Shea menatap judes ke dosen pembimbingnya yang macam jelangkung tetiba nongol dan ini lebih horor daripada para hantu yang nongol.
"Shea ?" tanya Alfie.
"Perkenalkan... Ini pak Angga Syarif, dosen pembimbing aku, Fie..." ucap Shea. Angga si serangga, tepatnya.
Alfie pun berdiri setelah meletakkan MacBooknya. "Alfie Thomas, mahasiswa UI jurusan Ilmu Komputer..." remaja itu mengulurkan tangannya ke Angga.
"Angga Syarif. Kalian ngapain disini?" tanya Angga sambil menoleh ke Shea.
"Ngemall, ngadem, kencan ... Suka-suka lah Pak. Apa urusan bapak? Kepo ih..." balas Shea judes membuat Angga tampak tidak suka sementara Alfie melotot ke sahabatnya itu.
Ini cewek boneka cari gara-gara lagi ke dosen pembimbingnya!
"Jangan kebanyakan pacaran ! Urus bab tiga kamu !" Angga pun pergi meninggalkan Shea dan Alfie.
"Astagaaaa Tuhanku ... Sheeeaaaa ... Kalau kamu semakin dipersulit skripsinya gimana..." Alfie memegang pelipisnya.
"Gue teror !"
Sisil dan Tika hanya saling berpandangan melihat wajah acuh Shea.
***
Mobil mini Cooper Yudho tiba di sebuah perumahan semi kampung di daerah Jakarta Selatan sesuai dengan alamat KTP Sasha.
"Aku tuh bingung, kenapa kedua orangtuanya tidak tinggal bersama anak-anak mereka .." ucap Seiya saat turun dari mobil. Dari mereka berlima, memang hanya Seiya yang belum memiliki SIM. Jadi kalau ke kampus seringnya nebeng Alfie yang kampusnya berdekatan.
"Karena kedua orangtuanya sudah bercerai... Begitu yang aku baca dari hasil pencarian kamu saat kamu masih molor..." jawab Ryuga yang bangun pagi-pagi akibat perutnya mulas.
"Sisil ikut ayahnya yang kaya, sementara Sasha ikut ibunya yang hidupnya pas-pasan. Entah mengapa ayahnya tidak mau menerima Sasha..." lanjut Yudho.
"Mungkin si bapak tahu kalau Sasha bukan anak yang baik?" gumam Seiya. "Tapi mau gimana pun ... Itu anaknya lho !"
"Entahlah..." sahut Ryuga. "Bersyukurlah kita lahir di keluarga yang harmonis meskipun Membagongkan."
Ketiga remaja dengan wajah imut dan macam idol K-Pop itu pun mulai berjalan di sekitaran semi kampung. Ryuga mengusulkan mereka makan di warteg karena biasanya sumber gosip dan ghibah itu berada cikal bakal ponsel sentuh.
***
"Kok aku belum pernah lihat mas-mas nya ya ?" ucap ibu pemilik warung Tegal itu.
"Iya Bu. Kami sedang mencari lokasi untuk melakukan tugas akhir ..." jawab Yudho.
"Masnya mahasiswa mana?"
"UI Bu" jawab Yudho lagi dengan sopan.
"Wah ... Kalian semua anak UI?"
"Iya Bu" jawab Seiya lekas-lekas.
"Ohya Bu, apakah baru-baru ini ada kasus kriminalitas di daerah ini ... Kebetulan saya anak fakultas hukum sedang mencari data untuk penelitian saya" ucap Yudho manis.
"Oh ada mas ..." ucap ibu pemilik warteg itu yang langsung mengambil posisi siap berghibah. Beruntung pagi itu belum masuk jam makan siang jadi masih sepi pengunjung.
"Apakah kasus pencurian, begal atau apa Bu?" tanya Ryuga yang juga ikutan sok kepo. Seiya dan Yudho hanya menatap sebal ke Ryuga yang terkadang pintar mengambil hati kaum hawa dengan gayanya.
Kebayang kalau dia jadi dokter obgyn macam Oom Remy, dijamin tuh bumil pada ngarep anaknya macam Ryuga, gantengnya - batin Yudho.
"Kasus pembunuhan..." bisik ibu pemilik warteg.
Ketiganya memasang wajah sok terkejut. "Pembunuhan, Bu ?" bisik Seiya yang seolah bergidik. "Siapa yang dibunuh ?"
"Gosipnya ini ya mas ... Si Sasha bunuh saudara kembarnya... Tapi polisi tidak bisa membuktikan wong alibinya Sasha ada di rumah...." bisik ibu itu.
"Tapi sebenarnya Sasha tidak di rumah kan Bu?" tebak Yudho.
