“Mulai sekarang kamu harus cari pekerjaan tambahan karena biaya kuliah Davin sangat mahal. Begitu-begitu, Davin suamimu. Dia kuliah juga buat masa depan kalian!”
“Sudah jadi kewajiban kamu buat cari biaya kuliah Davin, kalau kamu memang istrinya Davin!”
Masih pagi, ibu Susi sudah kembali berisik. Padahal, Aranti sudah bekerja bak tengah menjadi budak kompeni. Kini saja, meski baru pukul setengah tujuh pagi dan ibu Susi baru bangun, semua lantai rumah sudah beres Aranti pel. Kaca rumah juga sudah kinclong. Selain meja saji yang juga sudah disertai menu sarapan maupun makan siang.
Pengeluaran untuk Davin yang tidak sedikit memang membuat ibu Susi kewalahan. Ditambah lagi, kedua tokonya mendadak kompak sepi. Sementara berharap ke sang suami pun, ibu Susi tidak mungkin.
“Kemarin malam Mama telepon papanya Davin, papa Davin malah ngaku kecopetan. Makanya enggak jadi pulang. Jadi, berharap ke papanya Davin juga enggak ada gunanya. Wong baru kecopetan, jangankan transfer dan kasih kita uang, masih bisa napas saja tuh orang untung!” cerita ibu Susi yang kemudian berdalih, hanya Aranti yang bisa diandalkan.
“Beneran hanya kamu yang bisa diandalkan karena Mama pun harus jaga dua toko sekaligus!” lanjut ibu Susi masih berisik.
“Masalahnya Ma. Mas Davin sudah wanti-wanti, aku enggak boleh kerja. Katanya kalau aku kerja ke orang lain, sama saja mempermalukan keluarga ini!” ucap Aranti masih berdiri tak jauh dari tudung saji. Ia berusaha memberi sang mama mertua pengertian.
Hari ini Aranti kembali puasa hingga ia tak ikut sarapan dengan ibu Susi. Namun andai Aranti tidak puasa, ibu Susi memang tipikal pelit dan tak mau berbagi makanan kepadanya. Padahal, Aranti juga yang masak. Namun hingga kini, ibu Susi sama sekali tidak menawari Aranti makan meski ibu Susi tengah membujuk Aranti. Ibu Susi bahkan tidak peduli meski sang menantu yang masih memegang tudung saji, tengah hamil muda.
“Urusan itu gampang! Nanti Mama yang urus!” yakin ibu Susi sambil melahap paha ayam gorengnya. Ibu Susi menatap Aranti tanpa dosa.
Aranti menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia merenung serius, tapi tak berminat menyanggupi permintaan ibu Susi. “Namun ketimbang mengurus biaya kuliah mas Davin ... aku lebih memilih mengumpulkan uang buat persalinan dan juga masa depan anakku, Ma.” Aranti menyampaikannya dengan nada sedih. Karena memang sesedih itu dirinya yang tidak diberi nafkah, tapi malah terus dijadikan tulang punggung.
Mendengar balasan Aranti yang melakukannya sambil terus menunduk, emosi ibu Susi langsung tersulit. Gelas berisi air putih di sebelah tangan kanannya ia lempar ke wajah sang menantu.
Walah sempat sangat terkejut, ulah ibu Susi tetap Aranti tanggapi dengan menunduk.
“Sudah ikuti saja apa yang saya suruh!” marah ibu Susi sambil berdiri. Ia menatap marah Aranti yang sengaja ia jambak karena menantunya itu terus menunduk.
“Ma, udah Ma ... sakit!” mohon Aranti yang meski berusaha tegar bahkan kebal KDRT ibu Susi, pada akhirnya tetap kesakitan juga.
“Dengar, simak baik-baik. Saya akan menelepon Davin dan meminta Davin agar kamu diizinkan kerja!” tegas ibu Susi. “Urusan anakmu, itu nanti. Kalau adanya dia cuma nyusahin, lebih baik dia mati! Hanya anak settan yang hidupnya nyusahin!” ucap ibu Susi masih marah-marah.
Tangan kiri ibu Susi meraih ponselnya dari meja. Namun tangan kanannya tetap menjambak Aranti, meski sang menantu sudah memohon sekaligus meminta ampun. Ibu Susi menelepon nomor ponsel Davin seperti niat sekaligus tujuannya. Ia akan membuktikan kepada Aranti, bahwa dirinya bisa membuat Davin mengizinkan Aranti bekerja. Agar Aranti juga membantu mencari biaya kuliah Davin, hingga ibu Susi tidak harus berjuang sendiri.
