Bab. 10

"Ngapain kamu senyum-senyum begitu? Kamu sedang meledekku, hah?" dengus Kevin.

Pasti saat ini Safira sangat bahagia mendengar dirinya akan dijodohkan dengan wanita lain.

"Lalu apa saya harus menangis dan guling-guling di lantai mendengar anda dijodohkan?" balas Safira tak mau kalah sembari memperlihatkan senyum menyebalkannya pada Kevin.

Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya sana, Safira sedang berteriak tak karuan saking bahagianya.

Sebentar lagi, Safira akan bebas dari belenggu bos arogannya.

"Kamu ini benar-benar minta dihukum dan—" langkah Kevin berhenti saat ponsel Safira kembali bergetar.

Namun kali ini, yang terlihat adalah panggilan dari seseorang tanpa nama. Ataukah Safira memang sengaja tidak menyimpan nomor ponselnya?

"Siapa dia?" tanya Kevin.

"Dia? Maksud anda?" Safira memang tidak mengerti siapa yang Kevin maksud dengan 'Dia'.

"Ingat, jangan pernah berhubungan dengan pria manapun tanpa sepengetahuan aku!" ketus Kevin.

Ia yakin kalau seseorang yang baru sana menelpon dan juga mengirim pesan pada Safira adalah pria.

"Apa anda berniat membeli hidup saya? Bukankah perjanjiannya tidak seperti itu." Safira menusuk-nusuk pisang yang ada di depannya menggunakan garpu. Yang sontak membuat Kevin menelan saliva nya dengan susah payah.

Seakan-akan Safira sedang menunjukkan apa yang akan dia lakukan jika Kevin macam-macam padanya.

"Perjanjian berubah." Kevin memalingkan wajahnya. Mencoba menetralisir rasa gugupnya. "Kamu bebas jika sudah berhasil melunasi semuanya tanpa terkecuali." seringai tipis terukir dari sudut bibir Kevin.

Safira menyimpan sendoknya, kemudian berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Kevin.

"Kamu mau apa?" tanya Kevin sedikit mundur saat Safira semakin mendekat dan menatapnya dengan sorot mata tajam.

"Ini milikku, jadi kembalikan," sahut Safira merebut ponselnya dari tangan Kevin dan berlalu dari sana.

Kevin berbalik, ia bernafas lega karena asisten pribadinya itu masuk ke kamar yang sering Safira tiduri jika Kevin memintanya tinggal.

"Huh! Dia sangat keras kepala. Entah hatinya terbuat dari apa. Sangat susah ditaklukan," ucap Kevin sembari melangkah menaiki anak tangga menuju kamar.

•••

Keesokan harinya...

Safira sudah berada di depan pintu kamar Kevin. Sudah hampir lima belas menit wanita itu berdiri di sana.

Namun, sang pemilik kamar belum menampakkan diri.

"Pasti dia belum bangun. Kebiasaan," gerutu Safira menerobos masuk tanpa mengetuk pintunya lagi.

Safira menggeleng pelan saat melihat Kevin dengan tubuh bagian atasnya yang polos, tengkurap di atas ranjang.

Setiap malam, Kevin memang tidak pernah memakai atasan saat tidur. Itu membuatnya sedikit risih.

"Dia mengejekku dan mengatakan kalau aku ini bocah. Padahal, dia sendiri bocahnya," gumam Safira berjalan ke arah jendela dan menyibak tirainya.

Sinar matahari itu langsung mengarah ke wajah Kevin. "Tutup lagi," pinta Kevin dengan suara seraknya.

"Nyonya sejak tadi menghubungi anda, tapi anda tidak menjawabnya," sahut Safira sembari duduk di tepi ranjang. "Dan saya yang lagi-lagi harus menerima teror dari beliau."

Sungguh, Safira tak habis pikir kenapa sikap Kevin masih sama seperti saat mereka bertemu dulu. Tidak berubah sama sekali.

Hanya bentuk tubuhnya yang lebih tinggi dan juga wajahnya yang sedikit... tampan.

"Nggak, Fir! Kamu mikir apa sih. Dia tetap Kevin yang nyebelin dan suka seenaknya saja sendiri," batin Safira.

Kevin terus memperhatikan tingkah Safira yang sedikit aneh. Pipinya wanita itu tiba-tiba merona.

"Tubuhku memang sangat seksi dan menggoda. Jadi berhenti melihatnya," sahut Kevin berhasil membuat Safira salah tingkah.

"Sejak kapan saya memikirkan tubuh anda? Jangan sok tahu!" elak Safira. Karena memang ia tidak sedang memikirkan tubuh Kevin bukan?

"Haha," tawa Kevin pecah memenuhi ruangan kamar itu. "Lihatlah, pipimu bertambah merah. Aku nggak nyangka ternyata seorang Safira bisa mesum juga."

Safira mengernyit. "Mesum? Saya bahkan tidak berpikir sampai sana."

"Apa susahnya mengaku." Kevin bangun, menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang sembari melirik Safira.

Menggoda wanita itu sekarang menjadi hobi barunya.

"Terserah anda." Safira beranjak dari duduknya. "Pukul delapan kita harus sudah sampai di mansion utama. Nyonya mengundang anda untuk sarapan bersama." lalu hendak pergi dari sana.

"Tunggu," ucap Kevin membuat langkah wanita itu terhenti.

"Ada yang anda butuhkan lagi?" Safira bertanya tanpa menoleh sama sekali.

"Mandikan aku." celetuk Kevin. Berhasil membuat rahang wanita itu mengeras.

Safira masih mematung ditempat. Ingin rasanya ia cepat-cepat keluar dan berlari meninggalkan ruangan ini. Tapi, Safira bisa apa selain menuruti ucapan Kevin.

"Kamu menolak?"

Safira menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. "Tentu saja tidak. Dengan senang hati saya akan memandikan anda," jawab Safira memutar tubuhnya dan tersenyum begitu manis.

Senyum yang belum pernah Safira perlihatkan pada Kevin selama ini.

Bukannya senang, Kevin malah merinding melihat senyuman yang Safira tunjukkan padanya.

"Kenapa perasaanku jadi nggak enak begini," gumam Kevin sembari mengusap tengkuk lehernya.

Terpopuler

Comments

Yuni Setyawan

Yuni Setyawan

Kevin lngsung trs terang aja lah kalo kamu suka sama Safira,🤣🤣🤣🤣,emang gak semudah itu y?🤭🤭🤭

2024-05-18

3

jaran goyang

jaran goyang

𝒍𝒆𝒃𝒂𝒚 𝒌𝒂𝒖

2024-05-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!