Bab Dua Belas

Tak adanya Davin di rumah, membuat beban hidup Aranti berkurang. Aranti hanya cukup bekerja tanpa harus melayani naf.su bejad suaminya. Karena ketika harus melakukannya, sebenarnya Aranti sangat kesal. Bukan karena keadaan Aranti yang sudah sangat kelelahan, tetapi mengenai aturan agama maupun kesehatan Aranti sendiri yang memang tidak boleh digaul.i.

Bangun tidur, semua pekerjaan rumah sudah langsung Aranti urus. Suasana teramat sunyi karena pemilik rumah gedong itu memang masih tidur. Ditambah lagi, ART yang awal Aranti menjadi bagian di sana masih bekerja, memang benar-benar diberhentikan tak lama setelah Aranti pulang dari rumah sakit. Karena memang seperti kemauan ibu Susi, Aranti yang menggantikan ART tersebut mengerjakan semuanya.

Ketika akhirnya ibu Susi maupun sang suami keluar dari kamar sekitar pukul tujuh, Aranti sudah beres masak. Sajian lezat sesuai pesanan hari kemarin sudah ada di sana.

“Sawah yang ada di belakang sekolah, hari ini juga harus beres kamu tanami, Ran. Pokoknya, sebelum kamu beres tandur di sana, ... kamu enggak boleh pulang ... bahkan kamu enggak boleh makan!” ucap ibu Susi.

Kadang Aranti berpikir bahwa mulut mama mertuanya merupakan wujud dari bagian neraka. Karena hampir setiap ucapan yang keluar termasuk ketika wanita itu berbicara kepada sang suami, nyaris tidak ada yang manusiawi.

Sambil terus mencuci gerabah, Aranti mengangguk paham. Namun pak Deni memintanya untuk bergabung sarapan bersama. Kehamilan Aranti yang tidak boleh kelelahan apalagi kekurangan gizi, menjadi alasannya. Sebelumnya, pak Deni memang sudah beberapa kali menunjukkan perhatiannya kepada Aranti. Namun kali ini, pria yang mewariskan ketampanannya kepada Davin itu, melakukannya secara terang-terangan.

“Pa ...?” ucap Ibu Susi menatap tak terima sang suami.

“Apaan sih? Nanti kalau Aranti sakit, semuanya jadi enggak keurus. Ujung-ujungnya kita yang repot, Ma!” sergah pak Deni sudah mengambil piring yang ia isi nasi.

Ayam goreng, sambal, dan juga sop sayuran lengkap dengan daging sapi, pak Deni siapkan untuk Aranti. Pak Dewi sampai memisahkan setiap tulang ayam goreng di piring Aranti yang malah jadi takut.

“Nih orang beneran baik, kan, ya? Soalnya otakku telanjur ... hmmm ...,” batin Aranti langsung merinding ketika pak Deni tak segan mengelus-elus perutnya.

“Kan ... aku jadi makin takut!” batin Aranti. Makanan yang harusnya terasa lezat, apalagi jarang-jarang ia mendapatkan paket komplit begitu, asal Aranti telan. Aranti buru-buru menyelesaikan makannya lantaran duduk di sebelah pak Deni dan baginya terlaku perhatian, malah membuatnya tidak nyaman.

“Mending papa Deni juga punya mulut wujud neraka, daripada perhatian tapi takutnya kayak Davin yang apa-apa serba se.ks!” batin Aranti jadi kerap merinding. Bulu kuduk di kedua tangannya ia pergoki terus berdiri.

Ketika tangan kiri pak Deni yang tidak terkena makanan kembali berusaha meraih lengan tangan kanan Aranti. Sebelum itu benar-benar terjadi, Aranti memilih pergi.

“Aku mau sambil cuci piring biar cepat beres. Takut tandur di belakang sekolahnya enggak ke kejar,” ucap Aranti sengaja beralasan.

