"Dasar menyebalkan!" umpat Kevin membawa Safira masuk ke ruangannya dan menutup kasar pintunya.
Lalu, tatapannya kini tertuju ke arah Safira. Dimana wanita itu nampak biasa-biasa saja.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu diam saja saat dia mencium tanganmu, hah?!" ucap Kevin sedikit meninggikan suaranya.
Pria itu sudah tidak bisa membendung emosinya yang sudah meledak-ledak.
"Itu bukan masalah besar. Kenapa anda marah-marah seperti ini?" sahut Safira berjalan menuju ke meja kerjanya yang berada satu ruangan dengan Kevin. "Bapak harus ingat, kita dituntut untuk bekerja dengan profesional. Jangan pernah mencampur adukan urusan pekerjaan dan pribadi," lanjutnya meraih gagang telepon.
Safira berniat menghubungi Ryan untuk meminta maaf.
"Kamu mau apa? Aku sedang mengajakmu bicara, Safira!" Kevin menjatuhkan bokongnya di sofa dengan bibir yang terus mengumpat sejak tadi.
"Menelfon tuan Ryan," jawabnya datar.
Apa wanita ini bilang? Ingin menghubungi Ryan? Apa dia sudah tidak waras?!
Hatinya saja masih panas melihat punggung tangannya dicium pria itu. Malah dengan terang-terangan, Safira ingin meneleponnya.
"Letakkan benda itu!" pinta Kevin tak mau dibantah.
"Saya sudah terlanjur menekan nomor ponselnya," sahut Safira tanpa beban. Ia lalu berpaling ke arah lain.
"What?" pekik Kevin dengan bibir menganga lebar. Ingin sekali Kevin membawa Safira ke atas ranjang dan mengikat wanita dengan sikap sedingin es itu.
Supaya Safira tidak seenaknya bertindak tanpa izin darinya.
"Halo, Tuan Ryan," sapa Safira memelankan suaranya. "Saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi beberapa saat lalu. Saya harap anda memakluminya."
Ryan nampak tertawa dari seberang sana mendengar ucapan Safira. Bukankah seharusnya Kevin yang meminta maaf, kenapa malah asisten pribadinya?
"Tidak masalah. Saya hanya sedikit terkejut dengan sikap tuan Kevin. Ternyata rumor di luaran sana benar adanya."
Safira mengernyit. "Maksud anda?'
Sungguh wanita itu sama sekali rumor apa yang tengah beredar di kantornya.
"Hei, tenanglah. Aku hanya bercanda, Nona."
Safira tersenyum canggung. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
"Em... terima kasih atas pengertian anda," kata Safira sembari menggigit bibirnya sendiri. "Sepertinya saya harus mengakhiri obrolan ini, Tuan."
"Baiklah. Selamat beristirahat, Safira."
Setelah mendengar jawaban dari Ryan, Safira langsung berbalik menatap sang bos yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Anda puas? Bagaimana kalau seandainya tuan Ryan tidak mau bekerja sama karena ulah anda? Semua usaha dan kerja keras kita bisa hancur begitu saja!"
Kevin berdecak sebal. Lihatlah, wanita ini berani membentak dirinya hanya demi pria asing.
"Berikan tanganmu!" titahnya.
"Untung apa? Tangan saya baik-baik saja," elak Safira menepis tangan Kevin. "Kecupan itu bahkan tidak membuatnya berlubang," ketus Safira.
"Nggak dengar aku bilang apa? Cepat mendekat dan berikan tanganmu padaku!" ulang Kevin tanpa mau dibantah.
Safira mengangguk paham. Ia berjalan menghampiri Kevin dan duduk disamping bosnya itu.
Kevin menyambar tisu basah lalu mengusap kasar punggung tangan Safira. Berharap sisa kecupan Ryan tadi tidak tertinggal.
"Setelah ini mandilah lumpur," celetuk Kevin tiba-tiba.
"Lumpur?"
"Tanganmu ternoda. Pria brengsek itu sangat berani, aku gak suka!" Kevin akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
"Ayolah, Pak. Hal seperti ini sudah biasa terjadi," ucap Safira mencoba menenangkan Kevin.
Namun siapa sangka kalau kalimat yang keluar dari bibir Safira berhasil membuat Kevin kembali terpancing emosi.
Pria itu beranjak dari duduknya lalu menarik pergelangan tangan Safira. Mengusap bekas kecupan Ryan dengan kasar menggunakan kemejanya.
"Pak Kevin, hentikan!"
"Akan aku tunjukkan padamu apa hal biasa itu." Kevin langsung mencium punggung tangan Safira dan menggigitnya kuat.
Membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Apa yang anda lakukan, lepaskan, sakit... " lirih Safira dengan nada memohon.
Safira mencoba menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman Kevin.
Tapi nihil, genggaman itu begitu kuat. Rasanya sangat perih dan sakit bersamaan jadi satu.
"B—baiklah, saya minta maaf. Tolong lepaskan!"
Mendengar penuturan Safira, Kevin pun langsung melepaskan gigitannya. Lihatlah pria itu sudah mulai cemburu buta.
"Gimana? Apa yang aku lakukan barusan menurutmu biasa, hum?" sahut Kevin dengan seringai tipis yang terukir di sudut bibirnya.
Safira mengibaskan tangannya sembari memutar bola mata malas. "Anda sudah gila," ucapnya lalu bangkit dari sofa.
Langkah Safira terhenti mendengar Kevin memanggil namanya.
"Ingat Safira, selama kamu bekerja denganku. Jangan pernah macam-macam ataupun berani terlibat hubungan dengan siapapun. Atau aku gak akan segan-segan untuk memberhentikan biaya pengobatan ibumu," bisik Kevin tepat di samping wajah wanita itu.
Safira meremas jari-jari tangannya kemudian pergi dari sana. Berada di dalam ruangan bersama Kevin cukup membuatnya sesak nafas.
"Sial! Apa yang sudah aku lakukan!" Kevin mengusap wajahnya mengingat perlakuan kasarnya pada Safira beberapa menit lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
YELLOW
safira itu anaknya dokter daniel bkn sih ??
2024-05-15
1
Eva Karmita
mbak Safitri mas Kevin cemburu tu 🙈🙈😍😍
2024-05-15
1
Isti Jatisari
heheheee Kevin cemburu
2024-05-15
1