Bumi yang telah dibangun kembali kini dihuni Empat Bangsa : Air, Tanah, Api dan Angin yang hidup berdampingan dengan harmonis, mengisi hari-hari dengan kemakmuran dan kedamaian.
Tahun ini Putri Kamiai memasuki usia tujuh. Ia tumbuh menjadi anak tercantik di antara tiga dunia, bahkan dianggap sebagai sosok dewi yang turun menjelma sehingga orang-orang memanggilnya Bunga dari Surga.
......................
Ruang Kenegaraan
‘’Kita memiliki tradisi dimana setiap anak yang berusia 7 tahun akan dikirim ke akademi untuk menerima pendidikan selama 12 tahun.’’
‘’Di sana, para anak dilatih untuk mengendalikan dan memanipulasi unsur berdasarkan elemen natural mereka.’’
‘’Kami sudah mencatat semua anak yang akan dikirim bersama Tuan Putri, dan mengurus persiapan keberangkatan mereka. Mohon Yang Mulia memberi keputusan.’’
‘’Izin diberikan!’’ perintah Raja Api.
‘’Sesuai kehendak Yang Mulia,’’ kata para petinggi kerajaan membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Di sisi lain, Putri Kamiai mengerutkan dahi melihat para pelayan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia menatap pelayan pribadinya yang sama sibuknya. ‘’Kikyo-chan, apakah aku akan dijual?’’
Gadis muda yang ditanyai hampir saja terjatuh setelah mendengarnya. ‘’Kenapa berkata seperti itu? Tuan Putri akan dikirim ke akademi untuk menerima pendidikan.’’
‘’Lalu kenapa kalian merapikan ruanganku?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Tuan Putri akan tinggal di akademi selama 12 tahun, jadi Yang Mulia akan menutup tempat ini untuk sementara,’’ jawab Kikyo.
Putri Kamiai melotot. ‘’Kenapa harus tinggal selama itu? Aku ke sana untuk menerima pendidikan, bukan pindah rumah.’’
Kikyo tersenyum kaku sambil menggaruk kepala belakangnya. ‘’Aduh, bagaimana menjelaskannya kepada Tuan Putri, ya?’’
‘’Kau mengatakan sesuatu?’’ tanya Putri Kamiai.
Belum sempat Kikyo menjawab, pintu terbuka membuat semuanya membungkuk hormat. ‘’Salam Yang Mulia.’’
‘’Kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya Raja Api.
‘’Setelah kakak, sekarang kalian juga akan mengirimku pergi. Kenapa aku tidak menerima pendidikan di istana saja?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Kau akan bertemu dengan banyak orang dari penjuru negeri dan belajar bersama mereka,’’ kata Raja Api.
‘’Tapi aku tidak mengenal siapa pun. Mereka semua adalah orang asing,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tidak ada yang namanya orang asing. Kelak, mereka akan menjadi teman-temanmu,’’ kata Ratu Api.
‘’Putriku yang cantik ini tidak akan mengecewakan kami, kan?’’ tanya Raja Api.
Putri Kamiai memasang wajah cemberut. ‘’Kalau begitu, aku akan menurut hanya dengan satu syarat. Selama ini aku tidak pernah menginjakkan kaki di luar istana. Dan kebetulan saat ini ada Festival Hanabi di kota, jadi biarkan aku bebas berkeliling satu hari penuh seorang diri.’’
Sang raja dan ratu saling bertatapan sebelum kembali menoleh ke arah sang putri.
‘’Tidak boleh. Itu berbahaya, Kikyo-chan akan ikut bersamamu,’’ kata Raja Api.
‘’Kalau dia ikut, aku tidak akan menikmati jalan-jalanku,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tapi berkeliaran di kota seorang diri itu berbahaya. Tidak ada yang tahu kapan seseorang menyerangmu,’’ kata Raja Api.
‘’Jangan khawatir. Jika aku menyamar, tidak ada yang akan mengenaliku,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tetap tidak bo—‘’ ucapan sang raja terpotong saat sang ratu memegang tangannya sebelum mengkodenya dengan anggukan kepala.
Melihat hal itu membuat Raja Api menghela nafas. ‘’Baiklah. Tapi, beberapa prajurit akan tetap ikut bersamamu dan mengawalmu dari jauh.’’
‘’Sepakat!’’ senyum Putri Kamiai sebelum menghampiri lemari baju.
‘’Haa, aku tidak pernah menang saat melawannya berdebat,’’ kata Raja Api membuat sang ratu tersenyum.
......................
Jalanan Utama Kota
Tampak seorang anak mengenakan pakaian biasa yang tidak lain adalah Putri Kamiai. Ia menyusuri jalan sambil menatap orang-orang di sepanjang jalan. ‘’Sangat ramai, berbeda di istana yang seperti tidak memiliki kehidupan saja.’’
Langkah kakinya kemudian terhenti sebelum berbalik melihat para prajurit yang juga menyamar sepertinya. ‘’Aku tidak bisa bebas jika mereka terus mengikutiku, harus menjauhkan mereka dulu.’’
