"Bagus sekali, Mama menunggumu hampir satu jam dan kamu baru datang?" sahut wanita paruh baya yang masih nampak cantik meski sudah tidak muda lagi.
Kevin berjalan menghampiri wanita yang sedang duduk di meja makan. "Maaf, Ma. Jalanan macet." Lalu mengecup pipi kanan dan kiri wanita itu bergantian.
"Mau Mama kutuk kamu? Ini hari minggu. Nggak mungkin jalanan macet." Violet menarik telinga Kevin hingga memerah. "Urus anak kamu yang nakal ini, Pa." tatapannya beralih pada sang suami yang sedang menyesap kopi.
Tristan melirik Safira sekilas sembari meneguk minumannya. "Safira, duduklah. Kita sarapan bersama," ajaknya.
"Tidak perlu, Tuan. Saya sudah sarapan sebelum datang kemari." Safira menolak. Tentu, ia tidak enak hati berada ditengah-tengah keluarga besar Kevin.
Ditambah lagi, sekarang Safira bukanlah siapa-siapa semenjak ayahnya meninggal. Ia hanyalah gadis miskin yang tidak setara dengan mereka.
"Nggak boleh gitu. Kami sudah menganggap kamu seperti putri kami sendiri, sayang. Jadi, duduklah." Violet beranjak, menarik lengan Safira dan mengajaknya duduk bersama.
Tatapan Violet teralihkan saat melihat tanda merah di leher kanan Safira. "Lho, kamu sudah punya pacar, Fir? Kok nggak bilang sama Tante?"
"P-pacar? Maksud Tante?" Safira mengernyit bingung. Pasalnya dia sendiri belum memiliki kekasih selama ini. Hanya seseorang yang sedang dekat dan mengejarnya.
Semua mata kini tertuju ke arah Safira. Membuat wanita itu sedikit canggung. Ia baru sadar kalau tadi Kevin menggigit lehernya.
"Udahlah. Ngapain malah bahas soal pacar Safira. Nggak penting," ketus Kevin memotong pembicaraan mereka. Ia kesal mendengar ucapan Violet yang mengatakan kalau Safira memiliki kekasih. "Oh, ya. Apa ada hal penting sampai-sampai kalian memintaku pulang?"
"Oh, tentang itu. Mama hampir aja lupa. Kapan kira-kira kamu mau ngenalin pacar kamu sama Mama? Mama udah nggak sabar liat kamu nikah."
Kalimat yang keluar dari bibir Violet berhasil membuat Kevin tersedak kuah sup buatan wanita itu.
"Pak Kevin, pelan-pelan!" seru Safira mendekati Kevin dan memberinya air putih. Dengan sabar, Safira mengusap punggungnya.
"Kalau Mama sama Papa nyuruh aku datang kesini cuma buat nanya hal itu, lebih baik aku pulang," ucap Kevin menepis tangan Safira.
"Pulang kemana ini rumah kamu," sahut Tristan mulai terpancing emosi.
"Tapi aku udah nggak tinggal di sini lagi, Pa. Berhenti ngatur aku seperti Papa dulu ngatur kak Sean," balas Kevin dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Sean berbeda denganmu. Dia sangat susah diatur."
Memang benar apa yang Tristan ucapkan. Sebelum menikah putra pertamanya sering kabur-kaburan.
"Sedangkan, kamu adalah anak Papa yang paling penurut. Papa percaya sama kamu. Papa yakin kamu mau menerima keputusan Papa," ucap Tristan lagi.
"Keputusan?" sahut Kevin dengan dahi berkerut.
"Kami akan menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa." Tristan menggenggam erat tangan istrinya. Ia harap kali ini keputusan yang diambil benar.
Selama ini, Tristan sudah memberikan putranya itu kesempatan untuk mencari wanita yang akan dia nikahi.
Namun, Kevin tak kunjung memberikan keputusan. Bahkan Kevin terkesan acuh dan mengabaikannya. Seolah-olah ucapan Tristan hanyalah angin lalu.
"Papa pikir aku udah nggak laku sampai mau dijodohkan segala?"
"Buktinya, sampai sekarang kamu nggak nikah-nikah," cibir Tristan. "Papa jadi ragu sebenarnya kamu ini normal atau tidak!"
"Papa!" pekik Kevin. Bisa-bisanya Tristan bicara seperti itu didepan wanita incarannya.
Dan paling menyebalkan, Safira sama sekali tak bergeming dan malah asik dengan ponselnya.
"Buktikan kalau kamu itu normal. Temui gadis yang akan Papa jodohkan dengan kamu besok." Tristan berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Kevin dan menepuk pundaknya. "Ingat, jangan pernah coba-coba melawan Papa. Semua yang kamu miliki bisa Papa hancurkan dalam semalam," bisiknya tepat di samping wajah putranya.
Setelah mengatakan itu, Tristan menuju ke lantai atas. Dimana disana ada cucu pertamanya—putri Sean dan Tasya.
"Ma, bantu aku. Aku nggak mau dijodohkan," pinta Kevin dengan wajah memelas.
"Andai saja dulu kamu dengerin ucapan Mama untuk segera membawa kekasihmu bertemu papa, mungkin saja semua ini nggak akan terjadi. Mama bisa apa selain nurut sama papa kamu." Violet menyusul Tristan yang sudah lebih dulu sampai di atas. Meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan apapun lagi.
"Dasar bucin!" geram Kevin. Mamanya sudah pasti membela Tristan. Wanita itu sudah cinta mati dan tergila-gila padanya.
"Argh, sial!" Kevin mengusap kasar wajahnya lalu melirik Safira yang tengah mengangkat kedua bahu acuh padanya.
"Nikah enak kok, Vin. Kamu nggak bakalan menyesal," sahut seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di belakang Kevin.
Kevin dan Safira menoleh kebelakang bersamaan.
"Bang Sean? Ngapain lo di sini?" belum selesai satu masalah, kini muncul masalah baru dimana Safira harus bertemu lagi dengan calon suaminya dulu—Sean Alexander.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Eva Karmita
makanya jangan marah" terus Vin kalau dekat Safira ya jadinya Safira gedek ngak mau tau apa yang kamu rasakan 😩😩
2024-05-19
1
Yuni Setyawan
fira gak dapat kakaknya nanti sama adiknya,sama cakepnya,nanti kan sama bucinnya🤣
2024-05-19
2