Shea dan Yudho akhirnya pulang bersama dengan Alfie setelah mereka menyelesaikan semua laporan ke Irjen Dean Thomas dan Brigjen Rayyan. Alfie diberikan ijin oleh ayahnya menginap di rumah Shea apalagi Lachlan dan Nareswari sedang ke Palermo.
"Shea sudah tidur?" tanya Alfie sambil membuat kopi.
"Sudah. Anak itu kena mental gara-gara lihat orang jahatnya minta ampun sama saudara sendiri ..." jawab Yudho yang tadi mengantarkan Shea ke kamarnya. Sebelumnya, Alfie mengajak Shea dan Yudho ke warmindo demi menggantikan Indomie telur yang baru dimakan separo saat Shea menyamar.
"Aku juga tidak menyangka, Do ... Kok ada orang seperti itu dan perempuan pula. Se bar-barnya Omanya Shea yang istri Mafioso atau Shea sendiri, tidak ada acara bunuh-bunuhan antar keluarga ..." Alfie memberikan mug berisikan kopi hitam.
"Untung Tami langsung dibawa ke rumah Seiya sama Ryuga. Bukan apa-apa, Sasha memang berniat membunuh Tami ..." ucap Yudho sambil menerima kopi dari Alfie. "Apakah hari Minggu ada interogasi?"
"Tergantung bokap kalau mau memasukkan berkas ke kejaksaan secepatnya... " jawab Alfie.
Yudho menyesap kopinya. "Aku masih tidak habis pikir dengan bagaimana otak manusia bekerja. Bukankah kita sudah diberikan pengetahuan mana yang benar mana yang salah serta konsekuensinya... Tapi aku tidak bisa terima Sasha tidak merasa bersalah telah membunuh Sisil ..."
"Do, ada banyak hal yang kita tidak bisa bawa ke dalam logika. Sasha termasuk seorang sosiopat sejati karena mungkin, sejak kecil mendapatkan perlakuan yang tidak sama. Aku tidak tahu apakah gen jahat ibunya menurun karena belum ada penelitian yang pasti jika orang tuamu penjahat, maka anaknya akan jadi penjahat dari genetik ... "
"Kalau menurut aku, Fie... Genetik itu hanya menyumbang sekian persen tapi perilaku yang kita lihat setiap saat itulah yang terpatri di dalam otak dan pikiran kita. Contohnya kamu dan aku ... Aku melihat bagaimana Eyang Tian menjadi pengacara di kantor Blair and Blair Advocate milik keluarga Pratomo... Aku sangat ingin menggantikan Eyang karena dekatnya aku dengan keluarga Shea. Kamu, melihat papamu sebagai polisi. Kamu memang tidak tertarik masuk akademi kepolisian tapi cara berpikirnya kamu macam papamu ..." Yudho menatap Alfie.
"Bisa jadi. Secara psikologis, Sasha sudah melihat dari kecil bagaimana kehidupan rumahnya sudah tidak sehat ... Ditambah perceraian kedua orang tuanya dan ayahnya yang kaya lebih memilih Sisil... She's snap !"
Yudho menghela nafas panjang. "Semoga Shea bisa ceria lagi besok ..."
"Oh, aku bertemu dengan dosen pembimbingnya Shea di mall tadi..." celetuk Alfie.
"Pak Angga Syarif? Ngapain ?" Yudho terkejut karena dosen yang membuat Shea kesal, berada di mall yang sama.
"Shopping window paling. Cuma ya Shea sudah jutek saja pas dibilang kok tidak penelitian..." senyum Alfie.
"Wis alamat deh ..." kekeh Yudho. "Semoga nggak dikasih lempar b*m cat aja ..."
Alfie terbahak.
***
Eyang Surti duduk di pinggir tempat tidur Shea dimana buyutnya sudah terlelap. Sesepuh leluhur dari garis darah Pratomo itu mengelus rambut pendek pirang Shea meskipun tidak kena dengan perasaan sayang.
"Mbak Shea tadi menangis eyang ... Kalau kata Yudho, agak kena mental..." lapor Longga.
"Siapapun pasti akan merasa kena mental, Longga. Bagaimana pun di keluarga kita kan cuma saling menistakan dan Gelut unfaedah tapi tidak ada rasa iri dan ingin membunuh... Hajar iya ..." ucap Eyang Surti. "Oh Shea, kamu sangat mirip Nonik ..."
"Eyang, apakah mbak Shea bisa bangkit lagi mentalnya ?" tanya Pak Sakera.
