Bab 4 Gelang Giok

[Dunia Dewa]

Dewa Waktu tidak bisa menahan suaranya membuat tawa puasnya memenuhi tempat itu.

‘’Jarang sekali melihat Dewa Iblis mengomel seperti ini,’’ kata Dewi Mimpi.

‘’Terlihat jelas asap keluar dari ubun-ubun kepalanya,’’ kata Dewa Petir.

‘’Jika kita menggoreng telur di atas kepalanya pasti langsung matang,’’ kikik Dewa Waktu.

‘’Aku seperti tidak melihat Dewi Cinta yang lembut dan Dewa Iblis yang kejam. Mereka menjadi orang yang berbeda setelah lahir menjadi manusia,’’ kata Dewi Bulan.

‘’Itu karena mereka meninggalkan wujud kesempurnaan selama menjadi dewa,’’ kata Dewa Matahari.

‘’Tapi, melihat interaksi Dewi Cinta dan Dewa Iblis, sepertinya ini akan menarik,’’ kata Dewi Tanah.

Para dewa yang mendengarnya hanya mengangguk membenarkan sambil menatap ke bawah dari atas. ‘’Pertemuan pertama yang lucu.’’

......................

[Dunia Manusia]

Istana

Sang ratu menolehkan kepala mengikuti pergerakan suaminya yang sejak tadi mondar-mandir.

‘’Entah apa yang dilakukan Putri Kamiai saat ini. Haruskah aku mengutus beberapa prajurit lagi? Tidak, itu tidak cukup, aku akan mengirim beberapa pasukan,’’ kata Raja Api.

‘’Heh, memangnya kita akan berperang sampai harus mengirim beberapa pasukan? Selain itu, ini bahkan belum 5 menit setelah Putri Kamiai meninggalkan istana,’’ kata Ratu Api.

‘’Argh, aku tidak bisa konsentrasi,’’ kata Raja Api.

‘’Yang Mulia, tidak ada yang akan berani mencelakai Putri Kamiai,’’ kata Ratu Api.

‘’Tapi….’’

‘’Percayalah, dia akan baik-baik saja. Lagi pula, Putri Kamiai akan berangkat besok, jadi biarkan dia menikmati hal yang ingin dia lakukan,’’ kata Ratu Api.

Sang raja menghela nafas dan kembali duduk di sampingnya. ‘’Baiklah jika kau yang mengatakan dia akan baik-baik saja.’’

......................

Kota

Satan menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbalik. ‘’Kenapa kau terus mengikutiku? Pergilah!’’

Saat itu juga Putri Kamiai mendorong mulut anak tadi. ‘’Oho! Bicara pun sangat kasar kepada anak perempuan.’’

‘’Kau,’’ kata Satan melotot.

Putri Kamiai melotot balik. ‘’Kenapa? Apa kau melihat uang di wajahku sampai memasang wajah seperti menemukan harta karun?’’

Satan menghela nafas. ‘’Berhenti mengikuti Yang Mulia ini. Memangnya kau ini anak ayam?’’

‘’Aku mengikutimu karena tidak mengenal siapa pun di tempat ini. Selain itu, ada apa dengan panggilan Yang Mulia ini sejak tadi?’’ tanya Putri Kamiai.

‘’Tentu saja untuk membedakan gelar di antara orang biasa seperti kalian,’’ jawab Satan.

‘’Heh, siapa yang sebenarnya orang biasa di sini?’’ tanya balik Putri Kamiai.

‘’Terserah, yang pastinya pergilah. Jika kau masih mengikutiku, aku akan membunuhmu,’’ kata Satan.

Beberapa saat kemudian…

Satan memasang wajah bodohnya. ‘’Pada akhirnya dia tetap mengikutiku. Haa, lupakan.’’

‘’Jadi, kita akan pergi ke mana sekarang?’’ tanya Putri Kamiai.

‘’Sungai Dunia Akhirat! Kenapa bertanya terus padaku?’’ tanya balik Satan.

‘’Karena kau pasti menghapal semua tempat di sini,’’ jawab Putri Kamiai.

‘’Lalu?’’ tanya Satan.

