“Kamu selingkuh, ya?!”
Masih tentang tuduhan sekaligus kecurigaan Davin di setiap pria itu menghubungi Aranti. Aranti sampai bosan dan dengan entengnya membalikan pertanyaan sang suami.
“Kamu selingkuh? Di sini aku sama mama kamu. Sementara kamu, ... kamu bebas Mas!” sebal Aranti yang kemudian segera pamit. “Ada pembeli. Sekarang aku di toko karena mama kamu sedang pergi. Sementara papa sudah ada seminggu belum pulang.”
Padahal, alasan Davin diam karena pertanyaan yang Aranti lontarkan, merupakan kenyataan. Sebab Davin yang kini hanya memakai celana kolor pendek warna hitam dipadukan dengan kaus dalam warna putih, tengah memunggungi pintu kostnya. Sementara ketika Davin melongok dengan hati-hati isi kamar kostnya, di tempat tidur Anggita tengah meringkuk. Tubuh Anggita memang tertutup selimut, tapi pakaian termasuk bra maupun CD milik perempuan itu tergeletak di lantai sekitar tempat tidur.
Tempat tidur milik Davin maupun penghuninya, sama-sama berantakan. Itu menunjukkan betapa liarnya pertempuran panas yang Davin dan Anggita lakukan.
Davin berangsur menutup pintu kamar kost-nya dengan hati-hati. Ia kembali fokus pada obrolan sambungan teleponnya dengan Aranti.
“Dikirimnya agak sore enggak apa-apa, kan, Bu? Soalnya yang antar lagi ke sekitar kecamatan.” Suara lembut Aranti terdengar sangat sopan bahkan di telinga Davin yang menyimak.
“Kamu di toko jangan sampai dandan,” ucap Davin kembali menjerat Aranti dengan banyak aturan. Ia berbicara setelah suasana di sekitar Aranti sepi.
“Enggak dandan pun, aku sudah cantik,” ucap Aranti cuek. “Memangnya enggak ada pembahasan lagi selain kamu yang selalu curiga aku selingkuh?” ucap Aranti sambil menuang sekarung beras ke kotaknya. Karena selain membeli dalam jumlah karungan, sering kali pembeli juga masih banyak yang ngecer.
“Mas kuliahnya gimana?” tanya Aranti yang memang harus bertanya. Sebisa mungkin Aranti wajib menciptakan obrolan. Karena jika Aranti diam, Davin akan menuduhnya sedang memikirkan laki-laki lain.
Dalam hatinya, pertanyaan Aranti Davin jawab, “Kuliah? Sebulan ini bahkan aku enggak mikir buat kuliah. Apalagi selain Anggita yang telanjur memuaskan hidupku, andai aku butuh apa-apa, aku cukup minta transfer ke mama!”
“Mas yang semangat kuliahnya. Enggak semua orang bisa kuliah karena aku saja yang pengin lanjut sekolah enggak Mas izinin. Mas harus bikin orang tua Mas bangga,” lembut Aranti.
Davin tahu Aranti belum selesai bicara. Namun Davin memang tidak suka jika Aranti sudah mulai banyak bicara. Bahkan meski semua petuah dari Aranti sangat bagus dan bisa jadi panutan.
“Paling sebel kalau kamu sudah cerewet berisik begini!” sergah Davin dan membuat Aranti yang mendengarnya langsung memijit pelipis. Padahal, kedua pelipis Aranti sudah dihiasi koyok cabe.
“Giliran dakwah kamu paling pinter. Giliran aku minta video bahkan sekedar foto punyamu, kamu enggak kasih!” marah Davin emosi. Davin sengaja masuk ke dalam kamar mandi yang memang terpisah dari kamar. Agar selain suaranya tidak sampai terdengar Anggita, ia juga bisa memarahi Aranti sepuasnya.
“Satu bulan lebih aku enggak nyentuh kamu, dan aku nyaris gil.a karena memikirkan kamu!” lanjut Davin masih marah-marah.
Aranti menghela napas dalam. Ia menatap nanar suasana luar yang sedang panas-panasnya karena kini memang pukul setengah dua siang.
“Punyaku masih utuh, Mas! Bahkan makin sehat karena enggak kamu gempur setiap saat!” ucap Aranti yang merasa ngenes, tapi mendadak menahan tawa.
“Mas ya ... masa mahasiswa yang dipikirin ... aduh gimana, ya?”ucap Aranti yang memang menangis, tapi tak kuasa menyudahi tawanya yang ditahan.
“Kamu bahkan enggak pernah tanya kabar aku. Termasuk kabar janin kita,” sedih Aranti tersedu-sedu.
Davin langsung merengut sebal.