"Dia keturunan Pratomo dan von Hoover. Dia akan bangkit kembali..." Eyang Surti menatap sayang ke Shea. "Be strong Shea. Kamu anak kuat ... "
***
Kediaman Keluarga Rayyan.
Brigjen Rayyan tiba di rumah menjelang subuh setelah menyelesaikan laporan dan Anala sudah menyambutnya dengan senyuman manisnya. Putri Arkananta Baskara itu sudah biasa melihat suaminya pulang tidak jelas jamnya apalagi jika ada kasus.
"Capek mas ? Mau aku buatkan teh mint ?" tawar Anala sambil membantu membawakan tas kerja Brigjen Rayyan.
"Mau tapi habis itu aku mau tidur, Jeng Nala. Aku teler dan asli ... Emosiku amburadul..." jawab Rayyan sambil mencium kening Anala.
"Seiya sudah cerita semuanya ... Dan aku hanya bisa beristighfar karena tidak menyangka ada seorang anak perempuan tega membunuh saudaranya bahkan hendak membunuh anak perempuan lain? Ya Allah ..." Anala mengantarkan Rayyan ke ruang makan. "Aku sudah buat roti bakar supaya mas Rayyan tidak masuk angin. Teh nya sebentar..." Anala segera ke meja pantry untuk membuatkan teh mint.
Rayyan tersenyum manis ke istrinya, yang untuk mendapatkan harus melewati ujian Membagongkan tapi semua itu worth it karena Rayyan menjadi menantu kesayangan Arka. ( Baca Ghost Detective ).
"Seiya masih tidur ya ?"
"Masih mas. Dia juga teler karena tidak menyangka dapat kasus sedih begini ..."
"Tami bagaimana?"
"Dia juga kesal karena sudah dijadikan alibi dan hendak dibunuh pula ..."
Rayyan berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya. "Wanita itu memang sosiopat, Jeng. Jahatnya minta ampun. Shea saja sampai kena mental ..."
Anala terkejut. "Shea kenapa mas ?"
"Shock melihat bagaimana jahatnya Sasha waktu arwah Sisil mengkonfrontasi. Sasha dengan terang-terangan bilang akan tetap membunuh Sisil jika dia diberikan kesempatan setiap saat ..."
"Aku jadi ingat kasus Cahaya dan Cahyani ya mas ..."
"Intinya sama ... Hanya saja Yani tidak sesosiopat Sasha...."
Anala menggelengkan kepalanya. "Ya Allah ..."
***
Keesokan Harinya...
Shea bangun kesiangan hingga tidak sempat sholat subuh. Dirinya benar - benar lelah secara mental setelah kemarin melihat bagaimana Sasha tidak merasa bersalah mengambil nyawa saudara kembarnya.
Gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sarapan.
***
Shea menikmati sarapan kesiangannya dengan semangkok cereal dan susu ditambah wafel serta satu gelas besar air putih ketika Yudho dan Alfie keluar dari kamar tamu dengan wajah sudah segar habis mandi.
"Pagi ..." salam Shea.
"Pagi Shea ... Sudah enakan?" tanya Alfie sambil duduk di kursi makan dan pelayan Shea menanyakan mau sarapan apa ke kedua cogan yang biasa menginap di rumah keluarga de Luca itu.
"Roti bakar dan wafel ..." jawab Alfie dan Yudho bersamaan.
"Baik mas Yudho, mas Alfie ..." jawab pelayan itu sambil meletakkan dua gelas jus jeruk di meja makan depan dua cogan.
"Kita ke Polda ?" tanya Shea.
"Kemungkinan iya. Apalagi kata Ryuga, siang ini Tami dan Seiya akan datang kesana untuk memberikan pernyataan saksi serta tanya jawab dari Papa dan Oom Rayyan ..." jawab Alfie.
"Ih beneran untung kalian siaga dengan membawa pergi Tami ... Kalau nggak, kepalanya sudah hancur kena pukulan rollpin..." ucap Shea.
"Iya lho ... Bisa-bisa sekarang Tami sudah terbujur kaku di atas meja autopsi dokter Wayan ..." kekeh Yudho.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Dana Kristiana
maaf Thor xu mgk gak pernah komen,tp xu dlu. karyamu bagus,😎😎😎😎⭐⭐⭐⭐⭐🙏
2025-01-20
1
Ray
Ternyata sekeras kerasnya Shea bisa kena mental juga pada kasus pembunuhan Sisil 🤔😥 Semoga Outhor sehat selalu dan semangat💪😘
2024-09-03
3
Abraham Alcander Putra Sandallo Tandungan
lanjooot thor ..
2024-04-26
1