ke rumah ya?" ucap Bang Yasir. Ucapannya membuyarkan lamunanku.
"Gak usah bang ,kita singgah di warnet aja kan motor di titip disitu."
"Ok.!" ucap Bang Yasir.
Se sampai di parkiran warnet, Bang Yasir turun dan memutari mobilnya dia membuka pintu mobil, aku mendaratkan kakiku parkiran warnet.
Aku bergegas masuk ke dalam warnet untuk minta izin ke penjaga warnet untuk mengambil motor yang ku titipkan tadi pagi.
Aku menaiki motor bebek ku yang berwarna hijau tersebut.
"Kamu hati-hati ya, nanti malam abang telpon kamu, "ucap Bang Yasir.
Dia membelai kepala ku dengan lembut.
Aku terkejut dengan perlakuan nya dengan refleks aku menepis tangan bang yasir.
"Maaf bang aku tidak bermaksud."
"Iya Abang mengerti, Kamu tidak terbiasa kan?" jawabnya, dia menatap mataku dan berkata." Pikirkan dengan baik ungkapan perasan abang tadi, ikuti kata hatimu, jangan terpengaruh dengan orang lain."
Perkataan Bang Yasir membuat bulu kuduk ku merinding, berlama-lama dengannya membuat jantungku tidak sehat. Detakannya kencang sekali.
Aku merogoh tas selempang ku yang warna coklat untuk mengambil kunci motor, tanganku gemetar saat memasukkan ku,nci motor ke lubang kunci untuk menghidupkan motorku.
Bang Yasir terus saja menatapku, tatapannya itu membuat Aku sangat grogi.
"Aku duluan ya bang..!" aku menatapnya sembari melambaiakn tangan.
"Iya Rili," Bang Yasir menjawab dengan senyuman yang sangat manis, aku sungguh tak tahan melihat senyumannya itu.
"Hati-hati ya." ucap Bang Yasir dengan melambaikan tangannya pertanda kami akan berpisah.
Aku melajukan motorku dengan perasaan kacau .
"Assalamu alaikum…… assalamu alaikum…."
Aku mengetok pintu rumah kami, tak ada sahutan dari dalam.
"Apa mama dan ayah pergi keluar ya?" Pikirku.
Syukurlah aku ada kunci cadangan rumah sehingga aku bisa masuk ke dalam rumah.
Aku langsung menuju kamarku, aku sangat lelah, lelah hati, pikiran dan badanku. Aku meletakkan tas selempang ku di meja riasku samping tempat tidur.
Aku merebahkan tubuhku, menarik napas dalam-dalam. Aku melakukan tarik napas ber ulang-ulang, sepertinya pasokan udara di paru-paruku habis kandas efek saat bersama dengan Bang Yasir aku susah bernapas.
Hadeuuuhhh…
Aku begitu grogi berada dekat dengannya.
Gimana tidak grogi, hal yang pertama kali kita lakukan tentunya kita akan nervouse bukan?
Tanpa ku sadari aku terlelap, hingga aku merasakan tanganku di goyang-goyangkan dan mendengar suara..
"Rili…....Bangun nak, jam berapa ini ? Ayo bangun..!"
Ternyata mama yang masuk ke kamar dan membangunkan ku.
Aku duduk, sambil menguap dan mengucek mataku,lalu mengikat rambutku yang berantakan.
"Kamu seharian ini ke mana saja?" Ibu bertanya padaku.
"Tadi jam satu siang Bella datang ke sini, katanya kalian ada janji ke pantai hari ini, mau menikmati sunsite.."
"Apa…apa ma…..? Bella kesini?"
tanyaku dengan panik.
"Iya,..!"
jawab mama sambil duduk di tepi ranjang.
"Emang ada masalah apa?"
mama bertanya sambil tersenyum padaku.
"Gak ada ma," jawabku dengan wajah kebingungan.
"Ya udah kamu mandi sana ini udah pukul enam sore." mama berkata seperti itu lalu meninggalkan kamarku.
Pukul enam sore jawabku, berarti aku udah ketiduran 3 jam dan aku melewatkan sholat asharku.
Eehhmmm……
hari ini bener-bener hari yang melelahkan.
Aku baru ingat hari jumat kemarin kami janjian mau jalan-jalan ke pantai hari minggu sama Bella. Aku melupakan janji itu. Habislah aku, pasti besok si Bella akan membenciku.
Aku, ayah dan mama sekarang sedang menikmati makan malam, kami makan dengan hening. Setelah makan aku membersihkan meja makan, kemudian mencuci piring bekas kami makan, ya karena mama udah masak tadi sore aku harus pandailah mengambil hati mama , biar aku saja cuci piring.
