“Dimana sarapanku?” tanya Kevin pada Safira. Wanita itu nampak sedang serius dengan laptop di pangkuannya.
Kevin sengaja mengalihkan fokus Safira, karena sejak tadi dia terus mengabaikannya, seakan-akan Kevin hanyalah butiran debu yang tak terlihat.
“Ada di atas meja makan,” sahut Safira. “Dua potong sandwich dan susu hangat seperti kemauan anda,” ucap Safira lagi.
Kevin berdecak kesal. Bukan ini yang dia inginkan. Dia mau diperhatikan. Kenapa rasanya susah sekali mengatakan hal itu.
Kevin melangkah menghampiri Safira, lalu menyodorkan dasi padanya. “Pakaikan,” titah Kevin.
Gerakan jari-jari lincah Safira di laptop terhenti. “Apa anda tidak bisa memakainya sendiri? Tangan anda sakit? Sejak kapan?” tanya Safira tanpa menoleh sama sekali ke arah Kevin.
“Mau membantahku?” sorot mata tajam itu terus tertuju pada Safira.
“Ya, baiklah.” tanpa mengeluarkan kalimat protes lagi, Safira meletakkan laptopnya dan bergegas bangkit.
Kini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.
“Kenapa lama sekali? Kita hampir terlambat,” ucap Kevin sengaja menggoda asistennya itu.
“Bisakah anda membungkuk? Saya sedikit kesusahan memakaikannya,” balas Safira.
Kevin menggeleng. Mana mungkin ia akan menuruti ucapan Safira. Wanita itu yang harus menuruti kemauannya.
“Punggungku sakit,” ucap Kevin sembari menahan tawanya. Selain arogan dan menyebalkan, pria ini mulai pandai berbohong.
Tak kehabisan akal, Safira melepaskan high heelsnya. Naik ke sofa, kemudian menarik kerah kemeja Kevin.
“Hei, apa yang kamu—”
“Memakaikan dasi anda,” sahut Safira lebih dulu memotong ucapan Kevin sebelum pria itu memakinya.
Kevin hanya diam sembari memperhatikan apa yang Safira lakukan. Kedua manik matanya, kini tertuju pada bibir merah nan menggoda milik wanita itu.
“Shit!” umpatnya dalam hati.
Berada didekat Safira seperti ini membuatnya tidak bisa menahan diri. Sayangnya, wanita ini sangat sulit ditaklukan.
Padahal, jika Kevin mau banyak perempuan di luar sana yang berlomba untuk mendapatkan hatinya.
Namun, Kevin terlalu jual mahal. Dia menginginkan Safira, asisten dengan sikap sedingin es yang sulit dicairkan.
“Saya memundurkan jadwal rapat setengah jam lagi,” kata Safira melingkarkan dasi itu di leher Kevin.
“Apa berkas-berkasnya sudah siap?” tanyanya.
Safira mengangguk sembari merapikan dua kancing kemeja Kevin yang terbuka.
“Sudah selesai. Silahkan anda sarapan lebih dulu. Saya akan menunggu di mobil,” ucap Safira hendak turun dari sofa.
Belum sempat Safira melakukannya. Kedua tangan kekar menahan pinggangnya dan memeluk Safira erat.
“Pak... ”
“Kenapa?” Kevin menaikkan satu alisnya.
“Tangan anda,” ucap Safira ragu-ragu. “Waktu kita tidak banyak. Berhentilah bermain-main.”
Bukannya menjauh, Kevin malah semakin mendekatkan tubuh mereka. Lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Safira.
Menikmati aroma vanilla yang keluar dari tubuh wanita itu.
“Bisakah kamu menunda rapatnya nanti siang?” lirih Kevin. Tubuhnya mulai terasa panas.
“Tidak bisa. Anda sudah terlalu sering memundurkan rapat. Ini sangat berpengaruh untuk perusahaan.” tegas Safira mendorong pelan pundak Kevin agar menjauh.
“Fira, aku... ”
“Ingat, sarapan anda ada di atas meja,” ucapnya datar sembari turun dari sofa. Ia menyambar laptop dan beberapa berkas milik Kevin lalu pergi.
Langkah Safira tiba-tiba terhenti. Mendengar ponsel miliknya bergetar.
Safira melirik Kevin.
“Saya terima panggilan dulu, permisi.”
“Angkat saja di sini. Temani aku makan,” ucap Kevin duduk sembari menggigit sepotong sandwich.
“Tapi—”
“Sekarang!” tekannya.
Safira menghela nafas. Mau tidak mau, ia terpaksa mengangkat panggilan dari seseorang itu di hadapan Kevin.
“Kenapa lama sekali mengangkatnya? Sudah sarapan?”
“Sudah. Kenapa menghubungiku pagi-pagi begini?” tanya Safira. Ia tak mau dianggap tidak bekerja dengan profesional karena menyangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
“Aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Tidak bisa. Aku sibuk hari ini,” jawab Safira. Ia memang sangat sibuk apalagi jika sudah berurusan dengan Kevin.
Melihat gelagat Safira dengan seseorang itu membuat Kevin penasaran. Dengan siapa wanita itu bicara?
Kevin memasang telinganya lebar-lebar.
“Bagaimana kalau malam ini aku jemput. Bisa, kan?”
Kevin mengeraskan rahang dengan tangan terkepal kuat mendengar samar-samar suara pria bicara dengan Safira.
“Baiklah, aku usahakan,” jawab Safira.
Brak!
Suara gebrakan meja membuat Safira cepat-cepat menutup sambungan ponselnya dengan sepihak, tanpa menunggu seseorang di seberang sana selesai bicara.
“Kita berangkat sekarang,” ucap Kevin menatap datar Safira.
“Tunggu, Pak. Habiskan dulu sarapan anda.” Safira menahan lengan Kevin.
“Aku udah gak mood!” Kevin menepis tangan Safira.
Melihat kepergian Kevin, bukannya menyusul, Safira malah berbalik menuju ke arah meja makan.
Memasukkan makanan itu ke dalam kotak bekal. Ia pastikan kalau Kevin menghabiskannya nanti.
“Setidaknya kamu harus sarapan. Dasar menyebalkan,” gerutu Safira mengingat bagaimana seorang Kevin ketika sedang sakit. Manjanya seperti anak Tk.
Cie ngambek nie yee🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Alifah Azzahra💙💙
Bos yg Manja 🤣🤣
2024-12-04
0
Amelia
manja banget sih 😠😠
2024-05-16
0
Yuni Setyawan
AQ kita Safira itu dokter🤭🤭🤭
2024-05-14
1