Semua orang yang ada di ruang kerja Irjen Dean Thomas terdiam mendengar pertanyaan Susatyo tentang bagaimana Sasha mendapatkan uang untuk membayar premi yang lumayan mahal.
"Aku bisa menjawab soal itu..." ucap Alfie. "Sasha dengan cerdiknya memanipulasi Sisil yang memang dasarnya baik dengan meminta uang senilai dengan premi yang harus dibayar..." Alfie memperlihatkan data keuangan Sisil. "Ini bukti transfer Sisil ke Sasha. Aku sudah menghubungi pihak asuransi dan mereka membenarkan bahwa Sasha membuat asuransi atas nama Sisil enam bulan lalu dan tidak pernah terlambat membayar .. Rupanya itu salah satu cara liciknya ..."
Irjen Dean Thomas menatap putranya. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan data itu?"
"Salah satu underwriting nya itu adalah kakak kelas aku waktu SMA dan dia mau membantu aku karena curiga..." jawab Alfie.
"Ya Allah ... Sisil membayarkan premi asuransi untuk kematiannya sendiri dan Sasha yang mendapatkan uangnya ?" ucap Susatyo tidak percaya. "Betapa jahatnya anak itu ! Bagaimana bisa anak yang lahir dari rahim yang sama, wajah sama tapi memiliki sifat sangat bertolak belakang?"
"Itu yang kami tidak bisa menjawabnya, Pak Susatyo..." jawab Irjen Dean Thomas.
"Apa yang akan anda tuntut, Pak Dean ..." tanya Susatyo.
"Semuanya. Pembunuhan berencana, penipuan asuransi, percobaan pembunuhan... Hukumannya maksimal... Hukuman mati..." jawab Irjen Dean Thomas. "Apakah anda meminta hukuman seumur hidup?"
Susatyo menggelengkan kepalanya. "Kapan anda akan mulai Interogasi?"
"Sekarang. Pak Susatyo mau melihat?"
"Jika saya diijinkan pak Dean ..." jawab Susatyo lelah.
"Nanti anda ditemani putra dan keponakan - keponakan saya... Mereka lah yang berhasil memecahkan kasus ini ..." senyum Irjen Dean Thomas.
***
"Saya hanya diminta mbak Sasha buat tinggal di rumahnya seharian dan memasak sesuatu yang orang lain bisa mencium bau masakannya, pak Dean..." jawab Tami saat dikonfrontir oleh Irjen Dean Thomas dan Brigjen Rayyan.
Semua generasi kedelapan bersama dengan Kombes Jarot yang mengawal mereka, berada di balik kaca dua arah bersama dengan Susatyo.
"Lalu apakah nona Tami melihat nona Sasha keluar dari rumah ?"
"Saya tidak lihat pak Dean karena saya cuma boleh berada di ruang tengah dan tidak boleh kemana-mana. Jadi saya cuma duduk di ruang tengah dan saya memanggil mbak Sasha untuk makan, tapi saat itu dia bilang tidak mau makan... "
"Jam berapa nona Sasha bilang tidak mau makan?" tanya Brigjen Rayyan.
"Pagi pak sekitar jam delapan."
"Apa ada yang lain?"
"Mbak Sasha saat itu bilang jangan diganggu karena hendak tidur ..."
Irjen Dean Thomas menatap Tami. "Apakah hanya anda dan Nona Sasha berdua ? Kemana ibunya?"
Tami tampak tidak enak. "Maaf pak Dean, pak Rayyan tapi saya... Tidak enak ..."
"Anda harus jujur nona Tami. Anda nyaris tewas !" ucap Brigjen Rayyan.
Tami tampak bimbang. "Ibu mbak Sasha pergi ... "
"Kemana?"
"Dengan seorang pria ..." Tami mengusap wajahnya. "Ibu mbak Sasha... Maafkan bahasa saya. Dia ... Terkenal di kampung sebagai ... Maaf ... Pelacur ..."
Semua orang menoleh ke arah Susatyo yang hanya menghela nafas panjang.
"Maaf pak Susatyo... Sebelumnya saya minta maaf tapi itu yang diributkan warga di kampung ..." ucap Tami sambil menatap kaca dua arah.
"Bagaimana dengan Sasha?" tanya Irjen Dean Thomas.
"Mbak Sasha ... Lebih rapih pak..."
"Tapi intinya sama saja kan?"
Tami mengangguk dan membenarkan ucapan Brigjen Rayyan.