“Kamu cuma marah-marah ... nuduh aku selingkuh. Aku harus sesabar ini, selain aku yang harus terus kasih dukungan ke kamu, agar kamu semangat kuliah,” ucap Aranti makin sedih.
“Aku mau minta maaf,” ucap Davin langsung panik lantaran dari luar, Anggita sibuk menggedor pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil Davin dengan sebutan Sayang.
“Sayang, ... aku mual banget!”
Suara Anggita yang memang berteriak, juga kedengaran oleh Aranti.
“Hah? Itu tadi siapa?” pikir Aranti syok dan berniat untuk langsung menanyakannya. Namun, sambungan telepon mereka telanjur diputus secara sepihak oleh Davin.
Ketika Aranti mencoba menelepon Davin lagi pun, telepon Aranti tidak dijawab. Sebab Davin memang sedang sibuk mengurus Anggita yang muntah-muntah.
“Semalam kamu minum kebanyakan,” ucap Davin benar-benar peduli. Ia memijat-mijat tengkuk Anggita dan sesekali memberinya tisu kering. Davin mengambilnya dari kotak di sebelah wastafel.
“Gimana aku enggak minum kebanyakan, bahkan aku sampai mabok, kalau kamu malah mau-maunya dipeluk LC syialan itu!” sebal Anggita ngambek-ngambek manja.
•••
Di toko sembako milik ibu Susi, wanita itu pulang sambil mengomel. Aranti yang awalnya sedang melamun kepikiran suara manja Anggita, langsung terusik. Aranti buru-buru menakar gula pasir lagi dan posisinya tidak begitu jauh dari kotak penampung beras.
“Masa baru sebulan dan sudah ditransfer tujuh belas juta, ini minta transfer lagi. Beneran buat bayaran, apa gimana sih Davin,” keluh ibu Susi sambil memandangi layar ponselnya. Di layar ponselnya berisi pesan WA dari Davin yang minta ditransfer uang lagi sebesar tiga juta.
Setelah tak sengaja melihat Aranti di tengah suasana tokohnya yang sepi, ibu Susi tak segan memarahinya. Ibu Susi melampiaskan amarahnya ke sang menantu yang juga ia tuduh telah menjadi alasan Davin terus minta ditransfer uang.
“Coba sini lihat hape kamu!” hardik ibu Susi yang langsung menyambar ponsel Aranti dari hadapan menantunya itu.
Ponsel Aranti masih dengan layar yang retak parah. Aranti sama sekali tidak menghalangi niat ibu Susi. Hingga sang mertua mengecek ponselnya dengan leluasa. Kebetulan, selain ponsel Aranti hanya berisi nomor Davin dan nomor ponsel ibu Susi. Ponsel Aranti juga tak sampai diberi sandi khusus.
“Kalaupun enggak ada bukti di pesan, jangan-jangan kamu sudah hapus buktinya. Atau malah, kalian bahas lewat telepon?!” tuding ibu Susi.
“Sumpah demi apa pun, Ma. Jangankan dikasih uang, andai enggak Mama kasi makan pun, aku ya enggak makan. Jadi kalau seharian itu Mama enggak kasih aku makan, ya aku beneran puasa. Sampai sekarang pun, setiap hari aku sengaja puasa. Sementara untuk uang, ... sumpah demi apa pun, seperak pun aku belum pernah nerima dari suamiku. I—itu uang lima puluh ribu yang buat emas kawin dari kalian, ... itu pun masih utuh, Ma!” jelas Aranti dan hanya dibalas lirikan sinis oleh ibu Susi.
Ibu Susi menaruh ponsel Aranti di lemari gula dan segala dagangan disusun. “Ya sudah, ... mulai sekarang kamu bantu cari uang. Suamimu butuh banyak biaya buat pendidikannya!” tegas ibu Susi, tapi Aranti tak mengindahkannya. Hingga yang ada, satu kantong berisi setengah kilogram gula pasar, ibu Susi hantamkan ke kepala Aranti.
Aranti terpejam sambil menunduk dalam. Ia membiarkan gula pasir yang belum lama ia bungkus, malah berakhir di kepalanya.
Sore menjelang petang, Anggita ditatap sinis oleh satpam yang berjaga. Anggita membalasnya judes.
“Ngaku-ngaku jadi orang kaya lagi, ya?!” tuding si satpam yang kemudian melongok tempat duduk penumpang mobil yang mengantar Anggita. Di sana masih ada Davin, dan satpam bernama Teguh itu sampai hafal.
“Sok iye!” bisik Anggita benar-benar judes sambil menerobos masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Damai Damaiyanti
kayanya anggita anak pembantu,,,
2024-07-03
0
Andri
hhhhh ketipu
2024-06-15
1
azka karim
ternyata anak pembokat 🤣🤣🤣
2024-05-20
0