Davin tidak mau kehilangan Aranti. Karena sampai saat ini, Aranti tetap menjadi wanita paling cantik. Aranti masih menjadi wanita paling indah dalam hidup seorang Davin.
“Biiiii, bantuiiin!” teriak Davin sambil lari keluar dari dalam kamarnya.
Davin tidak kuat jika harus membopong tubuh Aranti dalam jarak jauh, meski istrinya bertubuh mungil. Namun dengan segera, ART di rumah Davin malah jauh lebih kuat membopong tubuh Aranti.
Davin memboyong Aranti menggunakan mobil. Ia sengaja meninta sang ART untuk ikut serta. Tak semata untuk kembali membantunya membopong tubuh Aranti. Namun juga untuk mengurus keperluan lain juga termasuk mengurus pendaftaran. Ditambah lagi, kenyataan tubuh Aranti yang babak belur. Davin merasa sanksi atas kenyataan tersebut. Davin terlalu takut, kenyataan tersebut malah membuatnya berurusan dengan pihak kepolisian karena dokter pasti tidak akan tinggal diam.
“Maka dari itu, aku sengaja bawa Ranti ke klinik saja. Enggak kebayang kalau ke rumah sakit besar, pasti ... ya begitu lah,” ucap Davin yang bergegas turun dari mobilnya.
Mereka telah sampai ke klinik yang lokasinya memang tidak begitu jauh dari rumah Davin. Meski memang, lokasi rumah orang tua Davin dengan kliniknya sudah beda kecamatan.
Tak jauh dari mereka, seorang pria berusia tiga puluh tahun, terpincang-pincang dalam melangkahnya. Penampilan pria bernama Narendra atau yang akrab dipanggil Mas Rendra itu terbilang miris. Karena kemeja lengan panjang sebelah kiri dan juga celana bahan sebelah kiri yang dipakai, sobek khas kecelakaan akibat bergesekan dengan aspal. Namun, mas Rendra yang memang baru keluar dari klinik, tetap sigap membantu ketika melihat bi Iyem justru membopong Aranti. Meski masih terpincang-pincang, ia tetap mengambil alih Aranti yang memang sudah tak sadarkan diri.
“Ini kenapa?” sergah mas Rendra yang memang sangat syok dengan keadaan Aranti.
“Gadis ini ... dia Aranti reseller terbaik di usaha keluargaku, kan? Dia ikut jual makanan dari rumah makan. Dia juga jual aneka nuget dan sosis milik kakek Angga. Dia juga ada di usahanya ayah Akala. Di usaha rambut palsu juga. Dan kalau enggak salah, dia masih sekolah. Tapi kok, tubuhnya kayak habis diamuk warga satu kampung? Lebam semua,” batin mas Narendra sambil membopong Aranti.
Davin yang menyetir mobil Aranti dikeluarkan, tak luput dari perhatian mas Narendra yang notabene seorang pengacara. Selain itu, layaknya apa yang sempat mas Narendra katakan pula, Aranti yang memang masih sekolah dan itu kelas dua SMA, juga merupakan karyawan dari usaha keluarganya.
“Lah Mas, itu kamu bawa siapa? Tadi kamu tekor dari motor. Dikasih pilihan jodoh yang bagus, biar beneran ada yang dipeluk secara nyata, Mas malah lebih milih meluk bahkan nyium aspal! Tuh lihat, bibir kamu sampai jontor begitu!” ucap seorang pria paruh baya dan mas Narendra panggil Uncle Azzam.
Tanpa terlebih dahulu melewati proses pendaftaran, mas Narendra langsung membawa Aranti ke dalam IGD. Ia diikuti oleh dua orang perawat yang berjaga dan awalnya ada di ruang pendaftaran. Karena kebetulan, klinik tersebut merupakan milik saudara mas Narendra.
“Uncle ... tolong panggilin istri Uncle buat tangani dia. Dia karyawan kita, kan? Yang masih SMA itu? Aku agak pangling ke wajahnya soalnya ....” mas Narendra yang baru membaringkan tubuh Aranti, tak kuasa menjelaskan keadaan fisik Aranti yang nyaris semuanya berlebam.
