“Kami sudah menikah. Sementara untuk luka-lukanya, aku kurang tahu. Karena aku saja baru bertemu dia dan itu sudah dalam keadaan begini,” jelas Davin tak mau ambil pusing. Ia benci jika harus ditatap tidak nyaman menyudutkan layaknya sekarang. Benar saja, penjelasan yang ia lakukan barusan langsung menyudahi tatapan tidak nyaman itu.
Mas Narendra dan pak Azzam makin tidak bisa berkata-kata. Keduanya juga langsung angkat kaki dari sana lantaran biar bagaimanapun, pemeriksaan yang akan dilakukan kepada Aranti, sangat privasi.
Hanya Davin yang tetap tinggal di sana bersama dua perawat yang menemani dokter Sundari. Aranti mendapatkan pemeriksaan layaknya wanita hamil pada kebanyakan yang mengalami pendarahan.
“Kalau memang baru bertemu, Mas tahu sudah dari kapan, istrinya pendarahan?” lembut dokter Sundari sambil memakai sarung tangan karet.
“Itu ....” Karena sudah berbohong, Davin juga ragu memberikan penjelasan selanjutnya. Haruskah ia melanjutkan kebohongannya dan bisa membuat Aranti maupun janin mereka berada dalam bahaya? Atau, jujur tapi malah bisa membuat dirinya sendiri ada dalam bahaya?
Dokter Sundari akan memastikan jalan lahir Aranti yang ia takutkan sudah sampai mengalami pembukaan. Pemeriksaan tersebut juga yang akan menentukan tindakan kelanjutan dalam menangani Aranti. Yang mana, kuret dan pembersihan rahim menjadi tindakan final andai sudah sampai terjadi pembukaan. Karenanya, kedua perawat di sana sudah langsung melepas cela.na panjang maupun celana dal.am yang Aranti lakukan.
Karena tak kunjung mendapat penjelasan, dokter Sundari menatap tidak nyaman bahkan kesal kepada Davin. Ia meminta kedua perawat di sana untuk agak membentangkan sekaligus agak mengangkat kedua kaki Aranti. Kedua kaki Aranti sampai dibentangkan guna melakukan penjelasan lebih lanjut. Karena Aranti yang mereka periksa dalam keadaan tak sadarkan diri, dan otomatis tidak bisa membentangkan kakinya sendiri agar selang.kangannya membentang juga.
Baru akan melongok bagian paling feminin milik Aranti, dokter Sundari sudah mengendus aroma khas. Aroma khas yang juga disertai bukti berupa cairan kental agak kuning. Melalui senter di tangan kirinya, dokter Sundari menemukan sisa-sisa sperma di kedua paha, kaki, bahkan sekitar perut Aranti.
“Ini enggak wajar sih. Andaipun mereka habis bercinta, ... kok jejaknya lebih cocok mirip keadaan korban pemer.kosaan? Sperma ada di mana-mana. Mengering banyak banget,” batin dokter Sundari.
Dokter Sundari merasa prihatin mendapati sperma nyaris melumuri semua bagian tubuh bagian bawah Aranti. Baginya itu sangat tidak wajar, tapi jejaknya masih terbilang baru. Saking prihatin. dan herannya, ia yang memang memakai masker, refleks menghela napas pelan sekaligus dalam. Beberapa kali, ia juga menggeleng.
“Kalian habis campur, ya?” tanya dokter Sundari kepada Davin yang meski sudah hampir dua menit berlalu, tetap belum bisa melanjutkan jawabannya. Keadaan yang justru membuatnya curiga, bahwa Davin telah melakukan KDRT dalam bentuk se.ksualitas kepada Aranti.
Davin yang awalnya masih kebingungan, refleks tercengang. Ia tidak paham dengan apa yang dokter Sundari maksud dengan campur.
•••
“Masih sekolah kok nikah, ya?” lirih mas Narendra masih sulit percaya.
“Mungkin kecelakaan. Hamil duluan gitu,” ucap pak Azzam yang masih ada di depan ruang IGD bersama mas Narendra. “Hamil duluan ... berasa lagu dangdut yang pernah viral di masanya,” lirih pak Azzam yang menjadi menggeleng tak habis pikir.
