Aula Yoseisho
Begitu tiba di tempat tersebut, Putri Kamiai mengerutkan dahi sambil menatap ruangan besar yang dipenuhi peralatan berat. ‘’Matsu Sensei?’’
‘’Yang benar itu Ninshu.’’
‘’Maaf, maksudku Ninshu Sensei, kenapa kita kemari?’’ tanya Putri Kamiai
Ninshu yang tadinya ingin menjawab langsung, tiba-tiba terpikirkan hal menarik. ‘’Kau akan dieksekusi di tempat ini.’’
Saat itu juga langkah Putri Kamiai terhenti. ‘’Kenapa aku akan dieksekusi?’’
Sebelas alis Ninshu terangkat sambil ia menahan tawanya lalu kembali menjadi serius sebelum berbalik menatap sang putri. ‘’Kau hampir mencelakai semua orang, tentu saja harus dihukum.’’
‘’Tapi kemarin tidak ada yang mati. Bukankah orang dieksekusi jika melakukan kejahatan seperti membunuh?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Tindakan kejahatan bukan membunuh saja. Yang kau lakukan itu telah melanggar aturan, itulah kenapa kau dibawa ke tempat ini, agar dieksekusi. Mulutmu akan diberi cap besi panas, kedua tanganmu akan dipotong, lalu kakimu direndam dalam bara api,’’ kata Ninshu.
Putri Kamiai yang mendengarnya mulai gemetar sebelum akhirnya menangis.
‘’Kenapa kau menangis?’’ tanya Ninshu.
‘’Aku tidak sengaja melakukannya, tolong jangan bunuh aku hiks! Aku bahkan hiks belum bertemu dengan kakakku,’’ isak Putri Kamiai.
‘’Puff! Hahaha, aku hanya bercanda. Kenapa kau menganggapnya serius?’’ kikik Ninshu.
Putri Kamiai yang mendengarnya langsung cemberut. ‘’Ninshu Sensei!’’
‘’Hei, tidak boleh membentak seorang guru. Kau mau jadi murid durhaka?’’
‘’Tapi Ninshu Sensei yang salah. Aku benar-benar berpikir akan dieksekusi karena melihat tempat menyeramkan ini,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Sudah, berhentilah menangis dan mari mulai latihanmu. Aku masih punya urusan lain,’’ kata Ninshu.
Putri Kamiai menyeka air matanya sambil menatap pria itu dengan wajah kesal.
......................
Malamnya di Aula Yosei
‘’Kenapa matamu seperti kue bengkak?’’ tanya Satan.
‘’Kau sendiri kenapa kondisimu seperti itu?’’ tanya Putri Kamiai.
Satan menyilangkan kedua tangan di depan dada. ‘’Karena kau begitu lama datang, aku menyusuri tempat ini lalu berjalan di atas sana dan tanpa sengaja terjatuh.’’
‘’Hm, salahmu sendiri,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Ya sudah, ayo segera ke dapur. Dari tadi Yang Mulia ini ingin makan, tapi malah harus menunggumu,’’ gerutu Satan.
‘’Apa masalahnya menungguku sebentar?’’ balas Putri Kamiai.
......................
Dapur
‘’Kenapa matamu seperti itu? Seperti habis menangis,’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Dia memang habis menangis,’’ kata Pangeran Aoi.
Pangeran Midoriha mengangguk membenarkan tanpa mengatakan apa pun.
‘’Apakah guru pembimbingmu begitu galak sampai kau menangis?’’ tanya Arisu.
‘’Tidak, tidak, Ninshu Sensei sangat baik hati. Aku hanya ketakutan melihat tempat latihan,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Begitu menyeramkan, ya?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Yang pasti tidak semenyeramkan wajahmu,’’ kata Satan.
‘’Hei, jaga mulutmu. Wajah setampan ini tidak mungkin menyeramkan. Selain itu, kenapa kondisimu juga begini?’’ tatap Pangeran Ozora.
‘’Tidak sengaja terjatuh,’’ jawab Satan.
‘’Siapa yang mengajakmu bicara?’’ tanya Pangeran Ozora.
‘’Kau yang bertanya tadi,’’ jawab Satan dengan wajah bodoh.
‘’Aku hanya mengatakan isi kepalaku, bukan bertanya,’’ balas Pangeran Ozora.
Putri Kamiai terbelalak. ‘’Aku tidak tahu kalian berdua seakrab ini.’’
‘’Tidak ada yang akrab!’’ jawab kedua anak laki-laki tadi bersamaan.
‘’Hee, sampai kompak menjawab,’’ kata Putri Kamiai dengan wajah bodoh.
......................
[Dunia Bawah]
Tampak sosok wanita bergaun hitam duduk di kursi singgasana dengan kedua kaki menyilang. Ia mengetukkan jari sambil menatap dua pria berjubah hitam yang berlutut di depannya. ‘’Dunia Manusia tidak seluas alam semesta, kenapa menemukan pria itu pun kalian tidak bisa?’’
