Kerajaan Negara Api
Saat mendengar kabar kepulangan Pangeran Shieru, orang-orang tidak sabar menyambut kedatangannya. Ya, 12 tahun yang lalu ketika Putri Kamiai lahir, ia pun dikirim ke akademi untuk menerima pendidikan sesuai tradisi yang berlaku.
Di sana ia menjalani kehidupan yang berbeda dengan istana, seperti yang dialami Putri Kamiai saat ini bersama anak-anak lainnya.
Dan seiring berjalannya waktu, Pangeran Shieru tumbuh menjadi pria berbakat membuatnya menjadi murid terbaik di akademi. Kabar mengenai prestasinya pun telah menyebar luas ke penjuru negeri.
......................
Ruang Kenegaraan
‘’Yang Mulia tidak perlu mondar-mandir seperti itu. Pangeran Shieru masih lama tiba di istana,’’ kata Ratu.
Raja Api menggelengkan kepala. ‘’Kakiku tidak bisa diam.’’
‘’Tapi aku yang melihatnya merasa pusing,’’ kata Ratu.
Saat itu juga sang raja langsung duduk di sampingnya. ‘’Kenapa tidak bilang dari tadi? Apakah masih sakit? Bagian mana yang pusing? Aku akan memijatnya.’’
‘’Tidak perlu. Yang ada kepalaku akan semakin tambah sakit,’’ kata Ratu.
‘’Eh? Seburuk itu?’’ tanya Raja Api.
‘’Sangat buruk,’’ jawab Ratu tanpa ragu.
‘’Kalau begitu, aku sudah gagal menjadi pria. Aku tidak pantas hidup lagi,’’ kata Raja Api.
Ratu menghela nafas sambil menggelengkan kepala sebelum akhirnya memilih pergi dari sana.
‘’Habislah, suda—eh? Ratu? Kau mau ke mana? Ratu! Tunggu aku,’’ kata Raja Api berlari kecil mengejarnya.
......................
[Dunia Dewa]
‘’Sepertinya anak itu menyukai Dewi Cinta, sampai memanggil saudaranya dengan sebutan kakak ipar,’’ kata Dewa Petir.
‘’Dia adalah Dewi Cinta, siapa yang tidak akan menyukainya?’’ kata Dewi Mimpi.
‘’Jika saja Dewa Iblis tidak muncul lagi, maka Dewi Cinta tidak perlu mengambil keputusan untuk turun ke bumi,’’ kata Dewa Petir.
Dewa Waktu tersenyum. ‘’Dewi Cinta meninggalkan Dunia Dewa, itu semua sudah kehendak Langit. Kita hanya bisa mengikutinya.’’
......................
[Dunia Manusia]
Tampak dua anak laki-laki menyusuri akademi sambil menatap ke sekitar.
‘’Dia tiba-tiba menghilang ke mana?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Mana aku tahu? Makanya kita mencarinya,’’ jawab Satan.
Riruru yang tidak sengaja melihat kedua anak itu dari jauh pun menghentikan langkahnya.
‘’Ada apa?’’ tanya Arisu.
‘’Lihat di sana,’’ tunjuk Riruru.
‘’Itu Ozora dan … Anak pembawa sial,’’ kata Rokimaru.
Pangeran Aoi mengerutkan dahi saat melihat Pangeran Midoriha mengatupkan kedua tangan sambil memejamkan mata. ‘’Apa lagi yang kau lakukan?’’
‘’Mendoakan jiwa Ozora,’’ jawab sang Pangeran.
‘’Dia belum mati, untuk apa menyucikan jiwanya?’’ habis pikir Pangeran Aoi.
‘’Kami juga akan mengikuti Pangeran untuk mendoakan Ozora yang disucikan,‘’ kata Ishizawa diangguki Eri.
......................
Sementara itu di tempat lain, Putri Kamiai duduk sambil memeluk kedua lututnya. ‘’Padahal aku sangat berharap bisa menghabiskan waktu bersama kakak setelah datang kemari. Tapi, kakak malah pergi lagi.’’
Ia mendongakkan kepala melihat langit mendung sambil menghela nafas sesekali. ‘’12 tahun … Itu masih sangat lama. Haa….’’
‘’Eh? Apa yang dilakukan Tuan Putri di sini?’’
Putri Kamiai menoleh dan saat itu juga wajahnya menjadi kusut. ‘’Pengganggu ini lagi.’’
‘’Kenapa menyendiri di sini? Di mana dua anak itu?’’ tanya Banri.
Sang putri tidak menjawab dan berdiri sebelum meninggalkan tempat itu.
‘’Tuan Putri, apa kau bisu?’’ tanya Banri membuat anak perempuan tadi langsung menoleh ke arahnya.
