‘’Kau juga jaga mulutmu. Beraninya memanggil adikku dengan sebutan masalah,’’ tegur Pangeran Shieru.
‘’Ninshu Sensei hanya iri kepada kita Kakak,’’ bisik Putri Kamiai.
‘’Dia memang orang yang seperti itu,’’ bisik Pangeran Shieru.
‘’Oee! Berhenti berbisik di depan orang yang kalian bicarakan!’’ gerutu Ninshu.
Aidagara yang melihatnya hanya tersenyum disertai hela nafas.
‘’Baiklah, aku hanya ingin melihatmu sebentar dan sekarang harus kembali lagi,’’ kata Pangeran Shieru.
‘’Eh? Tapi Kakak baru saja datang. Apalagi besok sudah pulang,’’ kata Putri Kamiai.
Pangeran Shieru tersenyum sambil mengusap pucuk rambut sang adik. ‘’Maaf, tapi sungguh ada begitu banyak pekerjaan. Selain itu, waktu latihanmu jadi terbuang.’’
Putri Kamiai menunduk dengan wajah cemberut. ‘’Baiklah, aku menger—akh! Kenapa Kakak mencubit pipiku?’’
‘’Maaf sekali lagi! Aku tidak tahan melihat wajahmu yang begitu imut. Kalau begitu aku pergi. Dan Ninshu, ajari adikku dengan benar, bukan membuang waktunya,’’ kata Pangeran Shieru.
‘’Hm~ menyebalkan seperti biasa,’’ kata Ninshu.
Aidagara tersenyum sambil membungkuk kepada Putri Kamiai sebelum menyusul pangeran.
‘’Sekarang ayo mulai latihanmu. Aku tidak punya banyak waktu dan harus segera bergabung bersama yang lainnya,’’ omel Ninshu.
‘’Iyaiya,’’ kata Putri Kamiai.
......................
Sementara itu di Aula Yosei, para murid mempelajari gerakan yang ada di dalam gulungan dari setiap elemen sambil mempraktikkannya sesekali.
Pangeran Ozora meletakkan kipas bulunya lalu melakukan gerakan berputar dengan pelan sambil menyeret kakinya. Tidak lama kemudian Banri merebut kipas bulu tadi.
‘’Are(Eh)? Kenapa seorang Pangeran malah memakai kipas?’’
‘’Hei, kembalikan punyaku!’’
Banri mengopernya ke anak yang lain untuk mempermainkan Pangeran Ozora yang terus mengejarnya.
‘’Aduh~ kau sangat lambat.’’
‘’Haha! Kalau selambat itu, bagaimana kau akan mendapatkannya?’’
‘’Dan juga ada apa dengan bajunya yang penuh bulu aneh itu?’’
‘’Ini bulu angsa! Selain itu kembalikan kipasku!’’ kesal Pangeran Ozora.
Banri tersenyum mengejek. ‘’Kalau ingin mengambilnya kau harus merebutnya da—‘’
Ucapannya terpotong karena seseorang tiba-tiba merampas kipas bulu di tangannya dari belakang.
‘’Berhenti mengganggunya. Dia adalah Pangeran dari Negara Angin,’’ kata Satan.
Banri mengeryitkan alis tanda kesal. ‘’Teme(Anak sialan), berhenti ikut campur dan serahkan kembali kipas itu.’’
‘’Yang Mulia ini menolak. Lagi pula ini bukan milikmu,’’ kata Satan.
Hal itu membuat Banri semakin emosi sehingga berniat merebut kipas tadi sambil memanggil anak-anak untuk membantunya.
‘’Kau tidak ingin menyerahkannya, kan? Kalau begitu terima ini,’’ kata Banri menendang sebelah kaki Satan diikuti dua anak lainnya membuat Satan bertekuk lutut.
Pangeran Ozora terbelalak di tempatnya. ‘’Kenapa dia hanya diam dan tidak melawan?’’
‘’Apa yang terjadi di sana?’’
‘’Sepertinya ada perkelahian.’’
‘’Eh? Bukankah kita diberitahu jika ada yang kedapatan berkelahi, maka tidak ada jatah makan malam?’’
‘’Lebih baik tidak usah berurusan dengan mereka.’’
Menyadari tatapan semua orang menuju ke arahnya, membuat Banri terhenti dan akhirnya memilih pergi dari sana diikuti dua anak tadi.
Satan bangkit sambil meringis lalu berjalan menghampiri Pangeran Ozora sebelum menyerahkan kipas bulu padanya. ‘’Kore(Ini)….’’
‘’Eh?’’ tatap Pangeran Ozora.
‘’Ini kipasmu, kan? Ambillah kembali,’’ kata Satan.
Pangeran Ozora menatap kipas dan anak di depannya itu secara bergantian.
‘’Aa benar juga,’’ kata Satan meraih ujung bajunya lalu mengelap kipas bulu tadi kemudian menyerahkannya kembali.
‘’Sudah kubersihkan,’’ lanjutnya.
Pangeran Ozora meraih kipas bulu tanpa mengatakan apa pun. Satan juga hanya langsung pergi membuatnya menatap punggung anak laki-laki itu.
