[Dunia Dewa]
Dewa Waktu tidak bisa menahan suaranya membuat tawa puasnya memenuhi tempat itu.
‘’Jarang sekali melihat Dewa Iblis mengomel seperti ini,’’ kata Dewi Mimpi.
‘’Terlihat jelas asap keluar dari ubun-ubun kepalanya,’’ kata Dewa Petir.
‘’Jika kita menggoreng telur di atas kepalanya pasti langsung matang,’’ kikik Dewa Waktu.
‘’Aku seperti tidak melihat Dewi Cinta yang lembut dan Dewa Iblis yang kejam. Mereka menjadi orang yang berbeda setelah lahir menjadi manusia,’’ kata Dewi Bulan.
‘’Itu karena mereka meninggalkan wujud kesempurnaan selama menjadi dewa,’’ kata Dewa Matahari.
‘’Tapi, melihat interaksi Dewi Cinta dan Dewa Iblis, sepertinya ini akan menarik,’’ kata Dewi Tanah.
Para dewa yang mendengarnya hanya mengangguk membenarkan sambil menatap ke bawah dari atas. ‘’Pertemuan pertama yang lucu.’’
......................
[Dunia Manusia]
Istana
Sang ratu menolehkan kepala mengikuti pergerakan suaminya yang sejak tadi mondar-mandir.
‘’Entah apa yang dilakukan Putri Kamiai saat ini. Haruskah aku mengutus beberapa prajurit lagi? Tidak, itu tidak cukup, aku akan mengirim beberapa pasukan,’’ kata Raja Api.
‘’Heh, memangnya kita akan berperang sampai harus mengirim beberapa pasukan? Selain itu, ini bahkan belum 5 menit setelah Putri Kamiai meninggalkan istana,’’ kata Ratu Api.
‘’Argh, aku tidak bisa konsentrasi,’’ kata Raja Api.
‘’Yang Mulia, tidak ada yang akan berani mencelakai Putri Kamiai,’’ kata Ratu Api.
‘’Tapi….’’
‘’Percayalah, dia akan baik-baik saja. Lagi pula, Putri Kamiai akan berangkat besok, jadi biarkan dia menikmati hal yang ingin dia lakukan,’’ kata Ratu Api.
Sang raja menghela nafas dan kembali duduk di sampingnya. ‘’Baiklah jika kau yang mengatakan dia akan baik-baik saja.’’
......................
Kota
Satan menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbalik. ‘’Kenapa kau terus mengikutiku? Pergilah!’’
Saat itu juga Putri Kamiai mendorong mulut anak tadi. ‘’Oho! Bicara pun sangat kasar kepada anak perempuan.’’
‘’Kau,’’ kata Satan melotot.
Putri Kamiai melotot balik. ‘’Kenapa? Apa kau melihat uang di wajahku sampai memasang wajah seperti menemukan harta karun?’’
Satan menghela nafas. ‘’Berhenti mengikuti Yang Mulia ini. Memangnya kau ini anak ayam?’’
‘’Aku mengikutimu karena tidak mengenal siapa pun di tempat ini. Selain itu, ada apa dengan panggilan Yang Mulia ini sejak tadi?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Tentu saja untuk membedakan gelar di antara orang biasa seperti kalian,’’ jawab Satan.
‘’Heh, siapa yang sebenarnya orang biasa di sini?’’ tanya balik Putri Kamiai.
‘’Terserah, yang pastinya pergilah. Jika kau masih mengikutiku, aku akan membunuhmu,’’ kata Satan.
Beberapa saat kemudian…
Satan memasang wajah bodohnya. ‘’Pada akhirnya dia tetap mengikutiku. Haa, lupakan.’’
‘’Jadi, kita akan pergi ke mana sekarang?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Sungai Dunia Akhirat! Kenapa bertanya terus padaku?’’ tanya balik Satan.
‘’Karena kau pasti menghapal semua tempat di sini,’’ jawab Putri Kamiai.
‘’Lalu?’’ tanya Satan.
‘’Ini pertama kalinya aku mengunjungi kota, jadi ajak aku berkeliling,’’ senyum Putri Kamiai.
‘’Tidak mau. Memangnya aku pelayanmu? Yang benar saja,’’ kata Satan.
‘’Aku akan mentraktirmu,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Ayo jalan. Yang Mulia ini akan memandumu,’’ kata Satan bergegas lebih dulu sebelum diikuti sang putri.
Kedua anak itu pun menyusuri kota, mencicipi setiap jenis makanan di pinggir jalan, menonton aksi pertunjukan di sekitar dan masih banyak lagi.
Hingga langit mulai menjadi gelap membuat ratusan lampu menyala di sepanjang jalan.
‘’Satu hari ini sangat menyenangkan. Andai saja festivalnya berlangsung setiap hari,’’ kata Putri Kamiai.