‘’Ini pertama kalinya aku mengunjungi kota, jadi ajak aku berkeliling,’’ senyum Putri Kamiai.

‘’Tidak mau. Memangnya aku pelayanmu? Yang benar saja,’’ kata Satan.

‘’Aku akan mentraktirmu,’’ kata Putri Kamiai.

‘’Ayo jalan. Yang Mulia ini akan memandumu,’’ kata Satan bergegas lebih dulu sebelum diikuti sang putri.

Kedua anak itu pun menyusuri kota, mencicipi setiap jenis makanan di pinggir jalan, menonton aksi pertunjukan di sekitar dan masih banyak lagi.

Hingga langit mulai menjadi gelap membuat ratusan lampu menyala di sepanjang jalan.

‘’Satu hari ini sangat menyenangkan. Andai saja festivalnya berlangsung setiap hari,’’ kata Putri Kamiai.

Satan yang berjalan di sampingnya sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepala mengerutkan dahi. ‘’Kau seperti tidak pernah melihat festival saja.’’

Yah, itu karena selama ini aku hanya menyaksikannya dari jauh di dalam istana, kata Putri Kamiai dalam hati sebelum melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

‘’Oee, kau mau ke mana?’’ tanya Satan sebelum menyusul sang putri.

‘’Sumimasen Oji-san(Permisi Paman), dua gelang yang berkilauan itu apa?’’ tanya Putri Kamiai.

Pedagang pinggir jalan terdiam untuk sesaat karena terkesima oleh kecantikan sang putri sebelum akhirnya tersadar. ‘’Aa, ini gelang giok nona kecil.’’

‘’Harganya berapa?’’ tanya Putri Kamiai.

‘’Eh? Maaf nona kecil, tapi gelang ini tidak untuk dijual.’’

‘’Kalau tidak dijual, lalu kenapa menaruhnya di antara barang antik ini?’’ tanya Putri Kamiai.

‘’Itu sebagai pelaris jualan bagi seorang pedagang. Meski begitu, tidak ada yang pernah singgah untuk membeli barangku. Nona kecil, kau adalah pelanggan pertamaku dan jika kau mengambil gelang ini, maka keadaanku akan semakin sulit.’’

‘’Tapi, aku sangat ingin membelinya,’’ kata Putri Kamiai.

‘’Oee, kau tidak dengar, ya? Gelang itu tidak untuk dijual,’’ kata Satan.

Putri Kamiai terdiam sebelum meraih sesuatu dibalik saku bajunya, lalu berjongkok di depan pria tua itu. ‘’Begini saja, aku akan menukar lionting ini dan semua uangku dengan gelang giok milik Paman.’’

‘’Memangnya apa yang bisa disandingkan dengan lionting kecil seperti ini?’’

‘’Jangan menilai dari besar atau kecilnya, tapi lihat setulus apa orang itu memberikannya kepadamu. Selain itu, lionting ini adalah benda keberuntunganku. Jadi, anggap saja aku membagikan keberuntunganku kepada Paman.’’

Pedagang itu menghela nafas disertai senyuman. ‘’Membagikan keberuntungan, ya? Dasar, sepertinya kau tidak akan pergi sebelum mendapatkan gelang giok ini. Ya sudah, aku akan memberikannya kepadamu nona kecil.’’

Mendengar hal itu membuat Putri Kamiai senang. ‘’Terima kasih Paman.’’

‘’Lagi pula, tidak ada yang akan tertarik untuk membeli barang-barang ini. Kalian menghampiriku saja itu sudah cukup.’’

Ia menyerahkan kedua gelang tersebut kepada sang putri. ‘’Gelang giok ini dipercaya sebagai simbol cinta kasih dan kebijaksanaan. Kelak, semoga kau diberkati hal itu nona kecil.’’

‘’Kalau begitu kami pergi dulu,’’ kata Putri Kamiai.

Sang pedangang menatap kepergian dua anak tadi lalu melirik lionting di tangannya sambil menghela nafas. ‘’Pelarisku sudah diambil oleh anak kecil, sebaiknya aku berkemas dan pulang.’’

Namun, saat itu juga pelanggan langsung berdatangan kepadanya ‘’Eh? Eh? Kenapa tiba-tiba banyak pelanggan?!’’

