“Selamat pagi, ... Pak, ... Bu. Nama saya Aranti. Maksud kedatangan saya ke sini karena saya hamil anak Davin. Davin mem—” Aranti sengaja memulai lantaran Davin tak kunjung memulai.
Aranti berniat jujur, mengatakan yang sesungguhnya termasuk itu mengenai alasannya hamil yaitu karena diperkosa oleh Davin. Meski karena keputusannya itu juga, dadanya seolah nyaris meledak lantaran jantungnya berdentam sangat cepat. Sesak pun turut Aranti rasa sangat menyiksa akibat ketakutan yang ia rasakan. Berhadapan dengan orang tua Davin yang menatapnya saja dengan sangat tajam. Orang tua Davin apalagi sang mama, seolah akan menerkam Aranti detik itu juga!
Akan tetapi, Davin yang yakin Aranti akan jujur dan mengatakan bahwa ia telah memperkosa Aranti, segera mengambil alih. “Itu kecelakaan!” Sesingkat itu ia memberi penjelasan dan memang sengaja membela diri.
“Hah? Maksud Davin apa? Dia mau membela diri dan lari dari tanggung jawab?” batin Aranti benar-benar terkejut di tengah kesibukan tangan kanannya yang terus mengibaskan genggaman tangan kiri Davin.
Akan tetapi, pemikiran Aranti barusan langsung usai ketika tamparan panas dari ibu Susi selaku mama Davin, mendarat di pipi kirinya.
Davin sengaja menepis apa yang terjadi meski ia masih menggandeng erat tangan kanan Aranti. Davin tak mau ikut campur dan membiarkan semuanya terjadi. Bahkan meski ia sadar, Aranti mengharapkan pembelaan sekaligus perlindungan darinya.
“Kamu anaknya siapa? Rumah orang tua kamu di mana? Kamu sengaja menjebak Davin karena kamu sudah bosan hidup miskin?!” lantang ibu Susi sambil sesekali mendorong kening Aranti atau malah memukuli wanita muda bertubuh mungil yang baru saja mengaku sedang hamil.
Perlakuan ibu Susi kepada Aranti memang tidak beda dengan perlakuan keluarga maupun orang tua Aranti, kepada Aranti.
“Davin memperkosa saya, Bu!” tegas Aranti berusaha memperjuangkan haknya meski air matanya makin sibuk berjatuhan.
Mendengar apa yang baru saja Aranti katakan, ibu Susi makin meradang. Ia tak segan menggunakan dompet lipatnya untuk memukuli kepala maupun punggung Aranti.
“Kamu pikir, hanya modal cantik bisa menjadi istri Davin, hah?!” ucap ibu Susi di tengah kesibukannya memukuli Aranti.
“Kalau saya boleh memilih, saya juga tidak mau ada di posisi ini, Bu! Wanita mana yang mau hamil di luar pernikahan dan selalu dianggap sebagai aib?” isak Aranti sambil terus berusaha mengakhiri jambakan ibu Susi kepadanya.
Ibu Susi tetap menjambak Aranti sekuat tenaga. Aranti sudah membungkuk parah sementara kedua tangannya berusaha melepas kedua tangan ibu Susi dari rambut di kepala kirinya.
“Bukan mauku hamil di luar nikah, Bu! Apalagi aku masih kelas dua SMA. Masa depanku masih sangat panjang, selain aku yang juga merupakan murid beasiswa.”
“Terlepas dari semuanya, meski Davin banyak yang suka, selama ini saya selalu menghindar bahkan menolaknya. Saya selalu menjaga jarak darinya.”
“Namun apa daya, dia dibantu teman-temannya dan tak segan memperkosa saya di gudang sekolah!”
Aranti terus tersedu-sedu kesakitan. Ibu Susi terus menjambaknya meski Aranti sudah terduduk di lantai. Namun, dua pria di sana termasuk Davin, tak ada yang peduli. Keduanya tetap diam di tengah kegelisahan masing-masing.
Ibu Susi sangat tidak terima lantaran putra kesayangannya harus menghamili Aranti yang ia yakini berasal dari keluarga miskin. “Bisa-bisanya kamu menghancurkan masa depan Davin bahkan keluarga kami! Saya tidak terima dan saya akan melaporkan kamu ke polisi!”
Mendengar sang mama menyebut-nyebut polisi, Davin langsung tercengang. Ia menatap tak percaya sang mama yang masih tampak sangat murka kepada Aranti.
Tanpa ragu, Aranti yang masih tersedu-sedu berkata, “Iya, Bu. Baik, ... jika memang itu mau Ibu. Ayo, ... ayo kita selesaikan kehamilan saya yang akibat diperkosa Davin, ke polisi!”
Kesanggupan Aranti malah membuat ibu Susi jengkel.
“Ma, aku mau!” sergah Davin sengaja angkat suara. Ia tak mau perkaranya sampai ke pihak kepolisian. Karena Davin yakin, dirinya akan diadili. Belum lagi, dari segi usia pun, Davin sudah mencukupi untuk dijadikan tersangka.