Satan yang berjalan di sampingnya sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepala mengerutkan dahi. ‘’Kau seperti tidak pernah melihat festival saja.’’
Yah, itu karena selama ini aku hanya menyaksikannya dari jauh di dalam istana, kata Putri Kamiai dalam hati sebelum melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
‘’Oee, kau mau ke mana?’’ tanya Satan sebelum menyusul sang putri.
‘’Sumimasen Oji-san(Permisi Paman), dua gelang yang berkilauan itu apa?’’ tanya Putri Kamiai.
Pedagang pinggir jalan terdiam untuk sesaat karena terkesima oleh kecantikan sang putri sebelum akhirnya tersadar. ‘’Aa, ini gelang giok nona kecil.’’
‘’Harganya berapa?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Eh? Maaf nona kecil, tapi gelang ini tidak untuk dijual.’’
‘’Kalau tidak dijual, lalu kenapa menaruhnya di antara barang antik ini?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Itu sebagai pelaris jualan bagi seorang pedagang. Meski begitu, tidak ada yang pernah singgah untuk membeli barangku. Nona kecil, kau adalah pelanggan pertamaku dan jika kau mengambil gelang ini, maka keadaanku akan semakin sulit.’’
‘’Tapi, aku sangat ingin membelinya,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Oee, kau tidak dengar, ya? Gelang itu tidak untuk dijual,’’ kata Satan.
Putri Kamiai terdiam sebelum meraih sesuatu dibalik saku bajunya, lalu berjongkok di depan pria tua itu. ‘’Begini saja, aku akan menukar lionting ini dan semua uangku dengan gelang giok milik Paman.’’
‘’Memangnya apa yang bisa disandingkan dengan lionting kecil seperti ini?’’
‘’Jangan menilai dari besar atau kecilnya, tapi lihat setulus apa orang itu memberikannya kepadamu. Selain itu, lionting ini adalah benda keberuntunganku. Jadi, anggap saja aku membagikan keberuntunganku kepada Paman.’’
Pedagang itu menghela nafas disertai senyuman. ‘’Membagikan keberuntungan, ya? Dasar, sepertinya kau tidak akan pergi sebelum mendapatkan gelang giok ini. Ya sudah, aku akan memberikannya kepadamu nona kecil.’’
Mendengar hal itu membuat Putri Kamiai senang. ‘’Terima kasih Paman.’’
‘’Lagi pula, tidak ada yang akan tertarik untuk membeli barang-barang ini. Kalian menghampiriku saja itu sudah cukup.’’
Ia menyerahkan kedua gelang tersebut kepada sang putri. ‘’Gelang giok ini dipercaya sebagai simbol cinta kasih dan kebijaksanaan. Kelak, semoga kau diberkati hal itu nona kecil.’’
‘’Kalau begitu kami pergi dulu,’’ kata Putri Kamiai.
Sang pedangang menatap kepergian dua anak tadi lalu melirik lionting di tangannya sambil menghela nafas. ‘’Pelarisku sudah diambil oleh anak kecil, sebaiknya aku berkemas dan pulang.’’
Namun, saat itu juga pelanggan langsung berdatangan kepadanya ‘’Eh? Eh? Kenapa tiba-tiba banyak pelanggan?!’’
Ia kemudian tersadar dan kembali melirik lionting yang baru saja diberikan oleh sang putri sebelum ia mengatupkan kedua tangan. ‘’Tuhan memberikatimu nona kecil.’’
......................
[Dunia Dewa]
‘’Begitu Dewi Cinta pergi, pedagang itu langsung mendapatkan banyak pelanggan,’’ kata Dewi Bulan.
Dewa Waktu tersenyum. ‘’Dia adalah Dewi Cinta. Apa pun yang dia berikan kepada orang lain, itu akan menjadi keberuntungan untuk mereka.’’
Dewi Bulan mengangguk. ‘’Tapi, apa yang kau lakukan di sini Dewa Waktu? Bukankah kau seharusnya berada di kediamanmu saat ini?’’
‘’Bumi sedang mengadakan perayaan, jadi aku ingin melihatnya juga,’’ jawab Dewa Waktu.
‘’Benarkah? Bukan karena Dewi Ruang mengusirmu lagi?’’ tanya Dewi Bulan menahan tawa.
‘’Oho, siapa yang diusir? Aku memang ingin melihat festival yang sedang berlangsung di bumi,’’ kata Dewa Waktu.
Dewi Bulan hanya tersenyum disertai kedua alis terangkat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
GemiNoSa
sukasukasukasukasuka
2024-05-06
4
Dina⏤͟͟͞R
lucu bila keduanya sedang berdebat kecil🤣🤣
2024-04-28
1
Pisces Aprodithe
suka interaksi dewa cinta dan dewi iblis
2024-04-24
7