Ia kemudian tersadar dan kembali melirik lionting yang baru saja diberikan oleh sang putri sebelum ia mengatupkan kedua tangan. ‘’Tuhan memberikatimu nona kecil.’’

......................

[Dunia Dewa]

‘’Begitu Dewi Cinta pergi, pedagang itu langsung mendapatkan banyak pelanggan,’’ kata Dewi Bulan.

Dewa Waktu tersenyum. ‘’Dia adalah Dewi Cinta. Apa pun yang dia berikan kepada orang lain, itu akan menjadi keberuntungan untuk mereka.’’

Dewi Bulan mengangguk. ‘’Tapi, apa yang kau lakukan di sini Dewa Waktu? Bukankah kau seharusnya berada di kediamanmu saat ini?’’

‘’Bumi sedang mengadakan perayaan, jadi aku ingin melihatnya juga,’’ jawab Dewa Waktu.

‘’Benarkah? Bukan karena Dewi Ruang mengusirmu lagi?’’ tanya Dewi Bulan menahan tawa.

‘’Oho, siapa yang diusir? Aku memang ingin melihat festival yang sedang berlangsung di bumi,’’ kata Dewa Waktu.

Dewi Bulan hanya tersenyum disertai kedua alis terangkat.

Terpopuler

Comments

GemiNoSa

GemiNoSa

sukasukasukasukasuka

2024-05-06

4

Dina⏤͟͟͞R

Dina⏤͟͟͞R

lucu bila keduanya sedang berdebat kecil🤣🤣

2024-04-28

1

Pisces Aprodithe

Pisces Aprodithe

suka interaksi dewa cinta dan dewi iblis

2024-04-24

7

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pertempuran
2 Bab 2 Menjelma ke Bumi
3 Bab 3 Pertemuan Pertama
4 Bab 4 Gelang Giok
5 Bab 5 Ayo Berteman!
6 Bab 6 12 Anak
7 Bab 7 Hari Pertama di Akademi
8 Bab 8 Anak Pembawa Sial
9 Bab 9 Kertas Chakra
10 Bab 10 Kelebihan & Kekurangan
11 Bab 11 Sensei Muda
12 Bab 12 Mencari Keberadaan
13 Bab 13 Bertemu
14 Bab 14 Menghampiri
15 Bab 15 Pulang
16 Bab 16 Menghibur
17 Bab 17 Jatuh ke Kolam
18 Bab 18 Pengendali Empat Elemen
19 Bab 19 Anak yang Berbakat
20 Bab 20 Kebenaran Lain
21 Bab 21 Induk Chakra
22 Bab 22 Menjemput Dewa Iblis
23 Bab 23 Grow Up
24 Ba 24 Otanjoubiomedetou Gozaimasu
25 Bab 25 Permintaan
26 Bab 26 Hutan Kematian
27 Bab 27 Sambutan Tidak Hangat
28 Bab 28 Hutan Tepi Sungai
29 Bab 29 Sosok Misterius
30 Bab 30 Berdebat Kecil
31 Bab 31 Mugwort
32 Bab 32 Manusia Salju
33 Bab 33 Kilas Balik
34 Ba 34 Kedatangan 2 Sosok
35 Bab 35 Yuki Onna
36 Bab 36 Ushiuchibou
37 Bab 37 Kilatan Memori
38 Bab 38 Bunga Tidur
39 Bab 39 Para Pengawas
40 Bab 40 Kuil
41 Bab 41 Sungai Bawah Tanah
42 Bab 42 Kelompok 7
43 Bab 43 Menyusuri Hutan
44 Bab 45 Melawan Kaibyo
45 Bab 45 Tanda di Dahi & Mata Merah
46 Bab 46 Sakana
47 Bab 47 Topik Konyol
48 Bab 48 Kembali ke Rumah Kayu
49 Bab 49 Misi
50 Bab 50 Raja Hutan
51 Bab 51 Hutan Tanpa Arah
52 Bab 52 Bayi & Anak Muda