Putri Kamiai pun menghampiri para prajurit itu membuat mereka membungkuk hormat.
‘’Kalian sudah mengabdikan diri untuk kerajaan. Jadi, untuk membalas jasa kalian, terimalah ini,’’ kata sang putri membagikan uang koin.
‘’Eh? Tapi Tuan Putri, kami tidak pantas mendapatkan i—‘’
‘’Ush! Jangan panggil aku Tuan Putri di sini. Kalian ingin penyamaranku terbongkar sehingga pembunuh berantai akan melenyapkanku?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Tidak Tuan Put—hem maksud kami Nona Muda.’’
‘’Kalian pergilah bersenang-senang juga,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Tapi Yang Mulia akan menghukum kami jika melanggar perintahnya.’’
‘’Kita berada di luar istanaa, kau pikir penglihatan ayahanda bisa sampai ke sini? Turuti saja apa yang aku katakan,’’ kata Putri Kamiai.
Para prajurit tadi hanya mengangguk mengerti sebelum membungkuk pergi.
Setelah itu, sang putri kembali menyusuri jalan hingga ia tidak sengaja melihat kerumunan orang. ‘’Kenapa begitu ramai?’’
Bugh!
Bugh!
‘’Dasar pembawa sial!’’
‘’Enyahlah!’’
Anak itu dipukuli dan dilempari membuat Putri Kamiai yang melihatnya langsung melerai.
‘’Hei, apa yang kalian lakukan?! Berhenti memukulinya!’’ seru sang putri.
‘’Dia mencuri makanan di beberapa toko sambil memanfaatkan keramaian ini.’’
‘’Tapi tidak perlu memukulinya? Apakah aturan mengajari kalian main tangan sebelum membicarakannya baik-baik?’’ tanya Putri Kamiai.
Salah satu pedagang tersenyum remeh. ‘’Lihat bocah kurang ajar ini, beraninya mengajari orang dewasa seperti kita tentang tata krama.’’
‘’Bocah kurang ajar? Apa kau tidak sadar sedang bicara dengan siapa saat ini?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Memangnya siapa? Tuan Putri negara ini? Tuan Putri kami itu berbudi luhur dan tidak mungkin bocah kurang ajar sepertimu.’’
Putri Kamiai menghela nafas kasar. ‘’Kau—’’
Ucapannya terpotong setelah sadar ia tidak pernah keluar istana sehingga tidak ada yang pernah melihat wajahnya.
Cih, aku sampai lupa ingin marah, kata Putri Kamiai dalam hati.
Ia lalu menatap para orang dewasa itu. ‘’Kalian sudah mendapatkan kembali barang kalian, kan? Jadi pergilah, kalau tidak, aku akan mengadukan tindakan kalian ke istana karena telah memukul anak di bawah umur.’’
Mendengar hal itu membuat kerumunan orang tadi berbisik sebelum akhirnya pergi.
Putri Kamiai menghela nafas sambil menghampiri anak laki-laki tadi. ‘’Hei, kau tidak apa-apa?’’
‘’Jangan menyentuhku!’’ seru anak laki-laki tadi mendorong sang putri.
‘’Woah, aku sudah membantumu, dan ini balasan untukku? Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh kedua orangtuamu?’’ tanya Putri Kamiai.
‘’Yang Mulia ini tidak akan tertipu dengan perbuatan baikmu. Bagiku, kau sama saja dengan mereka,’’ kata anak laki-laki itu.
‘’Ya-Yang Mulia?’’ bingung Putri Kamiai.
Anak laki-laki tadi melakukan petikan jari. Namun, tidak ada yang terjadi membuatnya Putri Kamiai yang melihatnya mengerutkan dahi lalu menepis tangan anak itu dengan kasar.
‘’Kau benar-benar cari mati,’’ kata anak laki-laki.
‘’Kau sedang apa? Apa kau pikir dengan melakukan petikan jari, daratan ini akan hancur dan menjadi lautan darah? Dengar makhluk fana, kau bukan dewa, iblis atau penyihir, jadi berhentilah menjadi badut,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Cih, sangat cerewet seperti cacing kepanasan,’’ cibir anak laki-laki.
Putri Kamiai mengerutkan dahi. ‘’Hei makhluk fana, aku bisa mendengarmu.’’
‘’Berhenti memanggilku makhluk fana,’’ kata anak laki-laki.
‘’Kalau begitu pencuri,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Satan!’’ tegas Satan.
Putri Kamiai mengerutkan dahi. ‘’Setan?’’
‘’Namaku Satan! Dasar tuli,’’ kata Satan.
‘’Kalau kau marah-marah terus, nanti rambutmu jadi putih dan kau dipenuhi kerutan,’’ kata Putri Kamiai.
‘’Kau mau aku bunuh?!’’ kesal Satan.
...Visual Putri Kamiai...
...Visual Satan...
...Visual Kikyo...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
GemiNoSa
visual waktu kecilnya imut
2024-05-06
6
Susi Putri
gemes bangett
2024-05-02
1
Dina⏤͟͟͞R
waah imutnya🤣🤣🤣 satan adalah reinkarnasinya
2024-04-28
1