‘’Jaga mulutmu anak kurang ajar,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Lalu kenapa tidak menjawab saat ditanya?’’ senyum Banri.
‘’Aku tidak bicara kepada sembarang orang. Apalagi pengganggu sepertimu,’’ balas Putri Kamiai.
Banri mengerutkan dahi. ‘’Pengganggu? Aa, mengenai anak pembawa sial itu, ya?’’
‘’Hei, sudah kubilang jangan memanggilnya seperti itu,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tuan Putri, kenapa kau begitu membelanya? Apakah karena kejadian di kota saat Festival Hanabi? Hari itu aku melihatnya ketika Tuan Putri melindungi anak pembawa sial itu,’’ kata Banri.
‘’Lalu?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Selama ini tidak ada yang berani mendekatinya karena takut tertimpa kesialan. Tapi, kau adalah orang pertama yang menghampirinya. Apakah tidak takut mengalami nasib buruk?’’ tanya Banri.
‘’Aku tidak peduli. Satan adalah temanku dan akan tetap seperti itu,’’ kata Putri Kamiai sebelum berbalik dan pergi dari sana.
Banri memasang wajah kusut. ‘’Dia benar-benar keras kepala.’’
......................
Putri Kamiai menggerutu sambil menendang kerikil sesekali tanpa peduli berjalan kemana.
‘’Memang apa masalahnya kalau dia anak pembawa sial? Sampai sekarang tidak ada yang terjadi padaku selama berada di dekatnya. Tertimpa kesialan dan mengalami nasib buruk, heh? Dasar.’’
‘’Ketemu! Kau dari mana saja? Tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Kenapa kau terlihat kesal?’’ tanya Satan.
‘’Habis bertemu pengganggu itu lagi,’’ jawab Putri Kamiai.
‘’Pengganggu? Aa! Banri? Kenapa dia selalu saja ada di mana-mana?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Kau sendiri kenapa banyak tanya dari tadi?’’ habis pikir Satan.
‘’Tidak usah pedulikan aku,’’ kata Pangeran Ozora.
Kedua anak itu kembali menatap sang putri yang terdiam sambil menunduk.
‘’Sekarang, kenapa wajahmu menjadi murung?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Sudah jelas karena Pangeran Negara Api pulang,’’ jawab Satan.
‘’Aku tidak bertanya padamu,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Hm, sudah baik Yang Mulia ini mau menjawabnya,’’ kata Satan.
Putri Kamiai yang melihatnya menghela nafas dan menuju ke kursi teras.
Pangeran Ozora menggaruk kepala belakangnya. ‘’Aku tidak pernah menghibur orang. Bagaimana cara melakukannya?’’
Satan menatap ke sekitar sebelum menemukan sesuatu.
‘’Hei, mau ke mana?’’ tanya Pangeran Ozora.
Putri Kamiai menatap tanah sebelum sebuah tangan terulur memegang rumput. Ia pun mendongakkan kepala sambil mengerutkan dahi. ‘’Memangnya aku seekor sapi sampai memberiku rumput?’’
‘’Kita dilarang memetik bunga di akademi ini, jadi aku mencabut yang ini saja,’’ kata Satan.
‘’Tapi ini rumput, bukan bunga,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Rumput atau bunga apa bedanya? Keduanya sama-sama jenis tumbuhan. Seharusnya kau berterima kasih kepada Yang Mulia ini,’’ kata Satan.
‘’Bisakah kau tidak perlu menyebut dirimu sebagai Yang Mulia terus?’’ tanya Pangeran Ozora.
Satan menggeleng sambil memainkan jari telunjuknya. ‘’Oh tidak bisa. Jika aku berhenti, nanti apa kata dunia?’’
Pangeran Ozora memasang wajah bodoh. ‘’Memang apa hubungannya dengan dunia? Lupakan, ini juga dariku.’’
‘’Satu helai bulu?’’ tatap Putri Kamiai dengan wajah tertekan sebelum akhirnya menghela nafas disertai senyuman.
Ia kemudian menatap kedua anak laki-laki tadi. ‘’Arigatou(Terima kasih).’’
‘’Tapi saat ini kita ada di mana? Aku dan Satan hanya terus menyusuri jalan sampai akhirnya tiba di tempat ini,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Aku juga tidak tahu,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Lalu kenapa kau bisa ada di sini?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Sama seperti kalian. Aku menyusuri jalan tanpa sadar hingga akhirnya tiba di sini,’’ jawab Putri Kamiai.
Ketiga anak itu saling bertatapan. ‘’Itu artinya kita tersesat sekarang.’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
GemiNoSa
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
2024-05-06
4
Pisces Aprodithe
sejak kapan bunga dan rumput sekelas?aduh bengek sama kelakuan para tokoh disini
2024-05-01
6
Pisces Aprodithe
ngakak dah
2024-05-01
5