Dibonceng mas Narendra, dada Aranti bergemuruh parah. “Apakah ini masih ada hubungannya dengan suara wanita yang gedor pintu sambil manggil-manggil sayang?” pikir Aranti benar-benar down. Otaknya mendadak tak bisa berpikir, benar-benar panas. Seolah, otak bahkan dadanya akan meledak hanya kebingungannya kepada apa yang dilakukan Davin di Yogyakarta.
“Buat apa itu, uang sebanyak itu?!” batin Aranti. Beruntung, mas Narendra bersedia menemaninya.
Kedatangan Aranti ke toko sembako milik ibu Susi, langsung mengusik sang pemilik. Di toko, ibu Susi benar-benar sendiri. Wanita itu tampak lesu dan awalnya sampai terkantuk-kantuk.
Makin hari, toko milik ibu Susi juga menjadi makin sepi. Apalagi, semenjak Aranti tak ikut mengurus, dan ibu Susi butuh banyak biaya untuk Davin, ibu Susi malah menaikan harga jual. Jadi, niat hati mendapatkan untung lebih, yang ada malah makin rugi. Karena yang ada, pembeli jadi kabur dan tak mau kembali lagi.
“Kalian ...?” sergah ibu Susi langsung berusaha menghakimi Aranti dan mas Narendra. Apalagi tadi, meski terus berusaha menjaga jarak, Aranti membonceng menyamping ke mas Narendra yang membawa motor matic warna hitam.
“Ma, aku bawa kabar penting. Ini mengenai mas Davin. Karena ternyata, selama ini, mas Davin hanya masuk sekali! Mas Davin enggak kuliah, Ma!” sergah Aranti langsung menceritakan semuanya.
Awalnya, ibu Susi terus menepis. Ibu Susi sangat yakin, apa yang Aranti bahkan mas Narendra jelaskan tentang Davin itu salah. Karenanya, mas Narendra nekat melakukan telepon video ke temannya yang menjadi asisten dosen. Petinggi kampus sengaja berkumpul dan menjelaskan status Davin. Sebab pengakuan Davin yang terus meminta ditransfer uang untuk membayar kuliah, juga sangat merugikan pihak kampus.
Ibu Susi langsung terduduk lemas. Sementara Aranti juga sudah sibuk menangis. Terlebih sejauh ini, Davin memang bukan tipikal lurus. Adanya Aranti di sana saja karena Davin telah menodainya dan berakhir hamil.
“Padahal aku berharap banget kamu berubah, Mas!” batin Aranti.
“Vin ... sebenarnya kamu kenapa, Vin?” lemas ibu Susi sambil menepuk-nepuk kepalanya menggunakan kedua tangan. Hingga yang ada, sanggul rambutnya jadi acak-acakan.
Aranti sengaja menelepon nomor ponsel Davin. Namun tiga telepon suara yang ia lakukan, tetap tidak mendapatkan balasan. Malahan di telepon selanjutnya, telepon yang Aranti lakukan justru ditolak.
“Selalu begini, Ma. Anakmu terus begini sejak aku kerja. Mas Davin hanya mengabari ketika minta ditransfer uang. Benar-benar hanya itu karena saat aku tanya, transferan sudah masuk atau belum, beneran hanya begini!” ucap Aranti yang menunjukkan layar ponsel pecahnya kepada ibu Susi. Ia sampai bersimpuh juga demi mengimbangi keadaan ibu Susi. Ia sengaja membuat ibu Susi mengetahui ruang obrolan WA-nya dengan Davin.
Mas Narendra yang ada di sana juga turut menyaksikannya. Betapa Davin sangat mengabaikan Aranti dan hanya mengabari ketika butuh ditransfer uang.
“Jangan buruk sangka ... jangan buruk sangka. Sabar, ... sabar. Ya Allah ... tiga bulan masa iya masih tetap begini? Jika menang kami bukan jodoh, ... tolong jauhkan kami. Aku ikhlas!” batin Aranti sambil menyeka tuntas air matanya. Ia harus segera kembali ke rumah makan karena ia masih harus bekerja.
“Aku berangkat kerja dulu, Ma. Hari ini aku kerja sampai malam karena temanku izin dan aku yang menggantikannya,” ucap Aranti sengaja menyalami tangan kanan ibh Susi dengan takzim. Bahkan meski ibu Susi melakukannya dengan setengah hati.
