Bab. 3

Kevin sudah berada di ruang meeting. Sementara Safira, berdiri di samping atasannya itu.

Tidak hanya mereka berdua yang ada di sana, bawahan Kevin yang lain juga sudah menunggu di dalam ruangan.

“Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?” tanya Kevin, menatap mereka satu persatu bergantian.

“Sudah, Pak.” Mereka menjawab dengan serempak.

Raut wajah datar dan dingin Kevin membuat mereka menunduk, tak berani menatapnya.

“Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu pak Ryan dari Madeline Corp datang,” sahut Safira sembari meletakkan kotak bekal di depan Kevin dan membukanya.

“Anda belum lupa kan untuk menghabiskan ini?” Safira melirik sang bos.

“Kamu juga lupa apa yang kukatakan tadi, Safira. Aku tidak lapar,” kata Kevin dengan nada sedikit membentak. Ia masih kesal mengingat suara pria yang menghubungi Safira tadi.

Ayolah, Kevin benar-benar pendendam sekali. Dan sayangnya, Safira tidak mengerti alasan jelas dibalik kemarahan Kevin.

“Ingat, asam lambung anda bisa kambuh jika anda terus bersikap keras kepala.” Safira berbisik tepat di samping telinga Kevin. Lalu segera membenarkan posisinya.

“Mohon untuk di cek kembali agar tidak ada kesalahan saat meeting berlangsung,” lanjutnya beralih menatap mereka semua.

Mereka menganggukkan kepala dan mulai memeriksa berkas masing-masing.

“Lima menit sebelum meeting dimulai, saya harap anda menghabiskan makanan itu. Atau... ” Safira tak melanjutkan ujarannya. “Nyonya Violet akan segera datang kemari dan memarahi anda,” ancamnya mengeluarkan ponsel dari saku dan menunjukkannya pada Kevin.

Setelah mengatakan itu, Safira keluar dari ruangan. Berniat untuk menjemput rekan bisnis Kevin.

"Cih, memangnya dia siapa? Sok mengatur! Di sini bos nya dia atau aku?" gerutu Kevin. Bukannya diperhatikan, Safira lagi-lagi mengabaikannya.

Sambil mengawasi para staf mengecek berkas mereka, dengan terpaksa Kevin menghabiskan bekal yang dibawa oleh Safira.

•••

Beberapa menit berlalu, Safira kembali masuk ke dalam ruangan meeting bersama dengan seorang pria yang berjalan di belakangnya.

"Silahkan duduk, Pak Ryan," ucap Safira mempersilahkan Ryan untuk duduk.

"Terima kasih, Nona," sahut Ryan tersenyum manis pada Safira.

Perlakuan Safira pada Ryan tak luput dari tatapan tajam mata Kevin. Entah kenapa Kevin merasa mereka sangat dekat.

Apa mereka memiliki hubungan? Argh! Ternyata selama ini Kevin tidak begitu memahami Safira luar dalam.

"Selamat datang, Tuan... "

"Saya Ryan," ucapnya memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan.

Namun, diabaikan oleh Kevin.

Ryan terpaksa menarik kembali tangannya sambil tersenyum tipis.

"Apa kita bisa mulai meeting nya, Nona Safira?" Kevin mendekati Safira, menarik pinggang wanita itu dan mencengkram nya sedikit kuat.

Seakan-akan Kevin tengah menunjukkan pada Ryan siapa Safira baginya.

"Apa yang anda lakukan?" bisik Safira. Disaat banyak orang seperti ini, Kevin bersikap seperti anak kecil.

Safira bukan wanita bodoh yang tidak tahu maksud dan tujuan Kevin melakukan tindakan ini padanya.

Kevin mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali duduk. Selama meeting berlangsung, Safira yang dipercayakan untuk menjelaskan di depan.

"Baiklah, saya akan mengambil kesimpulan. Lahan ini memang sangat luas dan cukup strategis. Namun, jika kita lihat... " Safira menggeser beberapa gambar di depan sana. "Lahan ini memiliki resiko yang cukup tinggi. Apalagi curah hujan yang terus menerus bisa mengakibatkan tanah longsor dan turun ke rumah warga sekitar."

Ryan manggut-manggut seraya menatap layar laptopnya. Penjelasan Safira menurutnya sangat masuk akal.

"Bagaimana? Apakah anda setuju, Tuan Ryan?" tanya Safira.

"Tentu saja. Setidaknya aku masih mendapatkan ke untungan dua puluh lima persen dari saham," sahutnya.

Salah satu staff memberikan perjanjian kontrak kerjasama yang harus di tandatangani oleh Ryan.

Sementara Kevin, pria itu tersenyum bangga. Safira memang wanita yang cerdas dan berbakat. Tidak sia-sia Kevin meminta pada ayahnya untuk menjadikan Safira asisten pribadinya.

"Silahkan kembali ke tempat duduk anda, Nona Safira," ucap Kevin.

Safira bergegas kembali ke tempat duduknya. Sebelum itu, ia menutup menutup laptop dan meletakkannya di depan Kevin.

"Penjelasan yang sangat singkat dan mudah di mengerti. Saya suka," sahut Ryan. Senyuman manis terus terukir dari kedua sudut bibirnya.

"Suka? Maksud anda?" Kevin menaikkan satu alisnya, berharap Ryan bisa menjelaskan 'suka' yang dia maksud.

"Oh, maksud saya saya sangat setuju," ucap Ryan memberikan berkas yang sudah ia tanda tangani pada Kevin.

Kevin menerima kertas tersebut dengan menahan perasaan kesalnya. Pada Ryan, Safir senyum-senyum. sementara dengannya wanita itu menunjukkan sisi yang berbeda.

"Senang bekerja sama dengan anda," ucap Ryan lagi.

Kevin menjawab dengan anggukan kepala. Malas mengatakan sesuatu pada pria itu.

Kalau bukan karena sang ayah, Kevin juga tidak mau bekerjasama dengan pria yang berani mendekati asistennya.

"Sama-sama, Tuan." bukan Kevin yang menjawab melainkan Safira. Wanita itu membalas uluran tangan Ryan.

Cup.

Tanpa diduga, Ryan dengan berani mengecup punggung tangan Safira. Membuat wanita itu buru-buru menarik tangannya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Lepaskan tangannya, sialan!" sahut Kevin menampik tangan Ryan lalu mengajak Safira pergi.

Ryan di buat melongo dengan tingkah Kevin yang cukup menggelikan di matanya.

____________

Visual Kevin Alexander, 25 tahun.

Kalau gak sesuai bisa bayangkan sendiri ya kak sesuai imajinasi kalian...

Visual Azalea Safira, 26 tahun.

Terpopuler

Comments

Fi Fin

Fi Fin

visual nya top bgt thor

2024-06-23

1

Nur Adam

Nur Adam

mntaap visual ny thoor /Drool/

2024-06-04

1

jaran goyang

jaran goyang

𝑏𝑒𝑎𝑡𝑖𝑓𝑢𝑙💞

2024-05-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!