53 Bab 53 Kalajengking & Ular
54 Bab 54 Cahaya Misterius
55 Bab 55 Sword
56 Bab 56 Bayi Misterius
57 Bab 57 Negeri Misterius
58 Bab 58 Judi Gila
59 Bab 59 Bayi Pembawa Keberuntungan
60 Bab 60 Teratai dari Surga
61 Bab 61 Kunci
62 Bab 62 Ujian Terakhir
63 Bab 63 Pilar Chakra
64 Bab 64 Warna Chakra
65 Bab 65 Batu Chakra
66 Bab 66 3 Iblis dari Dunia Bawah
67 Bab 67 Akhirnya Bertemu
68 Bab 68 Sosok Bercahaya
69 Bab 69 Dunia Bawah
70 Bab 70 Peristiwa Bersejarah
71 Bab 71 Giok Kematian
72 Bab 72 Mata Kanan yang Sakit
73 Bab 73 Menyadari Petunjuk
74 Bab 74 Dibohongi oleh Teman Masa Kecil
75 Bab 75 Rencana
76 Bab 76 Kebangkitan
77 Bab 77 Kembali ke Dunia Bawah
78 Bab 78 Penglihatan
79 Bab 79 Wanita Bergaun Merah
80 Bab 80 Apa kau menyukaiku?
81 Bab 81 Berpencar di Dunia Bawah
82 Bab 82 Giok Merah
83 Bab 83 Battle Antara Teman
84 Bab 84 Luka Batin
85 Bab 85 Menara
86 Bab 86 Tamu Berisik
87 Bab 87 Pengendali Elemen VS Iblis Tingkat Tinggi
88 Bab 88 Pertarungan yang Mengguncang Surga dan Neraka
89 Bab 89 The Last Battle
90 Bab 90 Formasi 12 Bintang
91 Bab 91 Akhir
92 Bab 92 Monumen Besar dari Kristal Bercahaya
93 Bab 93 Kebenaran Jutaan Tahun yang Lalu
94 Bab 94 Kolam Langit
95 Bab 95 Festival
96 Bab 96 Setelah 10.000 Tahun
97 Bab 97 Menghibur Dewa Perang
98 Bab 98 Hiburan yang Gagal
99 Bab 99 Petunjuk Tersirat
100 Bab 100 Mengatakan Kebenaran
101 Bab 101 Membangkitkan 6 Batu Chakra
102 Bab 102 Potongan Ingatan
103 Bab 103 Pertemuan
104 Bab 104 Kekacauan di Dunia Fana
105 Bab 105 Cinta atau Obsesi?
106 Bab 106 Semua Kembali ke Tempat Semula
107 Bab 107 Kembalinya Sang Dewi
108 Bab 108 Kediaman Dewi Cinta
109 Bab 109 Percakapan Antara Ibu & Anak
110 Bab 110 Masa 100 Tahun Kemudian
111 Bab 111 Undangan dari Dunia Dewa
112 Bab 112 Meminta Kepastian
113 Bab 113 Menyatukan 2 Hati
114 Bab 114 Reuni [END]
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1 Pertempuran
2
Bab 2 Menjelma ke Bumi
3
Bab 3 Pertemuan Pertama
4
Bab 4 Gelang Giok
5
Bab 5 Ayo Berteman!
6
Bab 6 12 Anak
7
Bab 7 Hari Pertama di Akademi
8
Bab 8 Anak Pembawa Sial
9
Bab 9 Kertas Chakra
10
Bab 10 Kelebihan & Kekurangan
11
Bab 11 Sensei Muda
12
Bab 12 Mencari Keberadaan
13
Bab 13 Bertemu
14
Bab 14 Menghampiri
15
Bab 15 Pulang
16
Bab 16 Menghibur
17
Bab 17 Jatuh ke Kolam
18
Bab 18 Pengendali Empat Elemen
19
Bab 19 Anak yang Berbakat
20
Bab 20 Kebenaran Lain
21
Bab 21 Induk Chakra
22
Bab 22 Menjemput Dewa Iblis
23
Bab 23 Grow Up
24
Ba 24 Otanjoubiomedetou Gozaimasu
25
Bab 25 Permintaan
26
Bab 26 Hutan Kematian
27