“Innalilahi ... ini pasti tangan dakjal ini, yang sudah tega biada.b begini!” cerocos pak Azzam yang memang buru-buru pergi dari sana. Kebetulan, Sundari sang istri merupakan bagian dari dokter pokok di klinik keluarga mereka.
Seperti yang Davin duga, lebam di tubuh Aranti memang mendatangkan masalah baru untuknya. Akan tetapi, keadaan Aranti juga bisa jadi makin fatal andai Davin membiarkannya begitu saja. Termasuk juga, andai Davin membiarkan Aranti berobat dengan orang lain tanpa dirinya. Ditakutkan, orang tersebut salah memberi keterangan dan membuat keadaan makin runyam.
Meski berat bahkan takut, Davin yang kerap mendapat lirikan tajam dari orang-orang di sana, memaksa dirinya untuk segera angkat bicara. Apalagi tatapan yang ia dapat, khas tatapan curiga bahkan menuduh.
Bertepatan dengan datangnya dokter Sundari yang datang bersama pak Azzam, Aranti sudah beres dipasang infus.
“D—dia pendarahan ....” Davin sungguh berat hanya karena mengatakannya.
“Hah? Pendarahan?” refleks mas Narendra yang memang masih ada di sana.
Kedua perawat yang masih ada di sana, segera mengecek keadaan Aranti. Mereka tak menemukan pendarahan yang Davin maksud. Hingga dokter Sundari yang sudah langsung memasang stetoskopnya menanyakannya.
“Kalau boleh tahu, pendarahan yang bagaimana, ya, Mas? Apakah sebelumnya sudah diberi pertolongan?” lembut dokter Sundari yang tetap fokus menangani keadaan Aranti. Wanita berhijab merah muda itu menunggu tanggapan Davin yang tak kunjung ia dapatkan.
“Pendarahan ...,” ucap Davin tetap berat untuk jujur, meski ia tahu, kejujurannya sangat penting untuk Aranti.
“Ini anak mencurigakan banget!” batin mas Narendra.
Alasan mas Narendra tetap bertahan di sana, tak semata karena ia kenal Aranti dan klinik keberadaan mereka merupakan klinik keluarganya. Sebab gerak-gerik Davin, juga kenyataan pemuda itu yang membawa Aranti, membuatnya ingin tahu lebih lanjut. Sebagai seorang pengacara yang terbiasa membela rakyat kecil, mas Narendra juga akan mengusut luka-luka di tubuh Aranti.
“Pendarahan bagaimana?!” sergah mas Narendra yang memang jadi geregetan kepada Davin. Sebab Davin tak kunjung jujur menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal dari gerak-gerik Davin, mas Narendra yakin ada sesuatu yang fatal dan sulit Davin ungkapkan. Sementara sesuatu yang fatal itu mas Narendra yakini masih berkaitan dengan kesehatan Aranti, dan sempat Davin katakan pendarahan.
Deg-degan parah, itulah yang Davin rasakan ketika semua orang dewasa di sana, menatapnya penuh kecurigaan. Ia tidak bisa untuk tidak gelisah. Ia jadi sibuk menghela napas pelan sekaligus dalam, tanpa berani menatap apalagi membalas setiap tatapan di sana.
“Dia hamil ....” Akhirnya ucapan itu keluar dari bibir tipis Davin.
Ucapan yang langsung membuat mas Narendra, dokter Sundari, dan juga pak Azzam tercengang. Sebab yang mereka tahu, selain merupakan gadis baik-baik meski berasal dari keluarga tidak punya, Aranti yang sangat pekerja kelas juga masih kelas dua SMA!
“Hamil ...?” lirih mas Narendra, pak Azzam, dan juga dokter Sundari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Abinaya Albab
mb' Zura gk pernah nongol ya dia kn juga dokter kembaran Azzam klo gk salah aku lupa /Facepalm//Silent/
2024-10-30
0
Damai Damaiyanti
wah keluarga mas azzam yg nolong,ayo mas tolong aranti dari para dakjal laknat itu,
2024-07-03
0
Ida Ulfiana
narendra tau2 udh besar ya
2024-04-30
0