“Enggak boleh, Mas!” Aranti mendorong dada Davin sekuat tenaga di tengah tubuhnya yang masih merasakan sakit luar biasa.
“Enggak boleh bagaimana, padahal kamu istriku? Melayani bahkan memuaskan nafs.uku sudah menjadi kewajibanmu!” marah Davin terus berusaha menindih tubuh Aranti yang sebelumnya memang sudah ia banting ke tempat tidur. Sebab Aranti terus berusaha menolaknya.
“Kan tadi Mas dengar sendiri. Kita enggak boleh melakukan hubungan suami istri. Kita enggak boleh melakukan hubungan int.im, sebelum anak kita lahir. Dan itu pun, kita wajib ijab kabul lagi. Buat memutus ikatan perzinahan di anak bahkan cucu kita!” jelas Aranti masih berusaha sabar, meski perasaan bahkan ketakutan yang ia rasa, sudah membuatnya tak karuan. Sikap sekaligus obsesi se.ksualitas Davin kepadanya, menjadi alasannya.
Ucapan Aranti kali ini membuat Davin murka. “Kamu istri aku, dan kamu tetap menolak keinginanku yang jelas menjadi ladang ibadah sekaligus pahala buat kamu?!”
“Ladang ibadah dan pahala baru akan terjadi setelah kita ijab kabul lagi Mas. Sementara kalau kita melakukan sekarang, hasilnya dosa!” sabar Aranti. Berharap, kesabarannya mampu menyentuh hati Davin.
Aranti berharap, kesabarannya juga menjadi awal mula hubungan baik mereka. Karena demi memiliki hubungan baik itu juga, Aranti bersedia memaafkan Davin bahkan semuanya. Meski luka termasuk trauma yang Davin torehkan, Aranti yakini tidak mudah hilang.
Akan tetapi, alih-alih apa yang Aranti harapkan, tamparan panas tangan kanan Davin menjadi balasan yang Aranti dapatkan di pipi kirinya. Jantung Aranti seolah langsung copot detik itu juga. Aranti terdiam seiring air matanya yang berjatuhan membasahi pipi.
“Tahu apa kamu tentang dosa?! Kamu mati ada yang mau ngubur saja, untung!” maki Davin sangat emosi.
Siksaan dari keluarganya, ditambah siksaan dari ibu Susi, memang membuat dampak fatal ke tubuh sekaligus kesehatan Aranti. Dari tadi saja, Aranti merasa meriang dan memang demam. Akan tetapi, kenyataan tersebut tak lebih menyakitkan dari apa yang baru saja Davin lakukan. Karena setelah menampar kemudian memakinya, Davin dengan segera melepas pakaian yang sebelumnya sengaja Aranti pakai untuk menutupi auratnya serapat mungkin.
Aranti hanya bisa pasrah, meski ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Andai pun ia lari dan sibuk menolak lagi, yang ada ia pasti makin salah. Apalagi kehamilan sekaligus pernikahannya, membuat ia harus berjuang sendiri. Karena orang tuanya saja sudah tak lagi peduli. Akan makin runyam jika ia sampai mengadu ke orang tuanya.
“Sakit, Mas!”
“S—sakit banget! Sakit banget Mas!”
“Ingat aku lagi hamil! Serius sakit banget, Mas! Kalau janinnya sampai kenapa-kenapa bagaimana?!”
Semua keluhan yang Aranti lakukan sambil tersedu-sedu di tengah air matanya yang berlinang, sama sekali tidak mampu menyentuh hati Davin. Davin terus menggempur Aranti sesukanya. Davin melakukan segala gaya dalam bercinta, bahkan meski pemuda itu sudah berulang kali klim.aks. Tak peduli meski Aranti sudah lemas sekaligus gemetaran. Saking sakit dan lelah tak berdayanya, sekadar bersuara saja, Aranti sudah tidak bisa.
Aranti tahu apa yang Davin lakukan sudah termasuk KDRT fatal. Karena pada kenyataannya, Davin memang menjadikan pernikahan mereka sebagai tameng agar Aranti tidak bisa menolaknya lagi. Agar Aranti tunduk dan tak pernah berpaling dari Davin. Kini saja, setelah puas memakai Aranti di kamar mandi, Davin dengan begitu keji meninggalkan Aranti begitu saja.
Minimal, sekesal apa pun Davin kepada Aranti, kenyataan Aranti yang pada akhirnya tetap melayaninya, harusnya Davin balas dengan baik. Bukan malah membiarkan Aranti meringkuk di sebelah bak mandi begitu saja.
