Hujan masih mengguyur menemani tengah malam yang makin sunyi. Di suasana pedesaan yang jalannya berupa bebatuan berlapis tanah, hingga setiap hujan jadi rawan licin, tak ada tanda-tanda kehidupan lain di luar rumah, selain Aranti. Iya, Aranti menjadi satu-satunya orang yang ada di luar rumah. Karena sekadar orang lewat di jalan, memang tidak ada.
Sampai saat ini, Aranti memang masih bertahan di teras rumahnya yang lantainya masih berupa tanah. Aranti masih dengan luka-lukanya. Tatapannya kosong, tapi kedua matanya basah. Seolah mempertegas keterpurukannya, tubuh mungil Aryanti juga terduduk asal di tanah sana. Sebagian kaki Aranti yang memakai celana panjang basah karena air hujan yang menerpa tanah depan teras. Sementara tas yang sempat ibu Santi lempar, Aranti pangku bahkan dekap.
Niatnya, sebelum benar-benar pergi, Aranti ingin memohon keringanan kepada orang tuanya. Namun andai Aranti tetap wajib pergi, tak boleh menjadi bagian di keluarganya lagi, Aranti ikhlas.
“Ya Allah, ... tolong lembutkan hati orang tua maupun kakak-kakakku,” sedih Aranti. Terlebih sejauh ini, keluarga menjadi satu-satunya yang ia miliki. Hingga meski tak memiliki hubungan hangat atau setidaknya layak, Aranti tetap ingin menjadi bagian dari keluarganya. Karena pada kenyataannya, ia juga hanya anak biasa yang menjadikan orang tua sekaligus keluarga sebagai alasan utama dirinya bertahan di tengah kehidupan yang kejam.
Masalahnya, keputusan Aranti menunggu hingga pintu kayu di belakangnya terbuka, malah nyaris menjadi mala petaka. Sebab selain sang ibu yang membuka pintu langsung murka, mengusir Aranti bak anak anjing penuh koreng yang harus segera pergi, ibu Santi tak segan melempar golok di tangan kanannya ke Aranti. Beruntung, Aranti bisa menepisnya menggunakan tas sekolahnya.
“Dasar anak settttttan! Mati saja kamu!” lantang ibu Santi sangat emosional.
“Keluarga bahkan orang tuaku memang berbeda. Semuanya tempramental, hingga tetangga kompak menjaga jarak. Karena jangankan ke tetangga, ke anak saja, mereka enggak punya kata maaf! Apesnya, aku malah kenal Davin yang super play boy dan meski sudah selalu kuhindari, malah nekat!” batin Aranti sambil terus berlari. Hatinya teriris pedih sementara air matanya jadi sibuk berjatuhan akibat perlakuan ibu Santi.
“Gimana ya, ... Orang tuaku saja setega ini. Apa lagi orang lain? Apalagi orang tua Davin yang ... ah! Aku pasrah! Aku harus berjuang demi calon anakku karena dia enggak salah!” Aranti melewati jalan sangat licin dan sesekali membuatnya terpeleset sekaligus nyaris jatuh.
Keadaannya yang babak belur parah membuat Aranti tak mungkin pergi ke sekolah. Namun sekarang juga, Aranti yang terus lari berniat pergi ke rumah Davin. Kebetulan, mereka masih tinggal di kecamatan yang sama.
Berbeda dari keluarga Aranti yang memang tergolong sebagai keluarga miskin, keluarga Davin justru kebalikannya. Ibaratnya, kehidupan mereka ibarat langit dan bumi.
Davin merupakan anak dari orang terpandang. Orang tua Davin memiliki toko bahan bangunan dan juga toko sembako. Kedua toko besar yang ada di sebelah pasar kecamatan itu terkenal dan selalu ramai. Selain itu, orang tua Davin juga memiliki tanah maupun sawah luas. Mungkin karena itu juga, meski dari segi tampang Davin memang terbilang tampan, cowok yang terkenal play boy itu selalu bersikap seenaknya.
“Wah ...?” ucap Davin ketika akhirnya sang pembantu membuatnya bertemu dengan Aranti yang menunggu di depan gerbang rumahnya.
Kedua mata Davin menatap wajah Aranti penuh senyuman, bahkan meski wajah itu babak belur. Tak ada sedikit pun rasa khawatir yang terpancar, meski selama satu tahun terakhir, Davin begitu getol mengejar Aranti secara diam-diam. Padahal sewajarnya, bahkan meski memang tak punya perasaan sedikit pun, siapa pun yang melihat keadaan Aranti yang sekarang, pasti akan khawatir.