Bab 27 Sambutan Tidak Hangat
28
Bab 28 Hutan Tepi Sungai
29
Bab 29 Sosok Misterius
30
Bab 30 Berdebat Kecil
31
Bab 31 Mugwort
32
Bab 32 Manusia Salju
33
Bab 33 Kilas Balik
34
Ba 34 Kedatangan 2 Sosok
35
Bab 35 Yuki Onna
36
Bab 36 Ushiuchibou
37
Bab 37 Kilatan Memori
38
Bab 38 Bunga Tidur
39
Bab 39 Para Pengawas
40
Bab 40 Kuil
41
Bab 41 Sungai Bawah Tanah
42
Bab 42 Kelompok 7
43
Bab 43 Menyusuri Hutan
44
Bab 45 Melawan Kaibyo
45
Bab 45 Tanda di Dahi & Mata Merah
46
Bab 46 Sakana
47
Bab 47 Topik Konyol
48
Bab 48 Kembali ke Rumah Kayu
49
Bab 49 Misi
50
Bab 50 Raja Hutan
51
Bab 51 Hutan Tanpa Arah
52
Bab 52 Bayi & Anak Muda
53
Bab 53 Kalajengking & Ular
54
Bab 54 Cahaya Misterius
55
Bab 55 Sword
56
Bab 56 Bayi Misterius
57
Bab 57 Negeri Misterius
58
Bab 58 Judi Gila
59
Bab 59 Bayi Pembawa Keberuntungan
60
Bab 60 Teratai dari Surga
61
Bab 61 Kunci
62
Bab 62 Ujian Terakhir
63
Bab 63 Pilar Chakra
64
Bab 64 Warna Chakra
65
Bab 65 Batu Chakra
66
Bab 66 3 Iblis dari Dunia Bawah
67
Bab 67 Akhirnya Bertemu
68
Bab 68 Sosok Bercahaya
69
Bab 69 Dunia Bawah
70
Bab 70 Peristiwa Bersejarah
71
Bab 71 Giok Kematian
72
Bab 72 Mata Kanan yang Sakit
73
Bab 73 Menyadari Petunjuk
74
Bab 74 Dibohongi oleh Teman Masa Kecil
75
Bab 75 Rencana
76
Bab 76 Kebangkitan
77
Bab 77 Kembali ke Dunia Bawah
78
Bab 78 Penglihatan
79
Bab 79 Wanita Bergaun Merah
80
Bab 80 Apa kau menyukaiku?
81
Bab 81 Berpencar di Dunia Bawah
82
Bab 82 Giok Merah
83
Bab 83 Battle Antara Teman
84
Bab 84 Luka Batin
85
Bab 85 Menara
86
Bab 86 Tamu Berisik
87
Bab 87 Pengendali Elemen VS Iblis Tingkat Tinggi
88
Bab 88 Pertarungan yang Mengguncang Surga dan Neraka
89
Bab 89 The Last Battle
90
Bab 90 Formasi 12 Bintang
91
Bab 91 Akhir
92
Bab 92 Monumen Besar dari Kristal Bercahaya
93
Bab 93 Kebenaran Jutaan Tahun yang Lalu
94
Bab 94 Kolam Langit
95
Bab 95 Festival
96
Bab 96 Setelah 10.000 Tahun
97
Bab 97 Menghibur Dewa Perang
98
Bab 98 Hiburan yang Gagal
99
Bab 99 Petunjuk Tersirat
100
Bab 100 Mengatakan Kebenaran
101
Bab 101 Membangkitkan 6 Batu Chakra
102
Bab 102 Potongan Ingatan
103
Bab 103 Pertemuan
104
Bab 104 Kekacauan di Dunia Fana
105
Bab 105 Cinta atau Obsesi?
106
Bab 106 Semua Kembali ke Tempat Semula
107
Bab 107 Kembalinya Sang Dewi
108
Bab 108 Kediaman Dewi Cinta
109
Bab 109 Percakapan Antara Ibu & Anak
110
Bab 110 Masa 100 Tahun Kemudian
111
Bab 111 Undangan dari Dunia Dewa
112
Bab 112 Meminta Kepastian
113
Bab 113 Menyatukan 2 Hati
114
Bab 114 Reuni [END]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!