“Aku merasa, si cowoknya kurang beres. Takutnya, Aranti korban. Bukan hanya mengenai tubuhnya yang babak belur begitu, mirip kasus-kasus TKW yang beberapa kali viral. Namun, aku juga khawatir alasannya hamil karen dipaksa. Kecelakaan yang hanya dilakukan oleh satu pihak!” jelas mas Narendra yang menatap serius lawan bicaranya.
Pak Azzam yang bersedekap dan menyikapi mas Narendra penuh keseriusan, mengangguk-angguk sepemikiran. Ia setuju dengan cara pikir keponakannya.
“Jadi, Mas akan mendampingi Ranti dan memperjuangkan keadilannya, kan?” tanya pak Azzam.
Mas Narendra berangsur mengangguk-angguk. “Sebagai seorang pengacara dan aku sudah bersumpah buat mengabdi ke rakyat kecil, ... aku akan bantu, Uncle. Apalagi, ... Ranti karyawan kita!”
Mendengar itu, pak Azzam berangsur mengangguk-angguk setuju.
Akan tetapi, tanpa keduanya sadari, Davin mendengar itu. Dari balik pintu IGD yang agak terbuka dan memang awalnya akan Davin buka penuh. Davin yang memang tak sengaja menyimak itu merasa harus lebih berhati-hati.
“Ternyata dia bosnya Ranti. Bahkan dia seorang pengacara? Oke ... oke, aku akan lebih berhati-hati!” batin Davin yang kemudian membuka tuntas pintu IGD-nya.
Aranti diboyong keluar dari sana. Dokter Sundari berdalih akan melakukan pemeriksaan USG, demi memastikan keadaan janin dalam rahim Aranti.
•••
Beres pemeriksaan dan Aranti sudah dirawat di ruang rawat inap, dokter Sundari mendatangi kebersamaan sang suami yang masih disertai mas Narendra.
“Rantinya belum siuman?” tanya pak Azzam.
Dokter Sundari menggeleng. Sambil menghela napas berat, ia menatap sekaligus memfokuskan diri kepada pria muda gagah di hadapannya. “Onty tahu, alasan Mas di sini karena Mas mau usut. Namun saran Onty, jangan langsung karena posisinya mereka sudah menikah. Tunggu kesediaan dari Ranti dulu.”
“Memang, Onty juga menemukan jejak kejaha.tan se.ksualitas. Dari vagin.a yang lecet parah, ... anu.s yang juga mirip ambeien dan itu efek aktivitas se.ks yang berlebihan. Termasuk, sperma yang nyaris ada di sekujur tubuh Aranti. Soalnya tadi, Onty sengaja mastiin punggung dan ... memang ada juga di sana,” jelas dokter Sundari berbisik-bisik. Ia sengaja menjaga suaranya agar tak sampai terdengar Davin.
Kini Davin yang ada di dalam ruang rawat sang istri memang mirip pencuri yang mengintai mangsanya. Davin menatap dan sengaja berusaha menguping apa yang dibicarakan dokter Sundari. Sebab Davin yakin, ketiga orang di lorong depan ruang rawatnya, tengah berusaha mengusut keadaan Aranti.
“Mau enggak mau aku harus bersihin tubuh Aranti. Aku harus lembut dan bikin Aranti yakin, bahwa aku sangat menyayangi dia. Dengan begitu, Aranti pasti akan percaya kepadaku. Dengan begitu, Aranti enggak akan minta cerai lagi. Dan hanya dengan begitu, mereka enggak akan seenaknya menyeretku ke polisi!” batin Davin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Nartadi Yana
dasar emang nggak benar itu Davin cs tunggu karmamu ya
2024-12-04
0
Ria Lita
usut tuntas lah kasih aranti keadilan jgn mentang orang kaya seenak nya awas tu aranti jgn termakan gombal nya si Davin edan itu
2024-10-14
0
Damai Damaiyanti
usut tuntas mas narendra itu si davin biar cere sekalian dah,kasian aranti
2024-07-03
0