Ya kadang aku juga sering memasak untuk makan malam, aku pintar masak loh, juga pintar buat kue , pokoknya jago di bidang dapur dech. Karena mama selalu mengajari ku memasak. D rumah kami tidak ada pembantu. Kami keluarga sederhana, jadi untuk apa pembantu, toh masih bisa kami kerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga.
Selesai mencuci piring aku mengambil segelas air, kemudian masuk ke kamar.
Aku duduk di kursi meja riasku, aku melihat hp ku. Ada 3 panggilan tak terjawab, no siapa ini pikirku! Kemudian aku menghubungi kembali no itu.
Tuuutt… tuuttt….. haloo…
"Assalamu alaikum Rili…. ?" Ini suara Abang Yasir kan? Pikirku.
"Walaikum salam!"
"Udah 3x Abang hubungi gak diangkat, kamu kemana?"
'Ini Abang Yasir ya?" tanyaku dengan senyum-senyum sambil menuju ke tempat tidur. "Abang ternyata tahu no hp ku?" Kalimat itu yang pertama ku lontar kan.
"Iya ."
jawabnya dari sana. "Abang sudah lama tahu no hp mu. Bahkan abang tahu semua tentangmu." kata Abang Yasir nada bicaranya begitu tenang dan meyakinkan.
Aku yang mendengarnya, jadi ikut bahagia, bibirku senyum-senyum sendiri, aku telungkup di atas ranjangku sambil mengangkat kaki ku dan menggoyang goyangkannya.
"Maksud perkataan abang apa? Tahu semua tentangku? Emang apa saja yang abang tahu tentangku?" Aku sangat penasaran akan jawaban dia.
"Yang pertama aku tahu, kamu sangat menyukaiku!" Kata Bang Yasir.
"Apa......? Dari mana Abang bisa menafsirkan seperti itu?" ucapku dengan perasaan bertanya tanya dalam hati, tetapi wajah ku memerah mendengar perkataan dia, syukur dia gak bisa melihat wajah ku ini. Sepertinya aku kepergok. Ingin rasanya wajah ku ini ku benamkan di bawah bantal, saking malunya.
"Sudah jangan di bahas lagi!" katanya.
"Kamu sudah makan?" tanya Bang Yasir.
"Sudah bang." Jawabku.
"Kalau Abang sudah makan?" Aku bertanya balik kepada Abang Yasir.
"Abang sudah makan." Jawabnya.
"Ooh ya Rili, sudah dulu ya ibu manggil abang, sampai ketemu besok, Siapkan jawaban yang terbaik ya, Assalamu alaikum…"
Pangglian pun terpututus,
sebelum aku menjawab Salam Bang Yasir.
Aku menatap layar ponselku, kemudian men save no Bang Yasir dengan nama "Calon Imamku"
Aku melangkahkan kaki ku ke kamar mandi untuk mencuci muka, gosok gigi, lalu berwudhu. Aku akan menunaikan sholat isya. ya itu sudah kebiasaanku setiap malam, sempat aku melewatkan sholat isya, maka tidurku tidak akan nyenyak.
Ku panjatkan doa ku di akhir sholatku.
Ya ALLAH…. Ini kah jawaban doa ku selama ini. Aku sangat berharap bisa berjodoh dengan Abang Yasir. YA ALLAH..........KALAU DIA MEMANG JODOHKU DEKATKAN LAH YA ALLAH, TAPI KALAU MEMANG TIDAK JODOHKU TETAP JODOHKAN AKU DENGAN DIA YA ALLAH….*
Doa ku terkesan memaksa.
Aku tidur ajalah, moga besok Bella tidak marah dan salah paham pikirku. Bang Yasir mengetahui tentang aku, tahu aku menyukai dia.
PD sekali pria itu.. gumam ku dalam hati.
Jelas pertemuan tadi di pantai dengan Bella mengganggu pikiran, aku sudah janjian dengan Bella mau ke pantai hari Minggu, aku melupakannya karena jumpa dengan Abang Yasir.
Bella sering curhat padaku kalau dia sangat menyukai Abang Yasir.
Sedangkan aku, kalau ditanyain dia tentang Bang Yasir, aku menjawab tidak tertarik pada Bang Yasir, yang mana jawaban ku itu adalah jawaban yang tidak sebenarnya.
Bersambung…
Jangan lupa like, coment , vote dan jadikan novel ini sebagai favorit .
Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 359 Episodes
Comments
Bidadarinya Sajum Esbelfik
nah loh
2022-02-23
0
Nani Mulyani
Dia Rili maksa ... kalau ga jodoh tetep dijodohkan ... 😅😅😅
2021-08-22
0
N Kartini
bagus cerita nya, aku suka lanjut ya 👍💪
2021-07-01
0