Dapur
Satan meletakkan tumpukan piring sebelum menyeka darah di dahinya menggunakan lengannya.
Tidak lama kemudian Putri Kamiai juga datang. ‘’Dia benar-benar sudah kelewatan. Ayo adukan perbuatannya kepada Yoi Sensei.’’
‘’Sudah kubilang tidak usah hiraukan mereka,’’ kata Satan.
‘’Anak-anak mengucilkanmu dan Banri selalu mengganggumu. Kenapa kau hanya diam saja?’’ habis pikir Putri Kamiai.
‘’Tidak masalah. Lagi pula, aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Bisa makan dan mendapatkan tempat tinggal saja sudah cukup,’’ kata Satan.
‘’Hm? Terbiasa diperlakukan seperti ini?’’ bingung Putri Kamiai.
‘’Berhenti mengomel dan buat tanganmu juga ikut bekerja,’’ kata Satan.
‘’Tapi obati dulu lukamu,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tidak perlu. Ini akan sembuh dengan sendirinya nanti,’’ kata Satan.
‘’Kau ini benar-benar anak yang keras kepala,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Yang Mulia ini akan menganggapnya sebagai pujian,’’ kata Satan membuat sang putri menghela nafas.
......................
Beberapa saat yang lama kemudian setelah pekerjaan di dapur selesai, kedua anak itu kembali ke penginapan.
Begitu tiba di depan pintu, para anak yang berbincang langsung diam saat melihat kedatangan mereka.
Satan dan Putri Kamiai menghampiri lemari rak untuk mengambil kasur mereka tanpa peduli dengan tatapan semua orang, lalu kembali berjalan keluar.
‘’Oee, kenapa kau masih bersih keras untuk tidur di sini? Mereka hanya menyuruhku, kau bisa tidur di dalam,’’ kata Satan.
‘’Mau tidur di dalam atau di luar tetap saja baringnya di lantai. Jadi, apa bedanya?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Hm,’’ jawab Satan yang duduk bersandar di dekat pintu.
Putri Kamiai yang selesai merapikan kasurnya agar tidak menghalangi jalan pun melirik Satan sebelum mengikuti arah pandangannya. ‘’Kau sedang melihat apa?’’
‘’Melihat ajal kematianku! Banyak tanya sekali. Sudah jelas aku melihat bulan,’’ kata Satan.
‘’Mulutmu kurang ajar seperti biasa,’’ kata Putri Kamiai.
......................
Hari berikutnya, giliran kelompok Putri Kamiai yang mencuci pakaian dan saat ini mereka duduk berjejeran di depan keran.
Tidak lama kemudian keduabelas anak itu menuju ke tempat penjemuran. Sesekali, Pangeran Ozora melirik Satan dan Putri Kamiai yang berbincang seperti biasa.
Pangeran Midoriha yang melihatnya mengikuti pandangan anak laki-laki seumurannya itu.
‘’Cepatlah, kenapa kau begitu lama?’’ tanya Satan yang selesai lebih dulu.
‘’Sabar! Ini pakaian yang terakhir,’’ kata Putri Kamiai.
Setelah selesai, Satan pun berjalan pergi membuat sang putri mengejarnya sambil menggerutu.
......................
Aula Benkyo
Sambil mendengar penjelasan yang dipaparkan guru Yoi di depan, Pangeran Midoriha menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, melihat Pangeran Ozora sedang menatap Satan dan Putri Kamiai yang saling menulis sesuatu di kertas.
Ia kembali menoleh ke depan disertai alis berkerut sebelum ikut menulis sesuatu di kertas juga.
Untuk sesaat sang pangeran menatap guru Yoi. Begitu sang guru membelakangi mereka, ia pun mengopor kertas ke meja di samping belakangnya.
Pangeran Ozora mengerutkan dahi melihat kertas itu lalu membukanya. Tidak lama kemudian, ia menatap Pangeran Midoriha dengan mata terbelalak.
‘’Baiklah, materinya cukup sampai di sini dulu. Sekian,’’ kata Guru Yoi sebelum berjalan pergi sambil para murid merapikan buku.
Pangeran Ozora langsung menghampiri anak laki-laki tadi. ‘’Hei, jangan beritahu yang lain tentang hal ini atau aku akan menghajarmu.’’
Pangeran Midoriha melotot sebelum akhirnya mengangguk mengerti.
......................
Matahari mulai bergeser sedikit demi sedikit, dan saat ini semua anak kembali berkumpul di tempat latihan, sedangkan Putri Kamiai menjalani latihannya sendiri di tempat lain.
Push! Bugh!
‘’Hentikan!’’
Teriakan itu membuat Putri Kamiai menarik tangannya.
Ninshu mengibaskan lengan bajunya. ‘’Sudah kubilang untuk tetap fokus. Apa kau berniat meledakkan tempat ini?’’
‘’Maaf Sensei,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Padahal kakakmu sangat berbakat, tapi kenapa adiknya malah seburuk ini? Aku benar-benar tidak percaya kalian berdua bersaudara,’’ kata Ninshu.
