"Selamat siang, Nona Chelsea," ucap Safira. Menyapa seseorang yang saat ini sedang berdiri di depan pintu ruangan Kevin.
"Hmm. Dimana bos mu? Kenapa belum terlihat?" tanya Chelsea melirik Safira tak suka.
Wanita dengan kulit seputih susu, tubuh semampai dan menggoda itu hendak masuk ke dalam. Namun, ditahan oleh Safira.
"Anda tunggulah sebentar. Saya akan menanyakan pada tuan Kevin kalau anda sudah--"
"Nggak perlu. Aku ada di sini," sahut Kevin yang sudah berdiri di ambang pintu.
Entah sejak kapan pria itu muncul. Yang jelas kemunculan Kevin membuat Safira sedikit tak suka.
Bukankah dia sendiri yang menolak bertemu dengan Chelsea. Lalu, kenapa sekarang dia malah keluar?
"Pak Kevin, sudah lama ya kita tidak bertemu." wanita itu mendorong Safira kemudian mendekati Kevin. Memeluk lengannya dan menggesekkan dadanya. "Anda pasti belum makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Anda mau?"
Kevin melirik Safira yang nampak sedang membenarkan kacamatanya.
"Boleh," jawab Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari sang asisten.
"Yes," pekik Chelsea dalam hati.
"Tapi dengan satu syarat," ucap Kevin lagi.
"Syarat?"
"Aku ingin mengajak asisten pribadiku. Jik dia tidak pergi maka aku tidak akan pergi." Kevin menyingkirkan tangan Chelsea yang sejak tadi bergelantungan manja padanya. "Dan juga, aku tidak suka ada yang menyentuhku tanpa izin dariku."
Raut wajah Kevin berubah dingin. Sedingin kutub. Jauh dalam lubuk hatinya ia marah karena Safira masih saja mengacuhkannya.
Sementara Safira, wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar permintaan Kevin.
"Jadi, bagaimana? Kamu mau ikut makan siang?" tanya Chelsea pada Safira.
"Sebenarnya, saya..."
"Atau kamu mau kerja sama kita batal?" Chelsea mendekati Safira dan berbisik lirih. Apa yang dia lakukan tidak luput dari pengawasan Kevin.
"Ya, baiklah. Saya akan ikut makan dengan kalian."
Akhirnya Safira mengalah. Ia akan melakukan apapun agar bisnis Kevin tetap berjalan dengan baik. Meski melakukan sesuatu yang tidak ia suka sekalipun.
****
Saat ini mereka bertiga sudah berada di kafe yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan.
Kafe dimana biasanya banyak karyawan menghabiskan waktu penat mereka setelah bergelut dengan berkas kantor.
"Duduklah."
"Maaf, Pak. Saya duduk di meja lain saja."
Safira menolak. Ia tidak mau menganggu makan siang Kevin dan rekan bisnis pria itu. Ia tahu kalau selama ini Chelsea mengincar atasannya.
"Kamu membantahku?"
"Maaf, saya tidak berani."
"Kalau begitu duduk!" kali ini Kevin bicara dengan meninggikan sedikit suaranya.
Ia menarik pergelangan tangan Safira, menariknya hingga wanita itu duduk di sampingnya.
"Pak..."
"Diam, atau kamu mau aku cium?" ancam Kevin sembari berpura-pura merapikan anak rambut Safira dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Dasar tukang ngancam!" kata Safira dalam hati.
Kemesraan mereka berdua tak luput dari perhatian Chelsea. Wanita itu mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Pak Kevin, anda ingin memesan apa? Biar saya yang mentraktir." Chelsea mengalihkan perhatian Kevin. Tapi, tetap saja Kevin tidak mau berpaling dari Safira.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kevin pada Safira. "Atau kamu mau makan makanan yang sama sepertiku?" lanjutnya.
Safira memejamkan matanya kesal. Apa saat ini Kevin sedang menumbalkan dirinya?
"Fira, aku sedang bicara padamu," ucap Kevin.
"Terserah anda." ketus Safira memilih memalingkan wajahnya kearah lain.
Tak lama setelan pesanan mereka datang, Chelsea berpindah posisi. Meminta Safira bertukar tempat dengannya.
Safira mengangguk. Saat akan berdiri, dengan sengaja Chelsea menumpahkan sup hangat dan sialnya, sup tersebut malah mengenai lengan Kevin.
"Pak Kevin!" pekik mereka berdua bersamaan.
"Shit! Dimana kamu taruh matamu itu, hah?!" teriak Kevin mengibas-ngibaskan tangannya. Ia mendongak, menatap tajam rekan bisnisnya itu. "Aku akan membersihkannya."
Kevin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke toilet. Membawa Safira bersamanya. Meninggalkan Chelsea seorang diri.
"Dia mengacuhkan aku?" wanita itu berdecak kesal.
*****
"Anda tidak apa-apa? Mana yang sakit? Sebaiknya kita segera ke dokter."
Safira mengambil tisu basah dari dalam tasnya. Mengelap kemeja Kevin.
"Kulit anda memerah," ucap Safira lagi.
Kevin tak bergeming. Melihat Safira perhatian seperti ini padanya sudah membuat hatinya berbunga-bunga.
"Pak, mari kita ke rumah sakit."
"Nggak perlu. Nanti juga sembuh," sahut Kevin mengangkat tangan kirinya, meletakkannya di pipi Safira.
Mengusap bibir menggoda milik Safira dengan ibu jarinya.
"Apa boleh aku menciummu?"
Perlahan, usapan itu beralih ke belakang telinga dan berakhir di tengkuk lehernya.
"A—apa anda bilang? Cium—" belum sempat Safira melanjutkan ujarnya, Kevin sudah lebih dulu menyatukan bibir mereka berdua.
Ciuman itu sangat singkat, tetapi terasa begitu memabukkan. Membuat Kevin candu hingga ingin mencicipinya lagi dan lagi.
Berbeda dengan Safira, wanita itu sama sekali tak menolak seperti biasanya. Yang paling menyebalkan, Safira mulai membalasnya.
Apa karena ia sudah terbiasa dengan perlakuannya selama ini?
"Ini salah, Fira. Salah!" batin Safira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
+86
lanjut firaaaa 🌚🌚🌚
2024-05-21
0
jaran goyang
𝒄𝒊𝒊𝒊𝒊𝒆𝒆𝒆𝒆𝒆𝒆𝒆 𝒖𝒅 𝒎𝒖𝒍𝒂𝒊 𝒌𝒎 𝒇𝒊𝒓🤣🤣👏👏👏🤣👏🤣🤣🤣
2024-05-21
1
jaran goyang
𝒌𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏...𝒄𝒓 𝒎𝒖𝒓𝒉𝒏....𝒘𝒏𝒕 𝒎𝒖𝒓𝒉𝒂𝒏...𝒐𝒃𝒓𝒂𝒍 𝟓 𝒓𝒃 𝒛 𝒈𝒌 𝒍𝒂𝒌𝒖 𝒌𝒂𝒖
2024-05-21
1