‘’Moushiwake arimasen Akuma-sama. Tapi, sepertinya Tuan Shinigami menghilangkan hawa keberadaannya,’’ kata Bakemono.
Bugh!
‘’Dia meninggalkan tugas dan malah berkeliaran di Dunia Manusia. Aku benar-benar tidak tahan lagi,’’ kata Akuma.
Ia pun berdiri dan berjalan pergi. ‘’Aku tidak mau tahu, yang pastinya segera temukan pria itu dan bawa dia padaku!’’
Bakemono dan Akuryo menunduk. ‘’Kami mengerti!’’
......................
[Dunia Manusia]
Akademi di Gunung Shinju
Lagi dan lagi, semua piring ditinggalkan oleh anak-anak yang lainnya membuat Putri Kamiai dan Satan terpaksa mengumpulkannya.
‘’Kenapa kita yang harus membersihkannya lagi?’’ habis pikir Putri Kamiai.
‘’Sudah kubilang kalau kau bisa pergi dan tidak perlu membantuku,’’ kata Satan.
‘’Tapi tidak mungkin juga aku membiarkanmu membersihkan semuanya sendirian. Ada ratusan piring di sini,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Kalau begitu berhentilah mengeluh terus,’’ kata Satan.
Putri Kamiai menghela nafas. ‘’Kau ini terlalu baik jadi orang.’’
‘’Jangan memanggilku seperti itu. Yang Mulia ini tidak menyukainya,’’ kata Satan.
‘’Heh, baru kali ini ada orang yang tidak suka dipanggil orang baik,’’ habis pikir Putri Kamiai.
Satan memutar bola matanya malas sambil mengumpulkan piring karena Putri Kamiai tidak mau diam. Begitu ia berdiri dan berbalik, sosok Banri sudah ada di belakangnya sambil menyilangkan kedua tangan. ‘’Sekarang apa lagi?’’
‘’Membersihkan semua piring pasti sangat melelahkan, bukan?’’ tanya Banri.
Satan tidak mengatakan apa pun dan hanya berlalu melewatinya.
‘’Kalian berdua tidak perlu ikut makan di aula ini lagi,’’ kata Banri berhasil menghentikan langkah Satan sebelum anak itu menatapnya.
Putri Kamiai meletakkan tumpukan piring dengan wajah kesal. ‘’Siapa kau yang seenaknya melarang kami?’’
‘’Itu kesepakatan dari anak-anak lainnya. Mereka tidak ingin berada dalam satu ruangan bersama anak pembawa sial. Jadi, kalian makan di dapur saja,’’ kata Banri.
Satan memasang wajah acuh membuat Banri melemparinya mangkuk.
‘’Hei! Beraninya kau,’’ seru Putri Kamiai sebelum menghampiri Satan yang dahinya berdarah.
‘’Apa kau bisu? Diajak bicara pun tidak menyahut,’’ kata Banri.
‘’Dia bukannya bisu, tapi tuli,’’ kata salah satu anak.
Satan menutup sebelah matanya saat darah di dahinya mengalir ke bawah sebelum menatap Putri Kamiai yang terlihat cemas. ‘’Ayo pergi dari sini.’’
‘’Tapi lukamu,’’ kata Putri Kamiai.
Namun, anak laki-laki itu hanya berjalan pergi membuat sang putri menatap Banri.
‘’Satan tidak pernah melakukan apa pun padamu, kenapa kau begitu membencinya?’’ tanya Putri Kamiai dengan wajah kesal.
‘’Siapa suruh terlahir sebagai anak pembawa sial,’’ kata Banri membuat sang putri tidak mengatakan apa pun lagi dan menyusul Satan.
......................
Penginapan
‘’Kalian semua melihatnya, kan? Jelas-jelas dahinya berdarah, tapi anak pembawa sial itu tidak menangis,’’ kata Arisu.
‘’Benar, aku tidak percaya ada orang di dunia ini yang tidak bisa menangis,’’ kata Hashizume.
‘’Apakah mungkin dia tidak tahu cara menangis?’’ tanya Ishizawa.
Mereka yang di sana saling bertatapan dengan wajah bingung.
‘’Aku juga tidak pernah melihatnya marah meski anak bernama Banri itu sering mengusiknya,’’ kata Pangeran Aoi.
‘’Hhah? Tidak tahu cara menangis dan marah … Jangan-jangan dia adalah boneka?’’ kata Pangeran Ozora.
‘’Boneka mana yang mengeluarkan darah manusia dari tubuhnya?’’ habis pikir Rensuke.
Pangeran Ozora mengerutkan alis dan bibir. ‘’Kalau begitu, dia boneka jadi-jadian.’’
Anak-anak yang lainnya menghela nafas. ‘’Terserah apa katamu.’’
...Visual Akuma...
...Visual Bakemono...
...Visual Akuryo...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
GemiNoSa
visualnya tertambah lgi hrus hfal mati ini
2024-05-06
5
Pisces Aprodithe
akuma cantik banget dan dua cowo lainnya juga ganteng/Drool/
2024-05-01
6