Aranti kembali dibonceng mas Narendra. Sepanjang perjalanan, baik Aranti maupun mas Narendra hanya diam. Alasan Aranti diam lantaran telanjur kecewa kepada Davin. Jauh di lubuk hatinya Aranti bersumpah tidak akan memberi Davin kesempatan jika suaminya itu terbukti bersalah. Selain itu, Aranti juga tidak sudi mentransfer uang lagi kepada Davin sebutuh apa pun Davin ke uang. Sedangkan alasan mas Narendra sengaja diam karena terlalu khawatir kepada Aranti.
“Kalau kamu, saya bisa minta teman saya buat cek ke tempat tinggal Davin,” sergah mas Narendra ketika mereka sampai di depan rumah makan.
Aranti sudah turun, sementara mas Narendra masih bertahan di motor. Dalam diamnya, mas Narendra menegaskan. Dirinya tak sudi menyebut Davin sebagai suami Aranti, sebab kelakuan Davin sekaligus cara Davin memperlakukan Aranti, tak pantas membuat pemuda itu disebut suami.
Aranti menghela napas dalam kemudian menggeleng. “Enggak, Pak. Saya sudah pasrah. S—saya ... mau minta diberesin saja.”
Mas Narendra paham maksud minta dibereskan yang Aranti katakan. Dengan kata lain, Aranti ingin mengakhiri pernikahannya dengan Davin.
“Sekali lagi, terima kasih banyak, yah, Pak. Tanpa Pak Narendra, semuanya pasti belum terungkap. Sekalian, ... saya juga mau minta maaf. Karena selama menolong saya, Pak Narendra juga jadi sering kena semprot bahkan fitnah keji dari mertua saya!” ucap Aranti sambil membungkuk santun.
“Akhir bulan ini, ... mending aku ke kota saja. Mending aku pergi ke tempat yang jauh dan enggak bisa dijangkau Davin. Karena andai aku tetap di sini, Davin dan keluarganya pasti terus ngerecokin. Andai aku enggak ada pinjaman ke tempat kerja, aku pasti minggat sekarang juga. Masalahnya, tempat kerjaku punya keluarga oak Narendra. Sementara selama ini, mereka sangat baik!” batin Aranti sambil terus menjalani aktivitasnya.
Melihat Aranti membuat mas Narendra makin kasihan. Apalagi di beberapa kesempatan, Aranti sibuk membenarkan selendang pengikat di bawah perut. Mas Narendra sampai melihatnya lantaran pria itu sengaja mengawasi Aranti. Ia khawatir, Aranti yang sedang hamil muda dan banyak beban pikiran, berakhir pingsan karena memang, Aranti sibuk bekerja layaknya pekerja lainnya.
••••
Setelah setengah hari hingga malam berusaha menghubungi Davin, akhirnya usaha ibu Susi mendapatkan hasil. Sekitar pukul setengah dua pagi, akhirnya Davin menerima telepon suara dari ibu Susi. Ibu Susi yang pelipis leher, tengkuk, dada bahkan sekujur tangannya ditempeli koyok cabe langsung nangis meraung-raung.
“Apa salah Mama, Vin? Apaaaa?”
“Mama ingin kamu jadi sarjana biar bisa dipamerin ke tetangga!”
“Mama ingin kamu jadi orang sukses hingga Mama merasa sangat bangga!”
Di depan kostnya, Davin jadi gelisah. Dari dalam kost terdengar Anggita yang tengah muntah-muntah. Namun, alasan sang kekasih begitu tak semata efek mengidam. Sebab Anggita memang kembali mabok karena kali ini saja, mereka baru pulang dugem. Dan sampai detik ini, Davin tengah mengumpulkan keberanian untuk mengabarkan tentang Anggita kepada sang mama.
“Seperti apa istrinya Davin? Davin sudah menikah di usianya yang sangat muda! Meski dia berdalih siap menceraikan istrinya dan menjadikanku yang utama, rasanya ... rasanya aku beneran enggak terima!” batin Anggita benar-benar emosi setelah ia mengetahui jati diri Davin yang sudah memiliki seorang istri. Davin mengatakannya sendiri, ketika mereka sedang dugem beberapa jam lalu.
Di tempat berbeda, Aranti memilih tidak pulang dan tinggal di kamar khusus karyawan yang ada di rumah makan. Namun, Aranti tetap tidak bisa tidur. Kedua matanya terus terjaga bahkan menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
sherly
kenapa aku berharap Aranti keguguran aja ya.. mengingat keluarga Davin, dan si Davin sendiri kayak Gitu kelakuannya...
2024-07-28
1
Erina Munir
bagus aranti...tinggalin aja laki kaya gitu mau enaknya aja...prett luh davin
2024-06-25
0
Al Fatih
tinggalin sj sih Davin itu Ara.....,, stok sabarmu itu sebanyak apa sih,, masih mau d dzalimi terus...
2024-06-17
1