“Aku enggak tahu ini masih benar, atau memang sudah boleh dianggap salah ...,” batin Aranti gemetaran hebat. Tubuhnya kuyup bukan hanya karena keringat dingin karena kelelahan sekaligus sakitnya. Karena tadi, Davin yang sangat brutal, memang tak segan mengguyurnya berulang kali.
“Karena aku juga enggak yakin, ... sekarang aku masih hidup, atau malah sudah mati?” Air mata Aranti jatuh membasahi pipi untuk terakhir kali seiring kedua matanya yang terpejam.
Di lantai kamar mandi sebelah bak air, Aranti terkapar tanpa sehelai pun pakaian yang menutupi tubuhnya. Dinginnya kehidupan yang terasa sangat kejam, seolah menjadi selimut keabadian untuknya.
••••
Darah segar membuat Aranti tercengang ketika akhirnya kedua mata Aranti terbuka. Aranti yang belum baik-baik saja, langsung panik bukan main. Kebetulan, Davin yang melangkah loyo sekaligus kerap menguap, masuk ke dalam kemar mandi.
“Mas! Aku pendarahan!” sergah Aranti gemetaran lemas menyaksikan darah segar ada di lantai sekitar miss v miliknya sempat terkapar. Bahkan setelah Aranti cek, ternyata pendarahan dari alat vi.talnya memang masih berlangsung.
“Mas, ayo ke rumah sakit! Cepat pakai baju, cepat tolong aku! Aku ... aku enggak bisa berdiri!” sergah Aranti mengomel lantaran Davin hanya kebingungan.
“Bentar, aku telepon mama dulu!” sergah Davin buru-buru pergi dari sana.
“Sudah biarin saja. Mau pendarahan, mau kejang ... biarin saja. Nanti kalau dia keguguran kan, kamu tinggal ceraikan dia. Alasan kamu menikahinya karena dia hamil, kan?” ucap ibu Sulis di sambungan teleponnya dengan Davin.
Ucapan yang sampai di telinga Aranti. Hingga hati wanita muda nan cantik dan sekujur tubuhnya penuh lebam itu kembali remuk redam. Aranti yang berdiri saja harus merangkak sekaligus berpegangan ke sekitar, lagi-lagi hanya bisa menangis. Air matanya kembali sibuk membasahi pipi.
Aranti yang awalnya berpegangan pada dinding sebelah pintu kamar mandi. Itu saja dalam keadaan membungkuk nyaris jongkok lantaran jalan lahirnya yang terus pendarahan terasa sangat sakit. Di tengah dadanya yang bergemuruh parah dan terasa sangat pegal, Aranti berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia susah payah masuk lagi ke kamar mandi dengan keadaannya yang sampai merangkak. Ia sengaja menutupi tubuhnya menggunakan handuk.
“Kamu enggak perlu menunggu aku kejang apalagi keguguran hanya untuk menceraikan aku, Mas.”
“Karena sekarang pun, ... andai kamu tetap begini, aku siap dicerai.”
“Sekarang juga, lebih baik Mas ceraikan aku!” ucap Aranti sambil menahan tangis, tapi berusaha tegar. Namun, kalian jangan berpikir Aranti bisa berdiri dengan tegap dan tampak kuat. Karena sampai sekarang, Aranti masih merangkak akibat luka-lukanya.
Aranti pernah mendengar, pantang bagi suami istri mengucap cerai apalagi talak. Karena konon, itu bisa membuat rezeki mereka seret. Bahkan banyak yang percaya, mengucapkan cerai sama seja memutus rezeki rumah tangga. Hanya saja, daripada harus menunggu Aranti kejang atau malah keguguran, bagi Aranti itu hanya akan membuat mereka makin berdosa.
“Aku enggak akan menuntut bahkan sekadar berharap. Karena jangankan orang lain, ... orang tuaku saja tega kepadaku!” Aranti mendapatkan pakaiannya yang masih ada di lantai. Ia segera mengambil kemudian memakainya.
“Enggak! Aku enggak mau kehilangan Aranti!” batin Davin yang memang sudah mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang mama.
Apakah apa yang Aranti lakukan, mampu mengubah Davin menjadi suami yang peduli apalagi tanggung jawab?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Ria Lita
enakan pergi aranti dari pada tersiksa
2024-10-14
0
Damai Damaiyanti
aduh ,,gak kebayang sakitnya kaya apa,aranti pergi saja ,,kasian kamu nya
2024-07-03
0
Al Fatih
semoga dirimu baik2 saja Ara....,, setidaknya utk fisikmu,, Krn kalo utk mentalmu ,, aq yakin sudah sakit parah.....
2024-06-17
1