“Nah iya, cepat!” sinis ibu Susi yang memang duduk jauh dari sang suami.

Namun diam-diam ia memperhatikan sang suami yang ia pergoki terlihat kecewa karena ditinggal Aranti. Ia menatapnya saksama dan langsung kesal.

•••

Aranti yang memakai pakaian ala-ala orang ke sawah pada kebanyakan, sengaja memakai sepeda. Jarak sawah yang akan Aranti urus dengan rumah orang tua Davin terbilang jauh. Hingga demi menghemat waktu, Aranti sengaja memanfaatkan sepeda mini yang biasa ART Davin pakai ke mana-mana.

“Enggak ada yang lihat-lihat kamu, kan?” Suara Davin tetap terdengar jelas meski Aranti membungkus ponselnya menggunakan plastik. Selain itu, Aranti juga menyelipkannya tak jauh dari tudung dekat telinga kanannya.

“Lah, orang-orang kan punya mata. Ya wajar kalau mereka lihat aku,” balas Aranti sangat enteng sambil mengayuh sepedanya. Adegan seperti kini dan membuatnya keluar dari rumah orang tua Davin, memang akan selalu membuatnya merasa bebas.

“Ayolah, ... meski kamu pakai pakaian ke sawah, kamu tetap beda karena kamu memang sangat cantik!” rengek Davin terdengar putus asa. “Aku enggak rela kalau kamu sampai selingkuh!”

“Siapa yang selingkuh sih? Di sini aku capek-capek, mirip dijajah kompeni, masih saja kamu curigai bahkan tuduh selingkuh! Jangan sableng deh. Tobat dikit kenapa!” balas Aranti yang pada akhirnya tetap tidak bisa jika tidak jengkel.

Dari seberang, terdengar Davin yang menghela napas dalam. Keadaan yang Aranti pahami karena sang suami sedang putus asa. “Aku sayang banget ke kamu. Aku enggak mau kehilangan kamu. Makanya aku takut kamu selingkuh selagi aku enggak sama kamu.”

Mendengar itu, dengan entengnya Aranti membalas, “Ya ngapain kemarin kamu enggak ajak aku tinggal bareng kamu saja di situ. Itu jauh lebih bikin kamu percaya, kan? Nah nih ...hapeku sudah ngedrop lagi!”

“Lah, kok bisa ngedrop? Kamu enggak cas dan sengaja biar kamu bisa selingkuh dengan leluasa?” balas Davin langsung sewot sekaligus marah-marah.

“Gimana aku bisa cas hape aku, kalau kamu saja telepon non stop? Malam-malam aku ketiduran dan telepon kita mati saja, tetap kamu telepon lagi, kan? Pas aku sibuk beres-beres rumah pun, tetap kamu telepon sampai sekarang. Kamu hanya matiin telepon kita kalau aku sedang bareng papa mama kamu!” kesal Aranti.

“Ya minimal, pas kamu lagi sama mama papa aku, tuh hape dicas!” sewot Davin dan itu menjadi suara terakhir yang Aranti dengar dari ponselnya. Sebab gawai canggih berwarna biru itu sungguh mati karena kehabisan daya baterai.

“Nah ... kawus ... rasakno ... syukurin! Sampai sore nanti, aku bebas dari kamu!” kesal Aranti yang juga merasa lega karena pada akhirnya bisa terbebas dari Davin.

Jalan aspal tak begitu luas dan beberapa bagiannya telah berlobang, Aranti lewati di antara rasa bebas yang ia miliki. Terlebih, keadaan yang sudah mulai agak panas, tak membuat keindahan di sana berkurang. Sepanjang jalan yang Aranti lewati, kanan kiri merupakan hamparan sawah. Dan layaknya sawah orang tua Davin yang akan ia tanami bibit padi atau itu tandur, sawah-sawah lain juga tengah mengalami hal serupa. Jadi, suasana di sana memang ramai. Termasuk warung pojokan dan nyaris selalu dipadati pembeli yang kebanyakan pekerja sawah.

