Melanjutkan sekolah tidak boleh bahkan meski secara online, hanya karena dikira akan tebar pesona ke lain pria. Bekerja pun tidak boleh dan malah dianggap memalukan keluarga Davin. Sementara diam tidak mungkin Aranti lakukan karena Davin dan keluarganya berdalih tidak akan memberi nafkah.
“Sebenarnya, ini hubungan macam apa? Benar, ini ikatan sebuah pernikahan karena memang aku enggak punya pengalaman?”
“Memang aku yang enggak sabaran dan selalu ingin kepastian. Atau memang, mereka yang dasarnya keterlaluan?”
“Iya, aku tahu bahwa setiap kehidupan bahkan rumah tangga memiliki cobaan masing-masing. Dari suami, dari mertua, termasuk dari segi ekonomi ....”
“Masalahnya, kalau posisinya seperti aku. Gerak enggak boleh, usaha lebih-lebih enggak boleh ... yang ada lama-lama aku bisa mati!”
“Cerai enggak dikasih, tapi dibuat sakit hati terus!”
Aranti yang awalnya menunduk, berangsur mengangkat tatapannya. Ia berdiri di depan wastafel yang dindingnya dihiasi cermin. Hingga yang ada, ia bisa melihat pantulan dirinya khususnya bagian wajah. Selain kedua matanya yang sembab dan wajahnya pun penuh lebam, kini ia juga memiliki luka cakar cukup dalam di pipi kirinya. Itu ulah ibu Susi yang tak terima lantaran baginya, Aranti terlalu banyak menuntut.
“Sudah miskin, murahan, banyak menuntut!” itu yang ibu Susi ucapkan berulang kali, beberapa saat lalu.
Selain luka cakar di pipi kirinya, rambut panjang Aranti juga awut-awutan. Itu efek jambakan ibu Susi yang juga membuat kepala Aranti pedas—perih.
Menghela napas dalam, Aranti berusaha menyudahi kegaduhan di dalam dadanya. “Oke, anggap saja aku yang enggak sabaran. Aku terlalu menuntut sedangkan adanya aku di sini tidak mertuaku harapkan!”
“Mungkin mereka butuh bukti. Bukti keseriusanku kepada hubunganku dan Davin. Mungkin, ... mereka berpikir aku hanya ingin menumpang hidup enak!”
“Jadi memang, aku harus lebih sabar. Aku harus bisa jadi menantu sekaligus istri yang baik!”
“Agar mereka percaya, aku tulus. Karena pada kenyataannya, aku sudah ikhlas.”
“Aku sudah memaafkan semua perbuatan mereka, sekeji apa pun mereka kepadaku.”
“Asal mereka juga mau memberiku kesempatan. Karena aku ingin punya rumah tangga yang benar!”
Mendadak, Aranti tersedu-sedu. Tangisnya pecah hingga ia buru-buru membekap mulutnya menggunakan kedua tangan. Ia tak mau suara tangisnya terdengar oleh Davin dan ia yakini masih menunggu di dalam kamar.
Aranti keluar dari kamar mandi, dengan keadaan yang jauh lebih rapi, meski ia masih memakai pakaian yang sama. Davin tengah sibuk war game di ponsel sambil tiduran di tempat tidur. Aranti tak berniat mengusik Davin karena pada kenyataannya, ia telanjur enek. Ketampanan dan fisik Davin yang memang keren di usianya, sama sekali tak mampu menarik perhatian Aranti.
Sejak awal, sekeren apa pun Davin yang sangat populer di sekolah mereka, Aranti sama sekali tidak tertarik. Bahkan ketika Davin terang-terangan mengejarnya. Membuat semuanya baper, atau malah mendadak menjadi antis Aranti lantaran iri. Aranti sama sekali tidak tersentuh apalagi menganggap Davin itu penting. Rasa tidak tertarik yang juga makin menjadi-jadi, setelah Aranti mengetahui tabiat sekaligus watak Davin sekeluarga. Bukan hanya setelah Aranti sampai diperkosa, tapi juga apa yang Aranti dapatkan setelah itu.
“Jangankan kata maaf dan memang sepantasnya mereka lakukan ke aku. Aku enggak disalahkan bahkan diKDRT saja, untung!” batin Aranti.
Minimal, seorang istri akan merasa ingin bergantung bahkan telanjur tidak bisa jauh dari suaminya. Apalagi jika istri itu sedang hamil dan ia terancam LDR dengan sang suami. Hanya saja, sikap Davin yang masih asyik dengan dunianya sendiri, membuat Aranti tak merasakannya.
“Sabar, ... jangan banyak menuntut. Mereka hanya butuh bukti bahwa aku tulus!” batin Aranti berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Turunkan egomu, ayo jadi istri dan menantu yang lemah lembut,” batin Aranti yang kemudian duduk di sebelah Davin.
Aranti bermaksud meminum obat yang memang harus ia konsumsi akibat pendarahan yang ia alami. Selain itu, Aranti juga diwajibkan untuk istirahat sambil berbaring, selama dua minggu terakhir.