“Aku mau menikah dengan Aranti. Aku mencintai Aranti! Aku enggak bisa tanpa Aranti!” tegas Davin sambil menatap sang mama.
Mendengar itu, ibu Sulis langsung lemas. Bukannya mengamuk sang putra yang dari cerita Aranti telah melakukan kesalahan fatal, ibu Sulis justru mendorong Aranti yang sebelumnya juga tengah ia jambak sekuat tenaga. Aranti langsung terbanting nyaris tengkurap. Wajah Aranti yang menghantam lantai di sana lebih dulu.
Sampai detik ini, Aranti masih tersedu-sedu. Jauh di lubuk hatinya ia berharap, keadilan benar-benar akan ia dapatkan untuknya maupun sang janin.
“Baik, ... baik saya akan menikahkan kamu dengan Davin!” tegas ibu Sulis.
“Alhamdullilah ya Allah, ... akhirnya calon anakku punya masa depan. Anak ini bakalan tetap punya ayah!” batin Aranti masih menunduk dalam. Karena setelah KDRT yang ia terima dari banyak orang, lagi-lagi, ia memang kesakitan.
“Syukurlah akhirnya kami akan menikah. Dengan begini, Aranti bakalan terikat denganku. Aranti tak bisa menolak aku lagi apalagi memiliki hubungan dengan pria lain!” batin Davin yang sampai saat ini tetap belum mengulurkan tangannya untuk meringankan beban Anarti.
“Namun selama kalian menikah, kamu tidak boleh menuntut apa pun. Termasuk urusan nafkah karena Davin masih harus fokus kuliah!” lanjut ibu Susi.
“Termasuk juga mengenai pernikahan. Tidak akan ada yang namanya pesta apalagi seserahan mewah! Cukup ijab kabul saja itu pun kalau bisa jangan sampai orang-orang tahu!” tegas ibu Susi lagi yang kemudian berkata, “Kami mau menikahkan kamu dengan Davin saja untung!”
“Ya Allah ya Rabb ... lembutkanlah hati orang-orang dalam hidupku. Sadarkanlah bahwa kekerasan yang mereka lakukan, salah,” batin Aranti.
Bersama Davin yang memang sudah bisa menyetir mobil, Aranti berniat menjemput orang tuanya. Karena ibu Sulis ingin pernikahan Aranti dan Davin dilakukan hari ini juga meski tanpa pesta bahkan sekadar bawaan untuk emas kawin.
Aranti langsung menepis genggaman tangan Davin ketika pemuda itu melakukannya. Aranti tak hanya membatasi dirinya dari Davin. Sebab ia juga kecewa lantaran pemuda berkulit putih itu tak ada usaha sedikit pun untuk melindungi.
“Sekadar membelaku saja, tadi kamu enggak, kan?” ucap Aranti ketika Davin memasang wajah jengkel menatapnya.
“Ya kamu kira-kira dong. Posisiku salah, masa masih harus bikin orang tuaku makin kecewa? Yang ada aku dikutuk jadi batu!” balas Davin yang kemudian menghela napas kesal.
Lagi, Davin yang memiliki obsesi sangat tinggi kepada Aranti, kembali meraih tangan kanan Aranti.
“Ya Allah, ... rasa benciku ke Davin beneran belum berubah, meski sekarang aku sedang hamil anaknya. Malahan cara dia yang terus agresif asal pegang begini, enggak hanya bikin emosi. Karena yang ada, aku juga merasa jijik!” batin Aranti masih berusaha menepis genggaman tangan kiri Davin.
Davin memang kaya, gaul, merupakan kapten basket dan sempat menjadi bagian dari pengurus OSIS di sekolah. Selain itu, fisik dan ketampanan Davin juga di atas rata-rata. Namun, semua itu tak mampu membuat Aranti menjatuhkan hatinya kepada Davin. Termasuk itu mengenai kenyataan Aranti yang kini tengah mengandung benih Davin.
“Ya Allah, ... mau jadi apa rumah tangga kami ... meski jawaban itu baru akan aku dapatkan setelah lembaran demi lembaran aku jalani. Entah kenapa, ... rasanya sebingung ini. Apalagi sekadar dukungan dari orang tua saja, aku enggak,” batin Aranti.
“Ya Allah, salahkah jika aku ingin tetap memberi janin ini kehidupan layak?” lirih Aranti ketika akhirnya, mereka sampai di jalan depan rumah orang tuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
guntur 1609
dasar biadab kalian
2024-10-30
0
sherly
hadew miris bener hidupmu Arianti di keluargamu dipukul dicaci eh di sini juga kamu kena jambak,,kasian bener kamu tu manusia bukan samsak tinju... kabur aja
2024-07-28
0
Damai Damaiyanti
semoga ada yg nolong aranti,kamu kuat
2024-07-03
0