“Itu salah satu warung makan keluarga mas Rendra. Mereka memang seniat itu kalau dagang. Pelanggan selalu membeludak. Kalau yang enggak tahu pastinya dikira karena pesugihan saking ramenya. Padahal karena memang rasa masakannya yang sangat enak dan harganya pun ramah di kantong,” batin Aranti yang sudah menepikan sepedanya.

Namun ketika Aranti balik badan, wanita itu nyaris ditabrak seseorang andai ia tak buru-buru minggir. Orang yang memakai pakaian ke sawah lengkap memakai tudung layaknya Aranti itu malah mas Narendra. Iya, mas Narendra yang nyaris menabrak Aranti. Baik Aranti maupun mas Narendra sama-sama terkejut dan memang langsung saling mengenali. Yang mana mas Narendra dan awalnya sibuk sekaligus fokus dengan ponsel, langsung meminta maaf.

Alasan Aranti terkejut tentu karena ia tak menyangka, seorang mas Narendra yang sudah sukses dalam segala hal, masih mau ke sawah dan tak takut lumpur apalagi panas. Sementara alasan mas Narendra terkejut setelah mengenali Aranti, tentu karena wanita bertubuh mungil itu ia ketahui sedang hamil muda. Sedang hamil muda harusnya fokus istirahat. Lah kok ini malah ke sawah?—pikir mas Narendra heran sekali.

Terpopuler

Comments

Damai Damaiyanti

Damai Damaiyanti

ranti kamu di jadiin pembantu,kerja rodi tanpa gaji,wes keluarga dajal kabeh ini

2024-07-03

0

Suci Dava

Suci Dava

Klo tmptku ngga ada air kak Ross, sawahnya sawah tadah hujan

2024-04-28

0

Firli Putrawan

Firli Putrawan

wah ini emang keluarga g bnr g anak nya g bpk waduh bahaya ni, iih jd bikin pusing ni tar kasian s aranti

2024-04-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bunga yang Layu Sebelum Mekar
2 2. Davin dan Obsesinya Kepada Aranti
3 Bab Tiga
4 4. Andai Tidak Telanjur Hamil
5 Bab Lima
6 6 : Ceraikan Aku!
7 7 : Kehamilan Aranti yang Mengejutkan
8 8. Keadaan yang Tidak Wajar
9 9. Hanya Status
10 10. Air Mata Pernikahan
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Hantaman Wajan
20 Bab Dua Puluh
21 21. Bab Dua Puluh Satu
22 Dua Puluh Dua
23 Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Novel : Dijual Suami Dinikahi Kakak Ipar (Mafia Dan Perawat Muslimah)
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Bab Empat Puluh Enam
48 Bab Empat Puluh Tujuh
49 Aranti : “Aku yang Pernah Kau Hancurkan!”
50 TAMAT
51 Novel Horor : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
52 Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Bunga yang Layu Sebelum Mekar
2
2. Davin dan Obsesinya Kepada Aranti
3
Bab Tiga
4
4. Andai Tidak Telanjur Hamil
5
Bab Lima
6
6 : Ceraikan Aku!
7
7 : Kehamilan Aranti yang Mengejutkan
8
8. Keadaan yang Tidak Wajar
9
9. Hanya Status
10
10. Air Mata Pernikahan
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Hantaman Wajan
20
Bab Dua Puluh
21
21. Bab Dua Puluh Satu
22
Dua Puluh Dua
23
Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Novel : Dijual Suami Dinikahi Kakak Ipar (Mafia Dan Perawat Muslimah)
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Bab Empat Puluh Enam
48
Bab Empat Puluh Tujuh
49
Aranti : “Aku yang Pernah Kau Hancurkan!”
50
TAMAT
51
Novel Horor : Tumbal Pengantin Kebaya Merah
52
Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!