"Bagaimana keadaan ibu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Safira pada Kiara, adiknya.
Kiara mengangguk. Seharian ini dialah yang menjaga ibunya selama Safira bekerja. Bahkan, jika Safira tidak pulang sekalipun.
"Bisakah kakak berhenti bekerja dengannya?" sahut Kiara sembari membenarkan selimut ibunya.
Beruntung, wanita paruh baya itu sudah tidur lelap. Jadi, mereka bisa leluasa berbincang tanpa di dengar olehnya.
"Nggak bisa, Ra."
"Meski ibu yang memintanya?" ucap Kiara lagi.
"Ya," balas Safira.
Ada alasan yang tidak bisa Safira katakan mengenai perjanjian antara dirinya dan Kevin. Terlebih lagi setelah sang ayah meninggal. Safira harus membiayai kuliah Kiara dan juga biaya untuk berobat ibunya.
"Aku bisa berhenti kuliah, Kak."
"Terus gimana sama cita-cita kamu?" Safira menghampiri Kiara dan duduk disamping gadis itu. "Kamu ingin jadi dokter seperti ayah, kan?"
Kiara mengangguk sembari menundukkan wajahnya. Selama ini ia sudah terlalu banyak merepotkan kakaknya, Kiara tidak mau lagi menjadi beban.
"Kalau gitu, kamu kuliah yang bener. Urusan biaya dan pengobatan ibu, biar kakak yang cari," ucap Safira dengan berbohong.
Padahal, Kevin sudah membiayai semuanya. Bahkan sampai ibu Safira dinyatakan sembuh. Hanya dengan satu syarat, Safira mau menjadi asisten pribadinya.
Mengurus segala keperluannya tanpa terkecuali dan bahkan rela tinggal apartemen Kevin.
"Astaga, Ra. Aku lupa. Ini jadwal Kevin minum obat." Safira buru-buru bangkit dan menyambar tasnya. "Aku pergi, ya. Nitip ibu."
"Lagi?"
"Maafkan aku, Ra. Mengertilah."
Mau tidak mau Kiara menyanggupi permintaan Safira. Kini, gadis itu hanya bisa melihat punggung sang kakak yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Kak Kevin keterlaluan. Aku ngerasa kalau dia itu terobsesi sama kak Fira," gumamnya.
•••
Tepat pukul delapan malam, Safira sudah sampai di apartemen milik Kevin. Beruntung, saat Safira ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya, Kevin masih tidur.
Jadi, safira bisa leluasa bebas untuk sementara waktu.
"Baru pulang?" sahut seseorang yang tak lain adalah Kevin.
Pria itu berdiri di belakang Safira sembari melipat kedua tangan.
"Sejak kapan anda di sini?" tanya Safira gugup. Ia merasa seperti penjahat yang ketahuan mencuri.
Kevin tak bergeming, seakan dia sedang menunggu penjelasan dari Safira.
"Maafkan saya," kata Safira menundukkan sedikit kepalanya. "Jalanan sedikit macet dan juga... "
"Aku tanya, baru pulang?!" sentak Kevin. Ia paling tidak suka jika Safira mengalihkan pembicaraan.
"Ya," jawab Safira singkat.
Dengan perlahan dan bertumpu pada sofa, Kevin menghampiri Safira. Berdiri di hadapan wanita itu dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Pak..."
"Masuk ke kamar dan segeralah mandi," ucap Kevin tanpa berpaling sedikitpun.
"Anda belum meminum obat," kata Safira menjauhkan tangan Kevin dari wajahnya.
"Kalau begitu malam ini menginap lah," sahut Kevin. Ia tidak mau sehari pun jauh dari Safira.
Pasti sekarang, Safira sedang mencari alasan untuk kembali ke apartemennya dan menolak menginap.
"Saya tidak bisa."
"Nggak bisa kamu bilang?" Kevin berdecak kesal. Ia tidak akan pernah menyerah untuk mengikat Safira. "Kalau begitu, kamu harus membayar semua biaya yang sudah aku keluarkan untuk membiayai pengobatan ibumu yang sangat mahal itu. Berikut bunganya," lanjutnya.
Safira mendongak. Matanya memerah menahan amarah mendengar ucapan Kevin. "Apa anda sedang mengancam saya?"
"Aku hanya membutuhkan asisten yang mau bersamaku selama dua puluh empat jam. Bukan sebaliknya," sahut Kevin menarik Safira, mengajak wanita itu ke meja makan.
"Temani aku makan. Aku sangat lapar. Seseorang menelantarkan aku saat sedang tidur." Kevin menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
Safira menghela nafas dengan kedua mata terpejam beberapa detik lalu mulai meladeni Kevin.
"Duduk dan makanlah bersamaku," titahnya.
"Saya sudah makan," jawab Safira yang malah fokus pada ponselnya. Membuat Kevin menjadi geram karena terus diabaikan.
Prang!
Bunyi pecahan gelas yang menyatu dengan lantai membuat Safira tersentak kaget.
Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Kevin. Si bos arogan menyebalkan. Yang dengan begitu entengnya bertindak sesuka hati.
"Hanya menyuruhmu untuk makan kenapa harus beradu mulut lebih dulu? Dan juga... " Kevin merebut ponsel milik Safira. "... lain kali, jangan mengaktifkan benda sialan ini saat kamu sedang menemaniku."
Setelah mengatakan itu, Kevin bangkit dari duduknya sembari membawa ponsel milik Safira.
Kevin mengernyit saat melihat pesan yang tertera di layar notifikasinya.
[Besok malam, aku akan menjemputmu]
Hanya itu yang terlihat, selebihnya Kevin tidak bisa membuka ponsel Safira karena menggunakan sandi wajahnya.
"Dasar bocah," ejek Kevin.
"Terserah anda," ketus Safira memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya. "Nyonya meminta anda kembali ke mansion utama."
"Untuk apa? Katakan saja kalau aku —"
"Nyonya ingin menjodohkan anda," sahut Safira.
"What? Dijodohkan?!" pekik Kevin dengan bibir menganga lebar.
Sementara Safira, wanita itu tersenyum dalam hati. Kalau Kevin dijodohkan bukankah dia akan bebas dari bos arogan nya ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Siti Amyati
yakin nich Safira rela di bos di jodohkan,lanjut kak
2024-05-19
2
jaran goyang
𝒕𝒑 𝒔𝒚𝒈 𝒏𝒚 𝒕𝒅𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒇𝒊𝒓𝒂🤣🤣🤣
2024-05-18
1
jaran goyang
𝒔𝒖𝒅𝒖𝒕 𝒌𝒌 𝒎𝒆𝒚 𝒃𝒌𝒏 𝒔𝒖𝒔𝒖𝒕
2024-05-18
1