"Nggak mas. Tetangganya yang berada sebelah rumahnya bilang ke polisi kalau dia mencium bau masakan pagi di rumah Sasha. Jadi polisi berasumsi kalau Sasha di rumah, apalagi pas ditanya polisi dia masak apa, jawabannya sama dengan yang dicium tetangganya..."
"Memang si Sasha bukan bumbu Pawon itu masak apa?" tanya Seiya.
"Nasi goreng dan telur dadar..."
Ketiga remaja itu saling berpandangan. "Pasti ada orang lain yang berada disana sebagai alibi Sasha. Tapi siapa ya ?" gumam Yudho. "Apalagi kejadiannya sudah tiga bulan lalu."
Ryuga menatap ke ibu pemilik warteg. "Kok ibu curiga ke Sasha?"
"Soalnya mas ... Semua orang disini tahu bagaimana bencinya Sasha ke Sisil. Sisil kan tinggal sama ayahnya yang kaya raya tapi Sasha tinggal dengan ibunya yang biasa saja..."
"Kenapa kedua orangtuanya bercerai?" tanya Yudho.
"Gosipnya, ibunya itu selingkuh dengan sopirnya. Lagipula, Sisil lebih baik dari Sasha. Sisil itu anaknya ramah, baik dan sopan... Kebalikan dari Sasha. Ibunya banget !" ucap ibu warteg itu dengan mulut di monyong-monyongkan. "Ibunya itu memang gatel ! Sudah beruntung dapat suami kaya kok masih nekad selingkuh ! Pancen wong ora iso bersyukur !"
Ketiga remaja itu memilih diam karena yang namanya emak-emak, pastilah heboh kalau soal penghibahan dan pergosipan.
"Terus ... Apa ibu tahu siapa kira-kira yang jadi impostor Sasha ?" tanya Seiya.
"Mas, impostor itu macam game Among Us ya ? Aku tahu soalnya dulu pernah main ..." ucap ibu itu heboh.
"Semacam itulah ..." cengir Seiya.
"Aku rasa si Tami. Dia kan anaknya tinggal sendirian jadi disuruh pun mau asal dapat uang. Maklum mas, dia cuma buruh cuci dan kerjaan apapun demi bisa dapat uang. Kadang juga bantu-bantu sini kalau pegawai aku tidak masuk ...."
Yudho memegang pelipisnya. Bisa-bisa Tami kena sebagai kaki tangan pembunuhan padahal dia tdiak tahu apa-apa...
Trio Ghost Detective
***
Mall di Jakarta
Angga memperhatikan Shea dan remaja sebayanya yang mengenalkan dirinya sebagai Alfie Thomas. Keduanya tampak asyik berdiskusi sesuatu dan terkadang Shea berbicara sendiri bukan ke Alfie. Angga mengerenyitkan dahinya. Shea ngomong sama siapa itu?
Tak lama keduanya pun berdiri dan berjalan menuju eskalator. Tidak ada gandengan tangan, tidak ada mesra-mesranya dan keduanya hanya memasang wajah serius dengan pembicaraan mereka.
Sebenarnya hubungan mereka apa sih?
***
Rumah Tami
Tami terkejut saat melihat tiga remaja good looking berdiri di depan rumah semi permanennya. Gadis yang hidup sendiri setelah kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan, harus bekerja keras demi mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari.
"Kakak-kakak ini bukan idol K-Pop kan?" tanya gadis berusia 18 tahun itu.
"Bukan. Kami mahasiswa yang sedang melakukan tugas akhir... Boleh kami masuk?" tanya Yudho sopan.
"Bo... Boleh kak. Mari masuk. Maaf ... Rumah aku jelek ..." Tami mempersilahkan ketiganya duduk diatas tikar yang meskipun terlihat lama, tapi bersih. Rumah itu pun tampak bersih dan terawat meskipun boleh dibilang gubuk.
"Kak Tami..." ucap Seiya.
"Panggil Tami saja kak ... Tidak enak saya dipanggil kak ..." ucap Tami sambil membawakan Aqua gelas. "Maaf hanya ada ini ..."
Yudho dan Ryuga bisa melihat Tami ini anaknya polos.
"Tidak apa-apa Tami. Boleh kami tanya sesuatu?" Yudho menatap Tami serius.
"Tanya soal apa ya kak?"
Yudho menghela nafas panjang sebelum mulai bertanya karena jujur jika memang Tami yang menjadi alibi Sasha, kurang ajar sekali Sasha !
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Ray
AQ penasaran Tami ini siapa dan apa hubungan dengan kasus Sasha?
2024-09-02
3
awesome moment
klo trio detektof kampretos modelan mrk y...auto ngedeket sumber infonya
2024-04-18
1
Uniie Gentra
aylapyu pull yudho😘😘
2024-04-17
2