"Cukup, Pa! Apa yang Papa lakukan?!" pekik Violet menahan lengan Tristan yang hendak kembali memukul putranya.
"Lepaskan aku, sayang. Pria seperti dia memang harus diberikan pelajaran." Tristan menyingkirkan perlahan tangan istrinya. Lalu kembali menarik kerah baju Kevin dan memukulnya.
Kevin pasrah.
Ia membiarkan Tristan melakukan apapun yang pria itu inginkan. Kevin memang sudah menduga kalau Tristan akan murka dan menghajarnya habis-habisan.
Tapi, Kevin tidka menyangka jika kemarahan Tristan akan sebesar ini. Memukulnya di hadapan wanita yang ia cintai.
Sungguh sangat memalukan!
"Selama ini Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kasar pada perempuan. Tindakanmu ini menunjukkan betapa rendahnya keturunan Alexander!" Tristan menunjuk wajah Kevin, meluapkan semua kekesalannya. "Mau ditaruh mana wajah Papa kalau sampai media tahu kelakuan kamu?!"
Tristan membuang nafas kasar. Dadanya naik turun.
"Papa terlalu ikut campur urusan aku." Kevin menyeka luka robek di sudut bibirnya.
Safira yang sejak tadi melihat pertengkaran putra dan anak itu merasa bersalah. Karena dirinya, Kevin terluka.
"Anda baik-baik saja?" tanya Safira memapah Kevin dan membantunya untuk berdiri.
"Jangan pernah membantunya, Safira! Anak tidak tahu aturan ini harus merasakan akibatnya karena hampir melecehkan kamu," sahut Tristan.
"Ikut Papa!" Tristan menyeret Kevin, membawa putranya itu masuk ke ruang kerjanya.
Sesampainya di dalam, Tristan melempar Kevin begitu saja, hingga Kevin terjatuh di sofa.
"Bilang sama Papa apa yang sudah membuatmu jadi seperti ini?" tanya Tristan, menatap tajam Kevin.
Kevin terdiam.
Jangankan untuk menjawab, bibirnya saja terasa perih dan sakit akibat ulah papanya.
"Jawab, Kevin! Papa sedang tidak berbicara dengan tembok kan?!" pekiknya mulai kembali terpancing emosi.
"Aku kelepasan, Pa. Aku nggak sengaja cium dia terus aku gigit," jawabnya gamblang tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
"Kelepasan? Maksudmu apa?!" bentak Tristan. "Jelaskan dengan benar dan jangan bertele-tele seperti ini."
"Fira mau meninggalkan ku. Aku nggak terima."
"Lalu?"
"Sejak kemarin dia sibuk dengan seseorang di balik ponselnya. Aku cemburu, Pa. Cemburu!"
Tristan berkacak pinggang menatap kesal ke arah putranya yang menyebalkan itu.
Bukankah seharusnya Kevin mengatakannya sejak dulu jika dia suka pada asisten pribadinya sendiri? Kenapa baru sekarang saat Tristan berniat menjodohkan Kevin dengan gadis lain?
"Sudah bilang padanya kalau kamu cemburu?"
"Gengsi," jawab Kevin dengan suara pelan.
"Cih! Lebay kamu!" saking kesalnya, Tristan memukul pelan dahi Kevin.
Diantara kedua putra kesayangannya, Kevin lah yang paling pengecut. Bahkan jika dibandingkan dengan Sean, Sean lebih unggul dalam hal apapun.
"Bagun," titah Tristan.
"Nggak sebelum Papa menikahkan aku dengan Safira." Kevin mendongak, menatap Tristan dengan wajah memohon.
"Kamu pikir menikah itu segampang beli kacang rebus? Lagipula, memangnya Safira mau menikah dengan pria pengecut sepertimu?"
Kevin mengepalkan tangannya erat. Tak terima sejak tadi Tristan terus menyebutnya pengecut.
Hingga terdengar suara ketukan dari luar. Tak lama, pintu ruangan tersebut terbuka.
"Tuan, maaf saya menyela," sahut Safira yang sontak berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Saya tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya luka kecil. Dua atau tiga hari pasti sembuh," ucap Safira lagi sembari berdiri dihadapan Tristan dengan kepala tertunduk.
"Berhenti membela bocah sialan ini. Lukamu harus segera diobati." Tristan merogoh sakunya, kemudian mengambil kartu hitam dan memberikannya pada Safira. "Gunakan untuk berobat."
Safira menggeleng. "Tidak perlu, Tuan. Saya tidak membutuhkan itu."
"Aku tidak menerima penolakan." Tristan tetap memaksa dan mau tidak mau Safira menerimanya.
Sementara Kevin, entah sejak kapan dia sudah berada di samping Safira. Menarik ujung kemeja wanita itu.
Safira menoleh. "Anda membutuhkan sesuatu?"
"Sakit... " lirihnya menunjuk rahang dan bibir.
Kevin terus merengek pada Safira seperti anak kecil.
"Tinggalkan saja Kevin. Kamu boleh pulang," kata Tristan.
"Nggak! Dia nggak boleh pergi tanpa izin dariku," sahut Kevin memeluk erat pinggang Safira.
Safira dan Tristan saling menatap sebentar, lalu pria itu mengangguk. Meminta Safira membawa Kevin keluar sebelum dia kembali hilang kendali.
****
"Sakit?"
"Hmm." Kevin mengangguk pelan. "Sangat sakit."
Safira mengambil kotak obat dan kembali duduk disebelah Kevin.
"Argh, pelan, Fira!" seru Kevin sambil meringis menahan perih.
Sungguh, ini pertama kalinya dalam sejarah hidup Kevin. Dipukul habis-habisan oleh Tristan hanya karena seorang perempuan.
"Kenapa anda sangat menyebalkan dan merepotkan?"
"Fir... "
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Pak Kevin." kesal Safira menekan kuat luka Kevin.
"Kamu benar-benar kejam sekali." Kevin mengusap pinggang Safira lalu mengangkat wanita itu agar duduk di pangkuannya.
"Sudah selesai. Cepatlah bangun."
"Nggak sebelum kamu janji satu hal padaku," ucap Kevin menarik dagu Safira supaya wanita itu menatapnya.
"Katakan. Waktu saya tidak banyak."
"Tetaplah berada di sisiku apapun yang terjadi."
"Saya tidak punya alasan untuk tetap berada di sisi anda. Kecuali karena hutang dan—"
"Aku mencintaimu, Safira." Kevin memotong kalimat Safira yang berhasil membuat wanita cantik itu mematung di tempat.
Siapa yang nunggu Kevin ngomong ini?
Kira-kira diterima apa ditolak? Wkwk
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Fi Fin
aku suka akhirnya Kevin menyatakan cintanya .lucu2 gimana gitu sama keluan Kevin
2024-06-23
1
jaran goyang
𝒕𝒐𝒍𝒂𝒌 𝒇𝒊𝒓𝒂 𝒕𝒐𝒍𝒌....𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒕𝒓𝒔𝒊𝒌𝒔𝒂 𝒅𝒍𝒉 𝒌𝒌 𝒎𝒆𝒚👊👊👊
2024-05-22
1
jaran goyang
𝒚𝒂 𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉....🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣𝒏𝒑 𝒍𝒉𝒐 𝒍𝒆𝒃𝒂𝒚 𝒙 𝒔𝒊𝒄𝒉 𝒗𝒊𝒏.......
2024-05-22
1