“Tumben enggak sekolah? Biasanya paling rajin meski tes memang sudah beres,” ucap Davin.
Meski Davin merupakan kakak kelas Aranti, posisinya Davin sudah menjalani ujian kelulusan dan tinggal menunggu hasilnya.
Sampai sekarang, Aranti masih menghindari tatapan Davin. Aranti benci tatapan Davin yang terlalu beringas di setiap cowok itu menatapnya. Termasuk juga ketika tangan Davin dengan sangat lancang membelai rambut panjang Aranti yang tergerai. Aranti refleks menghantam Davin menggunakan tasnya. Namun seperti biasa, Davin yang dari segi penampilan saja sangat berkelas beda dengan Aranti, langsung tersenyum.
“Ya Allah ... sabar ... sabar. Ku—kuat!” batin Aranti susah payah menyemangati dirinya yang mulai gemetaran menahan kekesalan mendalam kepada Davin.
“Jawabannya masih sama? Kamu tetap enggak mau jadi pacar aku? Kalau iya, ... terus, kenapa kamu ke sini? Aku rasa, ... sepertinya kamu butuh bantuanku,” ucap Davin masih dengan gaya yang begitu santai. Kedua tangan yang awalnya sempat ia simpan di saku sisi celana selutut warna putihnya, ia gunakan untuk meraih tangan kiri Aranti. Karena kebetulan, tangan itu tak memegang tas gendong yang ditenteng.
“Aku hamil! Ini anak kamu!” lirih Aranti tegas di tengah dadanya yang sangat sesak sekaligus bergemuruh parah. Selain itu, ia yang menatap marah Davin juga susah payah menahan tangis.
“Oh, ... jadi ini alasan kamu babak belur, bau bensin dan sampai bawa tas gede begitu? Orang tua kamu tahu dan kamu diusir dari rumah?” ucap Davin yang tetap santai sambil menggenggam tangan kiri Aranti yang juga terus berusaha menyingkirkan genggamannya.
Karena penolakan yang terus Aranti lakukan pula, Davin tak hanya tertantang. Davin juga manusia biasa yang akan emosi jika keinginannya selalu ditolak. Hingga Davin sengaja memojokkan tubuh mungil Aranti ke gerbang rumah. Bisa Davin pastikan, satu-satunya wanita muda yang selalu menolaknya itu sudah langsung ketakutan parah. Terlebih kini, Aranti yang sibuk memberontak juga sampai berlinang air mata.
“Lakukan sekali lagi, setelah itu aku akan menikahimu!” lirih Davin sengaja mengancam.
“Enggak!” Aranti yang masih berlinang air mata langsung menolak tegas. Rahangnya sampai mengeras akibat kekesalan mendalamnya kepada Davin.
“Sekali lagi, mumpung orang tuaku enggak di rumah!” ucap Davin penuh penekanan di tengah dadanya yang bergemuruh parah. Ia benar-benar sudah jengkel, muak kepada Aranti yang terus saja menolaknya.
“Enggak!” ucap Aranti sambil menggeleng tegas.
“Berarti harus dipaksa lagi?” sergah Davin menjadi lembut seiring senyum lembut yang juga menghiasi tatapannya.
Senyum dan juga tatapan yang bagi Aranti sangat menakutkan. Dunia Aranti seolah berputar hanya karena senyum maupun tatapan Davin yang sekarang.
“Aku yakin ini belum kiamat, tapi aku rasa semuanya memang sudah berakhir!” batin Aranti sambil terus memberontak.
Davin sungguh membawa paksa Aranti masuk ke dalam rumah orang tuanya. Alasan yang juga membuat Aranti terus mencoba melakukan penawaran. Untungnya di luar dugaan Davin, mama papanya yang memakai motor, mendadak pulang. Meski tentu saja, kenyataan tersebut juga tidak lebih baik untuk Aranti. Karena sekarang, hidup dan matinya sungguh ditentukan.
“Orang tuanya Davin tatapannya serem banget. Ya Allah, aku beneran takut. Apa pun aku harus maju. Enggak apa-apa, aku harus terbiasa. Apalagi ... orang tuaku saja tega, apalagi orang lain?” batin Aranti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Esti Esti
konfliknya nggk tanggung" serem banget nenantang
2024-12-17
0
Nurr Amirr🥰💞
Lepas 1 keluarga setan nahhh muncul pula yg lain..
2024-08-17
0
sherly
Bu Santi ini dah kemasukan setan...
2024-07-28
0