Irjen Dean Thomas dan Brigjen Rayyan mengusap wajahnya kasar.
"Terima kasih nona Tami ... Jika ada yang harus kami corss check ulang, anda harus bersedia datang ..." Irjen Dean Thomas menatap serius ke Tami.
"Tentu saja pak Dean, pak Rayyan ..."
***
Susatyo menerima segelas teh hangat untuk mengurangi rasa shocknya dari Shea.
"Apakah Sisil ... "
"Mbak Sisil kecewa berat, Pak Susatyo... Karena menurutnya dia merasa tidak berbuat jahat pada Mbak Sasha tapi masih tetap menjadi korban rasa irinya ..." jawab Shea. "Mbak Sisil ke alam yang baik pak Susatyo tapi membawa kekecewaan paling dalam karena dia tidak menyangka saudara kembarnya sendiri tega padanya ..."
Susatyo menangis. "Aku merasa bersalah ... Aku bukan ayah yang baik karena tidak bisa melindungi Sisil dan mendidik Sasha ..."
Shea menatap Susatyo. "Bukan salah bapak ... Mbak Sasha memang memiliki sifat sosiopat dan psikopat... Saya rasa pak Susatyo sudah berusaha adil namun ada faktor X yang membuat mbak Sasha escalate ( meningkat ) sisi gelapnya ..."
"Apakah ... Ibunya sudah datang ?" tanya Susatyo.
"Dia tidak mau datang ..." jawab Kombes Jarot. "Bahkan dia menganggap Sasha bukan putrinya lagi ..."
Semua orang menatap perwira polisi itu.
"Pak Jarot sudah menemukan ibunya mbak Sasha ?" tanya Shea.
Kombes Jarot mengangguk. "Kami menemukan dia di hotel daerah puncak. Kalian tidak perlu tahu apa yang mereka lakukan disana ..."
Generasi kedelapan bisa meraba-raba pasti parah mengingat jika ucapan Tami benar. Sasha mendapatkan role model yang salah.
***
Ruang Interogasi Polda Metro Jaya
Usai makan siang dan menenangkan diri, Susatyo sekarang melihat putrinya yang masih hidup, diinterogasi oleh Irjen Dean Thomas dan Brigjen Rayyan.
"Aku melihat ada pria yang katanya ayahku ... Benarkah?" tanya Sasha dengan wajah songong.
"Memang kenapa? Anda ingin berbicara dengannya ?" Irjen Dean Thomas menatap dingin ke Sasha.
Sasha tertawa sinis. "Tidak perlu, dia ada di balik kaca itu kan? Hai Pak Susatyo yang terhormat, anak yang kamu banggakan sudah mampuus ! Kamu seharusnya membawa aku ! Bukan cewek lemah macam Sisil !"
"Nona Sasha ... Apakah anda membuat polis asuransi atas nama nona Sisil dengan beneficiary anda jika nona Sisil meninggal dengan kondisi apapun?" tanya Brigjen Rayyan.
"Apakah uang asuransinya sudah keluar? Lumayan bisa membayar pengacara karena aku pasti akan bebas karena gila ..." seringai Sasha.
Irjen Dean Thomas tersenyum smirk. "Sayangnya, tidak semudah itu, nona Sasha. Uang sepuluh milyar yang anda impikan, tidak akan menjadi milik anda. Kenapa? Karena anda begitu jahatnya membuat Nona Sisil untuk membayar premi asuransi jiwa yang beneficiary nya adalah anda..."
"Itu uangku ! UANGKU !" teriak Sasha.
"No. Itu uang bukan milik siapapun ... "
"KALIAN TIDAK BERHAK MENGAMBILNYA ! KARENA ITU ADALAH MILIKKU ! MILIKKU !"
Semua orang di balik kaca itu hanya bisa tertegun karena wajah Sasha tampak mengerikan.
"Semua ini intinya adalah uang ..." gumam Shea tidak habis pikir. "Demi uang yang cepat habis ... Dia tega membunuh saudara kembarnya... Bahkan hendak membunuh orang lain ..."
Susatyo hanya bisa menangis dalam diam.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Ray
Kejam...Kejam...
Pedih...Pedih....
Semua buntutnya UUD (Ujung-Ujungnya Duit) Dapat merubah seseorang jadi serakah, tamak, bisa berbuat nekat bahkan sampe membunuh😱😣
2024-09-03
3
awesome moment
uang mmg penting tp bukan segalanya
2024-05-02
1
Sri
😩
2024-05-02
1