Anak itu … Demi melindungi kipasku agar tidak rusak, dia rela dipukuli, ucapnya dalam hati.
......................
Malamnya…
‘’Kenapa kondisi tubuhmu selalu lebam setiap kali aku kembali dari latihan? Ini bukan luka karena habis terjatuh. Kau membohongiku, ya?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Si-Siapa yang berbohong? Cobalah berjalan di sana lalu terjatuh ke bawah. Tubuhmu juga pasti akan lebam,’’ kata Satan.
‘’Lagi pula, untuk apa juga kau berjalan di atas sana? Kenapa tidak duduk tenang saja sambil menungguku?’’ habis pikir Putri Kamiai.
‘’Yang Mulia ini bosan karena sendirian, jadi mencari aktivitas lain,’’ kata Satan.
‘’Usotsuki.’’
Kedua anak tadi menoleh saat mendengar suara itu hingga melihat sosok Pangeran Ozora berjalan menghampiri.
‘’Pangeran Negara Angin, kenapa kau ada di sini?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Lalu kau ingin aku ada di mana? Perut bumi?’’ tanya balik Pangeran Ozora.
Putri Kamiai memasang wajah bodoh. ‘’Maksudku, bukankah seharusnya kau bersama yang lainnya?’’
‘’Untuk saat ini tidak dulu. Selain itu, yang dia katakan tadi semuanya bohong,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Oee anak berbulu, inikah balasanmu untu—‘’
‘’Siapa yang kau panggil anak berbulu? Namaku Ozora.’’
‘’Tapi kau memang dipenuhi bulu, kan?’’
‘’Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi di sini?’’ tanya Putri Kamiai.
Pangeran Ozora menatapnya sebelum kembali melirik Satan. ‘’Lebam di tubuhnya itu sebenarnya karena habis dipukuli oleh si Banci.’’
‘’Banci?’’ bingung Putri Kamiai.
‘’Siapa lagi kalau bukan anak kurang ajar yang sering mengganggu kalian,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Yang benar itu Banri,’’ kata Satan dengan wajah bodoh.
‘’Hanya salah satu huruf, kenapa mempermasalahkannya?’’ habis pikir Pangeran Ozora.
‘’Dari awal, aku juga berpikir kau berbohong. Dan ternyata memang benar. Aku akan menemui Banri,’’ kata Putri Kamiai.
Namun, Satan langsung menariknya. ‘’Mau menghajarnya lagi?’’
‘’Aku tahu. Tidak ada jatah makan malam jika berkelahi. Aku hanya ingin menegurnya,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Percuma saja bicara dengan anak seperti Banri,’’ kata Satan melepaskan tangannya.
‘’Meski begitu, dia tetap harus ditegur,’’ kata Putri Kamiai sebelum berjalan pergi sambil disusul Pangeran Ozora.
‘’Dia benar-benar keras kepala,’’ kata Satan.
......................
Koridor
Kebetulan, anak yang dicari sedang berbincang sambil menuju ke ruang dapur. Tanpa membuang waktu, Putri Kamiai langsung menghampirinya.
‘’Oh? Ada apa Tuan Putri kita mendatangiku?’’ tanya Banri.
‘’Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa selalu mengganggu Satan bahkan sampai memukulinya?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Siapa yang mengganggunya? Kami hanya memperlakukannya seperti biasa,’’ kata Banri.
‘’Dengan memukulinya?’’ habis pikir Putri Kamiai.
‘’Anak pembawa sial seperti dirinya tidak butuh perlakukan baik,’’ kata Banri.
Putri Kamiai mengeryitkan alis tanda kesal. ‘’Kau memukuli Satan di ruang latihan setelah kelas berakhir selama 2 hari ini. Aku akan mengadukanmu kepada Yoi Sensei.’’
‘’Jangan asal menuduh. Memangnya kau memiliki bukti?’’ tanya Banri.
‘’Aku bisa membuktikannya,’’ kata Pangeran Ozora yang tiba-tiba muncul bersama Satan.
Sebelah alis Banri terangkat. ‘’Pangeran pemakai kipas ini lagi. Kau masih belum kapok, ya?’’
‘’Aku melihatnya sendiri. Begitu kelas sore selesai, kalian menunggu semua orang pergi lalu memukulinya di sana,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Suka ikut campur. Kalaupun kalian mengadu, memangnya Yoi Sensei akan percaya?’’ tanya Banri.
‘’Aku adalah Pangeran Negara Angin, kenapa Yoi Sensei tidak akan mempercayai perkataanku?’’ tanya Pangeran Ozora.
Mendengar hal itu membuat Banri tersenyum remeh sebelum berjalan pergi.
‘’Hei! Kami masih belum selesai bicara padamu!’’ kesal Putri Kamiai.
‘’Simpan saja untuk kalian. Sekarang aku mau makan,’’ kata Banri sambil melambaikan tangan dengan posisi membelakangi.
Putri Kamiai mengeryitkan alis. ‘’Dia benar-benar membuatku kesal.’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
GemiNoSa
wehahaha
2024-05-06
4
Pisces Aprodithe
gua lagi minum!jadi kesedek
2024-05-01
6