“Jadi istri sekaligus menantu, memangnya harus sesakit ini? Memangnya aku enggak boleh melawan apalagi sampai melakukan kekerasan hanya untuk melindungi diriku yang sedang hamil? Masa iya, membela diri dosa? Jika membela diri dosa, yang Davin dan ibu Susi lakukan ke aku, disebut apa?” batin Aranti masih berusaha diam.
Sampai detik ini Aranti masih ragu. Aranti bahkan takut, keputusannya melawan tidak dibenarkan. Apalagi sejauh ini, ia hanya berjuang sendiri. Karena orang tuanya saja angkat tangan. Sementara andai Aranti ingin berkonsultasi, yang ada ibu Susi menyebutnya dosa karena konsultasi yang Aranti jalani wanita itu sebut mengumbar aib.
Di tempat berbeda, di kamar kost Davin, pemuda itu sedang kebingungan. Sebab Anggita yang baru keluar dari kamar mandi, memberinya test pack berhias dua garis merah.
“Kamu hamil ...?” lirih Davin tak percaya dan memang langsung terduduk lemas.
Davin tahu bahwa maksud dua garis merah hasil di test pack bertanda kehamilan.
“Ya tentu saja apalagi selain bikin terus, kita enggak pernah pakai pengaman,” manja Anggita yang kemudian langsung duduk di pangkuan Davin.
Kenyataan Anggita yang akhirnya hamil, sudah membuat Davin sangat pusing. Namun permintaan ibu Susi tak kalah membuat Davin pusing. Davin yang sengaja keluar dari kost agar obrolannya tidak didengar Anggita, tetap tidak ikhlas jika Aranti bekerja. Bukan karena Davin khawatir Aranti kelelahan. Melainkan Davin tidak ikhlas Aranti yang cantik dilihat laki-laki lain.
“Kalau Aranti enggak kerja ke orang lain, siapa yang mau bayar kuliah kamu? Biaya kuliah kamu di situ mahal banget, Vin!” ucap ibu Susi marah-marah kepada Davin.
Setelah telinga Davin sampai terasa panas akibat sang mama yang terus marah bahkan sampai teriak-teriak. Davin mengalah dan merelakan Aranti bekerja. Sementara untuk Anggita, Davin meminta kekasihnya itu untuk menggugurkan janinnya.
“Kamu tahu kan, bapakku galak? Lah ini kamu minta aku gugurin janin aku, sementara menggugurkan itu risikonya fatal!” marah Anggita benar-benar kecewa.
“Kamu harus nikahin aku!” tuntut Anggita.
Tuntutan dari Anggita sungguh membuat otak Davin tidak bisa berpikir.
“Aku yakin orang tua Davin orang kaya. Davin minta apa pasti langsung ditransfer sama mamanya. Jadi bisa aku pastikan, hidupku langsung berubah jaya setelah aku menikahinya! Bahkan meski pernikahan kami harus dilakukan dengan kehamilanku yang memang bukan anaknya!” batin Anggita yang kemudian menagih jawaban Davin lagi.
“Sayaaanggg! Sayang, kamu harus nikahin aku. Kamu sayang aku, kan? Kamu cinta aku, kan?”
“Ayo kita nikah!”
“Ayo kita nikah sebelum perut aku makin besar, Sayang!”
Anggita yang jadi berisik dengan segala tuntutannya, membuat Davin mengangguk-angguk. “Beri aku waktu buat menjelaskan ini ke ... orang tuaku!” ucap Davin yang dalam hatinya berkata, “Ayolah Vin ... Anggita lebih dari segalanya jika dibandingkan dengan Aranti. Jika memang Aranti tidak bisa menerima pernikahanku dengan Anggita, ... aku akan menceraikannya. Aku akan menikahi Anggita karena mama dan papa pasti sangat setuju. Anggita anak orang kaya, papa apalagi mama pasti bangga jika aku menikah dengan Anggita!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Nartadi Yana
cocok deh kamu dapat pelacur mamamu ditinggal selingkuh dan usaha orang tuamu bangkrut sehingga kamu jadi gembel
2024-12-04
0
Abinaya Albab
itu baru secuil karma ya Vin baru kena tipu
2024-10-30
0
Ria Lita
ih aranti kok goblok amat sih tinggal kan kenapa tu manusia laknut
2024-10-14
0