"Jadi itu yang membuat mu menjadi gadis yang pendiam,kenapa aku merasa ingin melindunginya":Gumamnya sembari menatap zia yang masih mencurahkan isi hati nya.
Tak berselang lama zia berdiri dari bangku taman dan perlahan berjalan meninggalkan taman.
Seseorang itu pun turun dari atas pohon yang sejak tadi melihat apa yang zia lakukan,ia memandang punggu zia dengan tatapan penuh arti.
...
Zia tiba dirumah,ia melihat keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga dan terlihat bercanda ria,zia menatap mereka penuh kesedihan,akan ia bisa merasakan kebahagian itu dan berada di antara mereka.
Zia menghembuskan nafas pelan,ia pun berjalan menuju tangga tanpa memperdulikan mereka yang sedang tertawa,tawa yang baru pertama ini zia dengar sebelum kematian adiknya.
"Dari mana saja kamu,selalu pulang telat,dan masih ingat rumah ternyata,kenapa tidak sekalian kamu tinggal di jalanan":Langkah zia terhenti di tangga kedua,saat mendengar ucapan papanya barusan.
"Tau tuh,mau jadi apa kamu,pulang malam terus,mau jadi anak gak bener ha,nyesel saya pernah melahirkan anak tak tau diri seperti mu":Cukup zia sudah tak tahan,tanpa mendengarkan cacian kedua orang tuanya,zia pun berlari menaiki tangga menuju kamar,dan tak mengubrisi panggilan papanya.
Tubuh zia merosot kelantai,dengan memeluk kedua lututnya,dengan kepala yang ia sembunyikan.
"Yah tuhan,Zia capek sama semua ini,kenapa zia harus di perlakuan seperti ini,zeya tolong jemput kakak,kakak gak sanggup lagi,mereka membuat luka begitu besar dalam hati kakak,jika saja kamu masih ada,pasti mereka tak akan melakukan hal seperti itu ke kakak,tapi kakak tak ingin menyalahkan kamu,kakak tau ini sudah takdir kakak,hanya saja kakak capek dek,kakak pengen nyerah,hikss":Ucap zia di selah tangisnya.
"Apa jika dengan kematian kakak mereka bahagia,akan kakak lakukan,tapi kakak harus menemukan buktinya,bahwa kakak gak salah,bantu kakak zia,bantu kakak dalam mencari bukti apa yang terjadi sama kamu":Lanjut zia,ia menyeka air matanya kasar perlahan ia berdiri dan berjalan menuju ranjang,ia merebahkan dirinya,bahkan ia harus menahan rasa sakit di punggungnya.
"Kapan penderitaan ku berkahir":Ucapnya lirih,dengan mata menatap langit-langit kamar yang bernuasa gelap seperti kehidupannya.
Secerca harapan pun rasanya ia tak ada harapan lagi,ia tak bisa menaruh harapan begitu besar kepada mereka,walau sedikit harapan zia hanya ingin sebuah pelukan yang nyaman dan tenang,hanya itu yang ia inginkan,tapi kapan itu akan datang.
Bahkan ia pernah ingin mengakhiri hidupnya,tapi ia malah kembali sadar dan berkahir hukuman cambukan dan hinaan yang di berikan untuknya,mengapa tak ada yang begitu perduli terhadap dirinya,ia hanya ingin di mengerti,di peluk,di tanyakan bagaimana kabarnya,tapi rasanya itu terlalu mustahil untuknya,sangat kecil sekali harapannya.
Jika hari itu datang zia akan mengambil kesempatan itu dengan baik,ia hanya ingin pelukan,kasih sayang yang tulus,walau dengan mati sekali pun.
Ia tak bisa membenci kedua orang tuanya dan kedua abang kembarnya,karena rasa sayang dan cintanya jauh lebih besar dari pada rasa benci yang selalu hadir di hatinya,mau melawan ia tak bisa melakukan hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Frando Wijaya
idiot.... permintaan yg sgt naif
2024-10-23
0