“Istri sedang hamil, bukannya diperhatikan apalagi disayang. Malah dibiarkan jadi bahan amukan mamanya!” Sisi egois Aranti berbisik, meminta Aranti untuk minggat saja dari sana jika Davin dan orang tuanya tetap tidak bisa memperlakukannya dengan manusiawi. Aranti yang baru meminum obat langsung diam merenunginya. Aranti merasa, apa yang baru saja menghiasi benak dan pikirannya itu bukan hal yang salah. Namun kemudian, hati kecil Aranti berbisik, bahwa Aranti tak boleh melakukannya.
“Jangan lakukan itu. Tolong beri dirimu dan juga mereka kesempatan. Barulah jika beberapa kurun waktu keadaan tetap tidak lebih baik, ... kamu baru boleh melakukannya. Paling tidak, kamu harus menunggu sampai anak yang kamu kandung, lahir. Coba setelah itu kita sama-sana lihat, apa yang akan mereka lakukan. Jika memang tetap sama atau malah lebih parah, ... berarti mereka memang pantas kamu tinggalkan!” bisik hati kecil Aranti dan langsung Aranti terima.
••••
“Enak, ya ... tiap hari cuma tidur sama makan! Kamu bahkan menjadikan anakku pembantumu!” kesal ibu Susi di keesokan harinya.
Namun untuk kali ini, Davin yang membawa sepiring menu sarapan berupa nasi lengkap, meminta sang mama untuk diam.
“Selama dua minggu ke depan, Ranti wajib bed rest, Ma!” ucap Davin berusaha memberi mamanya pengertian.
“Alah ... alasan! Bilang saja kalau dia lemah! Memang dasarnya dia pemalas!” ucap ibu Susi makin sinis.
“Selapar apa pun kalau keadaannya begini, aku juga langsung enggak nafsu makan. Di tenggorokanku mendadak kayak ada batu, yang bikin bagian di sana sakit. Karena sekadar menelan cairan yang hadir di ronggo tenggorokan saja, sakitnya minta ampun!” batin Aranti berangsur duduk. Ia tak lagi berbaring ke kiri seperti arahan yang dokter Sundari wajibkan kepadanya selama dua minggu ke depan.
“Habis makan langsung cuci piring. Rumah juga belum dipel karena mulai hari ini, kita enggak pakai pembantu lagi!” ucap ibu Susi.
“Enggak, Ma! Minimal selama dua minggu Ranti harus bed rest!” tolak Davin yang kemudian menaruh sepiring makanannya, di meja sebelah Aranti.
“Kamu ini kenapa sih, Vin? Kenapa sekarang, kamu justru jadi pembangkang? Kamu enggak percaya ke Mama?!” Ibu Susi meledak-ledak.
“Asal kamu tahu, dulu Mama juga pernah pendarahan bahkan lebih parah dari dia! Tapi Mama kuat, bahkan Mama bisa kerja ke sana kemari. Mama bisa ke sawah dan buktinya kamu tetap lahir!”
“Dokter sengaja be go-be goin kamu! Paling itu istrimu yang minta biar istrimu bisa malas-malasan selama dua minggu ke depan!”
“Apaan bed rest ... bed rest istirahat baring selama dua minggu!” Ibu Sulis terus mencibir.
“Hai, Nak ... kalau kamu memang ingin sama Mama. Kalau kamu mau jadi bagian dari rezeki Mama ... kamu harus kuat. Namun jika kamu memang bukan rezeki Mama, ... Mama ikhlas!” batin Aranti. Setelah mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan, mengajak sang jabang bayi berkomunikasi, Aranti berangsur duduk kemudian berdiri.
Aranti menahan luka hati mendalam karena ucapan mama mertuanya.
“Nah, kan ... dia bisa! Omongan Mama terbukti bahwa dia memang pemalas! Makan saja masih bisa, masa sekadar cuci piring enggak bisa!” sinis ibu Susi.
“Pekerjaan rumah itu mutlak kewajiban istri. Apalagi istri yang menumpang ke mertua, mereka wajib tahu diri!” tegas ibu Sulis lagi.
Ucapan ibu Sulis sungguh membakar hati bahkan kehidupan seorang Aranti. “Sepertinya apa yang aku alami sekarang merupakan alasan kenapa dari dulu bahkan sampai sekarang, aku enggak tertarik ke pernikahan. Aku sama sekali enggak berminat buat menikah, bahkan sekadar pacaran. Karena selain aku memang telanjur trauma pada pernikahan orang tuaku. Orang tuaku tak segan saling menyakiti hanya karena permasalahan ekonomi. Pada akhirnya aku memang merasakan apa itu air mata pernikahan!” batin Aranti mencoba memb.unuh hatinya sendiri agar dirinya tetap bertahan dan minimal hingga anaknya lahir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Abinaya Albab
mulutnya Bu Susi Iki harus kena azab
2024-10-30
0
Nurhartiningsih
nyesek banget
2024-07-12
0
Damai Damaiyanti
susahnya tinggal a mertua ya gitu, ada aj salahnya walau berusaha baik,aku ngerasain susah nya ngidam yg parah ampe g bisa nyium bau nasi atau apapun tetep salah,,padahal sebelumnya walau kerja pagi aku tetep beruzaha beberes dl ,n masak jg,nun pas ngidam lagi dan parah itu semua ga ad harganya ,,,nyesek bngt rasanya
2024-07-03
0