‘’Sensei mengenal kakakku?’’ tanya Putri Kamiai.
Ninshu mengerutkan bibir. ‘’Siapa yang tidak mengenal murid terbaik akademi ini?’’
‘’Aku mencarinya tapi tidak menemukannya. Kakakku orang seperti apa?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Dia orang yang menyebalkan,’’ jawab Ninshu langsung.
Putri Kamiai mengerutkan dahi. ‘’Eh?’’
‘’Sejak kecil dia sudah berbakat, dikelilingi banyak wanita, lalu menjadi murid terbaik di akademi, dan sekarang tumbuh menjadi pangeran yang tampan. Dia memiliki semuanya, bukankah itu tidak adil?’’ habis pikir Ninshu.
‘’Ternyata perasaan cemburu,’’ kata Putri Kamiai dengan wajah bodoh.
‘’Hei, aku mewakili para pria angkatanku di luar sana,’’ tegur Ninshu.
‘’Kau diminta untuk melatihnya, bukan malah curhat.’’
Putri Kamiai dan Ninshu menoleh secara bersamaan setelah mendengar suara tadi.
......................
[Dunia Dewa]
Dewi Ruang menyusuri jalan hingga menemukan orang yang ia cari sejak tadi, membuatnya menghampiri sosok tersebut. ‘’Ternyata kau di sini.’’
‘’Ada apa mencariku?’’ tanya Dewa Waktu.
‘’Aku agak khawatir dengan Dewa Perang. Semenjak Dewi Cinta turun ke bumi, dia selalu saja berada di kediamannya. Bagaimana kita menghiburnya?’’ tanya Dewi Ruang.
‘’Menghiburnya sama saja berperang dengannya, sedangkan orang yang dihibur adalah Dewa dari peperangan sendiri. Berikan saja waktu untuknya menyendiri,’’ jawab Dewa Waktu.
......................
[Dunia Manusia]
Putri Kamiai menatap dua pria yang sudah berdiri di depan pintu sebelum mereka berjalan masuk.
‘’Hm~ panjang umur,’’ kata Ninshu mengerutkan bibir.
Eh? Kakak ada di antara dua pria ini? Yang mana? Apakah pria yang di sebelah kiri atau sebaliknya? Tidak, sudah jelas pria yang paling tampan di antara mereka, kata Putri Kamiai.
Sang putri pun langsung berlari dan memeluk pria berjubah hitam. ‘’Kakak! Aku merindukanmu!’’
Melihat hal itu membuat ketiga pria di sana saling bertatapan.
‘’Wah Kakak, kau tumbuh begitu tampan,’’ puji Putri Kamiai.
‘’Apakah wajahku juga tidak tampan?’’ tanya Pangeran Shieru sambil menujuk dirinya sendiri.
Ninshu yang mendengarnya menahan tawa membuat sang pangeran memukulnya.
‘’Hei! Itu sakit,’’ kata Ninshu mengusap lengannya.
Pria yang dipeluk tadi tersenyum kaku. ‘’Ano, Tuan Putri … Pangeran ada di sana. Aku adalah Aidagara.’’
Mendengar hal itu membuat Putri Kamiai menatap Pangeran Shieru dan Aidagara secara bergantian.
Oh tidak, bagaimana mungkin aku salah mengenali saudaraku sendiri? Aku sudah tidak pantas hidup di dunia iin, ucapnya dalam hati.
Sang putri pun melepaskan pelukannya lalu berjalan kecil ke arah Pangeran Shieru dengan kepala menunduk. ‘’Maaf karena tidak mengenali Kakak.’’
Pangeran Shieru tidak mengatakan apa pun dan hanya berjongkok di depannya. Ia menatap anak itu untuk sesaat sebelum memeluknya dengan erat.
‘’Ka-Kakak! Aku tidak bisa bernafas,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Ahaha maaf, kau terlalu kecil dan terlihat menggemaskan. Jadi, aku tidak tahan,’’ senyum Pangeran Shieru.
‘’Kakak ke mana saja? Kenapa baru menghampiriku?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Maaf, beberapa hari ini aku sibuk membantu yang lainnya mengurus upacara kelulusan besok,’’ jawab Pangeran Shieru.
‘’Lalu kenapa Ninshu Sensei tidak ikut membantu?’’ tanya Putri Kamiai dengan alis berkerut.
‘’Hei jaga mulutmu. Kau pikir aku hanya duduk santai? Aku sibuk membantu mereka sebelum dan setelah melatihmu. Karena itu pekerjaanku jadi tertambah gara-gara mengurus masalah sepertimu,’’ gerutu Ninshu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Pisces Aprodithe
ninshu,,shieru dan aidagara kayaknya trio deh
2024-05-01
6
Pisces Aprodithe
bener juga/Facepalm/
2024-05-01
5
Dina⏤͟͟͞R
🤣🤣🤣🤣lucunya
2024-05-01
1